Gelaran Festival Gendhing Gerejawi di GKJ Manahan

Gelaran Festival Gendhing Gerejawi di GKJ ManahanScore 0%Score 0%

Dilaporkan oleh Elyandra Widharta (jurnalis lepas), Fotografer: Eddy Prabowo

Dalam rangka peringatan hari ulang tahun Gereja Kristen Jawa Manahan Surakarta digelar Festival Gendhing Gerejawi pada Sabtu 9/2/2019 mulai pukul 13.00 sampai selesai di Gedung GKJ Manahan JL. MT Haryono No.10 Manahan Suarakarta. Festival ini merupakan rangkain acara dari HUT GKJ Manahan yang ke 90 tahun. Peserta festival terdiri dari 10 gereja kristen jawa dari wilayah Jawa Tengah dan DIY.

Peserta tersebut antara lain : GKJ Bibisluhur, GKJ Selokaton, GKJ Kebonarum Klaten, GKJ Baki Sukoharjo, GKJ Immanuel Jebres Solo, GKJ Kismorejo, GKJ Salatiga, GKJ Kartasura, GKJ Kartasura, dan GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Setiap peserta mendaftarkan diri dengan biaya Rp 300.000/peserta.

Festival dibuka oleh Pendeta Samuel Arif Prasetyono S.Si dengan kotbah yang diambil dari Yesaya 12:4-6. Ia berpesan jangan sampai kebudayaan Jawa jangan sampai luntur. Dengan festival gendhing gerejawi ini diharapkan gendhing Jawa semakin dilestarikan karena kebudayaan ini sudah menjadi bagian dari budaya yang dihasilkan manusia. Diteruskan dengan sambutan oleh Ketua Panitia Bapak Bambang Waluyo Hadi, yang juga berpesan melalui seni gendhing gerejawi kita sebagai pribadi yang mencintai Tuhan semakin lebih mencintai kebudayan Jawa lagi untuk kemuliaan nama Tuhan. Festival ini juga ditayangkan secara live oleh TA Kalista TV Surakarta.

Festival ini diselenggarakan karena GKJ Manahan juga gigih berjuang nguri-uri kebudayaan Jawa. Langen Sekar Pamuji dan Gendhing Jawa merupakan bagian dari kemasan gendhing karawitan yang cakupan tembang yang disesuaikan untuk kemuliaan nama Tuhan dalam setiap ibadah. Bentuk gendhing bervariasi mulai dari ladrang, ketawang, lancaran dan ayak-ayakan. Setiap peserta dibatasi dengan 20 personil yang terdiri dari wiyaga (penabuh gamelan) dan waranggana (penyanyi/sinden). Dalam peraturan yang disebutkan juga peserta harus 75%  dari warga gereja setempat yang dinyatakan dalam KTP.

Dalam penilaiannya juri terdiri dari Sigit Santoso S.Kar, M.Hum (ISI Surakarta), Purwanto SSn (SMKI Surakarta), RB Suwarno (Budayawan), KRT Haryodipuro S.Kar, M.Sn. Komponen yang dinilai meliputi teknik; tabuhan dan penyuaraan, musikalitas; rempeg dan laras, garap; gendhing dan vokal. Jenis gendhing yang dilombakan terdiri dari gendhing wajib ; Ketawang Panembah Lrs Pelog Pathet 5 dan gendhing pilihan antara lain ; Ketawang Rahayu Tyang Gegriya Lrs Pelog Patet 6, Ladrang Kinanthi Ing Gusti Lrs Slendro Patet Manyuro, Ketawang Pirena Lrs.Pelog Patet Barang, Ladrang Pasrah Sumarah Lrs Pelog Patet 6, dan Ketawang Langen Sekar Pamuji Lrs Pelog Patet Barang.

Ditemui dilokasi festival Welly Hendratmoko M.Sn seorang komposer yang selama ini melatih seni karawitan kelompok Gita Nala dan Pradangga Sawokembar di GKj Gondokusuman Yogyakarta. Selama persiapan mengikuti festival ini, ia melatih grup Pradangga Sawokembar GKJ Gondokusuman Yogyakarta selama 1,5 bulan atau 6 kali latihan. Sedangkan untuk latihan vokal ada waktu khusus sebagai pematangan suara 1,2,3 sebelum latihan gabung dengan gamelan.

Welly Hendratmoko MSn, mengungkapkan soal gendhing yang sudah menjadi pilihan wajib dan yang sudah disediakan secara teknik garapan merupakan pengembangan tradisi karawitan. Untuk GKJ Gondokusuman yang menjadi lain dengan GKJ lainnya yaitu mempunyai versi garapan pada lagu wajib Ketawang Panembah Lrs Pelog Pathet Lima menggunakan 2 kali ompak (dengan isian vokal sindenan dan sengggakan). Pilihan ditempuh karena tidak ada aturan baku dalam hal garap gendhing.

Menurut Welly, pada gendhing Ladrang Pasrah Sumarah Lrs Pelog Pathet Nem diinterpretasikan berbeda. Dengan alur atau urutan (Buka – Irama – I – langsung masuk Irama II bagian ngelik, kemudian diselingi garap balungan mengacu tema vokal pada irama II kemudian diakhiri dengan suwuk). Maksud dari komposisi ini diharapkan oleh Welly adanya dinamika karena adanyapenambahan aransemen garap vokal dengan 3 suara sehingga memperkaya ritme dan harmoni vokal.

Sebagai komposer gamelan Welly Hendratmoko M.Sn pun berharap agar kelak jika festival ini diadakan kembali juklak dan juknis festival yang lebih detail agar lebih disepakati lagi antara panitia dan juri. Karena dalam karawitan, garap menjadi multitafsir. Perlunya juga melengkapi semua garap ngajeng untuk garap instrumennya menambah siter, gambang dan suling. Tujuannya untuk meningkatkan harmoni dalam garap maupun instrumentasi. Perlunya juga ditegaskan mengenai gaya yang harus digunakan apakah harus menggunakan gaya Surakarta atau bebas dengan gaya masing-masing daerah karena di dalam juklak tidak meyinggung hal itu. “Saya salut, kiranya festival ini menjadi lebih baik lagi kedepan dan bisa tolak ukur perkembangan gamelan gerejawi dan menarik perhatian generasi yang akan datang dalam mempelajari gendhing-gendhing gerejawi sesuai perkembangan zamannya”, pungkas Welly.

Sampai dipenghujung acara, akhirnya diumumkan para pemenangnya yaitu Juara 1 GKJ Bibisluhur, Juara 2 GKJ Selokaton, Juara 3 GKJ Immanuel Jebres, Juara Harapan 1 GKJ Gondokusuman Yogyakarta, Juara Harapan 2 GKJ Kebonarum Klaten. Peserta mendapatkan hadiah masing-masing uang pembinaan dan tropi yaitu sebesar Juara 1; 2.000.000, Juara 2; 1.500.000, Juara 3; 1.000.000, Juara Harapan 1; 750.000, Juara Harapan 2; 750.000.

Review

0%

Gelaran Festival Gendhing Gerejawi di GKJ Manahan
0%