BAHAN PA, TIDAK KUATIR MENCEGAH DAN MENANGGULANGI PENYEBARAN COVID 19

BAHAN PA, TIDAK KUATIR MENCEGAH DAN MENANGGULANGI PENYEBARAN COVID 19

BAHAN PA, TIDAK KUATIR MENCEGAH DAN MENANGGULANGI PENYEBARAN COVID 19

Bacaan Alkitab:

1 Petrus 5:7-8 “ 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. “
Matius 6:31-34 “ 6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Pengantar:

Hari-hari ini kita dicekam kekuatiran yang sangat tentang penyebaran virus corona di negara Indonesia, bukan lagi di luar negeri, tetapi di sudah di provinsi, dan tetangga kabupaten kita. Berita di media, baik publik maupun media-sosial, dipenuhi dengan menyebarnya covid (corona virus disease) 19, dan bersamanya juga simpang siur berita yang bukan menguatkan, meneguhkan, atau menuntun kepada aksi yang membangun kebersamaan dan tindakan yang benar, melainkan menyalahkan pihak lain dan menuntut tanpa memberi solusi, dengan sikap merasa diri benar dan tidak bersolidaritas atau empati terhadap perasaan orang lain.
Bacaan Alkitab mengajar kita dua macam kekuatiran. Pertama, rasa kuatir yang benar, karena membuat kita sadar waspada dan berjaga, untuk kemudian berserah kepada Tuhan (1 Petrus 5:7-8). Dan kekuatiran yang kedua adalah rasa kuatir karena ketidakpercayaan terhadap pemeliharaan Tuhan atas hidup, makanan, pakaian dan masa depan kita. Iman kepada Tuhan dan sikap hidup yang mengutamakan mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya membuat kekuatiran yang kedua ini tidak lagi mengganggu kita.
Kekuatiran atas penyebaran virus corona berbeda dengan dua macam kekuatiran yang diterangkan di atas. Rasa kuatir, cemas, takut dan panik yang terjadi lebih disebabkan oleh:
1. Ketidaktahuan, menyebabkan kebingungan, pertanyaan yang tidak dapat terjawab.
2. Banyaknya berita-berita palsu, hoax, bahkan bohong terkait covid 19 dan penyebarannya, membuat ketidakpastian semakin bertambah.
3. Tidak adanya petunjuk yang dipahami untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran covid 19 karena ketidakpahaman tentang protokol kesehatan tentang social-distance, karantina/isolasi mandiri, pembatasan kontak, lockdown suatu wilayah, work from home, …. Perhatikan banyak istilah baru yang dengan bahasa asing dan tidak dipahami jelas sekaligus membanjiri wacana masyarakat melalui media-massa dan media-sosial kita.

Untuk Menjadi Pemahaman Dasar Bersama:

1. Menyerukan kewaspadaan mengingat penyebaran covid 19 (corona virus disease 19) bukan hanya terjadi di luar negeri, tetapi juga sudah sampai di Indonesia. Dengan daftar pasien yang positif terkena covid 19 terus bertambah, dan korban yang meninggal dunia, dan yang sembuh.
2. Virus, berbeda dengan bakteri, membutuhkan inang untuk hidup, sehingga ketika lepas dari inangnya akan mati dan tidak bisa menyebar. Penyebaran terjadi melalui kontak, antara orang yang sudah terkena, terutama dari cairan dahak/ingus yang dikeluarkan saat batuk atau pilek, melalui jabat tangan, atau karena sama-sama memegang benda yang sudah terkena covid 19. Orang dengan daya tahan tubuh yang baik akan kebal atau bisa mengatasi virus ini, namun tetap berkemungkinan menjadi pembawa yang menyebarkan covid 19 sekalipun dirinya sendiri sehat dan tidak terkena penyakit. Tetapi untuk orang yang sakit, atau dalam kondisi lemah, sangat rentan terkena serangan covid 19.
3. Oleh karena itu mendorong warga untuk sungguh-sungguh berusaha mencegah penyebaran covid 19 ini:
a. Pertama-tama dengan mengurangi dan membatasi kontak dengan orang banyak, kerumunan, atau orang asing.
b. Menggantikan jabat tangan dengan namaste (menangkupkan tangan di dada dan mengangguk kepada orang yang diberi salam).
c. Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air bersih atau hand-sanitizer sesudah bepergian, sebelum makan,
d. Menghindari kebiasaan mengusapkan tangan ke mulut hidung atau wajah.
e. Orang sehat tidak perlu memakai masker. Orang dengan gejala flu harus memakai masker, atau lebih baik dengan sukarela mengisolasi diri sampai sembuh.
f. Minum air putih yang cukup, menjaga tenggorokan selalu basah, makan dan minum yang sehat dan imbang agar daya tahan tubuh terjaga.
4. Gejala awal covid 19 serupa dengan flu biasa, demam, batuk, pilek, tenggorokan kering. Karena itu bila ada yang punya gejala tersebut, agar langsung memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan supaya lekas sembuh. Dan sebelum sembuh total, agar mengisolasi diri, dengan tidak kontak untuk mengurangi resiko.
5. Apabila ada hal-hal yang perlu ditanyakan, silakan langsung menghubungi pendeta jemaat masing-masing, atau langsung ke call center pelaporan, pencegahan, dan penanggulangan covid 19 di Kabupaten Wonogiri, nomor telepon 0852 9119 0330.
6. Penyelenggaraan ibadah dan pertemuan jemaat yang lain diserahkan dalam pengaturan majelis dan pengurus jemaat masing-masing, dengan mengedepankan semangat mencegah lebih baik daripada mengobati.
7. Kiranya kewaspadaan dan upaya pencegahan ini boleh menjadi jalan berkat, guna pemulihan dan penanggulangan covid 19 bukan hanya di lingkungan kita, di negara Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Pokok Doa Bersama:

1. Marilah kita terus berdoa mohon kesembuhan bagi saudara-saudara kita yang positif terkena agar lekas sembuh dan pulih. Agar keluarga para pasien dikuatkan dan dihiburkan.
2. Mendoakan para dokter, tenaga perawat, dan semua petugas medis yang secara langsung menangani dan berhadapan dengan pasien dan orang sakit.
3. Mohon berkat agar kita semua belajar dan semakin bersatupadu mencegah penyebaran dan menanggulangi covid 19 ini. Marilah kita melawan hoax terkait covid 19 ini dengan pemahaman yang benar, dan keberanian bersikap yang rela berjaga bagi kepentingan bersama.

Penutup:
Hidup dan mati di tangan Tuhan, iman kita mengamini hal itu. Namun pilihan untuk hidup sehat atau sembrono ada pada kita. Keberanian melawan penyebaran covid 19 harus dimulai dengan kesadaran akan kerapuhan manusia, berhadapan dengan mutari makhluk bersel satu yang semula hidup dengan inang kelelawar bisa bermutasi menempel dalam tubuh manusia dan menyebabkan penyakit bahkan kematian.
Kesadaran diri ini membuat kita berjaga-jaga dan waspada, untuk mengerjakan protokol kesehatan sederhana, menghindari kerumunan orang banyak, menjaga jarak dengan orang lain, menggantikan jabat tangan dengan namaste, mencuci tangan dengan sabun dan air, mengisolasi diri dan berobat bila sakit dengan gejala influenza …. Negara China sudah berhasil mengatasi krisis covid 19 ini. Kita juga bisa mengatasinya bila sadar berjaga dan bekerja bersama. Pelanggaran satu orang akan berakibat penyebaran bahaya covid 19 semakin bertambah.
Kekuatiran yang dengan nalar menuntun kita berlaku lebih hati-hati, sadar dan berjaga. Sebaliknya kebingungan sama seperti kesombongan dalam bersikap menunjukkan ketidakpahaman kita, tidak sadar betapa seriusnya ancaman yang seperti singa mengaum-aum berkeliling hendak memangsa. Sikap yang berserah kepada Tuhan, juga atas kekuatiran terhadap bahaya penyebaran covid 19 saat ini, ditunjukkan dalam sikap yang rendah hati, mengakui kelemahan manusiawi kita, agar kasih setia dan rahmat Tuhan bisa bekerja tanpa halangan ego diri kita.