LEBIH MUDAH MENYALAHKAN DARIPADA BERSAMA BAHU MEMBAHU MENANGGULANGI PENYEBARAN DAN PENULARAN COVID 19

LEBIH MUDAH MENYALAHKAN DARIPADA BERSAMA BAHU MEMBAHU MENANGGULANGI PENYEBARAN DAN PENULARAN COVID 19

LEBIH MUDAH MENYALAHKAN DARIPADA BERSAMA BAHU MEMBAHU MENANGGULANGI PENYEBARAN DAN PENULARAN COVID 19

Bacaan Injil Minggu IV Pra Paskah hari ini terambil dari Injil Yohanes 9:1-41. Kisah tentang seorang yang buta sejak lahir. Pertanyaan orang banyak tidak menunjukkan empati ke orang buta ini, “Siapa yang salah sehingga buta sejak lahir, apakah ia, atau orangtuanya, atau siapa?”

Sikap suka mencari kesalahan dan dosa pihak lain bukan hanya masalah yang dihadapi oleh orang yang buta sejak lahir itu. Kita sering menghidupi budaya mencari kambing hitam. Saat covid 19 mulai merebak, siapa yang bisa kita salahkan? Apakah pasien yang menjadi korban penularan bersalah? Apakah korban meninggal berdosa? Apakah orang-orang yang saat ini dalam pemantauan lebih jahat dan jelek daripada kita sehingga mereka patut disingkirkan dari pergaulan masyarakat? Tuhan Yesus bersabda, bukan salah orang buta itu, atau orangtuanya. Akan tetapi agar melalui orang buta ini orang lain bisa melihat karya Allah yang menyelamatkan dinyatakan.

Ternyata sesudah orang buta tadi disembuhkan matanya oleh Tuhan Yesus, malah gantian orang Farisi yang menyangkal bahwa itu mujizat Allah yang menyembuhkan, karena Tuhan Yesus melakukan penyembuhan di hari Sabat, melanggar perintah untuk menyucikan hari Sabat yang berarti hanya boleh beristirahat, berbakti, sama sekali tidak boleh bekerja. Membuat orang buta bisa melihar dituduh sebagai bekerja. Pemahaman iman yang konyol, tetapi diamini dan dibela.

***
Hari ini, Minggu Pra Paskah IV, ibadah dibatasi waktunya maksimal 30 menit, duduk menjaga jarak dengan sesama pengunjung, bahkan mengganti ibadah jemaat dengan ibadah keluarga di rumah masing-masing dengan bahan yang disiapkan khusus. Seumur hidup, baru sekarang kita menghadapi keadaan darurat ancaman penyebaran penyakit seperti ini. Padahal selama ini kita sudah hidup bersama dengan aneka virus dan bakteri yang ada di bumi ini. Namun seumur hidup kita, baru sekarang semua menghadapi pandemi (wabah yang bersifat global sedunia, bukan hanya epidemi yaitu wabah yang sebarannya hanya lokal/wilayah tertentu saja).

Mari berhenti menyalahkan orang lain yang mungkin tidak sadar dan masih mengadakan kegiatan ramai-ramai mengumpulkan orang, atau datang ke kerumunan. Tetapi beritakan dan ajarkan protokol kesehatan mencegah penularan covid 19. Kita yang sehat bisa jadi malah mencelakai saudara-saudara yang kekebalan tubuh (antibody melawan virus) lemah, karena menjadi pembawa virus terutama kepada para orangtua dan kakek-nenek kita. Virus ini menyebar lewat kontak. Satu-satunya jalan menghentikan penyebaran dengan membatasi kontak.

Mari bersama bahu membahu melawan covid 19, dan mendapatkan karya Tuhan yang menyelamatkan diwujudkan dalam kehidupan saat ini. Kalau masih mau menyalahkan orang lain, salahkan yang bahkan menimbun masker atau cairan pembersih tangan dan menjualnya dengan harga berlipat-lipat untuk meraih keuntungan pribadi. Kalau masih mau menyalahkan, salahkan pihak-pihak yang tidak bisa menahan jempol tangannya meneruskan dan membagi hoax tentang corona tanpa kejelasan benar dan tidaknya, tanpa kejalasan siapa sumber yang harus bertanggungjawab, apalagi sekalipun benar kalau itu disampaikan bahkan menebar ketakutan dan kepanikan, berarti berita di media sosial yang kita teruskan hanya menambah kekacauan.

***
Yang kita butuhkan sekarang adalah bahu-membahu bersama-sama mencegah penularan dan penyebaran virus corona 19. Dengan sedia sukarela membatasi aktifitas bertemu dan kontak dengan yang lain. Dengan membantu para petugas medis yang sibuk lembur kurang istirahat menangani pasien covid 19. Dengan menggalang kepedulian dan membantu sesama yang karena tidak bisa bekerja mendapat kesulitan guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya. Dan semua itu bisa kita mulai dengan cara sederhana. Batasi kontak, batasi pertemuan, jangan malah kita menjadi pembawa dan penyebar virus ini kepada saudara-saudara yang kondisinya lemah. Hanya itu saja bagian kita.

Syukur bahwa langkah penanganan bersama sudah semakin kompak dan bahu-membahu. Syukur untuk pengalaman di negara China dan Korea yang sudah berhasil mengatasi. Syukur untuk perangkat test cepat covid 19 sehingga dalam waktu 15 menit sudah bisa diketahui apakah orang dengan gejala flu hanya flu biasa saja, atau terkena corona 19. Kiranya Tuhan memberkati bangsa kita, bersama-sama dengan segenap umat manusia sedunia. Karya penyelamatan Allah dari covid 19 di muka bumi terjadi saat kita bukan saling menyalahkan, tetapi bahu-membahu melawan dan menanggulangi penyebarannya.