IBADAH ONLINE Pelaksanaan Ibadah dan Sakramen Perjamuan di Masa Pandemi Covid-19

IBADAH ONLINE Pelaksanaan Ibadah dan Sakramen Perjamuan di Masa Pandemi Covid-19

Ibadah ONLINE

Pelaksanaan Ibadah dan Sakramen Perjamuan di Masa Pandemi Covid-19

 Oleh: Andreas UW

“Ada banyak sarana pemeliharaan iman yang bisa dan memang dipakai oleh gereja, mis.: perkunjungan, PA, dan lain-lain, tetapi yang tetap dan utama ada dua yaitu ibadah dan sakramen.”

 

Pengantar

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh penugasan Bapelsin XXVIII GKJ kepada Pusat Kateketik Sinode GKJ (PUSKAT GKJ) melalui surel tertanggal 5 Mei 2020. Inti penugasan tersebut adalahagar dilakukan kajian tentang Ibadah Online. Kajian tentang topik tersebut dirasa mendesak karena diperlukan oleh gereja-gerejadi lingkungan Sinode GKJ dalam rangka menyikapi kondisi bencana pandemi Covid-19 yang menyebabkan penyelenggaraan Ibadah Minggu dan Sakramen Perjamuan Paskah terpaksa mengalami kesulitan.

Agaknya fenomena baru di mana gereja-gereja mengubah cara ibadahnya dalam format ibadah secara online, termasuk pelaksanaan Sakramen Perjamuandalam ibadah tersebut telah mengundang banyak pertanyaan. Bagaimana pemeliharaan iman dengan cara ibadah online berlangsung? Apakah ibadah secara online dapat dianggap sah? Terkait dengan Sakramen Perjamuan yang dilakukan dalam ibadah secara online, “Bagaimana cara pelaksanaanya? Siapa yang menyiapkan roti dan anggur? Jika yang dipergunakan bukan roti dan anggur yang disiapkan oleh Pendeta dari meja perjamuan di gereja melainkan disiapkan sendiri oleh jemaat,apakah secara teologis dapat dianggap sah?” Demikian kurang lebih pergumulan gereja-gereja terkait fenomena pelaksanaan Ibadah Minggu dan Sakramen Perjamuan dalam ibadah secara online.

Untuk memenuhi penugasan tersebut, PUSKAT GKJ memandang bahwa pergumulan gereja-gereja penting ditanggapi. Namun demikian, perlu disadari bahwa untuk melakukan sebuah kajian yang mendalam dibutuhkansumbangan pemikiran dari para ahli, proses kajian oleh tim bersama gereja-gereja, dan untuk sampai pada penerimaan oleh gereja-gereja memerlukan waktu yang panjang. Oleh karena itu berdasarkan pengalaman Komisi Ajaran Sinode GKJ yang di masa lalu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan semacam ini, maka dalam menyikapi penugasan tersebut, dapat ditempuh dengan cara terlebih dahulu mengembangkan wacana tentang masalah yang dihadapi dan berusaha melakukan refleksi-refleksi teologis. Tulisan ini dimaksudkan sebagai langkah awal dengan harapan dapat menjadi bahan bacaan bagi gereja-gereja, sekaligus mendorong para pendeta dan teologGKJuntuk menulis dan turut berkontribusi dalam proses kajian bersama.

Selanjutnya, sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai Ibadah Online, penulis perlu menyampaikan terlebih dahulu beberapa hal mengenai ibadah dan sakramen sebagai sarana pemeliharaan iman. Ini penting karenadari sisi ajarantopiktentang “Ibadah Online” terkait erat dengan ajaran tentang ibadah sebagai sarana pemeliharaan iman.

Klik disini untuk mengunduh buku Pelaksanaan Ibadah dan Sakramen Perjamuan di Masa Pandemi Covid-19