KATEKISASI PANGRIMAT PADINTENAN – GKJ KARANGNONGKO

KATEKISASI PANGRIMAT PADINTENAN –  GKJ KARANGNONGKO

KATEKISASI PANGRIMAT PADINTENAN

GKJ KARANGNONGKO

“CUMA-CUMA”

Pujian KJ 26:1-2, “Mampirlah, Dengar Doaku”

Doa

Pembacaan Matius 10:7-13

Renungan:

     Injil berarti kabar baik atau kabar sukacita. Kabar sukacita ini harus disampaikan dengan sukacita karena kehidupan si pembawa berita itu penuh sukacita. Yang diberitakan adalah hal Kerajaan Sorga yang sudah dekat. Kerajaan Sorga itu sendiri bida dilihat di dalam diri Yesus. Jadi kalau mau melihat Kerajaan Sorga lihatlah Kristus, hidupnya, teladanNya, apa yang dilakukan bagi manusia, rahmat-Nya bagi para pendosa.

     Sebagai pembawa Berita Sukacita (Injil), kita harus terlebih dahulu memahami isi berita, memercayai, menyaksikan dan mengalaminya dalam hidup kita. Bahkan hidup kita harus sesuai dengan isi berita itu. Berita itu berisi kebenaran bahwa Allah mengasihi manusia dan berkenan menyelamatkan manusia berdosa.

     Mengapa kita harus membawa berita itu dengan sukacita? Salah satunya adalah kita telah lebih dulu “menerimanya itu dengan cuma-cuma”. Umumnya orang senang menerima sesuatu yang gratis atau cuma-cuma. Tapi kadangkala kita menyepelekan apa yang diterima dengan cuma-cuma itu. Hal ini bisa terjadi dalam hidup beriman kita. Kita lalu “nggampangke”, menganggap tidak perlu berbuat baik, tidak perlu rajin, wong nanti masuk sorga.

     Kita telah menerina dnegan cuma-cuma, tetapi giliran diminta untuk pelayanan atau mempersembahkan hidupnya, berhitung dengan banyak hal, waktu, tenaga, uang, pikiran. Pertanyaannya,  seandainya Tuhan memberlakukan manusia harus membayar terhadap apa yang dilakukan Allah, sanggupkah dan bisakah manusia? Contohnya, udara. Bila di rumah sakit harga penggantian oksigen per hari 500ribu, lalu sepanjang umur kita berapa rupiah harus kita bayar kepada Tuhan? Tapi semua diberikan kepada kita dengan cuma-cuma. Begitu juga Injil, kabar sukacita tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus telah diberikan dnegan cuma-cuma. Nah, Allah sudah sedemikian berbaik hati pada manusia. Maka hiduplah berbaik hati dengan berbagi berkat kepada orang lain (ayat 8).  Bila kita mau jujur, apa pun yang ada dan kita punyai adalah pemberian Tuhan. Sekarang, maukah kita berbagi berkat sebagai salah satu wujud memberitakan Kerajaan Sorga?

Saat Teduh

Pertanyaan Refleksi

– Apakah kita mau dan siap berbagi berkat dalam kondisi pandemi covid-19 ini?

– Jelaskan langkah konkrit apa saja yang bisa kita lakukan untuk berbagi berkat dalam kondisi pandemi covid-19?

Doa Syafaat

Pujian KJ 395:1-2, “Betapa Indah Harinya”