SEMUA HANYA KASIH KARUNIA, BUKAN KARENA USAHA DAN KERJAKU SEMATA

SEMUA HANYA KASIH KARUNIA,  BUKAN KARENA USAHA DAN KERJAKU SEMATA

SEMUA HANYA KASIH KARUNIA,

BUKAN KARENA USAHA DAN KERJAKU SEMATA

Berbagi Refleksi

 

Menjadi pendeta jemaat di era pandemi kualami menguras tenaga, pikiran, dan emosi.  Kesadaran potensi bahaya penyebaran dan penularan bibit penyakit covid 19 atau di bulan Maret lalu masih bernama virus corona membawaku menjelajah website demi website, dari berita populer yang lebih banyak katanya-katanya, sampai ke situs resmi lembaga negara dan WHO. Tak cukup itu saja berlanjut ke jurnal akademis dan percakapan tentang kebijakan publik antar pemerintah negara-negara di dunia ini. Benar guruku pernah mengutip di bukunya, “to study, to think, is to live and suffer painfully”.  Tetapi memang murid tidak akan pernah bisa lebih dari guru. Siapa menanam akan menuai, siapa bekerja patut mendapat upahnya, maka jangan memberangus lembu yang sedang mengirik.

Kemarin pagi ada kawan yang tidak pernah kontak tiba-tiba menanya apa kabarku, ia mendengar berita tentang kawan pendeta yang kena serangan stroke dan meninggal dunia. Pesannya jelas: Jangan terlalu capek, hati-hati, jaga diri. Tadi pagi malah seorang kawan lain yang memang selalu sedia dan rajin mendukungku bilang agar aku lebih fokus menulis topik-topik yang menjadi kebutuhan bersama gereja dan membukukannya menjadi file pdf.  Jadilah aku sekarang menuliskan refleksi perjalanan ini.

Sebagai pendeta jemaat, sesudah menjelajah dan tetap saja masih berusaha menyakinkan diri dengan menalar benar tidaknya informasi yang sudah kutimba dari mana-mana, aku berkewajiban untuk mengajarkan dan mendampingi jemaat menyikapi dan menanggapi pandemi covid 19 ini. Jadilah sejak Pemerintah Kabupaten Wonogiri menetapkan mulai 15 Maret daerah Wonogiri statusnya KLB, Keadaan Luar Biasa aku mulai menulis bahan PA, renungan, khotbah, dan tulisan refleksi sebagai tanggungjawab pastoral untuk warga. Disebar lewat WA group majelis dan jemaat. Dan sadar karena WA kurang efektif dan paling efektif adalah pertemuan jemaat, maka kujadwalkan lebih banyak lagi kelompok yang kudatangi, dengan setiap hari berkeliling dan  membagikan info serta penerapan protokol kesehatan yang harus dilakukan. Pikirku saat itu: Mumpung belum ada kasus di daerahku, mumpung masih bebas bepergian, sekarang saatnya untuk  mengunjungi warga dan meneguhkan mereka.

Minggu 15 Maret 2020 saat melayani di Bulukerto sebelum ibadah mulai aku sudah menerangkan tentang bahaya penularan virus corona dan bagaimana protokol pencegahannya. Maka saat ibadah juga sudah tidak ada lagi berjabatan tangan sebagai tanda salam, atau saat menyerahkan Alkitab juga tidak dengan berjabat tangan lagi. Tak akan pernah kulupa, hari Minggu 22 Maret 2020. Minggu pertama penerapan ibadah rumah, menggantikan pertemuan ibadah jemaat di gereja. Jadwalku hari Minggu itu di Pepanthan Purwantoro. Gereja Purwantoro ditutup pintu depannya, hanya pintu samping yang dibuka. Aku duduk di teras gereja, sambil berjemur, menunggu kalau-kalau masih ada warga yang belum tahu warta yang disebar untuk mulai beribadah di kelompok keluarga, di rumah. Ternyata sampai setengah jam memang tidak ada warga yang datang ke gereja, atau tamu yang kadang ikut beribadah entah dari mana. Saat itu aku sungguh sadar, era baru pandemi ini sudah datang tidak bisa ditunda atau dielakkan.

Benar kata Newton, bahwa energi kelembaman untuk memulai menggerakan benda yang diam jadi bergerak itu butuh daya yang lebih besar, daripada energi yang diperlukan untuk terus mempertahankan agar tetap bergerak. Tetapi jauh sebelumnya juga sudah ditulis oleh para Rabi, “All beginnings are difficult”.  Pembatasan bepergian, jaga jarak, tidak kontak,  dan pengaturan pertemuan tidak lebih dari 10 orang menabuh kesadaran bahwa butuh tatacara baru bergereja di era pandemi ini. Sambil meraba-raba mulai Minggu 22 Maret mulai ditulis bahan pembinaan daring, direkam dan disebarkan setiap harinya lewat WA Renungan Padinan GKJ Purwantoro, singkat saja, tak lebih dari 500 kata.  Disiapkan juga tata ibadah yang lebih ringkas, cukup 20-30 menit, untuk ibadah keluarga hari Minggu, tidak hanya lewat WA, tetapi juga difotokopi dan disebarkan ke rumah-rumah warga. Semua ternyata bisa didiskusikan dan menjadi keputusan majelis lewat chat di group WA.

Keputusan paling menentukan adalah sesudah bahan tentang perjamuan kudus yang dilaksanakan di ibadah keluarga disebar, dipelajari, dan akhirnya bulat Majelis GKJ Purwantoro memutuskan untuk menyelenggarakan ibadah perjamuan kudus di dalam kelompok-kelompok keluarga di jemaat, dilaksanakan sebagai puncak kegiatan pekan Paskah yang tahun ini terasa begitu sunyi karena sama sekali tidak ada pertemuan jemaat di gereja, tetapi bahkan kemeriahkan pindah ke rumah-rumah dan keluarga jemaat yang menyelenggarakan dengan tuntunan Renungan Padinan. Hari Minggu Paskah 12 April 2020 diadakan perjamuan kudus sejemaat, lewat tuntunan pratelan dan tataibadah yang sudah disiapkan oleh pendeta/majelis, dan diselenggarakan masing-masing di rumah jemaat. Ternyata pelayanan perjamuan kudus kelompok ibadah keluarga ini menjadi tonggak dan deklarasi berjalannya ibadah kelompok keluarga, semakin dikuatkan, dan dibangun menjadi tatacara ibadah yang dibakukan di era pandemi ini.  Terlaksananya pelayanan perjamuan kudus dengan lancar didukung karena bulan April memang jadwal pelayanan perjamuan reguler, dan bulan Maret sudah dilaksanakan persiapan pendadaran.

Suasana ketidakpastian yang dibawa pandemi covid 19 ini sungguh membawa kecemasan, ketakutan, dan juga akibat kehilangan penghasilan karena ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak lagi bisa dilakukan atau berkurang hasilnya. Ternyata ibadah kelompok keluarga efektif bisa menjadi ajang untuk saling menguatkan. Teror media dan aneka hoax yang berdasar katanya-katanya hanya bisa dilawan dengan menumbuhkan sikap kritis memeriksa, menimbang dengan nalar dan budi yang sehat, serta informasi dan wawasan yang jelas sumbernya, bertanggungjawab, membangun dan berguna. Kelompok basis jemaat bukan sekedar menjadi kelompok ibadah, apalagi hanya mengganti ibadah hari Minggu di gereja, tetapi sungguh bisa berperan sebagai kelompok yang sadar literasi pandemi, belajar dan menerapkan protokol kesehatan, dan dengan demikian juga menjadi pioner pembaharuan tatacara hidup baru di tengah pandemi bagi lingkungan di sekitarnya. Terbukti jejaring internal jemaat jauh lebih solid daripada yang ada di masyarakat umum.  Bulan April bisa menandai pelembagaan kelompok basis di gereja, yang jauh lebih kecil daripada kring, kelompok wilayah, apalagi pepanthan.

Memasuki bulan puasa, disepakati untuk tiap kelompok mengadakan aksi berbagi beras kepada sesama di lingkungannya. Masing-masing kelompok mengumpulkan jimpitan beras, dan menentukan siapa yang akan dibantu, baik di antara anggota kelompok, dan atau keluarga sekitar di lingkungannya. Akhirnya seminggu sebelum hari lebaran, dan juga mendahului pembagian fitrah, sekaligus mendahului turunnya bantuan sosial dari pemerintah, paket-paket beras dari kelompok-kelompok sejemaat bisa disalurkan kepada warga yang memang dipandang membutuhkan. Dan ternyata aksi ini juga didukung oleh para warga di luar warga GKJ Purwantoro yang mengetahui dan tergerak untuk ikut membantu.

Ternyata aji mumpung yang kupakai di awal keadaan luar biasa ini tetap kulakukan juga saat di daerah-daerah “merah” dengan angka penyebaran pasien positif covid 19  tinggi diberlakukan pembatasan sosial berskala besar dan aneka protokol tambahan dari macam-macam sumber yang memang sungguh membingungkan. Bila berkenaan dengan asas legal formal, acuan utamaku iya surat edaran dari Pemda Wonogiri dan Provinsi Jawa Tengah, tak perlu pusing dengan apa yang dilakukan Baswedan di Jakarta, atau Khofifah di Surabaya.  Jadilah sejak April, Mei, sampai Juni ini setiap hari malah aku dijadwalkan berkunjung dan beribadah bersama kelompok-kelompok ibadah keluarga yang ada di jemaat GKJ Purwantoro. Dua sampai 4 kelompok setiap hari. Kadang ada juga permohonan doa keluarga khusus terkait kematian, kelahiran, bahkan perkawinan. Sekalipun hal baru dan harus belajar bersama jemaat, toh semua bisa diatur.

Masuk bulan ke-4 pandemi ini, jelas bagiku untuk bersikap. Sekarang saatnya melawan semua harapan palsu akan kembalinya keadaan normal seperti dulu. New normal itu jelas bukan keadaan normal. Keharusan memakai masker bila keluar rumah, tidak kontak badan, tidak salaman, rajin cuci tangan dengan sabun, dan bahkan kewajiban mengenakan masker dalam pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang lain sebagai protokol wajib untuk mengadakan pertemuan dan kegiatan di waktu yang akan datang sama sekali bukanlah keadaan yang normal bagi kita semua. Tetapi mau tidak mau protokol itu yang harus dijadikan “kenormalan” baru dari sekarang sampai entah berapa tahun mendatang.

Karena gereja bukan hanya tanggungjawab pendeta, tetapi adalah kita, maka tanggal 18 Juni kemarin sudah kutuliskan berbagi refleksi: MEMBANGUN TATACARA BARU BERGEREJA DI ERA PANDEMI COVID 19. Secara singkat berikut daftar pekerjaan yang menanti dalam waktu dekat ini. Kutulis sebagai ajakan, siapa mau ikut serta urun pendapat dan mendukung mari!

  1. Menguatkan kelompok basis gerejawi, dari kelompok ibadah rumah menjadi kelompok basis gerejawi, yang beribadah, bersaksi, dan melayani sesama mulai dari lingkungannya.
  2. Menyediakan bahan-bahan sapaan pastoral untuk kelompok khusus lewat Renungan Padinan setiap hari, dan bahan pembinaan dan pengkaderan pemimpin kelompok basis.
  3. Mulai mewacanakan dan mengerjakan adanya majelis di setiap kelompok basis atau paling tidak satu orang pamong yang disiapkan dari setiap kelompok basis yang ada.
  4. Menata tehnis jadwal supaya setiap kelompok basis melakukan ibadah di gereja paling tidak sekali sebulan.
  5. Mengerjakan poin 1-5 di atas melalui proses percakapan, belajar bersama, dan keputusan bersama majelis lengkap, bukan lagi perwakilan MPH atau sidang terbatas.

 

Menuliskan dan berbagi refleksi ini, semakin membawaku kepada kesadaran, bila semua perubahan tatacara baru bergereja di era pandemi ini bisa berjalan, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kasih karunia Tuhan, Kepala Gereja, yang sudah menyiapkan semuanya padaku, pada warga, majelis, kelompok pepanthan, kring, dan akhirnya kelompok basis.  Aku hanya berusaha mencatat dan membagikannya. Tetapi ini bukan usahaku, kerja keras, apalagi karena kepandaianku.

Dan menuliskan ini tetap menjadi ajakan untuk bersama. Pandemi bukan halangan melainkan ujian atas pemahaman eklesiologi yang selama ini kita hadapi, krisis ini bahkan kesempatan yang terbuka untuk mengerjakan hal yang sebelumnya sudah pernah dicoba tetapi tidak pernah bertahan lama seperti: ibadah keluarga, kelompok basis bergereja, produksi bahan pembinaan warga harian, perkunjungan rumah yang terjadwal setiap bulan, dan aksi diakonia yang dilakukan semua keluarga secara kompak.  Mungkin masih banyak lagi berkat ikutan akibat pandemi ini.  Tetapi jelas pekerjaan membangun jemaat belum usai, malah belum apa-apa. Ke depan tantangan itu masih membutuhkan kebersamaan dan dukungan kita semua. Masing-masing diminta sesuai dengan kasih karunia yang telah dianugerahkan dan kita miliki, tidak lebih, tidak kurang. Masih belum lelah bukan!

Akhirnya, biarlah refleksi demi refleksi yang ditulis dan dibagikan sepanjang perjalanan ini menjadi penanda dan monumen karya kasih karunia, yang dilimpahkan dan terus ditambahkan, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bulan, dan tahun. Hari ini Setu Pahing, wetonku.  Besok hari Minggu Pon 21 Juni, juga hari perayaan khusus buatku. Tidak ada acara khusus, tidak ada makan-makan. Malah besok sudah dijadwalkan pelayanan sidi yang tertunda, juga di sore hari peringatan kematian  warga.  Sebagaimana bermotor jarak jauh bisa kembali merelakskan otot-otot tubuhku, menulis juga merupakan relaksasi diri, melonggarkan dari sesak pembatasan protokol kesehatan yang mengikat selama ini. (Pdt. Yahya Tirta Prewita)