Pojok Inspirasi : GEREJA KITA, KELUARGA KITA (I)

Pojok Inspirasi : GEREJA KITA, KELUARGA KITA (I)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (I)

Pojok Inspirasi Sinode GKJ tentang Gereja Intergenerasi (Berseri)

 Pada suatu hari Minggu …

Pada suatu hari Minggu sebelum ibadah mulai, Dimas, sesosok pemuda yang begitu rajin dalam berpelayanan di komisi pemuda maupun multimedia gereja disapa oleh sesosok eyang putri dengan begitu ramahnya. Namun Dimas justru bertanya-tanya: “ada apa gerangan eyang putri tadi menyapaku ya?” gumamnya dalam hati. Dimas yang begitu aktif di dalam pelayanan di komisi pemuda maupun multimedia nampaknya merasa canggung ketika bertemu dan berinteraksi dengan eyang-eyang sepuh dari komisi adiyuswa. Wajar saja apa yang dirasakan oleh Dimas karena dalam berbagai kegiatan gerejawi masing-masing komisi kategorial usia berkegiatan dan berpelayanan di dalam komisinya sendiri-sendiri dan jarang sekali ada interaksi yang bermakna atau kerja sama dengan komisi kategorial usia lainnya.

Hal tersebut tidak heran terjadi di kebanyakan gereja karena salah satu strategi pemeliharaan iman GKJ dalam Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ (TGTL) 2015 adalah melalui pembagian kategorial berdasarkan usia (Pasal 8, ayat 4.b). Gereja kemudian membentuk komisi-komisi berdasarkan kategori usia seperti komisi anak, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa, dan lansia/adiyuswa. Strategi kategorial ini pada dasarnya baik karena berusaha menjawab dan melayani kebutuhan dari masing-masing kelompok usia (baca: generasi) tersebut yang khusus dan berbeda satu sama lain sesuai dengan perkembangan usia (psikologi perkembangan). Fenomena yang banyak ditemukan di gereja-gereja saat ini adalah justru kelompok-kelompok usia tersebut menjadi sangat jarang untuk berinteraksi satu sama lain dalam kegiatan pembinaan iman maupun ibadah bersama.

Problematika gereja yang terdiri dari banyak generasi

Peter Menconi penulis buku “The Intergenerational Church: Understanding Congregations from WWII to www.com” (2010) menuliskan, “ketika banyak gereja adalah multigenerasi (terdiri dari generasi-generasi berdasarkan kelompok usia) dan kelihatannya sehat di permukaan, dalam realitasnya generasi-generasi bertindak seperti kapal-kapal pada malam hari yang berpapasan satu sama lain tetapi jarang sekali melakukan kontak dan interaksi yang bermakna” (Menconi, 2010: p. 2). Kurangnya komunikasi dan relasi yang signifikan antar kelompok usia atau gerenasi yang berbeda harus dengan serius diperhatikan dan diatasi jika gereja-gereja ingin berkembang –tidak sekedar bertahan hidup- saat ini dan di masa yang akan datang.

Demikian pula Holly Catterton Allen dan Christine Lawton Ross penulis buku “Intergeneratinal Christian Formation: Bringing the Whole Church Together in Ministry, Community and Worship” (2012) juga mengamati fenomena yang serupa di dalam gereja, yakni khususnya kaum muda anggota gereja yang merasa “terasing” (baca: ter-alienasi) dari anggota gereja yang lain, secara khusus dari anggota jemaat dewasa dan lansia (Allen & Ross, 2012: pp. 12-14). Para pemuda gereja ini melihat bahwa diri mereka dan aktivitasnya terpisah dari komunitas usia yang lain dan kegiatan gereja yang lebih luas.

Bersama tapi saling terasing

Para pemuda semakin kurang merasakan dan mengalami kehidupan persekutuan gereja sebagai kesatuan “Tubuh Kristus”, “Keluarga Allah” dan komunitas iman (1 Korintus 12:27; Efesus 4:12). Hal demikian juga dirasakan oleh kelompok-kelompok usia yang lain di dalam persekutuan gereja. Penelitian Allen dan Ross dilakukan pada gereja-gereja baik dari kalangan gereja mainstream maupun evangelical di Amerika Serikat, meski demikian berdasarkan pengamatan penulis kecenderungan situasi tersebut juga terjadi di gereja-gereja Indonesia, termasuk di dalamnya adalah GKJ.

Dalam konteks Amerika Serikat, Martinson dan Shallue (2001) sebagaimana dikutip Allen dan Ross (2012) menyebutkan pergerakan menuju segregasi usia pada pergeseran nilai utama kehidupan, gaya hidup yang serba cepat, dan individualisme. Tren segregasi usia di gereja-gereja bermula pada tahun 1940-an dan setelah Perang Dunia II dimana organisasi-organisasi parachurch seperti Young Life, InterVarsity dan Youth for Christ (“gereja peri-peri”, dalam konteks Indonesia seperti Perkantas, Arrow Generations, dan lain-lain) yang sukses menjangkau pemuda dan kaum dewasa muda pada masa-masa kesusahan dan keputusasaan setelah perang berakhir. Kelompok-kelompok tersebut menjawab kebutuhan pelayanan iman kaum muda yang spesifik. Oleh karena keberhasilan pelayanan yang menyasar kelompok usia yang tertentu tersebut, gereja-gereja mulai menyadari dan meyakini bahwa gereja perlu mengadopsi pendekatan pelayanan yang dikhususkan yang serupa. Sebagai contoh pada pertengahan abad ke-20 pemimpin-pemimpin gereja di Amerika Utara mulai mengenal dan mengadopsi pendekatan perkembangan kognitif dan iman, serta perbedaan kebutuhan dari tahapan usia yang berbeda untuk diterapkan pada kurikulum pendidikan Kristiani dan pembinaan iman berdasarkan usia (Allen & Ross, 2012: pp. 36-38).

Individualisme di tengah masyarakat dan keluarga

Faktor lain yang berpengaruh pada segregasi usia di gereja arus utama (mainstream) adalah budaya individualisme secara khusus dalam konteks Amerika Utara (Allen & Ross, 2012: pp. 37-38). Sementara dalam konteks Indonesia, individualisme juga dirasakan merasuki setiap sendi kehidupan masyarakat tidak terkecuali dalam kehidupan bergereja dan kehidupan iman secara pribadi. Individualisme juga dirasakan merasuk dalam pemahaman teologi tentang keselamatan (soteriologi) yang begitu individualistik, dan pada saat yang bersamaan dapat menurunkan aspek komunal dalam penghayatan keselamatan. Hal ini secara sederhana nampak misalnya pada lagu-lagu bercorak himne Kristen yang banyak menekankan keselamatan pribadi daripada keselamatan bersama atau komunal (salah satu indikasi misalnya lirik-lirik lagu: “Mampirlah dengar doaku…“, “Meski tak layak diriku…”, “SuaraMu kudengar memanggil diriku…” dan seterusnya).

Teori psikologi perkembangan merambah pembinaan gerejawi

Dari segi ilmu psikologi, munculnya teori perkembangan pada abad ke-20 telah memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana anak-anak, remaja, pemuda, dewasa dan lansia yang berkembang dalam berbagai tahapan baik secara kognitif (Jean Piaget), secara psikososial (Erik Erikson), secara moral (Lawrence Kohlberg dan Carol Gilligan), maupun secara iman (James Fowler). Para pemimpin gereja semakin menyadari perbedaan kebutuhan manusia menurut teori perkembangan dari anak-anak sampai lansia dalam komunitas iman yang mereka layani. Pemimpin gereja atau pendeta kemudian mempunyai semangat untuk menciptakan pelayanan dan peribadatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang beragam baik secara spiritual, kognitif, dan psikososial kepada kelompok-kelompok usia tersebut (Allen & Ross, 2012: p. 39).

Teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Jean Piaget tentang tahapan usia berpikir manusia telah merevolusi pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah-sekolah dasar negeri di Amerika Serikat pada dekade 1960-an dan 1970-an, dan kemudian juga merevolusi pola pengajaran sekolah minggu di gereja-gereja. Pendidikan iman Kristiani mulai menerapkan pendekatan belajar-mengajar (teaching-learning) yang lebih mengena bagi anak-anak dengan menggunakan lima indera, gerak tubuh, peralatan visual, keterlibatan aktif, dan ide-ide segar lainnya (aspek kognitif, afektif dan psikomotorik). Rupanya, perhatian terhadap teori perkembangan ini juga diterapkan dalam peribadahan secara khusus ketika gereja-gereja menganggap bahwa pelayanan ibadah Minggu adalah khusus untuk kelompok usia dewasa. Beberapa gereja malah mulai menawarkan pilihan “gereja anak-anak” (children’s church) pada dekade akhir 1960-an hingga awal 1970-an. “Gereja anak-anak” ini dipandang sebagai sebuah latihan untuk mempersiapkan anak-anak yang nantinya berpartisipasi pada peribadahan umum kaum dewasa (lihat Allen & Ross, 2012: pp. 39-40). Hal-hal sebagaimana diuraikan di atas turut berkontribusi terhadap semakin terkotak-kotakannya generasi-generasi di dalam gereja yang membuat interaksi dan relasi di antara generasi menjadi semakin jarang. ….. (bersambung).

 

-Pdt Imanuel Geovasky (GKJ Karangbendo)-


Klik disini untuk mengunduh Artikel

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (I) (file Word

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (I) (file Pdf