QUO VADIS ‘COMMUNION’ DI ERA NEW NORMAL?

QUO VADIS ‘COMMUNION’ DI ERA NEW NORMAL?

QUO VADIS ‘COMMUNION’ DI ERA NEW NORMAL?

Pengantar

Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi kecil terhadap pelbagai fenomena kegelisahan umat yang kerap muncul terkait dengan makna persekutuan/hubungan erat (communion) di tengah situasi saat ini. Sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kita renungkan sejenak beberapa kisah di bawah ini.

TBeberapa tahun yang lalu ada seorang pemuda bertanya kepada seorang aktivis gereja: “Pak, apakah kalau hari Minggu kita harus ke gereja? Bukankah cukup dengan mendengarkan pujian dan kotbah di TV saja? Kan ada di TV misalnya kotbah John Hartman? Bukankah iman kita bisa kuat?” Lalu aktivis gereja tersebut menjawab: “Memang, mengikuti ibadah di TV bisa saja menguatkan iman. Namun bukankah salah satu manfaat ibadah Minggu adalah terpeliharanya persekutuan? Lha bagaimana persaudaraan kita kuat kalau kita tidak hadir bersama saudara-saudara yang lain di gereja? Jadi, melihat TV saja itu belum cukup! Dimensi vertikalnya mungkin dapat, namun dimensi horisontalnya bagaimana?”

Seorang anggota tim multimedia di sebuah gereja mengeluh. “Sekarang ini banyak berseliweran link video ibadah online dari gereja lain di grup-grup WA umat di gereja kita. Aku sebenarnya tidak masalah dan tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Yang jadi masalah, mengapa banyak warga malah mengikuti ibadah online dari gereja lain di hari Minggu? Mbok ya hargai dikitlah kerja keras kami yang harus datang ke gereja, meninggalkan keluarga demi tugas merekam ibadah, belum lagi begadang mengedit sampai dini hari…duh, sedih rasanya!”

Seorang warga di salah satu gereja mengeluhkan situasi paska pandemi covid 19. “Saya sungguh- sungguh heran sekarang. Dulu saat pandemi saya bisa mengerti kalau kita diminta diam di rumah. Tapi setelah masuk new normal dan boleh ibadah di gereja lagi, kok rasanya aneh ya. Selama ini kita diajarkan praktek kasih, senyum, sapa, bisa bersalaman, berpelukan, cipika-cipiki, ngobrol lama, lha ini malah disuruh menjaga jarak. Yang lebih aneh, saat saya melayat sahabat dekat saya di gereja, saya hanya bisa melihat sedikit wajah istrinya dibalik masker. Dia tersedu. Tapi saya hanya bisa memberi salam sembah di dada, tak bisa memeluknya untuk menenangkan hatinya. Sedih sekali hati saya! Memang, ini semua demi mencegah covid-19. Tapi saya merasa aneh saja! Mengapa jadi sulit mempraktekkan kehangatan kasih saat ini?”

Beberapa kisah kecil tersebut mengajak kita untuk merenungkan sejenak, masih adakah makna persekutuan/hubungan erat (communion) di era paska pandemi saat ini? Seperti apakah kita bisa memaknainya?

Ibadah Virtual: Ancaman atau Ladang Baru?

Pandemi membuat banyak institusi gereja maupun warga gereja mengalami semacam shock culture, gagap budaya. Bagaimana tidak? Setelah puluhan bahkan ratusan tahun nyaman dengan ibadah luring/offline, sekarang harus switch off, beralih ke media daring/online. Dari kebiasaan yang sudah nyaman berpindah ke kebiasaan baru yang tidak lazim, bahkan mungkin asing. Bagaimana gereja-gereja pun juga umat menyikapi fenomena tersebut? Beragam sikap dan refleksi muncul. Paling tidak ada dua sikap. Pertama, banyak yang memandangnya sebagai tantangan baru di tengah kesulitan perjumpaan fisik. Mereka menyambut ibadah virtual dengan antusias, dengan semboyan iman bahwa jarak tidak menghalangi perjumpaan meski secara virtual. Ibadah virtual, baik berupa live streaming maupun rekaman/siaran tunda tetap dinanti dan disambut dengan hangat. Muncullah tim-tim teknis (multimedia) yang berjuang keras untuk merealisasikan ibadah virtual tersebut. Pelbagai kendala teknis coba diatasi dengan effort sekuat tenaga dan sepenuh hati. Bagi banyak umat, fenomena ibadah virtual adalah sebuah peziarahan, atau paling tidak petualangan iman baru yang menantang dan menggairahkan untuk dilakoni!

Di sisi lain, banyak juga gereja atau umat yang mulai merasa gelisah. Di masa awal, pelayanan ibadah virtual memang menggairahkan, anggap saja paling tidak sebagai upaya trial and error. Namun lama kelamaan muncul kegelisahan: Apakah akan seperti ini terus, sementara pandemi belum jelas kapan berakhirnya? Dalam hati sebagian umat, bagaimanapun ibadah di gedung gereja jauh lebih mengena dibanding ibadah secara virtual. Suasana ritual dalam gedung gereja yang megah nan artistik – dengan pelbagai ritual dan atribut simbolik – terasa lebih menggetarkan rasa spiritualitas mereka daripada hanya di rumah. Perasaan seperti ini terutama dirasakan oleh sebagian umat yang memiliki kecenderungan corak spiritualitas inderawi dan tradisional. Menurut Gary Thomas dalam bukunya “Sacred Patways: Discover Your Soul’s Path to God”, umat yang menonjol corak spiritualitas inderawinya cenderung menikmati ruangan dan suasana ibadah yang agung, yang ‘memanjakan’ mata, telinga, hidung dan rasa. Sedangkan umat yang menonjol corak spiritualitas tradisionalnya cenderung menikmati adanya simbol-simbol di ruangan ibadah serta suasana ritualitas ibadah (Thomas, 2000: pp. 61-75, 83-98). Demikian juga, bagi sebagian umat lainnya, perjumpaan secara fisik adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar. Boleh jadi jawaban aktivis gereja terhadap pertanyaan seorang pemuda dalam pengantar di atas mewakili kegelisahan hati sebagian umat tersebut tentang pentingnya persekutuan secara fisik di gereja. Mungkin dalam bahasa kekinian, ibadah virtual bagi mereka bisa disamakan dengan, mohon maaf, KW 1 (untuk live streaming), KW 2 (untuk siaran tunda), sedang ibadah di gedung gerejalah yang Ori (ginal).

Memang tidak mudah untuk mencoba apalagi beralih dari kebiasaan (habitus) bentuk tertentu dari pemberdayaan iman umat yang telah berurat akar, ke bentuk yang baru. Apalagi dalam hal ibadah. Rasanya juga hampir tak pernah terpikirkan jika umat harus beribadah secara daring ketika dulu tidak ada pandemi. Namun oleh karena pandemi, mau tidak mau, suka tidak suka, ibadah online menjadi bentuk pemberdayaan iman baru yang bukan hanya coba-coba namun sudah menjadi kebutuhan. Seiring waktu berjalan, mulailah muncul kegamangan di kalangan sebagian umat. Sementara sedang belajar adaptasi dengan bentuk baru, kecemasan datang terkait dengan bagaimana masa depan ibadah offline/fisik. Apalagi, kalaupun nanti boleh dilakukan lagi, ibadah offline harus dilayankan dengan pembatasan-pembatasan ketat, terutama soal usia umat. Kalangan adiyuswa bisa menjadi kecewa dan sedih karena belum diperbolehkan datang ke gedung gereja. Memang, pergumulan yang tidak mudah dilalui!

Ibadah virtual mungkin berpotensi memiliki beberapa kelemahan bagi banyak orang. Misalnya, ketiadaan kesempatan untuk mengartikulasikan sujud sembah bakti dalam atmosfer ‘kesakralan’ gedung gereja; ketiadaan kesempatan untuk mengartikulasikan perhatian secara langsung melalui sentuhan fisik; kecenderungan penekanan pada spiritualitas individual daripada spiritualitas komunal; serta kekhawatiran ke depan akan peminggiran keber-agama-an dari ruang publik ke ruang personal semata! Bagi mereka, ibadah virtual terpaksa dilakukan karena keadaan darurat dan bukan ibadah yang ideal. Besar harapan mereka untuk segera kembali ke ibadah secara fisik. Namun karena pandemi belum jelas kapan berakhirnya, maka muncul kekhawatiran jika ibadah virtual akan berlangsung lama, bahkan semi permanen! Jika demikian, bukankah gereja akan mengalami kemunduran iman dan persekutuan? Degradasi dan defisit spiritualitas? Dalam perspektif yang demikian, ibadah virtual bukan lagi hanya dipandang sebagai keterpaksaan temporer namun bisa-bisa ke depan akan menjadi ancaman!

Bagaimana kita menyikapi kegelisahan-kegelisahan tersebut? Atau paling tidak merespon dengan refleksi-refleksi yang lebih seimbang?

  1. Berbagai refleksi teologis telah banyak dikemukakan terkait dengan keabsahan ibadah online. Dalam perspektif biblis, yang sering dikemukakan adalah pandangan Yesus dalam Yohanes 4: 24: “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.” Konteks dari teks ini adalah jawaban Yesus atas kegalauan seorang perempuan Samaria yang dianggap kafir oleh umat Yahudi karena tidak menyembah Allah di Yerusalem tapi di gunung tertentu. Yesus menegaskan bahwa penyembah yang benar adalah menyembah dalam roh dan kebenaran, tidak harus terikat tempat dan waktu (ay. 21). Oleh karena Allah adalah Roh maka yang menjadi basic principle adalah dimensi spiritualitas batin umat, roh umat, yang melintasi ruang dan waktu. Samar-samar kita juga bisa mengerti mengapa umat Kristen tidak harus sama dengan umat Yahudi di jaman PL yang menghadap kiblat Yerusalem ketika sembahyang! Sedangkan aspek ‘kebenaran’ merujuk pada siapa yang seharusnya disembah. Gagasan-gagasan Yohanes tentang sosok mesianik Yesus yang turun dari atas (high Christology – 1: 1-14) mendorong umat untuk menyembah Allah yang benar, yakni Allah yang telah mengutus Yesus. Dimulai dari pengenalan tentang sosok Allah, untuk kemudian mendorong umat agar sampai pada kesediaan mengenal dan bahkan mengikut sosok Yesus sebagai representasi sosok ilahi di hadapan manusia. Jadi kita bisa menyimpulkan unsur mendasar dari ibadah yakni kepada siapa (Allah) dan bagaimana (dengan roh). Oleh karena itu, waktu dan tempat lebih merupakan turunan dari implementasi teknis ibadah, dalam hal ini offline ataupun online. Meski tidak di satu tempat yang sama (online) namun roh kita bersama-sama bisa menyembah Allah! Meski memang dari segi kenyamanan mungkin tidak senikmat ibadah offline namun paling tidak kita sekarang memahami prinsip dasar ibadah yang ternyata bisa melintasi ruang dan waktu.

  1. Sebagaimana cara pandang GKJ tentang kejamakan model ekklesiologi (komunitas pembelajar/para murid, keluarga Allah, paguyuban umat, peziarah lintas iman, komunitas pembaharu dan lainnya) maka adalah keniscayaan jika turunan-turunan praksis dari model-model tersebut juga bersifat jamak. Mindset kejamakan ini seharusnya mendorong kita untuk bersikap terbuka, open mind, terhadap bentuk-bentuk baru dari upaya pemberdayaan iman Dalam hal ini adalah ibadah secara online. Apapun penyebab hadirnya, entah karena terpaksa atau tidak, kita belajar untuk memahami bentuk baru tersebut secara positif. Oleh karena itu, meski awalnya dianggap sebagai semacam ‘tangga darurat’ atau ‘jembatan keterpaksaan’ namun kini kita bisa memahaminya secara baru yakni sebagai sebuah kekayaan bentuk pemberdayaan iman umat. Alih- alih memandangnya sebagai ancaman, kita justru bisa memandangnya sebagai sebuah ladang baru! Koridor mindset-nya bukan lagi dikotomis: ‘ini atau itu’ melainkan ‘bisa ini, bisa itu’.

  2. Secara fungsional tidak dapat dipungkiri bahwa ibadah virtual juga membawa beberapa manfaat, antara lain : mendorong daya tahan gereja dan umat menghadapi tantangan; mendorong ‘adrenalin’ gereja untuk berani keluar dari zona nyaman dan menemukan ‘without the box ways’; memunculkan peran sentral komunitas multimedia yang mungkin selama ini kurang diperhatikan/diberi tempat dibanding komunitas-komunitas lain di gereja; mendorong gereja untuk mengoptimalkan peran teknologi dalam pelayanan; mendorong gereja untuk mengoptimalkan literasi digital bagi umat; serta mendorong peran sentral keluarga-keluarga dalam ibadah. Dengan demikian, kehadiran ibadah online di tengah pandemi justru bisa dipandang sebagai ‘blessing in disguise’, berkah dibalik bencana. Pelayanan ibadah online mendorong daya tahan gereja (empowering people), berkembangnya karunia dan talenta tersembunyi (developing talent) khususnya terkait multimedia serta peningkatan literasi umat terhadap teknologi (improving knowledge and skill).

Pasar Ibadah Virtual: Maturity Test

Pandemi memunculkan globalisasi ibadah virtual. Meski sebelumnya sudah banyak unggahan ibadah online (live streaming maupun rekaman) dari beberapa gereja namun pandemi menghadirkan maraknya ibadah virtual sebagian besar gereja di Indonesia! Oleh karena itu patut disadari bahwa umat di gereja kita masing-masing tidak lagi terikat persekutuan secara fisik sehingga mereka bisa membuka smartphone dan memiliki keleluasaan besar untuk melihat bahkan memilih ikut ibadah virtual di gereja yang dipilih. Jadi bukan hanya kaum milenial gereja yang sudah punya mindset universalitas ibadah gereja, kini seluruh umat punya akses luas bahkan hampir tak terbatas untuk mengikuti selera ibadah masing-masing. Itulah sebabnya, banyak yang memilih ikut ibadah online gereja lain yang dilayankan secara live streaming daripada beribadah virtual di gereja sendiri yang hanya menyediakan media berupa rekaman. Selamat datang di blantika rimba virtual…..!

Secara positif, dari perspektif oikumenis, globalisasi ibadah gereja sebenarnya bisa mendorong rasa ‘senasib sepenanggungan’ dengan gereja lain yang juga harus beribadah online di masa pandemi; mendorong gereja untuk mempersembahkan yang terbaik dalam pelayanan multimedia supaya tidak ditinggalkan umat; mendorong gereja untuk saling belajar tentang penyelenggaraan ibadah berbasis teknologi virtual; memberi keragaman warna pemberdayaan iman umat lintas gereja bahkan lintas kultural. Dalam hal ini, semua gereja sebaiknya bersikap dewasa dan bijak sehingga tidak harus bersikap eksklusif dan defensif dalam memandang realitas ‘pasar ibadah virtual.’ Keberadaan ‘pasar’ tersebut tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi lokalitas namun dipahami sebagai realitas sosial yang tak terhindarkan. Justru gereja ditantang untuk membangun ketrampilan komunikasi dengan umat terkait keterbatasan pelayanannya sehingga umat bisa memahami kesulitan gerejanya. Namun gereja juga ditantang untuk rendah hati mengembangkan spirit komunitas pembelajar dalam rangka upgrading pelayanan virtualnya!

Di sisi lain, harus diakui bahwa jika tidak disadari, kehadiran ibadah online bisa mendatangkan kecenderungan : simplifikasi/pragmatisme ibadah dimana ibadah online lebih dipandang sebagai tontonan; entertainisme ibadah, lebih sebagai hiburan; pengkultusan model ibadah tertentu maupun pelayan ibadah tertentu sesuai selera umat. Yang terakhir ini sangat mungkin karena umat tak lagi terikat secara fisik dalam ibadah offline di gerejanya melainkan bisa bebas memilih pilihan ibadahnya seluas- luasnya. Menyadari kemungkinan kecenderungan-kecenderungan tersebut, gereja lokal tidak perlu panik. Gereja perlu bersabar untuk mengembangkan edukasi pastoral secara persuasif supaya umat bisa bersikap bijak dan dewasa menyikapi ‘pasar ibadah virtual.’ Gereja tidak mungkin melarang umat untuk melihat bahkan beribadah virtual di gereja lain. Sikap ini cenderung defensif dan kurang bijak. Tapi gereja bisa mendorong umat untuk tetap memiliki ‘sense of belonging’, respek dengan upaya gereja sendiri dalam menyelenggarakan pelayanan ibadah virtual. Harapannya, meski bisa menikmati ibadah di gereja lain namun umat tidak juga harus meninggalkan ibadah di gereja sendiri. Gereja bisa menjelaskan alasan keterbatasan pelayanannya kepada umat. Misalnya, gereja terpaksa memakai model rekaman/siaran tunda karena masalah keterbatasan quota sebagian besar umat lokal serta karena di area redzone sehingga sulit menyelenggarakan live streaming mengingat pembatasan personil/peliput untuk beraktivitas bersama di gedung gereja. Gereja juga bisa menjelaskan jerih payah para pelayan termasuk tim teknis yang telah mempersembahkan pelayanan maksimal. Namun selain mengedukasi umat agar tetap menghargai ibadah di gereja sendiri, gereja juga mengajak umat untuk belajar dari gereja-gereja lain dalam mengembangkan pelayanan ibadah virtual.

Melalui kedalaman refleksinya, gereja-gereja bisa merumuskan kembali identitasnya secara oikumenis sebagai bagian dari gereja-gereja universal yang saling belajar. Gereja-gereja belajar mengelola dialektika antara kebutuhan identitas lokal dengan kesadaran globalisasi gereja. Identitas lokal justru terbentuk dalam relasinya dengan gereja-gereja lain! Ketika gereja belajar dari gereja lain, identitasnya justru menemukan jalannya sebagai komunitas pembelajar! Di sinilah nilai-nilai learningly, wisdom, humility, hospitalitas dan maturity berkembang!

Relasi Berjarak: Sebuah Oxymoron?

Ahmad Arif, dalam artikelnya berjudul “Oxymoron” Normal Baru mengatakan bahwa ‘normal baru’ bisa dikategorikan sebagai oxymoron, frase kiasan yang memiliki arti bertentangan. Kata oxymoron sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘oxy’ yang berarti ‘tajam’ dan ‘moron’ yang berarti ‘tumpul’. Jadi, tajam atau tumpul? Ya begitulah! Normal baru mengandung pertentangan: apakah sudah saatnya memasuki dunia baru (padahal kasus covid-19 terus naik) atau sebaliknya kembali ke situasi lama? (Kompas, 3 Juni 2020). Ada dimensi paradoksal dan kontradiktif makna dalam istilah ‘normal baru.’

Meminjam istilah di atas, ‘relasi berjarak’ di era new normal – dalam perspektif kehidupan persekutuan gerejawi – bisa juga dikategorikan sebagai ‘oxymoron.’ Di satu sisi ada panggilan untuk membangun relasi persekutuan yang erat dan hangat namun di sisi lain relasi fisik harus memperhatikan jarak aman. Ya, begitulah, relasi tapi berjarak! Jika gerak-gerik ekspresi fisik umat sebelum, selama dan sesudah ibadah kemudian menjadi sangat terbatas maka kita jadi teringat kata Robert Wenz: ‘Passive worship is oxymoron!’ Tentu saja kita bisa memahami bahwa semua keber-jarak- an ini adalah dampak dari covid-19, sebagai upaya untuk mencegah penularannya. Betul. Namun apapun penyebabnya, dalam perspektif spiritual formation, bagaimana kita bisa ‘memberi nama baru’ terhadap relasi berjarak tersebut (naming communion) di era baru ini supaya umat tidak kehilangan artikulasi maknanya (meaningless)?

Relasi berjarak menghilangkan salah satu ekspresi communion yakni sentuhan antar umat. Kristi Poerwandari, seorang psikolog, dalam artikelnya berjudul “Nilai Penting Sentuhan” menekankan pentingnya sentuhan afeksi (bukan seksual) seperti tepukan/elusan punggung, belaian kepada orang- orang tersayang, genggaman tangan, ciuman di pipi, pelukan pada anak/sahabat saat ia gagal, amat penting untuk menghadirkan perasaan diri berarti, sekaligus mengajarkan kepedulian kepada orang lain. Bahkan jabat tangan individu-individu dalam kelompok-kelompok yang saling berkonflik pun bisa mengurangi ketegangan dan membantu memperlancar komunikasi untuk menemukan jalan keluar yang win-win (Kompas, 13 Juni 2020). Kita bisa membayangkan betapa keringnya jika communion tanpa

sentuhan, salaman, pelukan, tepukan! Apalagi bagi anak-anak! Ekspresi sentuhan afektif sangat penting dan diperlukan dalam memelihara kesehatan pertumbuhan jiwa mereka.

Satu hal lagi yang menjadi pergumulan dalam kaitannya dengan relasi berjarak adalah konseling pastoral berbasis layanan virtual di masa pandemi maupun sesudahnya. Sebenarnya sudah cukup lama kebutuhan akan layanan ini dirasa penting, khususnya di kota-kota karena keterbatasan waktu bertemu secara fisik. Namun memang layanan ini dipandang punya banyak kelemahan dibanding konseling pastoral secara fisik. Gestur, mimik, tarikan nafas, dan ekspresi fisik lainnya amat penting sebagai pengungkap isi batin konseli. Ini yang tidak diperoleh kalau hanya melalui telpon, WA, atau email. Namun suka tidak suka, mau tidak mau, layanan konseling virtual kemudian menjadi prime-ministry semasa pandemi. Para pelayan maupun umat mengalami kesulitan untuk bertemu secara fisik. Bukan semata karena alasan ketiadaan waktu namun juga larangan untuk bertemu secara fisik apalagi di rumah sakit! Akhirnya, layanan konseling berbasis media virtual mejadi jalan keluarnya! Apakah dengan demikian kita sedang mengalami kemunduran dalam hal konseling?

Beberapa pergumulan dalam kaitan dengan relasi/persekutuan/communion di atas mengajak kita untuk merenung. Beberapa pikiran awal mungkin menolong kita untuk menemukan nama baru communion, menemukan makna baru di era baru.

  1. Sebagaimana refleksi teologis tentang ibadah online, maka yang pertama-tama kita ubah adalah cara berpikir (mind-set) kita tentang Kita terbiasa memakai pola pikir linier dimana semakin lama kehidupan menjadi semakin sempurna/ideal. Semakin lama ditemukanlah bentuk-bentuk relasi yang semakin menghangat. Dan jika kita tidak bisa lagi demikian maka kemudian kita akan memandangnya sebagai kemunduran relasi. Namun jika kita belajar mengembangkan pola pikir spiral maka kita bisa mengartikulasikan setiap perubahan sebagai bagian dari testing, ujian terhadap daya tahan cara bergereja kita agar tak lekang oleh waktu dan situasi. Sebagai contoh, dulu saat gereja-gereja terancam oleh pemerintah Romawi, para rasul dan gereja-gereja masih bisa berkomunikasi melalui surat menyurat. Misalnya, rasul Yohanes bisa berkomunikasi dengan 7 jemaat di kitab Wahyu melalui surat, itu pun dengan bahasa-bahasa simbolik agar tidak dibredel pemerintah Roma. Dalam atmosfer sepenanggungan inilah umat bisa memelihara relasi meski dalam keterbatasan. Tolak ukurnya bukan lagi soal kuantitas dan intensitas relasi melainkan bagaimana proses umat membangun daya tahan bersama sehingga tetap bisa berelasi. Keterbatasan bukanlah hambatan melainkan sebuah peluang untuk tetap bertahan! Jadi kita bisa seolah mundur sejenak untuk melangkah lebih jauh sesuai gerak spiral. Seakan-akan kita mengalami kemunduran relasi namun sesungguhnya kita justru sedang naik kelas dalam hidup bersekutu! Rasa sepenanggungan, daya tahan bersama, hasrat berelasi yang tetap terjaga, serta kreativitas-kreativitas baru dalam berelasi, merupakan pencapaian yang patut disyukuri. Semua itu justru merupakan modalitas spiritual utama dalam hidup persekutuan umat.

  2. Berkaitan dengan pentingnya sentuhan afeksi, Kristi Poerwandari mengajak kita khususnya keluarga agar situasi saat ini justru menjadi kesempatan bagi keluarga untuk lebih mengekspresikan sentuhan kepada anak-anak di rumah (Kompas, 13 Juni 2020). Rumah menjadi lingkungan yang relatif aman dan nyaman dari penularan covid-19 sehingga anak-anak tetap beroleh kebutuhan afeksi dari keluarga demi pertumbuhan jiwanya agar tetap sehat. Sembari menunggu vaksin covid-19, gereja bisa membangun atmosfer ‘sepenanggungan’ yang sama di antara umat sehingga mereka tetap bersemangat membangun relasi dalam keterbatasan. Seolah umat berseru:”Hai, kawan, ayo buktikan bahwa kita tetap solid dan tetap merasa hangat meski hanya lewat lambaian, telpon, WA, video call, dan meeting online!” Jadi jarak tidak lagi dipandang sebagai hambatan dalam berelasi namun menjadi ruang dimana kita sadar akan kelemahan kita dan bahwa oleh karena itulah kita memang membutuhkan sahabat serta bergairah memenuhinya dengan cara apapun termasuk via media virtual! Keep a passionate desire in our heart in the new atmosphere!

  3. Konseling pastoral berbasis layanan virtual memang memiliki keterbatasan. Namun layanan ini bisa kita sambut sebagai sebuah ladang baru, memperkaya layanan-layanan konvensional yang selama ini kita lakukan. Oleh karena itu tidak lagi kita pandang sebagai ‘layanan darurat’ namun justru sebuah terobosan dan kreativitas baru yang melengkapi layanan lainnya. Terlebih melalui video call dan meeting online, kita masih bisa melihat reaksi fisik, mimik, gesture dari konseli, meski

memang tidak sejelas ketika bertemu secara fisik. Namun bukankah antusiasme konselor maupun konseli ketika berjumpa virtual juga merupakan spirit yang kuat dari sebuah persekutuan, communion? Berkobarnya gairah (desire), kesediaan berjuang (struggling), serta kreativitas (creativity) semua pihak menjadi new value, nilai yang makin dikuatkan di era baru! Di sinilah communion beroleh artikulasi maknanya!

Kunci Perubahan : Relate, Repeat, Reframe

Mengutip Alan Deutchman dalam buku “Change or Die”, Wihana Kirana Jaya mengemukakan tiga kunci penting agar perubahan positif dapat berlangsung dalam konteks individu, organisasi, bisnis ataupun masyarakat. Pertama adalah relate, mengembangkan relasi dan komunitas baru. Kedua adalah repeat, semangat mengulang kebiasaan, perilaku dan ketrampilan baru secara berkesinambungan dalam sebuah komunitas yang mendukung perubahan itu. Ketiga adalah reframe, membingkai ulang proses perubahan dengan kerangka pola berpikir dan bertindak baru. (Kompas, 16 Juni 2020).

Dalam perspektif pandangan di atas maka disadari atau tidak, sesungguhnya kita telah menghidupi relasi-relasi (baru), juga dengan cara-cara yang baru. Misalnya, selama pandemi kita seolah menemukan ‘komunitas dan relasi baru’ dalam persekutuan keluarga, yang hampir-hampir terabaikan sebelum pandemi. Demikian juga, meski harus menjalankan protocol ‘relasi berjarak’ namun hal ini bisa dipahami sebagai cara baru dalam berelasi, di samping melalui gencarnya pemakaian media virtual. Dalam kurun tiga bulan lebih, cara-cara baru berelasi tersebut terus kita biasakan berulang sehingga sudah menjadi habitus baru dalam berelasi antar umat. Suka atau tidak, komunitas umat ‘harus’ mendukung pola-pola perubahan berelasi tersebut. Namun yang tak kalah penting adalah kebutuhan untuk reframing, yakni membangun kerangka pola pikir baru sebagai ‘spirit’ dan ‘bensin’ supaya umat memiliki pijakan spiritual yang kokoh ketika menghidupi cara-cara relasi baru dalam persekutuan.

Refleksi-refleksi di atas adalah bagian dari upaya membantu umat dalam membingkai kerangka berpikir secara baru terhadap realitas-realitas baru dalam berelasi. Melalui refleksi-refleksi di atas kita menemukan pikiran-pikiran awal dalam rangka reframing, memaknai ulang communion. Pertama, kerangka berpikir tentang perlunya pengembangan kesadaran akan adanya atmosfer ‘sepenanggungan’ sebagai modalitas yang mendorong antusiasme untuk menciptakan movement bersama. Kedua, kerangka berpikir tentang perlunya perubahan mindset bersama dalam memaknai ulang relasi-relasi dalam ibadah, persekutuan dan keluarga, tentang daya tahan gereja, tentang dialektika pergaulan antar gereja serta tentang perayaan menyambut layanan ladang baru. Ketiga, kerangka berpikir tentang perlunya penguatan nilai-nilai (baru) bersama seperti hospitality, humility, maturity, wisdom, learning, desire, struggling dan creativity terutama di masa new normal. Ketiga kerangka berpikir tersebut memang bermuara pada aspek-aspek dari spiritual formation. Aspek-aspek tersebut merupakan the spirit of communion yang menjadi landasan pijak pembangunan communion dalam situasi apapun, khususnya di era new normal.

Kita teringat ungkapan dari Katrien Hertog tentang ‘aspek lembut’ (soft aspect) dalam upaya pembangunan perdamaian. Soft aspect berkaitan dengan dimensi spiritual-eksistensial, emosional, psikologis, psikososial seperti misalnya sikap-sikap, persepsi-persepsi, pola-pola pemikiran kognitif, nilai- nilai, dan harapan-harapan. (Hertog, 2010: pp. 14, 120). Meminjam istilah tersebut, dimensi-dimensi spiritual formation dari pembangunan persekutuan di atas bisa juga kita pandang sebagai soft aspect yang perlu dikembangkan. Rasa sepenanggungan, gairah, antusiasme, roh, semangat, gelora, daya tahan, kesediaan belajar, kerendahan hati, kematangan sikap, kebijaksanaan, dan kreativitas menjadi nilai- nilai penting, soft aspect, bagi pondasi bertahannya communion terutama di tengah kondisi unik dan khas saat ini!

Penutup: Undangan Melanjutkan Refleksi-Refleksi Bersama

Quo vadis communion era new normal? Kemana arah persekutuan/relasi di era new normal? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab ketika menilik realitas relasi berjarak saat ini. Banyak yang berharap, dengan ditemukannya vaksin covid-19, maka persoalan seputar relasi berjarak akan selesai. Umat akan beroleh kekebalan melalui vaksin sehingga tidak akan tertular. Dengan demikian, relasi tidak lagi akan berjarak. Relasi akan kembali normal seperti semula sebelum covid-19. Tapi siapa yang tahu pasti kapan vaksin akan hadir? Dan apakah benar-benar bisa dipastikan bahwa cara berelasi kita bisa seperti dulu?

Entah sampai kapan kita masih harus berdamai dengan ‘relasi berjarak’ di era new normal. Namun akan lebih bijak dan berharga jika saat ini kita belajar memaknainya secara baru, menemukan nilai-nilai baru, bahkan bisa memberi nama baru bagi kelangsungan communion umat.

Ke depan, melalui learning by doing maupun kajian-kajian (kultural-teologis) mendalam dari gereja dan lembaga, diharapkan akan muncul refleksi-refleksi baru yang lebih kaya dan menantang serta membahani banyak pihak untuk terus memberi nama baru atau mengartikulasikan makna baru terhadap communion di era new normal pun next-normal!

 

(O. Heri PN)