Pojok Inspirasi : GEREJA KITA, KELUARGA KITA (II)

Pojok Inspirasi : GEREJA KITA, KELUARGA KITA (II)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (II)

Pojok Inspirasi Sinode GKJ tentang Gereja Intergenerasi (Berseri)

 

“Kontestasi” ibadah kategorial usia

Di masa pandemi Covid-19 ini tidak sulit bagi seorang warga jemaat untuk mengakses media Youtube atau lainnya guna mengikuti ibadah Minggu. Cukup ketik nama gereja pada bagian search pada laman Youtube, maka akan muncul sederet video ibadah dan ragam pembinaan iman lainnya yang siap untuk diputar dan disimak. Tak jarang, dalam satu akun Youtube gereja ada berbagai video ibadah tersedia termasuk di antaranya video ibadah Minggu, sekolah Minggu, ibadah Minggu dengan liturgi dan musik ekspresif yang digawangi oleh generasi muda, persekutuan remaja-pemuda bahkan ada pula persekutuan adiyuswa. Jika kurang peka dalam melihat fenomena ini, maka suguhan ibadah dan persekutuan kategorial usia itu akan nampak ber-“kontestasi” satu dengan yang lain. Satu komisi tidak mau kalah aktif dan kalah menarik ibadah dan persekutuan dibanding komisi yang lain. Atau jika ditarik mundur pada masa sebelum pandemi, maka ada kecenderungan ibadah atau persekutuan komisi-komisi itu tidak mau kalah aktif dalam hal jumlah (kuantitas) kehadiran jemaatnya dibanding dengan komisi lainnya.

Fenomena sosiologis

Di sisi lain, fenomena sosiologis masyarakat modern di Indonesia saat ini menunjukkan semakin sedikitnya interaksi reguler dan terstruktur antara anak-anak, orang muda dan orang tua baik dalam institusi-institusi masyarakat maupun dalam keluarga. Kesempatan bagi orangtua dan anak-anaknya untuk bertemu dan berbagi aktivitas bersama semakin berkurang oleh karena perubahan jaman yang menuntut kesibukan orangtua untuk bekerja dan anak-anak untuk belajar dan berkegiatan di sekolah yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka. Hal ini masih ditambah dengan mobilitas anggota keluarga yang semakin intens dan dalam cakupan wilayah yang lebih luas yang membuat masing-masing anggota keluarga jarang bertemu, keluarga-keluarga inti yang hidup jauh dari keluarga besarnya (di luar kota), banyaknya kasus perceraian dan orangtua yang menjadi single parent, serta menjamurnya tempat penitipan anak dan panti wreda (bdk. Allen & Ross, 2012: pp. 30-31). Fenomena-fenomena sosial tersebut membuat masing-masing generasi menjadi semakin terpisah satu sama lain. Kemajuan teknologi informasi dan gadget, pada gilirannya, membuat setiap individu menjadi asik dengan dunianya sendiri.

Harapan itu bernama Gereja

Komunitas iman, dalam hal ini gereja, adalah mungkin satu-satunya tempat di mana keluarga-keluarga, orang yang masih single, pasangan-pasangan, anak-anak, pemuda, dewasa dan lansia (semua generasi) datang bersama dan berinteraksi secara rutin di dalam persekutuan dan ibadah. Tetapi, tren masyarakat yang menuju fragmentasi antar-generasi juga telah dirasakan dalam kehidupan gereja. Meskipun para pemimpin gereja atau pendeta sering mengutip metafora biblika tentang “tubuh Kristus” atau “keluarga Allah”, namun dalam praktiknya banyak gereja melakukan kegiatan dan pelayanannya (ibadah, sekolah minggu, persekutuan, kegiatan diakonia dan lainnya) dalam setting pemisahan kelompok usia (lih. Allen & Ross, 2012: pp. 30-33).

Gereja perdana, gereja intergenerasi

Jika menengok pada sejarah, Gereja Perdana pada abad pertama kekristenan adalah tempat dimana semua generasi hadir untuk berkumpul, makan bersama, bersekutu, beribadah dan saling berbagi kisah pengalaman iman untuk saling menguatkan antara satu generasi dengan generasi yang lain (dalam setting intergeneratif). Generasi-generasi tersebut tetap terintegrasi di dalam gereja dalam sebagian besar perjalanan sejarah kekristenan, sampai pada beberapa abad terakhir gereja menjadi terfragmentasi berdasarkan kelompok usia atau generasi (lih. Allen & Ross, 2012: pp. 35-37). Yang menjadi pertanyaan adalah “mengapa tubuh Kristus yang satu itu cenderung memisahkan generasi-generasi di gereja dalam beberapa dekade terakhir?

Di sisi lain jika kita melihat sejarah Kekristenan, kehidupan persekutuan orang percaya (baca: gereja) di abad pertama kekristenan mengasumsikan bahwa Gereja perdana adalah tempat dimana semua generasi hadir dan bersekutu. Persekutuan saat itu ada dalam nuansa yang intergeneratif. Semua generasi -baik anak-anak, orang muda, dewasa, dan lansia- bertemu untuk bersekutu, beribadah dan makan bersama secara rutin. Dalam hal ini intergenerasionalitas menjadi norma yang mendasar pada kehidupan gereja mula-mula (lih. Menconi, 2010: pp. 6-8).

Gereja sebagai keluarga

Menarik untuk dicermati kekayaan analogi Rasul Paulus mengenai gereja sebagai keluarga sebagaimana tertulis dalam 1 Timotius 5:1-2, khususnya tentang hubungan antara orang-orang tua dan orang-orang muda. Orang yang lebih tua dianggap sebagai orangtua sendiri, demikian juga orang muda baik laki-laki maupun perempuan sebagai saudara sendiri. Baik orangtua kepada orang-orang muda saling mengenal dengan baik dan memberikan nasihat, mengarahkan serta menemani mereka dalam perjalanan iman dan kehidupannya. Sementara saudara yang lebih muda bekerja bersama, memperdulikan dan bergabung bersama saudara mereka yang lebih tua dalam perjalanan mereka (lih. Allen & Ross, 2012: p. 34). Nasihat yang baik dari Rasul Paulus ini begitu kuat, reflektif dan mengundang semua generasi dalam satu persekutuan intergenerasi yang saling peduli dan mendukung satu dengan yang lain. … (bersambung)

-Pdt Imanuel Geovasky (GKJ Karangbendo)-