GEREJA KITA, KELUARGA KITA (III)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (III)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (III)

Pojok Inspirasi Sinode GKJ tentang Gereja Intergenerasi (Berseri)

 klik disini untuk mengunduh

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (III)(file Pdf)

A blessing in disguise

Pandemi Covid-19 saat ini telah menggeser corak kehidupan beriman dan bergereja dengan menjadikan keluarga sebagai episentrum setiap kegiatan peribadatan dan pemeliharan iman. Pada saat yang sama, tanpa disadari kita perlahan melakukan revitalisasi keberadaan dan fungsi keluarga untuk kembali menjadi tumpuan kehidupan keberimanan seperti pada gereja perdana. TGTL tahun 2015 pada Bab II tentang “Tugas Panggilan Gereja”, Pasal 8 mengenai “Pemeliharaan Keselamatan”, ayat. 4.c menyebutkan Strategi Pemeliharaan Keselamatan yang dipergunakan oleh GKJ adalah strategi yg didasarkan pada keluarga. Secara lebih khusus pada penjelasan Tata Laksana untuk Pasal 8, ayat 4.c disebutkan:

  1. Keluarga merupakan gereja kecil.
  2. Keluarga merupakan tempat persemaian iman, pengharapan dan kasih.
  3. Keluarga merupakan basis kehidupan sosial (TGTL GKJ, 2015: p. 14, p. 50).

Tanpa disadari situasi sulit karena pandemi Covid-19 membuat kita kembali melakukan praksis tugas panggilan gereja yang di dalamnya ada pemeliharaan keselamatan yang didasarkan pada keluarga. Olah karena itulah, pendekatan gereja intergenerasi yang mendasarkan teologinya pada gereja sebagai keluarga menemukan relevansinya. Gereja Intergenerasi mendasarkan landasan teologis dan kehidupan gerejanya pada analogi keluarga, yakni secara khusus dalam membangun pola interaksi dan relasi antar anggota jemaat dan keluarga (lihat Menconi, 2010: p. 27).

Landasan teori intergenerasi

Gereja Intergenerasi mendasarkan bentuk ekklesiologinya pada sumbangsih teori intergenerasi yang dikembangkan dalam ranah ilmu Sosiologi. Teori intergenerasi inilah yang digunakan untuk meneliti dan mengembangkan kehidupan bergereja yang di dalamnya terdapat berbagai generasi. Teori intergenerasi pada dasarnya mengamati dan membagi periodisasi generasi berdasarkan tahun kelahiran dan melihat hubungannya dengan konteks sejarah, sosial, ekonomi, dan politik di mana satu generasi itu lahir dan bertumbuh (Allen & Ross, 2012: pp 142-150; lih. Menconi, 2010: pp. 33-138). Dari periodisasi tersebut dapat diketahui: [1] masa dan konteks hidup suatu generasi, [2] budaya populer yang melatarbelakangi, [3] nilai-nilai dan cara pandang, [4] corak spiritualitas, dan [5] keberadaan generasi tersebut hari ini. Adapun pembagian generasi tersebut adalah sebagai berikut:

  • Generasi GI: lahir antara tahun 1906 – 1924, disebut juga generasi “heroik” karena generasi ini mengalami masa perang dunia II
  • Generasi Diam (Silence Generation): lahir antara tahun 1925 – 1943, juga dikenal dengan generasi “pembangun”, “radio” atau generasi “pembawa damai”
  • Generasi Boomer: lahir antara tahun 1944 – 1962, dikenal juga sebagai generasi baby boom, TV, atau generasi “aku”
  • Generasi X: lahir antara tahun 1963 – 1981, juga dikenal sebagai generasi X atau generasi computer.
  • Generasi Milenial: lahir antara tahun 1982 – 2000, juga dikenal sebagai generasi Y, Digital atau generasi “penghubung”
  • Generasi Z (?): lahir mulai tahun 2001 dan seterusnya, juga disebut generasi baru (Menconi, 2010: pp. iii-v).

 

GENERASITAHUN LAHIR
    GI (“heroik”)1906 – 1924
    Diam (pembangun, radio)1925 – 1943
    Boomer (baby boom, TV)1944 – 1962
    X (komputer)1963 – 1981
    Milenial (Y, digital)1982 – 2000
    Z (?) (“generasi baru”)2001 +

(Menconi, 2010: p. 8)

Perlu dicatat bahwa dalam konteks Indonesia, kategori generasi tersebut mundur satu periode tahun lahirnya. Hal ini berdasarkan pada catatan Graeme Codrington dalam artikel “Detailed Introduction to Generational Theory in Asia: Applying generational theory to countries of Asia, South East Asia, and the Pacific regions” (2011). Sebagai contoh orang Indonesia yang lahir tahun 1965 dalam periodisasi generasi sebetulnya masuk generasi X, tetapi sebetulnya masuk dalam generasi boomer. Penjelasan Codrington adalah sebagai berikut: negara Indonesia tidak mengalami masa kemajuan ekonomi yang pesat (economic booming) pada masa setelah kemerdekaan seperti halnya terjadi di Amerika Serikat di tahun 1950-an yang menjadi konteks munculnya generasi Boomer. Ditambah lagi catatan penulis bahwa pada masa sekitar peristiwa G30S tahun 1965-1966, terjadi inflasi sampai 1000 %, ekspor jatuh, keadaan infrastruktur yang memperihatinkan dan pabrik-pabrik harus beroperasi dengan kapasitas yang sangat minim. Kemiskinan dan kelaparan meluas pada masyarakat saat itu. Situasi tersebut, sebagaimana dikatakan Codrington, menyebabkan satu generasi Indonesia tertunda. Tahun 1998-hingga awal 2000 adalah masa generasi X Indonesia, sedangkan anak-anak Indonesia masa sekarang ini tumbuh dalam periode generasi Milenial, seiring dengan Indonesia semakin dikenal sebagai negara yang berkembang pesat (bdk. Codrington, 2011).

Tiap generasi memiliki karakter yang khas

Dengan berbagai kekhasan generasi seperti masa dan konteks hidup suatu generasi, budaya populer yang melatarbelakangi, nilai-nilai dan cara pandang, corak spiritualitas, dan keberadaan generasi maka setiap generasi memiliki karakteristik yang khas dalam hubungannya dengan kebutuhan dan corak kehidupan beriman dalam gereja, seperti: corak ibadah, musik gerejawi, khotbah, pandangan teologis, spiritualitas, pandangan tentang Tuhan, cara berkomunitas, dan seterusnya. Para pengambil kebijakan di gereja diharapkan menyadari perbedaan karakteristik tersebut dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membangun sebuah eklesiologi gereja yang dapat menyapa dan bermakna bagi semua generasi. Misalnya, ketika gereja akan merumuskan visi dan misinya, gereja terlebih dahulu memperhatikan dan mendengar pandangan-pandangan dari masing-masing generasi dan karakteristik mereka.

Berikut adalah karakteristik setiap generasi dalam hubungannya dengan konteks kehidupan beriman dan bergereja menurut Peter Menconi:

(Menconi, 2010: p. 219)

Landasan teologis Gereja Intergenerasi

Landasan teologis Gereja Intergenerasi dapat dirujuk pada Perjanjian Lama khususnya dalam hubungan kekeluargaan dan komunitas bangsa Israel. Daphne Kirk, sebagaimana dikutip Allen dan Ross, menuliskan, “ketika Tuhan menata bangsa Israel, Ia menempatkan setiap individu dalam sebuah keluarga, setiap keluarga dalam sebuah suku, dan setiap suku dalam satu bangsa. Tidak ada satu generasi pun yang dikecualikan, tidak ada anak-anak yang ditinggalkan, dan tidak ada orang tua yang dikesampingkan. Setiap suku di dalamnya terdapat keluarga-keluarga; mereka itulah komunitas” (Kirk, 2003 dalam Allen & Ross, 2012: p. 78). Saat bangsa Israel berkumpul untuk perayaan-perayaan atau bahkan dalam masa genting, semua generasi hadir dan masuk dalam perjanjian Tuhan; sebagaimana tertulis dalam Ulangan 29:10-12 “kamu sekalian pada hari ini berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu: para kepala sukumu, para tua-tuamu dan para pengatur pasukanmu, semua laki-laki Israel, anak-anakmu, perempuan-perempuanmu dan orang-orang asing dalam perkemahanmu, bahkan tukang-tukang belah kayu dan tukang-tukang timba air di antaramu, untuk masuk ke dalam perjanjian TUHAN, Allahmu, yakni sumpah janji-Nya, yang diikat TUHAN, Allahmu, dengan engkau pada hari ini.”

Musa memerintahkan kepada bangsa Israel untuk berkumpul dan membacakan hukum Taurat pada hari raya Pondok Daun, seperti tertulis dalam Ulangan 31: (10-11) 12 “Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini.” Dan perintah Musa ini diteruskan oleh Yosua, yakni dengan mengumulkan seluruh jemaah Israel dan membacakan hukum Taurat kepada seluruh generasi, sebagaimana ditulis dalam Yosua 8:35 “Tidak ada sepatah katapun dari segala apa yang diperintahkan Musa yang tidak dibacakan oleh Yosua kepada seluruh jemaah Israel dan kepada perempuan-perempuan dan anak-anak dan kepada pendatang yang ikut serta.” Hukum Taurat itu dibacakan di hadapan seluruh jemaah Israel, termasuk kepada perempuan-perempuan dan anak-anak.

Bagian dari teks-teks Perjanjian Lama tersebut menekankan gagasan bahwa generasi yang lebih tua bertanggungjawab untuk meneruskan kesaksian kebenaran Tuhan dan pembentukan spiritual kepada generasi yang lebih muda melalui kegiatan berkumpul bersama seluruh generasi dan membacakan hukum Tuhan. Secara lebih eksplisit adalah perintah Musa kepada bangsa Israel yang kemudian menjadi corak pengajaran ketetapan-ketetapan Tuhan dalam keluarga-keluarga Yahudi, yakni “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:7).

Sementara dari Perjanjian Baru, juga didapati bahwa gereja di abad pertama adalah komunitas yang multigenerasi yang muncul dari akar tradisi Yahudi, dimana anak-anak juga hadir dalam persekutuan. Gereja mula-mula melakukan aktivitas dari rumah ke rumah jemaatnya dengan seluruh anggota keluarga hadir. Seluruh generasi hadir untuk bersama memecahkan roti, berdoa, saling melayani dan menjamu dalam konteks keluarga sebagai bagian dari Tubuh Kristus (Kisah Rasul 2:46-47; 4:32-35; 16:31-34) (Allen dan Ross, 2012: p. 83). Joseph Hellerman (2009) menawarkan sebuah deskripsi yang mendalam dan menarik mengenai budaya keluarga di abad pertama kekristenan sebagai cara untuk memahami kekayaan analogi Paulus mengenai gereja sebagai keluarga, khususnya hubungan sebagai saudara laki-laki dan perempuan. Hellerman mengasumsikan sebuah gereja yang intergenerasi dimana orangtua, saudara laki-laki dan perempuan mengenal saudara yang lebih muda dengan baik dan memberikan nasihat, mengarahkan dan menemani mereka dalam perjalanan sementara saudara yang lebih muda bekerja bersama, memerdulikan dan bergabung bersama saudara mereka yang lebih tua dalam perjalanan mereka (Hellerman, 2009 dalam Allen & Ross, 2012: p. 34). Nasihat dari rasul Paulus dalam surat 1 Timotius 5:1-2 bagi gereja perdana ini begitu kuat, reflektif dan mengundang semua generasi untuk berelasi dengan baik antara generasi satu dan lainnya.

Jika merujuk pada landasan teologi Kristen yang paling mendasar yakni pemahaman Trinitas, akan didapati bahwa Tuhan Allah mengada dalam “komunitas” yaitu relasi trinitarian antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Landasan teologis ini memunculkan idea tentang “Trinitas sosial”, yakni bahwa Allah adalah kesatuan dari tiga Personae yang ada dalam relasi mutual di antara ketigaNya. Dan di dalamnya kita mendapati analogi relasi intergenerasional antara Allah Bapa dan Yesus Kristus Sang Putra yang telah menunjukkan cinta kasih yang agung, penghargaan, kesetiaan, dan makna yang mendalam mengenai nilai kebersamaan dan rasa saling memiliki (belonging) (lihat Allen dan Ross, 2012: p. 111).

Landasan teologis inilah yang mendasari pelayanan intergenerasi dewasa ini, yakni ketika sebuah gereja secara sengaja mengumpulkan generasi-generasi dalam gereja bersama dalam pelayanan yang saling melayani, berbagi, dan belajar bersama dalam aktivitas-aktivitas utama gereja agar seluruh jemaat dapat hidup menjadi Tubuh Kristus bagi satu sama lain dan komunitas yang lebih luas. Berkaca dari hal tersebut, Allen dan Ross menyadari bahwa metodologi pendidikan intergenerasi secara inheren lebih selaras dengan teologi Kristen daripada model pendidikan yang memisahkan kelompok usia. Pelayanan dan Gereja Intergenerasi secara intrinsik bersemi dari dan mengajarkan esensi pemahaman biblika tentang “Tubuh Kristus” (lihat Allen & Ross, 2012: pp. 47-63).

Gereja sebagai keluarga Allah

Dengan demikian, gereja sebagai keluarga Allah dalam perspektif Gereja Intergenerasi adalah sebuah gereja dengan pelayanan yang berbasis pada keluarga yang melayani setiap generasi  dalam setting intergenerasi. Setiap aspek pelayanan dilihat dan didesain dalam sudut pandang keluarga; seperti aspek komunikasi, relasi, pengajaran, persekutuan, ibadah, dan pelayanan keluarnya. Gereja Intergenerasi mempertemukan generasi-generasi yang berbeda dalam kegiatan gerejawi dengan tujuan agar ada interaksi dan relasi yang mendalam secara intergenerasi. Dengan begitu, jemaat diharapkan dapat saling mendukung, peduli, saling asah, asih dan asuh, serta memelihara iman satu sama lain layaknya dalam sebuah keluarga. … (bersambung)

-Pdt Imanuel Geovasky (GKJ Karangbendo)