GEREJA KITA, KELUARGA KITA (IV)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (IV)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (IV)

Pojok Inspirasi Sinode GKJ tentang Gereja Intergenerasi (Berseri)

 klik lin dibawah untuk mengunduh

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (IV) (file Pdf

Pendekatan Gereja Intergenerasi dan PPA GKJ

Menarik untuk disoroti pendekatan Gereja Intergenerasi dalam kaitannya dengan PPA GKJ tahun 2005. PPA GKJ merupakan rujukan ajaran bagi gereja-gereja GKJ dalam mencari fondasi kehidupan beriman dan bergereja. Pada bagian ini kita akan melihat titik-titik persinggungan antara landasan teori dan teologis Gereja Intergenerasi dengan pokok-pokok ajaran GKJ.

Bab IV PPA GKJ tahun 2005 membahas tentang Gereja dan Tata Kehidupan Gereja. Penulis menemukan pada Bab IV ini terdapat titik persinggungan antara ajaran mengenai gereja dan kehidupannya dengan Gereja Intergenerasi. PPA GKJ Minggu ke-8 mengenai GEREJA, pertanyaan-Jawaban 70 disebutkan: “Pada dasarnya manusia secara kodrati menjalani kehidupannya di dalam kebersamaan dengan sesamanya. Oleh karena itu kehidupan religius orang-orang percaya diwujudkan dalam kehidupan bersama” (Matius 16:18, 13-18, 18:17; Kis. 1:14; 1 Kor 1:2). Menjalani kehidupan secara bersama dengan sesama merupakan kodrat manusia, terlebih kehidupan religius orang percaya juga diwujudkan dalam kehidupan bersama. Kehidupan bersama ini menekankan aspek komunal daripada individual. Kehidupan bersama religius ini mengisyaratkan kebersamaan secara intergeneratif (lihat Kis. 1:14).

Pada Pertanyaan-Jawaban 80 mengenai isi tugas panggilan gereja dan orang-orang percaya di poin 2 adalah untuk: “Memelihara keselamatan orang-orang yang telah diselamatkan” (Mat 28:19 & 20; Luk 24:47-49; Yoh 15:26-27; 21 15-17; Kis 1:8; Rom 15:16; 1 Ptr 5:2-4 & 5). Pemeliharaan keselamatan, khususnya menurut nasihat Paulus dalam 1 Petrus 5:2-5, dilakukan oleh para penatua kepada anggota jemaat. Termasuk di antaranya adalah bagi orang-orang muda untuk bersedia mendengar nasihat orang-orang tua (ayat 5). Hal ini menunjukkan dimensi pendekatan intergeneratif khususnya dalam aspek pemeliharaan keselamatan dari orang-orang tua (tua-tua, baca: penatua) kepada generasi muda jemaat.

Pertanyaan-jawaban 82 menyebutkan motivasi yang benar dalam bersaksi tentang penyelamatan Allah adalah berdasar kesadaran bahwa: “(1) Allah menghendaki semua manusia diselamatkan, dan (2) Orang-orang percaya dipanggil dan dilibatkan Allah untuk bersaksi tentang karya penyelamatan-Nya”. Semua manusia yang dikehendaki Allah untuk diselamatkan adalah termasuk orang Yahudi maupun orang non-Yahudi (orang Yunani dan semua bangsa) serta juga termasuk di dalamnya semua manusia dari seluruh generasi. Pembacaan pertanyaan-jawaban 82 dimungkinkan secara demikian dalam hubungannya dengan pemahaman bahwa setiap orang dari seluruh generasi dipanggil dan dilibatkan oleh Allah untuk bersaksi tentang karya penyelamatan-Nya itu. Hal ini akan semakin nampak pada analisa rangkaian pertanyaan-jawaban berikut ini.

Di pertanyaan-jawaban 83 mengenai tujuan memelihara keselamatan orang-orang yang telah diselamatkan disebutkan adalah “untuk menolong orang-orang percaya, agar mereka tetap dapat mempertahankan imannya, mampu mengatasi masalah dan penggodaan, sehingga mencapai kesempurnaannya” (1 Tim 6:20-21; 2 Ptr 1:12-13). Pemeliharaan keselamatan bagi orang-orang percaya agar tetap dapat mempertahankan imannya, mengatasi masalah dan penggodaan sehingga mencapai kesempurnaan ini memerlukan pendekatan intergenerasional dalam pengertian bahwa baik generasi tua, orang dewasa, kaum muda maupun anak-anak dapat saling mengingatkan, menguatkan, dan mendukung agar setiap orang percaya dapat memelihara keselamatannya.

Pertanyaan-jawaban 84 memuat tentang motivasi yang benar dalam melakukan pemeliharaan keselamatan adalah berdasarkan kesadaran bahwa: “(1) Setiap orang percaya sangat berharga karena telah dibeli dengan darah Kristus, (2) Di dalam persekutuan anak-anak Allah, setiap orang percaya ikut bertanggungjawab mengenai terpeliharanya keselamatan saudaranya, dan (3) Untuk itulah gereja dan orang-orang percaya dipanggil dan dilibatkan oleh Allah agar melakukan pemeliharaan keselamatan orang-orang yang telah diselamatkan (Mat 18:15-17; Luk 15:7; Gal 6:1-12). Bagian ini dengan jelas menerangkan bahwa setiap orang sangat berharga karena telah diselamatkan. Dapat dimaknai bahwa setiap orang dari setiap generasi sangat berharga. Dan dalam persekutuan anak-anak Allah, setiap orang bertanggung jawab memelihara keselamatan saudaranya. Nuansa gereja sebagai keluarga Allah (intergenerasi) nampak kuat karena jemaat Tuhan ada dalam persekutuan anak-anak Allah dengan Allah sendiri yang menjadi Sang Orangtua Agung. Setiap orang tersebut berkewajiban untuk saling menjaga jemaat yang lain yang dianggap seperti saudara sendiri layaknya dalam sebuah keluarga.

Dan yang terakhir, Pertanyaan-jawaban 89 menyebutkan arti pelayanan sebagai suatu kemestian yang tak terhindarkan adalah bahwa “gereja merupakan kehidupan bersama orang-orang percaya di dalam penyelamatan Allah. Oleh karena itu sudah semestinya orang-orang percaya dan gereja melakukan pelayanan, yaitu dengan memperhatikan, mempedulikan dan menolong sesama” (Mat 20:28; Flp 2:1-8; Kol 3:12-15; 1 Ptr 4:7-11). Bagian ini menggemakan kembali bagaimana kehidupan bersama orang-orang percaya untuk saling memperhatikan, mempedulikan dan menolong sesama atau saudaranya sebagaimana ditegaskan di dalam surat Filipi 2:1-8, yakni jemaat Tuhan hendaknya sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri, rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dan memperhatikan kepentingan orang lain. Landasan teologis ini mendasari pola relasi dalam gereja sebagai keluarga Allah maupun Gereja Intergenerasi. Salah satu penekanannya adalah satu generasi tidak mengganggap kepentingan generasinya lebih utama dibanding kepentingan generasi yang lain dengan kerendah-hatian serta dengan saling memperhatikan, mempedulikan, dan menolong antar generasi-generasi yang ada di dalam gereja.

Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ

Bagian Mukadimah TGTL GKJ tahun 2015 menyebutkan bahwa “gereja dipanggil untuk menanggapi panggilan Allah dengan berbagai sudut pandang sesuai dengan pengalaman kontekstual masing-masing” (TGTL GKJ, 2015: p. 5). Dalam hubungannya dengan hal itu, tiap-tiap GKJ diajak untuk mengamati dan menggumulkan konteks gerejanya masing-masing yang khas. Ada berbagai pemahaman tentang gereja yang ditawarkan di antaranya yaitu: gereja sebagai komunitas pembelajar atau komunitas para murid Kristus, gereja sebagai keluarga Allah, gereja sebagai paguyuban umat beriman, gereja sebagai arak-arakan peziarahan dalam kebersamaan dengan umat beriman yang, dan gereja sebagai komunitas pembaru dalam gerakan sesuai nilai-nilai yang dikehendaki Allah (TGTL GKJ, 2015: p. 5). Dalam kaitannya dengan pendekatan gereja intergenerasi, penulis secara khusus menyoroti pemahaman ekklesiologis gereja sebagai keluarga Allah. Secara kongkret gereja sebagai keluarga Allah dapat lebih jelas dilihat dalam “Tugas Panggilan Gereja” pada TGTL tahun 2015 pada Bab II, Pasal 8 mengenai “Pemeliharaan Keselamatan”, ayat. 4.c yang menyebutkan Strategi Pemeliharaan Keselamatan yang dipergunakan oleh GKJ adalah strategi yg didasarkan pada keluarga. Secara lebih khusus pada penjelasan Tata Laksana untuk Pasal 8, ayat 4.c disebutkan: (i) keluarga merupakan gereja kecil, (ii) keluarga merupakan tempat persemaian iman, pengharapan dan kasih; dan (iii) keluarga merupakan basis kehidupan sosial (TGTL GKJ, 2015: p. 14, p. 50).

Gereja intergenerasi dalam praksis

Penulis dalam pelayanan sebagai pendeta GKJ Karangbendo mengamati dan menemukan kekhasan konteks GKJ Karangbendo yaitu keberadaannya sebagai “gereja keluarga. Gereja sebagai keluarga Allah yang menjadi dasar pendekatan gereja Intergenerasi inilah yang penulis usulkan dalam praksis menggereja GKJ Karangbendo. Pada penulisan artikel pendek berseri ini penulis hendak berbagi pengalaman praksis gereja Intergenerasi di GKJ Karangbendo, Bantul (Klasis Yogyakarta Utara).

Dari hasil penelusuran sejarah maupun pengamatan keberadaan dan konteksnya sekarang ini, GKJ Karangbendo lekat dengan nuansa kekeluargaan. Dalam sejarah misalnya, karya pekabaran Injil yang dilakukan oleh jemaat Karangbendo kepada masyarakat pada dekade 1980an adalah melalui pendekatan secara kekeluargaan dengan mengadakan pelatihan keterampilan seperti pertukangan, perbengkelan, menjahit, usaha toko kelontong, dan bantuan permodalan kepada keluarga-keluarga pra-sejahtera saat itu. Dari kegiatan ini banyak warga masyarakat yang tertarik dengan Kekristenan. Mereka kemudian belajar dan pada akhirnya beberapa dari mereka mengikuti katekisasi dan dibaptis. Sesepuh gereja yang menginisiasi pelatihan keterampilan dan berbagi tentang nilai-nilai Kekristenan tersebut dianggap sebagai orangtua oleh mereka yang kemudian menerima sakramen baptis dewasa. Dan hubungan orangtua dan anak rohani dalam kehidupan bergereja GKJ Karangbendo masih tetap kental hingga saat ini. Di sisi lain, warga jemaat GKJ Karangbendo sebagian besar memiliki hubungan kekerabatan satu sama lain. Dari situ dapat dilihat bahwa GKJ Karangbendo adalah seperti sebuah keluarga besar yang kesemuanya ada dalam naungan Sang Kristus sebagai Orangtua Agung pasamuwan.

Menuju gereja intergenerasi

Tahap awal menuju praksis gereja intergenerasi adalah dengan mengetahui konteks gereja kita masing-masing dan komposisi anggota jemaat berdasarkan kategori usia (generasi). Secara lebih kongkret, dapat diteliti manakah generasi yang “dominan” dalam kepemimpinan dan menentukan visi-misi serta kebijakan-kebijakan gereja? Dan apakah kebijakan-kebijakan tersebut mengakomodasi setiap generasi dalam semangat kebersamaan? Seringkali hanya ada satu atau dua generasi tertentu, misalnya generasi “boomer” atau “X” yang di banyak gereja saat ini menduduki posisi kepemimpinan gereja dan sebagai pengambil keputusan terkait visi-misi dan kebijakan strategis. Yang penting untuk diperhatikan adalah meskipun hanya dari satu atau dua generasi sebagai pengambil kebijakan gereja, hendaknya kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemimpin gereja tetap dapat mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan semua generasi dalam semangat kebersamaan dan kekeluargaan. … (bersambung)

-Pdt Imanuel Geovasky (GKJ Karangbendo)-