GEREJA KITA, KELUARGA KITA (V)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (V)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (V)

Pojok Inspirasi Sinode GKJ tentang Gereja Intergenerasi (Berseri)

Pada bagian ini, penulis akan mengajak Pembaca yang budiman untuk mengeksplorasi praksis gereja intergenerasi dalam kehidupan bergereja kita. Bagian ini baik dibaca tidak hanya oleh pengambil keputusan dalam gereja (baca: majelis gereja), melainkan segenap anggota jemaat dari semua generasi sehingga kita bersama mempunyai kesamaan visi menuju gereja intergenerasi.

 Kepemimpinan Intergenerasi

Kepemimpinan merupakan sebuah hal yang vital dalam setiap lembaga atau organisasi. Keluarga boleh dikatakan adalah lembaga paling kecil sekaligus yang paling tua (bdk. Kej. 2) tetapi justru paling mendasar dalam kehidupan gereja dan masyarakat. Kepemimpinan dalam keluarga menjadi hal yang sangat menentukan keberadaan sebuah keluarga dan bagaimana keluarga tersebut mempunyai visi kehidupan saat ini dan ke depan. Demikian pula dengan kepemimpinan gereja, di mana gaya, visi, dan praksis kepemimpinannya sangat menentukan keberadaan sebuah gereja dan visinya ke depan.

Kepemimpinan intergenerasi pada gilirannya memerlukan kedewasaan personal dari para pengambil kebijakan gereja. Pemimpin gereja yang berasal dari generasi tertentu akan cenderung dipengaruhi pertimbangan karakteristik generasinya dan menyisakan ruang yang kecil bagi ide-ide segar yang baru (Menconi, 2010: p. 165). Oleh karena itu, pemimpin gereja perlu untuk “meletakkan” sejenak kepentingan generasinya dan berusaha mendengar ide, masukan, kebutuhan, dan kepentingan generasi yang lain serta mampu melihat setiap hal dalam perspektif semua generasi. Nuansa kepemimpinan yang demikian menggambarkan kepemimpinan yang egaliter dan pada saat yang sama diperlukan kapasitas resolusi konflik yang baik. Dengan demikian, para pemimpin gereja akan mendapatkan kepercayaan dari jemaat dan memiliki integritas yang baik di dalam melayani.

Pelayanan Intergenerasi

Pelayanan intergenerasi muncul ketika sebuah gereja secara sengaja mengumpulkan generasi-generasi yang berbeda dalam gereja dengan interaksi yang mendalam dan bermakna. Generasi-generasi yang tersebut bersama saling melayani, berbagi, dan belajar dalam aktivitas-aktivitas utama gereja agar semua jemaat benar-benar hidup menjadi Tubuh Kristus bagi satu sama lain. Perlu untuk dicatat bahwa pelayanan intergenerasi berbeda dengan pelayanan multigenerasi. Pelayanan multigenerasi berfokus pada masing-masing kelompok generasi dan berusaha memenuhi kebutuhan pelayanan tiap-tiap generasi tersebut. Nuansa yang timbul adalah adanya pengkotak-kotakan generasi (lih. Allen & Ross, 2012: pp. 177-180).

Pelayanan intergenerasi melibatkan sebanyak mungkin generasi dalam kehidupan dan aktivitas gereja. Misalnya adalah beberapa generasi melayani sebuah ibadah secara bersama-sama melalui bermain musik, drama, membawakan liturgi bahkan bergantian saling mengisi renungan dalam semangat kebersamaan (Menconi, 2010: p. 28). Sebagai contoh pelayanan Sekolah Minggu diadakan dengan melibatkan semua usia atau generasi termasuk usia remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa, bahkan adiyuswa untuk dapat secara bergantian atau bersama-sama mendampingi, mengajar dan membagikan pengalaman imannya.

Bentuk kegiatan antar-komisi juga baik untuk diselenggarakan, misalnya Komisi Dewasa yang ikut bergabung dalam Pendalaman Alkitab (PA) Komisi Adiyuswa atau sebaliknya. Demikian pula, Komisi Adiyuswa dapat sekali-kali bergabung dengan Komisi Pemuda dalam PA intergenerasi baik sebagai mentor ataupun dalam berbagi pengalaman iman melalui metode storytelling.

Contoh lain adalah kegiatan outbound dan retreat lintas usia dalam bentuk mentoring yang melibatkan baik generasi muda maupun dewasa dan adiyuswa. Setiap generasi dapat saling mengajar dan belajar. Dalam situasi demikian terdapat penerimaan, penghargaan, toleransi, saling asah, asih, dan asuh terhadap tiap generasi dalam nuansa kekeluargaan yg kental. “Perjalanan” iman dan hidup kita dalam mengikut Kristus bukanlah perjalanan yang dilakukan seorang diri, tapi bersama-sama dengan komunitas dari semua umur dalam kesatuan “Tubuh Kristus” (lih. Menconi, 2010: p. 199).

Ibadah Intergenerasi

Secara prinsip ibadah intergenerasi dilakukan dengan cara menghaturkan “persembahan” terbaik dari tiap generasi kepada Tuhan dan memadu-padankannya dalam ibadah. Tiap generasi pasti memiliki suatu yang bermakna yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan (Menconi, 2010: p.178). Sebagai contoh: generasi GI dan Diam mempunyai persembahan terbaik berupa paduan suara himne/koor yang menyentuh atau dapat juga berupa sekar macapat. Generasi Boomer dan generasi X bisa dalam bentuk memandu ibadah atau pembacaan atau nyanyian litani Mazmur yang syahdu, generasi milenial (anak muda dan anak-anak) dengan penampilan fragmen/drama atau tampilan grafis-audio-visual multimedia dan lain sebagainya. Beberapa generasi dapat secara rutin terlibat dalam pelayanan ibadah Minggu dalam setting intergenerasi di mana generasi-generasi tersebut dapat saling melayani satu dengan yang lain (lih. Mzm. 148:12-13).

Namun demikian tantangan terbesar ibadah intergenerasi adalah masing-masing generasi ingin gaya atau corak (style) mereka yang dominan digunakan dalam sebuah ibadah. Kemudian gereja bisa tergoda mengadakan ibadah-ibadah yang bermacam-macam sesuai dengan gaya, corak dan kebutuhan spiritual tiap generasi sehingga menyebabkan munculnya ibadah “tradisional”, ibadah umum, ibadah kontemporer, ibadah variatif dan lainnya. Hal ini menjadikan adanyagereja-gereja di dalam gereja(ecclesiola in ecclesia) (bdk. Allen & Ross, 2012: pp. 195-196). Gejala demikian disebut ibadah multigenerasional dan bukan intergenerasional. Oleh karena itulah, diperlukan diskusi intergenerasi yang mendalam saling mendengar dan memahami intergenerasi dalam nuansa kekeluargaan. Dengan demikian tiap generasi dapat saling belajar dari generasi yang berbeda dalam berelasi dengan Tuhan Allah, seperti halnya Tuhan Allah yang senantiasa berelasi dengan semua generasi.

Misi Intergenerasi

Tanpa disadari beberapa gereja menjalankan misi sebagai “gereja atraksional.” Gereja atraksional menawarkan variasi pelayanan dan program pembinaan iman yang menarik bagi masing-masing generasi. Tujuannya adalah menarik sebanyak mungkin jemaat dari generasi yang berbeda datang ke gereja. Dalam hal ini jemaat dianggap sebagai “konsumer”. Jemaat yang datang ke gereja yang demikian seringkali bersifat homogen dan dari satu generasi tertentu. Akibatnya, gereja seolah membuat sekat batas “tembok gereja” dengan dunia luar. Hal yang terjadi justru kaum muda kebanyakan kurang tertarik pada gereja ini (Menconi, 2010: pp. 153-156).

Di sisi lain terdapat gereja yang menjalankan misi sebagai “gereja Inkarnasional (Misional)”. Gereja seperti ini melakukan misinya seperti yang dilakukan oleh Yesus Kristus yang keluar menjangkau orang-orang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi. Dalam perjumpaannya dengan orang-orang dari berbagai konteks kultural, gereja dapat menyerap konteks kultural tersebut untuk belajar nilai-nilai dan aspirasinya agar gereja bisa dengan lebih efektif mengkomunikasikan berita Injil.

Misi Intergenerasional tepat berada “di tengah” antara gereja Atraksional dan gereja Inkarnasional. Artinya gereja intergenerasi tidak melulu fokus menawarkan pelayanan dan program yang menarik bagi tiap generasi yang dianggap sebagai “konsumer”, tetapi juga memperhatikan pelayanan yang melibatkan semua generasi sebagai subjek yang saling melayani satu sama lain. Gereja juga aktif berinteraksi dengan menjangkau komunitas di sekitarnya sehingga dapat menyaksikan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam konteks kulturalnya yang khas (lih. Menconi, 2010: pp. 157-160).

Komunitas Intergenerasi

Salah satu kunci dalam praksis menuju Gereja Intergenerasi adalah pada persiapan komunitas (warga jemaat) gereja untuk memiliki kesadaran akan nilai-nilai intergeneratif. Makna komunitas sebagaimana dalam bahasa Inggris “community” yang berasal dari kata “common-unity” berarti kesamaan (common) apakah yang menyatukan (unity) tiap-tiap individu dan generasi-generasi yang berbeda. Kesamaan yang dimaksud adalah bahwa tiap generasi berbagi pengalaman yang sama sebagai bagian “tubuh Kristus”. Komitmen dalam mengikut Kristus ini menjadi hal yang mendasar. Kemudian diikuti dengan kesadaran bahwa dalam menjalani kehidupan imannya, pengikut Kristus tidak sendiri tetapi bersama dengan sesamanya dari semua generasi yang juga menjalani perjalanan iman dan hidup. Dengan demikian perwujudan komunitas intergenerasi akan nampak sebagai berikut (berdasarkan nilai-nilai dan contoh aktivitasnya):

  1. Kepedulian (caring): aktivitas community building (jamuan makan bersama), storytelling, even sosial bersama secara intergeneratif
  2. Perayaan Iman (celebrating): Ibadah Minggu, sakramen baptis, angkat sidi, dan perayaan ulangtahun gereja menjadi momen intergenerasi.
  3. Pembelajaran (learning): program Pendalaman Alkitab (PA) intergenerasi yang melibatkan generasi-generasi yang berbeda secara bersama (mingguan, bulanan, kelompok kecil) dan dapat dimasukkan dalam komisi usia.
  4. Berdoa (praying): Doa bersama komunitas (kelompok doa intergenerasi), pembimbingan/mentoring spiritual dari generasi tua kepada generasi muda dan anak-anak (lih. Menconi, 2010: pp. 201-204).

 Pelayanan Keluar (Misi) Intergenerasi

Salah satu cara bagi tiap generasi dalam gereja agar terwujud relasi yang bermakna adalah melalui pelayanan keluar bersama. Gereja dapat melakukannya dengan mengadakan mission trip secara intergenerasi. Misalnya dalam program sister church (membantu gereja yang sekeng di daerah pelosok), serta dapat dilakukan dengan bersama membantu menemukan atau menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga jemaat yang masih menganggur baik dari jemaat maupun bagi masyarakat sekitar. Selain itu dapat dilakukan dengan membentuk “tim intergenerasi” yg membantu para lansia, single parent, dan mereka yg kurang mampu untuk membersihkan atau memperbaiki rumah (lihat Menconi, 2010: pp. 205-210). Gambaran gereja sebagai keluarga Allah di satu sisi digambarkan dalam nuansa bergereja yang guyub dan semarak, di sisi lain juga menggambarkan cinta kasih kepada sesama sebagai bagian dari tanggung jawab sosial gereja (Lih. Rijnardus et. al., 2008: p. 107)

Khotbah Intergenerasional

Pada diskusi seputar teologi khotbah dewasa ini, kebanyakan pembahasan adalah pada soal nilai-nilai dan efektivitas khotbah bagi jemaat gereja dan masyarakat. Pembicaraan mengarah pada bagaimanakah cara yang lebih efektif untuk menyampaikan berita Injil pada masyarakat post-modern yang dinamis dan terus berubah. Khotbah pada era dewasa ini perlu mempertimbangkan keberadaan generasi baru yang hidup di era yang baru juga. Menconi sebagaimana menggarisbawahi pendapat Dave Teague menuliskan elemen-elemen penting khotbah di era dewasa ini, yakni perlu memperhatikan:

  • Relevansi dari khotbah hendaknya berkaitan langsung dengan keberadaan jemaat sekarang,
  • Orang jaman sekarang lebih ingin didengarkan dan pergumulan hidup mereka menjadi bahan refleksi khotbah yang mendalam sehingga mereka merasa terlibat dengan apa yang dibicarakan dalam khotbah,
  • Khotbah yang relevan menyentuh dimensi emosional pendengarnya,
  • Khotbah yang otentik, orang jaman sekarang cenderung ingin pengkhotbah yang jujur dan apa adanya,
  • Khotbah yang berdasar pada Alkitab, bukan lebih banyak catatan pribadi pengkhotbah,
  • Dan, khotbah yang holistik yang menyentuh keberadaan manusia secara menyeluruh termasuk keberimanan mereka yang holistik (Menconi, 2010: pp. 183-184).

Keberadaan gereja saat ini di mana terdapat berbagai generasi yang bersekutu di dalam sebuah gereja yang sama, perlu untuk disikapi secara positif. Setiap generasi mempunyai keunikan sendiri-sendiri jika dikaitkan dengan aspek-aspek kehidupan bergereja termasuk di antaranya adalah ciri khas khotbah yang mengena dan relevan bagi masing-masing generasi. Generasi GI misalnya dengan latar belakang kehidupan mengalami masa perang dunia yang berat, lebih menginginkan khotbah yang praktis yang langsung menyentuh pergumulan mereka. Berbeda halnya dengan generasi Diam, yang sudah mulai menikmati keadaan stabil pasca-perang dan pembangunan dalam proses pertumbuhan dan kedewasaannya, lebih ingin mendengar khotbah-khotbah yang bersifat “profesional” yang berisikan refleksi mengenai dunia kerja profesional yang mereka hadapi dalam hidup keseharian (Lih. Menconi, 2010: pp. 187).

Generasi Boomer yang lahir dan tumbuh bersama dengan mulai dikenalnya televisi dan pertumbuhan ekonomi yang baik, serta mulai menguatkan budaya individualisme lebih merasa cocok dengan khotbah yang bercorak relasional. Demikian pula generasi X yang tumbuh dan berkembang dengan kemajuan teknologi komputer menginginkan khotbah-khotbah yang interaktif oleh karena mereka terbiasa dengan situasi yang interaktif dalam kehidupannya yang banyak dimudahkan oleh keberadaan komputer yang bersifat interaktif dengan manusia dan banyak membantu manusia berinteraksi satu sama lain meski berada di tempat yang berbeda pada saat yang bersamaan. Dan generasi Milenial ternyata lebih menghendaki khotbah-khotbah yang terintegrasi (Lih. Menconi, 2010: pp. 187-189). Artinya generasi yang milenial yang hidup di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih seringkali dibombardir dengan sajian informasi yang cepat dan tiada henti cenderung membuat mereka kurang bisa mengambil momen reflektif untuk mencerna itu semua dan melihat segala sesuatu secara keseluruhan dan tidak parsial. Oleh karena itu, khotbah yang terintegrasi akan banyak menolong mereka untuk mengintegrasikan keberadaan diri, kehidupan iman spiritual, lingkungan, relasi dan konteks yang mereka hadapi.

Tantangan untuk menyampaikan khotbah yang intergeneratif salah satunya adalah ketika misalnya generasi Boomer, X dan Milenial merasa dirinya sebagai bagian dari orang-orang postmodern, generasi GI dan Diam masih menganggap dirinya sebagai bagian dari pemikiran masyarakat modern. Konsekuensinya ketika seorang pengkhotbah ingin berkomunikasi kepada setiap generasi yang beragam itu dalam satu sesi khotbah yang sama akan menjadi sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Oleh karena itulah khotbah intergeneratif disampaikan dgn variasi isi, tema, dan gaya komunikasi yang khusus agar bisa “berbunyi” dan menyentuh setiap generasi. Akan tetapi perlu untuk disadari bahwa dampak terbesar dari khotbah tersebut adalah melalui relasi yang mendalam tiap-tiap generasi selama 24 jam 7 hari seminggu setelah mendengar suatu khotbah dan bersama-sama menggumuli Firman itu (lih. Menconi, 2010: p. 186).

Menconi menawarkan beberapa dasar khotbah intergeneratif, sebagaimana berikut:

  1. Dengan menjadi otentik dan mengkomunikasikan berita Injil secara orisinal, tidak berusaha memanipulasi respon jemaat demi kepentingan pengkhotbah.
  2. Merefleksikan dan membicarakan topik dan isu-isu yang dipergumulkan oleh jemaat dalam kehidupan riil mereka, serta dengan tidak terlalu banyak mendiskusikan teori-teori yang dipelajari di sekolah teologi.
  3. Selalu memberikan aplikasi dan saran-saran praktis bagaimana melakukan pesan khotbah tersebut dalam kehidupan sehari-hari jemaat. Jemaat sekarang adalah lebih realistis.
  4. Ketika memungkinkan dan bersesuaian dengan tema khotbah, dapat digunakan ilustrasi dari peristiwa-peristiwa yang aktual terjadi saat ini.
  5. Menggunakan multimedia dan berbagai cara kreatif untuk berkomunikasi untuk “terkoneksi” dengan jemaat. Jemaat dewasa ini mempunyai waktu dan perhatian yang relatif pendek dan terbiasa dengan variasi pilihan-pilihan.
  6. Sesering mungkin, khotbah hendaknya terkait dengan konteks keseharian dari tiap generasi yang ada di dalam jemaat. Misalnya bagaimana pesan khotbah berbunyi untuk anak usia sekolah (baik SD, SMP, ataupun SMA)? Bagaimana pesan khotbah dapat berbicara kepada kalangan dewasa muda yang sedang mengusahakan kestabilan kehidupan ekonomi, relasi personal dan sosial mereka? Bagaimana khotbah menyentuh generasi Boomer yang sedang mencari makna hidup yang lebih mendalam? Bagaimana suatu khotbah dapat sampai kepada para pensiunan yang menjalani hari-hari mereka dengan ingin selalu mendekat kepada Allah? Memang bukan hal yang sudah untuk mempraktekan itu semua, akan tetapi seharusnya hal tersebut dapat dijadikan sebagai gol yang senantiasa ingin dicapai oleh pengkhotbah.
  7. Dalam berbagai kesempatan, jemaat dapat dilibatkan dalam khotbah. Hal ini dapat dilakukan dengan khotbah yang interaktif atau dengan saat hening atau doa bersama di tengah khotbah untuk merespon suatu bagian khotbah tersebut. Tantangan yang dihadapi oleh jemaat setelah mendengar khotbah dan menjalani kehidupannya selama seminggu dapat dijadikan bahan sharing pada suatu khotbah di minggu berikutnya, tentunya dengan cara yang baik dan terencana. Intinya adalah menjadi kreatif sehingga sebuah khotbah dapat dikomunikasikan dan diaplikasikan dengan baik.
  8. Menyediakan kesempatan bagi setiap generasi untuk berinteraksi satu sama lain dalam suatu khotbah. Misalnya dengan mengajak keluarga-keluarga mendiskusikan hal tertentu dengan anggota keluarganya dalam bagian tertentu khotbah dan bagaimana mengapliasikan pesan khotbah tersebut.
  9. Dan akhirnya, seorang pengkhotbah perlu untuk mendengar masukan-masukan (input) dari semua generasi terkait dengan pergumulan hidup dan pandangan-pandangan mereka. Khotbah yang baik dapat berasal dari pengkhotbah yang mempunyai relasi yang baik dan mendalam dengan jemaat pendengar khotbahnya. Khotbah yang efektif akan muncul ketika pengkhotbah memahami setiap generasi yang kepadanya pengkhotbah tersebut berusaha mengkomunikasikan berita Injil pada konteks masa kini (Menconi, 2010: pp. 189-190).

Khotbah mendapatkan tempat yang penting dalam teologi dan gereja. Pekabaran Firman merupakan tugas yang utama bagi gereja, oleh karena itu gereja dan pengkhotbah perlu untuk mempersiapkan khotbah dengan sebaik mungkin. Di era sekarang ini dengan semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi, serta adanya realita generasi-generasi yang berbeda yang bersekutu dalam gereja yang sama, perlu untuk disikapi oleh gereja dan pendeta atau pengkhotbah dengan cermat dan baik. Harapannya adalah, suatu khotbah yang disampaikan dapat benar-benar menyentuh setiap generasi yang beragam itu sesuai dengan keberadaan, konteks hidup dan kebutuhan mereka masing-masing. Oleh karena itulah, pendekatan khotbah intergenrasional diperlukan sehingga semua generasi yang ada di dalam gereja tersebut dalam dilayani dengan baik serta generasi-generasi yang berbeda itu dapat saling berinteraksi secara bermakna untuk dapat saling mendukung dan memperhatikan satu sama lain. … (bersambung)

-Pdt Imanuel Geovasky (GKJ Karangbendo)-


 klik lin dibawah untuk mengunduh
GEREJA KITA, KELUARGA KITA (V) (file WORD)
GEREJA KITA, KELUARGA KITA (V) (file PDF)