klik lin dibawah untuk mengunduh
GEREJA KITA, KELUARGA KITA (VI) (file WORD)

GEREJA KITA, KELUARGA KITA (VI)

Pojok Inspirasi Sinode GKJ tentang Gereja Intergenerasi (Berseri)

  

Setelah lima seri artikel pendek ini dimuat, dalam artikel ini penulis akan mengajak Pembaca yang budiman untuk melihat secara lebih dekat bagaimana praksis gereja intergenerasi di GKJ Karangbendo, gereja di mana penulis melayani.

 Perjumpaan pertama

Penulis dipanggil untuk mengikuti proses pencalonan pendeta di GKJ Karangbendo sejak bulan Maret 2016 diawali dengan perkenalan dan orientasi. Kemudian setelah terpilih, penulis memasuki masa pembimbingan calon pendeta. Pada saat inilah, penulis didorong oleh pembimbing untuk memilih salah satu teori atau pendekatan ekklesiologi untuk dipergumulkan dan menjadi tema besar yang memayungi seluruh materi pembimbingan. Penulis memilih pendekatan gereja intergenerasi karena mendapati pendekatan ini menarik dan dari pengamatan sekilas terhadap jemaat GKJ Karangbendo, sekiranya cocok jika diterjemahkan dalam praksis menggereja di GKJ Karangbendo. Penulis menjalani ujian peremtoar dengan tema utama “Gereja Intergenerasi” pada Sidang Istimewa ke-2 Klasis Yogyakarta Utara di GKJ Karangbendo pada 21 September 2017 dan dinyatakan layak tahbis serta memasuki masa vikariat. Kemudian penulis ditahbiskan sebagai pendeta pada 17 September 2018.

 

Menjadikan visi bersama

            Kesatuan visi dari seluruh elemen gereja menjadi hal yang sangat penting untuk menentukan gerak langkah suatu gereja ke depan. Oleh karena itu, menjadi hal yang utama untuk menjadikan gereja intergenerasi sebagai visi bersama GKJ Karangbendo. Dan bagi penulis, ujian yang besar setelah ujian peremtoar adalah bagaimana bersama-sama dengan segenap majelis dan jemaat GKJ Karangbendo memiliki visi menuju gereja intergenerasi dan mewujudnyatakannya dalam praksis bergereja. Dalam artikel-artikel penulis menggunakan istilah “praksis” yang berbeda dengan istilah “praktik”. Praksis berasal dari kata bahasa Yunani πρᾶξις (praxis) yang berarti proses di mana sebuah teori, pengajaran atau keahlian tertentu diberlakukan, diwujudkan atau direalisasikan. Praksis juga dipahami sebagai proses melibatkan, menerapkan, melatih, mewujudkan, atau mempraktikkan ide. Praksis dikenal secara khusus karena kuatnya unsur partisipasi dari setiap elemen atau stakeholder yang terlibat dalam suatu proses. Di sisi lain, praksis juga khas dengan tahapan yang disebut spiral praksis, yaitu proses melibatkan diri, menganalisa, berefleksi, dan melakukan aksi secara terus-menerus.

 

Pada bulan November 2017, penulis mendapatkan kesempatan dari majelis gereja untuk menyampaikan usulan visi dan misi gereja beserta contoh program pada Persidangan Istimewa Terbuka Majelis GKJ Karangbendo. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan usulan visi dan misi gereja sebagai berikut:

 


Keputusan sidang majelis setelah presentasi dalam Sidang Istimewa Terbuka saat itu adalah menerima usulan visi dan misi tersebut dan mengintegrasikan dengan visi dan misi yang ada di Renstra lama GKJ Karangbendo. Kemudian pada saat artikel ini ditulis usulan visi dan misi tersebut dipakai sebagai dasar penyusunan Renstra GKJ Karangbendo periode 2021-2026.

Seperti kita ketahui bahwa gereja sebagai keluarga Allah adalah dasar teologis bagi praksis gereja intergenerasi. Penulis juga menyampaikan usulan kongkret program dari misi tersebut sebagai berikut:

 


Program no. 1 ini diperlukan untuk menjemaatkan apa itu gereja intergenerasi dan dasar teologinya. Program ini dilaksanakan melalui pembuatan bahan pembinaan iman yang mengangkat tema gereja sebagai keluarga Allah. Hal ini dilakukan sebagai langkah awal memperkenalkan gereja intergenerasi kepada jemaat dengan menjadikannya tema besar kegiatan PA dan persekutuan doa (bidston) reguler tiap bulan selama satu tahun.

Penulis bahan PA dan persekutuan doa tersebut adalah para majelis dan jemaat GKJ Karangbendo dengan kekayaan sudut pandang sesuai dengan latar belakang penulis yang beragam melalui proses workshop pembekalan penulisan bahan PA, penulisan, editing dan penerbitan buku. Buku bahan PA dan persekutuan doa yang sudah diterbitkan dan digunakan yaitu: buku pertama dengan tema “Gereja Sebagai Keluarga Allah” (Juli 2018-Juni 2019) dan kedua “GKJ Karangbendo Menuju Gereja Intergenerasi” (Juli 2019-Juli 2020).

Dalam buku-buku bahan PA dan persekutuan doa tersebut, dasar-dasar teologis dan praksis gereja intergenerasi dikupas secara komprehensif. Tiap-tiap wilayah menggunakan bahan PA ini setiap bulan dua kali berselingan dengan bahan PA dari khotbah Minggu dan jika ada bahan khusus dari LPPS seperti masa raya Natal, Paskah, Pentakosta, Bulan Keluarga dst. Sedangkan untuk bahan persekutuan doa digunakan setiap bulan sekali. Upaya penjemaatan ini dilakukan dengan harapan terjadi perubahan paradigma majelis dan jemaat dari pendekatan pembinaan iman dan ibadah yang cenderung mengkotak-kotakkan tiap generasi menuju integrasi tiap generasi secara komprehensif dengan nuansa layaknya dalam keluarga. Perlu dipahami bahwa program pembinaan kategorial usia tidak ditiadakan, melainkan tetap dilaksanakan dengan paradigma yang baru, yaitu paradigma intergenerasi.

 

Gereja intergenerasi dalam praksis

Aspek utama yang diharapkan diwarnai dengan pendekatan gereja intergenerasi adalah kepemimpinan gereja. Kepemimpinan gereja dalam hal ini, majelis gereja, diharapkan memiliki kesadaran bahwa di dalam merumuskan suatu kebijakan adalah dengan memperhatikan dan mempertimbangkan keberadaan beragam generasi yang ada di dalam gereja. Hal ini secara kongkret diwujudnyatakan dalam proses penyusunan rencana strategis GKJ Karengbendo 2021-2026 dengan menggunakan pendekatan gereja intergenerasi dan disusun dengan mendengarkan sumbang-saran dari seluruh jemaat.

Demikian pula halnya dalam aspek pelayanan, kata kuncinya adalah dengan “melibatkan” sebanyak mungkin generasi dalam kegiatan-kegiatan pelayanan. GKJ Karangbendo diuntungkan dengan adanya ‘tradisi’ kegiatan yang bernama “Lintas Komisi”  yang dilaksanakan tiap dua tahun sekali, yaitu berupa kegiatan persekutuan dan outbound yang diikuti oleh semua komisi kategorial usia. Kegiatan ini dikembangkan lebih lanjut dengan pendekatan intergenerasi dan dijadikan program rutin dengan nama “Persekutuan dan outbound Intergenerasi”.

Komisi-komisi kategorial usia dimotivasi agar menyelenggarakan kegiatan dengan melibatkan atau kerja sama dengan komisi kategorial yang lain sehingga dalam berkegiatan seperti persekutuan tidak hanya dengan jemaat yang seusia. Contohnya adalah sekolah Minggu yang juga dilayani oleh para pemuda, warga dewasa dan bahkan adiyuswa.

Ibadah-ibadah hari raya selalu dikemas secara intergenerasi di mana tiap-tiap komisi kategorial mempersembahkan talenta terbaiknya dalam ibadah. Termasuk di dalamnya adalah khotbah yang menyapa dan menyentuh semua generasi. Demikian pula nuansa intergenerasi juga diwujudkan dalam pelayanan-pelayanan khusus seperti sakramen baptis, angkat sidi, dan dalam momen perayaan ulangtahun gereja.

 

Gereja intergenerasi di masa pandemi

Pandemi dalam banyak hal turut mengubah sebagian ritme dan pola kegiatan gerejawi. Kegiatan pembinaan iman dan pemberitaan keselamatan banyak beralih ke media digital dan berbasis pada keluarga, termasuk di dalamnya adalah ibadah, sakramen perjamuan, persekutuan, sekolah Minggu, pendalaman Alkitab dan lain sebagainya. Keluarga kembali menjadi pusat kegiatan pembinaan iman yang terjadi dalam nuansa intergenerasi. Situasi demikian juga terjadi di GKJ Karangbendo saat ini dan semakin mendorong terwujudnya praksis gereja intergenerasi di tengah segala keterbatasan yang ada.

 

Tantangan ke depan

Praksis gereja intergenerasi sebetulnya banyak ditemukan dasar dan bahkan implementasinya dalam kehidupan bergereja sejak lama. Namun kecenderungan terlalu kuat dan berakarnya pendekatan kategorial usia menjadikan pendekatan gereja intergenerasi semakin surut. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi gereja intergenerasi. Perubahan paradigma dan praksis menggereja memerlukan waktu, tenaga, energi dan perhatian yang sungguh-sungguh sehingga setiap elemen gereja dapat terlibat dan terus menggumulinya. Belajar untuk saling mendengar, memperhatikan, meletakkan ego-kepentingan, dan menghargai generasi-generasi yang berbeda dengan berbagai kekhasannya adalah bukan hal yang mudah. Akan tetapi, dengan optimisme dan pengharapan hal tersebut tetap bisa dilakukan dalam proses belajar bersama demi keutuhan dan kebaikan semua generasi yang adalah Keluarga Allah.     [selesai]

Referensi

 

Allen, Holly Catterton & Christine Lawton Ross. 2012. Intergeneratinal Christian Formation; Bringing the Whole Church Together in Ministry Community and Worship. Illinois: InterVarsity Press.

Codrington, Graeme. 2011. Detailed Introduction to Generational Theory in Asia: Applying generational theory to countries of Asia, South East Asia, and the Pacific regions, diunduh dari: http://www.tomorrowtoday.uk.com/articles/article044_generations_in_asia.htm pada 4 Juli 2017.

Eminyan, Maurice. 2001. Teologi Keluarga (terjemahan). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Hellerman, Joseph H. 2009. When the Church was a Family: Recapturing Jesus’ Vision for Authentic Christian Community. Nashville: B&H Publishing Group.

Menconi, Peter. 2010. The Intergenerational Church: Understanding Congregations from WWII to www.com. Littleton: Mt. Sage Publishing.

Tim Penyusun. 2005. Pokok-pokok Ajaran Gereja Kristen Jawa Edisi 2005. Salatiga: Penerbit Sinode GKJ.

Tim Penyusun. 2012. Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo-GKJ Ambarrukma menjadi GKJ Karangbendo. Yogyakarta: Panitia Pendewasaan GKJ Karangbendo.

Tim Penyusun. 2015. Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Jawa. Salatiga: Penerbit Sinode GKJ.

 

 

-Pdt Imanuel Geovasky (GKJ Karangbendo)-