Perayaan tahun liturgi menggunakan kalender gereja. Kalender gereja merupakan putaran satu tahun liturgi berdasarkan hari-hari Minggu. Putaran itu berawal atau dimulai dari Minggu Adven pertama hingga Minggu Kristus Raja. Putaran satu tahun liturgi tersebut merevitalisasi irama hidup dengan aktivitas Allah, juga dengan aktivitas budaya. Untuk itulah Masa Raya Natal menjadi awal atau pembuka tahun liturgi. Masa Raya Natal terdiri dari:

  • Empat Minggu Adven
  • Tiga Ibadah Natal, yaitu: Ibadah Natal Malam (24 Desember) dan Ibadah Natal Pagi (25 Desember) dan Ibadah Natal Siang (25 Desember).
  • Minggu setelah Natal
  • Tahun Baru atau Nama Kudus Yesus (oktaf Natal)
  • Epifani 6 Januari
  • Minggu Pembaptisan Yesus.

Masa Adven (Minggu-Minggu Adven)

Adven, dari kata Adventus (bhs. Latin), berarti kedatangan Tuhan Allah. Istilah ini dahulu dipakai dalam kekaisaran Romawi untuk menyambut kedatangan kaisar yang dianggap sebagai dewa, kemudian dipakai oleh pengikut-pengikut Kristus untuk menyatakan bahwa bagi mereka bukan kaisar, melainkan Kristus adalah Raja dan Tuhan. Adven bagi gereja adalah saat persiapan Natal, kedatangan Kristus kembali. Tema konvensional Adven sebaiknya tetap ada dalam rangkaian masa raya natal, dengan narasi baru yang disesuaikan dengan konteks masa.  Adven sebagai masa persiapan Natal dirayakan melalui narasi bacaan (narasi), nyanyian, doa dan khotbah maupun ornamen-ornamen.  Untuk itulah GKJ Jakarta  sudah terbiasa tidak bernatalan, baik melalui narasi bacaan-nyanyian-doa-khotbah maupun ornamentasi, pada masa Adven ini. Adven sebagai minggu-minggu masa penantian datangnya Kristus, Sang Terang, ditandai dengan lilin-lilin. Dalam ibadah Minggu-minggu Adven, cahaya lilin-lilin menjadi tanda pengharapan kedatangan Kristus. Masuknya lilin atau lilin-lilin sewaktu prosesi dan penyalaan lilin satu per-satu setiap Minggu bukan hanya untuk tanda Adven kesekian, tetapi lebih dari itu untuk menjadi tanda datangnya terang dunia itu.

Untuk hiasan tempat lilin dan warna lilin memang tidak ada ketetapan atau keharusan. Tempat untuk meletakkan lilin adven bisa juga dengan hiasan Natal berbentuk lingkaran, yang dibuat dari dahan daun pinus. Hiasan berbentuk lingkaran itu disebut “koronka”. Biasanya hiasan ini dipasang di pintu-pintu rumah. Tetapi di gereja-gereja, juga di rumah-rumah, dipakai sebagai tempat untuk meletakkan “Lilin Adven”. Hiasan berbentuk lingkaran itu melambangkan Tuhan yang abadi, karena bentuk lingkaran tidak memiliki awal dan akhir. Demikian juga dengan Tuhan yang adalah abadi. Lingkaran Adven selalu dibuat dari dahan dan daun evergreen (daun pinus). Dahan dan daun evergreen, sama seperti namanya ever green, yang berarti senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, yang lahir dan yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita.

Empat batang lilin diletakkan  pada atau di sekitar hiasan lingkaran Adven tersebut. Tiga batang lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah jambu atau merah muda. Setiap lilin memiliki makna penghayatan: Lilin Pertama disebut Lilin Nabi yang mengingatkan bahwa kedatangan Sang Raja Damai, yaitu Yesus Kristus sudah diwartakan oleh para nabi. Ia akan memerintah demi kemuliaan Yahwe sehingga rakyat-Nya akan hidup dengan aman dan damai. Raja Damai itu pun akan dimuliakan sampai ke ujung bumi; Lilin Kedua disebut Lilin Betlehem yang mau menegaskan bahwa Sang Juru Selamat akan lahir di dalam hati kita. Betlehem menjadi gambaran tentang kesiapan hati manusia, sebagai tempat untuk menyambut dan menerima kehadiran San Mesias; Lilin Ketiga disebut Lilin Para Gembala yang melambangkan bahwa pemberitaan tentang kelahiran Sang Juru Selamat untuk pertama kalinya disampaikan kepada orang-orang yang tulus dan rendah hati, yaitu para gembala. Orang-orang yang tulus dan rendah hati akan menjadi orang yang mendapatkan kabar baik.; Lilin Keempat disebut Lilin Para Malaikat yang menggambarkan tentang berita bahagia/ sukacita besar bagi manusia yang disampaikan oleh para malaikat. Sukacita yang sejati adalah damai di dalam hati. Damai yang sejati tersebut hanya didapatkan dari Tuhan Yesus yang lahir bagi kita. Agar dapat mengalami damai sejati itu, kita hendaknya menyiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan-Nya dengan pertobatan.

Warna liturgi selama Masa Adven adalah ungu, dengan makna sebagai masa pengharapan. Memang warna liturgi ungu memiliki makna masa pertobatan, yang menjadi warna liturgi pada masa Pra-Paskah, sebagai masa puasa dan tobat. Untuk itu, ada gereja-gereja yang menggunakan warna ungu pada masa Adven berbeda dengan ungu pada masa Pra-Paskah. Warna ungu pada masa Adven lebih cerah sedangkan ungu pada masa Pra-Paskah lebih gelap.  Warna ungu pada masa Adven memiliki makna sebagai sebuah masa pengharapan yang penuh sukacita, yaitu merayakan kedatangan Kristus yang pertama sekaligus menantikan kedatangan Kristus yang kedua. Jadi, suasana yang dominan bukanlah kesedihan tetapi pengharapan dan penantian akan kedatangan Tuhan.

Warna-warni keempat lilin juga memiliki makna tersendiri. Lilin ungu sebagai lambang pengharapan akan kedatangan Sang Mesias, yang dilakukan dengan pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahwa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa kita untuk menerima Kristus pada Hari Natal dan pada hari kedatangan-Nya kembali. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu “Gaudete”. “Gaudete” adalah bahasa Latin yang berarti “sukacita”, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pengharapan karena sukacita Natal hampir tiba. Warna merah muda merupakan hasil warna yang dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pengharapan atau penantian ini (ungu) dan sedikit meledak dalam Masa Adven. Hari Minggu Adven IV kembali dengan warna ungu, yang memiliki makna  mengingatkan  kembali bahwa kesukacitaan menyambut Natal harus disertai dengan mempersiapkan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, yang dapat terjadi  dengan pertobatan. Pada Hari Natal, keempat lilin tersebut digantikan dengan lilin-lilin putih, yang berarti masa persiapan kita telah usai dan kita masuk dalam sukacita yang besar. Tetapi sekali lagi, tentang warna tidak menjadi suatu ketetapan, melainkan kesepakatan saja dari setiap gereja. Bisa saja lilin adven dengan satu warna, misalnya semua putih hingga lilin natal

Natal
Gereja merayakan Natal bukan sebagai “hari ulang tahun Yesus“, melainkan menjadi kembali seperti umat Israel yang menantikan, mengharapkan, menunggu, dan mendoakan datangnya (advent) syalom Allah di bumi.  Natal adalah bukan tentang masa lalu, melainkan masa depan. Harapan akan kebahagiaan masa depan yang penuh dengan damai sejahtera, keadilan, kebenaran, dan keutuhanciptaan itu, telah dirasakan umat dan diberitakan oleh gereja sejak masa Adven. Memang kata Natal dari kata Natalis (Bhs. Latin) , lengkapnya “Dies Natalis”, yang berarti Hari Lahir. Tetapi Natal dalam tahun liturgi ini bukan merayakan Hari Kelahiran Yesus, melainkan merayakan Kelahiran Yesus. Sebab jika merayakan Hari Kelahiran Yesus, maka yang muncul adalah polemik tentang tanggal atau hari kelahiran Yesus. Sehingga muncul pertanyaan, apakah benar Yesus lahir tanggal 25 Desember?

Masa kekaisaran Romawi jaman dahulu menggunakan istilah ini untuk memperingati kelahiran dewa Surya, lengkapnya dies natalis solis invicti, yang berarti “hari kelahiran matahari yang tak terkalahkan”. Pengertian ini dihubungkan pula dengan penyembahan kaisar sebagai Dewa Matahari. Kaisar (abad ke-3) menetapkan perayaannya pada 25 Desember, demi kehormatannya sendiri sebagai ‘tuhan’. Hari ini kemudian ‘dikristenisasi’ sebagai “dies natalis” Yesus Kristus sebagai Matahari Kebenaran, Terang Dunia yang sebenarnya, Raja Alam Semesta, Tuhan yang sanggup turun dari takhtaNya.

Sesuai dengan bacaan Alkitab (Leksionari), ibadah Natal diadakan dalam tiga ibadah, yaitu:

Ibadah Natal pertama atau Natal Malam. Ibadah ini diadakan malam pada tanggal 24 Desember. Menurut bacaan Alkitab dan kisah kelahiran Yesus: “hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud“ (Luk. 2:11) dan Ia lahir pada malam hari. Artinya, ketika mengadakan ibadah pada tanggal 24 Desember malam, itu sudah Natal atau sudah merayakan kelahiran Yesus. GKJ Jakarta masih menyebut ibadah ini dengan ibadah Malam Natal, yang sesungguhnya berarti ibadah malam sebelum Natal. Padahal isi atau muatan ibadahnya sudah Natal, sebab pada ibadah malam tersebut sudah menyalakan Lilin Natal dan menyanyikan “Malam Kudus”. Bahkan ada umat yang masih ragu untuk mengucapkan: “Selamat Natal” dan menggantinya dengan “Selamat Malam Natal”. Jika Minggu Adven IV bertepatan dengan tanggal 24 Desember, maka ibadah pagi tetap merayakan Adven IV dan ibadah malamnya menjadi ibadah Natal Malam.

Ibadah Natal Kedua atau Natal pagi. Tanggal 24 Desember  malam, dalam ibadah dikisahkan kembali atau dinarasikan kembalai para gembala melihat Bayi Kudus di palungan (Luk. 2:1-14). Bacaan dalam ibadah 25 Desember pagi ini mengajak umat untuk mendengar dan menyaksikan nyanyian para tentara sorga (Luk. 2:13-14), para gembala tidak lantas hanya memuji-muja peristiwa itu. Menurut Lukas 2:15-16, para gembala setelah menemukan Bayi Yesus, mereka tidak hanya berdiam diri di tempat itu, melainkan segera pergi sambil memuji dan memuliakan Tuhan. Mereka pergi untuk memberitahukan apa yang mereka alami dan perjumpaan mereka dengan Bayi Yesus, Sang Terang yang telah dinantikan.

Natal Ketiga atau Natal Siang. Pada umumnya, gereja-gereja jika mengadakan ibadah Natal pada tanggal 25 Desember lebih dari satu kali ibadah, itu hanya merupakan pembagian waktu ibadah dengan bacaan Alkitab yang sama. Padahal menurut kalender liturgi, ibadah siang menjadi ibadah Natal Ketiga dengan bacaan yang berbeda. Selain memperkuat kesaksian dan pemberitaan para gembala, Natal ketiga atau Natal siang merupakan kisah yang memperkuat kesaksian dan pemberitaan para gembala. Ibadah Natal ketiga dengan bacaan Yohanes 1:1-14 dan Yesaya 52:7-10, menjadi ibadah yang menghadirkan kembali kisah kedatangan Yesus, Sang Terang, sebagai penggenapan janji keselamatan, yang disambut dengan sorak-sorai (Yes. 52:7-10).

Perayaan atau ibadah Natal sejak dari Natal pertama hingga ketiga, sebaiknya tidak menjadi ibadah pilihan bagi umat. Tapi adalah baik jika umat mengikuti ketiga ibadah tersebut, sebab ketiga ibadah tersebut merupakan kisa kelahiran Yesus yang berkerlanjutan. Pada umumnya, puncak kemeriahan Natal terjadi hanya pada tanggal 24 dan 25 Desember saja. Setelah itu gereja-gereja sekan-akan telah selesai dengan perayaan Natal dan ibadah-ibadah tidak lagi menarasikan atau menyanyikan tema-tema Natal. Natal akan tetap dirasakan dan dihadirkan melalui kelompok-kelompok yang mengadakan ibadah Natal. Padahal baik jika setelah 25 Desember, gereja tetap menjaga Natal, dengan menghadirkan narasi bacaan-nyanyian-doa-khotbah maupun ornamen-ornamen, pada masa Natal yang berlangsung hingga Epifania.

 Ibadah 1 Januari (Nama Kudus Yesus)

Gereja-gereja, biasanya mengadakan ibadah pada tanggal 1 Januari sebagai Tahun Baru menurut kalender Masehi. Menurut kalender liturgi, 1 Januari dirayakan sebagai perayaan tahun gerejawi, yakni oktaf Natal (octav = delapan; oktaf = masa delapan hari pesta gereja ). Ibadah ini menjadi pengenangan peristiwa Yesus pada usia delapan hari, “Ia harus disunat, dan diberi nama Yesus” (Luk. 2:21). Jika tanggal 1 Januari dirayakan sebagai hari Nama Kudus Yesus, maka bacaannya adalah Bilangan 6:22-27; Mazmur 8; Galatia 4:4-7 atau Filipi 2:5-11; Lukas 2:15-21.  Sedangkan jika ibadah untuk perayaan Tahun Baru Masehi, memakai bacaan Pengkhotbah 3:1-13; Mazmur 8; Wahyu 21:1-6; Matius 25:31-46.

Ibadah lain yang tidak termasuk dalam tahun liturgi tapi juga dirayakan Gereja-gereja dalam rangkaian Masa Raya Natal adalah ibadah malam tahun baru atau ibadah tutup tahun. Bukanlah suatu kesalahan jika gereja-gereja melaksanakan ibadah pada malam tahun baru. Tetapi yang perlu dipahami adalah ibadah ini tidak termasuk dalam tahun liturgi. Sebab ibadah ini hanya merupakan tradisi untuk memasuki tahun yang baru (tahun Masehi) dan tidak ada kisah yang terangkai dalam Masa Raya Natal. Untuk itu, ibadah ini bisa dilakukan dengan refleksi atau ibadah doa dan pujian.

Epifani

Kata Epifani (bhs Yunani) berarti penampakan diri atau membuat nyata/jelas. Gereja Ortodoks merayakan hari Epifani sebagai hari kelahiran Kristus, yaitu pada tanggal 6 Januari (bukan tanggal 25 Desember) atau pada hari Minggu yang terdekat dan enam minggu sesudahnya.  Gereja Katolik merayakan Epifani sebagai Hari Tiga Raja (para Majus) untuk memperingati penampakan Kristus setelah kelahiran-Nya: pada waktu Ia disembah oleh para majus, pada waktu Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, dan pada waktu Ia melakukan mujizat pertama dalam pesta perkawinan di Kana. Gereja Protestan merayakan Epifani sebagai hari penampakan kemuliaan Yesus setelah dibaptis.

Masa Epifani, dimulai pada tanggal 6 Januari, bervariasi tergantung pada penetapan tanggal Paskah. Selambat-lambatnya masa Epifania berlangsung sampai Minggu Septuagesima, atau 64 hari sebelum Paskah.

Ada tiga peristiwa yang menjadi kisah penampakan Yesus, yang dirayakan pada hari Epifani, yaitu: Pertama, Epifani diungkapkan dalam kunjungan para Majus atau sering disebut tiga Raja, yaitu melalui persembahan yang mereka bawa, yaitu dupa sebagai persembahan untuk menghormati Allah (Mat 1:11). Kedua, penampakan keilahian Yesus muncul dalam pembaptisan Yesus di Sungai Yordan, yaitu dalam kata-kata yang terdengar di langit: ”Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.” (Luk 3:22; Mat 3:17; Mrk 1:11; Luk 9:35). Ketiga, perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11) yang mengungkapkan keilahian Kristus lewat mujizat yang pertama.

Kata Epifani berarti, “manifestasi”, atau  “penampakan jelas”; atau Teofani yang berarti “penampakan Tuhan”. Hari Raya Epifani disebut juga Hari Raya Penampakan Tuhan sebagai manusia terhadap dunia dalam bentuk kelahiran Yesus Kristus. Jemaat Kristen mula-mula, merayakan Hari Raya Epifani untuk memperingati empat momen sekaligus, yaitu: kelahiran Yesus, kedatangan orang-orang majus, pembaptisan Tuhan, dan pernikahan di Kana. Tradisi ini terus berlanjut dalam Gereja Barat (Katolik Roma) maupun Gereja Timur (Ortodoks) sampai abad ke-5. Dalam Konsili Tours tahun 567, Gereja Barat memutuskan untuk memisahkan peringatan kelahiran Yesus dari Hari Raya Epifani. Kelahiran Yesus atau Natal diperingati pada 25 Desember dan Epifani dirayakan pada 6 Januari. Pada tahun 1955, Paus Pius XII memperbarui liturgi dengan memisahkan pembaptisan Tuhan dari Hari Raya Epifani. Sejak itu, Hari Raya Epifani hanya memperingati penyembahan Yesus oleh tiga orang majus dari Timur. Dengan demikian, rangkaian Masa Raya Natal ditutup dengan Minggu Pembaptisan Yesus, sebagai rangkaian awal kisah Yesus memulai karya penyelamatan-Nya.

Tahun ini, yaitu tahun 2021, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dalam Masa Raya Natal. Tahun ini, kita merayakan Hari Epifani tidak dihari Minggu tapi tepat dihari perayaan Epifani, yaitu hari Rabu, tanggal 6 Januari. Pada umumnya gereja-gereja merayakannya di hari Minggu terdekat dengan tanggal 6 Januari. Tahun 2021, tanggal 6 Januarinya tidak dekat dengan hari Minggu, yaitu dihari Rabu. Jika merayakannya di hari Minggu, 3 Januari 2021, maka berarti belum Epifani. Jika merayakankan Minggu, 10 Januari 2021, Minggu tersebut sudah perayaan lain, yaitu Minggu Pembaptisan Yesus. Untuk itulah tahun ini kita beribadah Hari Raya Epifani di hari Rabu, 6 Januari 2021.

Minggu Pembaptisan Yesus

Hari Minggu pembaptisan Yesus adalah hari untuk merayakan Pesta Yesus yang dibaptis. Pada saat pembaptisan-Nya inilah Yesus diakui oleh Allah Bapa sebagai Anak yang dikasihi-Nya. Yesus yang dibaptis inilah yang diutus Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Pada Minggu Pembaptisan Yesus, umat diajak untuk memahami makna baptis kita sendiri, sebagai tanda  untuk menjadi pengikut Kristus sejati dengan latar belakang pembaptisan Yesus.

Menurut Injil, Yohanes membaptis dengan air, sedangkan Yohanes sendiri berkata, bahwa Yesus membaptis “dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat 3:11; Luk 3:16; Mark 1:7). Seperti  juga diceriterakan oleh Lukas dalam Kisah Rasul, bagi Gereja Perdana atau umat kristiani pertama, api digambarkan sebagai pencurahan Roh pada peristiwa Pentakosta (Kis 2:1-4). Roh dan api secara simbolis dilihat sebagai proses pembersihan dan permurnian hati manusia.

Dan pada waktu Yesus dibaptis, terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku  yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan!” (Mark 1:11; Luk 3:22). Dalam kata-kata itu terungkaplah pernyataan yang sangat mendasar tentang Yesus sebagai “orang dari Nasaret itu”, yakni bahwa Yesus adalah Anak Allay yang diutus menjadi ungkapan kasih Allah kepada Israel baru, umat-Nya yang sebenarnya. Kasih Allah mengungkapkan kasih-Nya kepada umat manusia kepada kita, dengan membiarkan diri-Nya dibaptis di sungai Yordan seperti orang-orang lain. Dengan demikian Ia ingin menunjukkan, bahwa Ia sungguh rela menerima kondisi kita sebagai manusia seutuhnya. Lahir di Betlehem, dibaptis di sungai Yordan sebagai pengakuan diri sebagai manusia lemah. Di Yordan Yesus menerima pengakuan sebagai Anak  Allah serta  perutusan-Nya, dan di saliblah Ia menyelesaikan perutusan-Nya tersebut! Dengan menerima baptis dari Yohanes di Yordan, Yesus menyamakan diri seutuhnya, kecuali dalam hal dosa, dengan manusia yang harus diselamatkan-Nya! Itulah pelaksanaan kenabian yang sempurna dan dilaksanakan sebagai Penebus sejati.

Kita semua pun lewat baptisan diundang dan diutus Tuhan untuk melaksanakan tugas panggilan kenabian Gereja! Semua yang dibaptis dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dibaptis dalam  kematian dan kebangkitan-Nya. Berkat baptis kita menerima hidup dan keselamatan. Untuk itu kita harus memelihara dan menghayatinya dengan iman, harapan dan kasih. Baptis adalah tanda panggilan untuk ikut melaksanakan tugas kenabian!

Pesta Pembaptisan Yesus kita terima sebagai undangan dan harapan, agar kita selalu ingat dan sadar serta berterima kasih atas pembaptisan kita. Hari Minggu Pembaptisan Yesus menjadi saat kita diingatkan untuk melaksanakan janji-janji baptis yang telah kita ucapkan secara perorangan, pribadi atau diwakili oleh orang tua kita. Berkat yang telah kita terima dalam pembaptisan mendorong  dan meneguhkan kita kembali, untuk berani tampil dalam Gereja dan masyarakat sebagai cahaya, garam dan ragi kabar gembira, yang diwartakan Kristus kepada dunia kita ini.

Bidang PWG

Bapelsin XXVIII GKJ