SinodeGKJ, Salatiga – Bidang Keesaan Badan Pelaksana Sinode XXVIII bekerjasama dengan LPP Sinode GKJ & GKI SW Jateng, menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) secara online dalam rangka Pembuatan Kurikulum Pembinaan bagi Balon-Calon Legislatif, Anggota Legislatif maupun Aparatur Sipil Negara (ASN), Kamis (28/1/2021) hingga Sabtu (30/1/2021).

Kurikulum tersebut nantinya akan ditindaklanjuti dengan pembuatan modul-modul yang akan digunakan oleh klasis-klasis dan gereja-gereja untuk melakukan pembinaan kepada balon-calon legislatif, anggota legislatif dan warga jemaat yang menjabat di pemerintahan.

FGD menghadirkan pembicara antara lain Pdt. Hananto Kusumo, S.I.P., M.Si.Teol., Pdt. Johan Kristantara, M.Si. Teol., Prof. Dr. Dra Ari Pradhanawati, M.S (Dosen FISIP UNDIP),  Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu S.H., LL.M. (Dosen Fak. Hukum UGM), Bp. Chang Wendryanto, SH (mantan anggota DPRD DIY 2 kali berturut-turut), Prof. Dr. Yeremias T. Keban, MURP (Dosen UGM), dan Dr. Drs. Suyoto HS, MS, M.MA (Birokrat, ASN Pemda Bantul).

Pembinaan kepada balon-calon legislatif, anggota legislatif dan warga jemaat yang menjabat di pemerintahan, merupakan wujud tanggung jawab gereja terhadap warganya sebagaimana yang tertulis dalam Pokok-Pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ) dan juga Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ (Tager Talak GKJ).

Di dalam PPA GKJ Pertanyaan 197 ditulis bahwa orang percaya dengan serius menjalani kehidupan bernegara dengan berpegang pada tiga dasar pemahaman, yaitu:

1. Sebagai imam, orang percaya melayani kehidupan bernegara di dalam kebersamaan (solidaritas) nasional, yaitu tercapainya tujuan negara yang adalah kepentingan, kewajiban dan tanggung jawab bersama.

2. Sebagai raja, orang percaya berpartisipasi (ambil bagian) di dalam menentukan kebijakan penyelenggaraa negara.

3. Sebagai nabi, orang percaya menegur, memperingatkan atau malah menentang segala ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan penghinaan terhadap martabat manusia.

Namun demikian, gereja tidak boleh berolah politik praktis, sebab gereja mempunyai ciri khasnya sendiri, yaitu sebagai suatu kehidupan bersama agamawi. Gereja hanya berkewajiban mempedulikan kehidupan politik tanpa mempunyai ambisi untuk memperoleh kekuasaan.

Pembuatan kurikulum dan modul-modul sampai pada pelaksanaan dan evaluasinya di tingkat klasis maupun gereja lokal, dikerjakan dengan melibatkan para ahli di bidangnya sebagai wujud imamat am orang percaya. (Tim Admin)

Pelaksanaan FGD :