SinodeGKJ, Salatiga – Para pemimpin agama dan organisasi-organisasi berbasis agama diajak untuk ikut berperan aktif dalam sosialisasi penggunaan vaksin Covid-19, dan membantu mengurangi ketakutan yang tidak berdasar serta keengganan masyarakat untuk divaksin.

Para pemimpin agama dan organisasi berbasis agama juga didorong untuk memainkan peran mereka yang sesuai dan dibutuhkan dalam berkontribusi pada diskusi-diskusi kebijakan publik tentang isu-isu kritis terkait distribusi dan penggunaan vaksin Covid-19, agar bisa diakses semua orang yang membutuhkan.

Keberadaan vaksin di satu sisi telah memunculkan titik terang penanganan pandemi Covid-19 yang telah memakan banyak korban jiwa, namun di sisi lain telah memunculkan persoalan lain yakni pemerataan distribusi vaksin di seluruh dunia.

Kebutuhan dan permintaan global pasti akan melebihi pasokan dalam jangka pendek hingga menengah. Diperkirakan tidak akan tersedia cukup vaksin untuk seluruh penduduk dunia hingga tahun 2023 atau 2024.

“Akibatnya, pemerintah, otoritas terkait, dan praktisi medis mau tak mau harus membuat keputusan sulit terkait dengan prioritas untuk peluncuran dan distribusi dari sumber daya yang tersedia secara terbatas ini,” demikian World Council of Churches (WCC) dan Wolrd Jewish Congress (WJC), dalam surat Undangan untuk Refleksi dan Keterlibatan pada Masalah Etis Terkait Dengan Distribusi Vaksin Covid-19.

Karena kebijakan peluncuran dan distribusi vaksin ini menyangkut masalah etis, Kedua lembaga berpendapat para pemimpin agama dan organisasi-organisasi memiliki peran penting dan tanggung jawab untuk terlibat dalam diskusi kebijakan yang relevan.

Di tingkat internasional, perhatian utama adalah pada pemerataan global dalam
distribusi vaksin yang tersedia, tidak terkecuali kepada negara-negara miskin. Di tingkat domestik, perhatian utama adalah pada kerangka kerja alokasi sumber daya langka ini yang harus didasarkan pada sebuah pilihan yang jelas dan spesifik.

Dalam percakapan-percakapan nasional mengenai alokasi vaksin, para pelaku agama harus mempertimbangkan beberapa prinsip dan isu yakni:

1. Kesetaraan, yakni vaksin harus dialokasikan tanpa diskriminasi
2. Hak asasi manusia atas kesehatan
3. Semua tindakan bertujuan meminimalkan jumlah kematian dan menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa
4. Sasaran mana yang harus mendapatkan prioritas tertinggi

WCC dan WJC berpendapat, para pemimpin agama harus mempertimbangkan untuk mengkonfrontasi secara publik rumor yang tidak berdasar dan mitos-mitos konspirasi, yang dipromosikan tanpa bukti, yang merusak kepercayaan publik pada otoritas dan layanan kesehatan dan pada vaksin-vaksin yang telah diuji dan disetujui.

Pemimpin agama senior bisa saja mengambil langkah misalnya, divaksinasi di depan media, idealnya bersama-sama untuk menunjukkan solidaritas dan kerja sama antaragama, jika demonstrasi seperti itu akan membantu mengurangi ketakutan yang tidak berdasar dan “keengganan vaksin” di dalam komunitas-komunitas mereka.

 

Selengkapnya (klik):

UNDANGAN UNTUK REFLEKSI DAN KETERLIBATAN PADA MASALAH ETIS TERKAIT DENGAN DISTRIBUSI VAKSIN COVID-19