SinodeGKJ, Salatiga – Gereja-Gereja Kristen Jawa (GKJ) harus berani masuk pada pertobatan hakiki dengan menyadari penuh bahwa amat mungkin praktik hidupnya tidak memberi makna kehidupan namun justru melecehkan kehidupan.

Hal ini disampaikan Pdt. Dr. TM. Ebenheser Lalenoh, S.Th. MA. dalam kotbah Ibadah HUT ke-90 Sinode GKJ sekaligus Ibadah Hari Rabu Abu, yang diunggah di akun youtube Sinode GKJ, Rabu, 17 Februari 2021.

“Pertanyaan reflektifnya adalah, bagaimana wujud pertobatan sungguh mewujud dalam tubuh GKJ, bagaimana GKJ menyelesaikan masalah yang muncul di dalam tubuhnya, dan dalam cara apa,” Kata Pdt. Dr. TM. Ebenheser, yang melayani sebagai pendeta GKJ Sidomukti, Salatiga.

“Apakah turut dalam spirit non violance resistance, (yakni) melawan tanpa kekerasan atau melanggengkan kekerasan dalam banyak bentuknya. Merangkul dan menjadikan GKJ menjadi rumah bersama dalam kepelbagian atau terjadi pula praktik-praktik peminggiran dalam tubuh GKJ,” imbuhnya.

Pdt. Ebenheser mendasari kotbahnya dengan Firman Tuhan dari Matius 6:1-6 dan 16-21. Ia menjelaskan bahwa Firman ini menjadi kritik cara beragama yang miskin makna dan menjadi sama sekali tidak relevan bagi kehidupan umat.

Firman ini juga mengajarkan kepada kita agar kesalehan terpelihara sebagai urusan paling privasi dengan Allah, dan bukan soal pengakuan orang. Beragama tidak lagi menjadi semu dan bersifat kulit, dangkal, kering dan mengawang. Namun beragama yang kembali pada intinya mendarat dan menyentuh aspek hidup konkrit umat manusia.

Terkait dengan hal itu, Pdt Ebenheser mengajak jemaat untuk mengingat rumusan 3 nilai utama GKJ yakni, Kekudusan Hidup, Kerendahan Hati dan Melayani. Kerendahan hati diberi definisi yang jelas yakni menempatkan orang lain lebih utama dari diri sendiri yang mesti berkinosis (mengosongkan diri atau menyangkal diri) demi perjumpaan yang turut memberi warna dan membentuk identitas hidup.

Sedangkan melayani disebut sebagai pengejawantahan kerendahan hati dalam tugas kerasulan, pemberitaan kasih, keadilan dan keselamatan. “Jadi kerendahan hati menjadi jiwa bagi pendorong karya pelayanan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan GKJ agar tidak terkontaminasi virus yang berbahaya yaitu tinggi hati, yang membentuk penciptaan harga diri, gengsi, egoisme, arogansi dan kesombongan, ingin dihormati dan akibatnya subyektifitas meninggi. Merasa diri terhormat, mulia, paling benar, paling tahu dan paling sempurna. Tak heran lalu menjadi gampang tersulut, gampang sakit hati dan berprasangka buruk.

“Tinggi hati adalah sebongkah makar psikologis untuk menutupi bongkahan jiwa yang begitu lemah dan rapuh. Maka jika mau kuat belajarlah terus menerus menjadi rendah hati. Kerendahan hati membuat tenang, hening, tenggelam dalam renungan-renungan muhasabah, mengevaluasi diri. Kerendahan hati adalah sumber kekuatan dan suka cita,” kata Pdt. Ebenheser.

“Biarlah kerendahan hatimu menjadi kebaikan bagi semua orang, dan inilah panggilan kita dalam pesan Rabu Abu yang mendorong kita berkinois bersama Kristus,” imbuhnya.