PERANG DINGIN TUHAN DAN SETAN
Oleh: Andreas UW

Konon, wabah Justinian abad VI telah menewaskan 50 juta orang atau sekitar 25% penduduk dunia. Wabah Black Death abad XIV menewaskan 200 juta orang atau sekitar 50% populasi. Covid-19 di abad XXI ini boleh jadi merupakan wabah terbesar ketiga setelah Black Death. Meski korban meningal masih di bawah angka 5 juta orang, namun virus ini setidaknya telah menginfeksi 182,9 juta orang (Worldmeters, 1 Juli 2021).

Sayangnya, ketiga wabah ini terjadi setelah kitab-kitab suci agama-agama dunia ditutup. Andai terjadi sebelumnya, pastilah Justinian, Black Death dan Covid-19 jauh lebih seru diceritakan ketimbang wabah belalang, lalat pitak dan penyakit sampar sebagaimana dikisahkan di sana.

Menariknya, teologi kitab-kitab suci menjustifikasi setiap wabah sebagai hukuman dari Tuhan. Justifikasi itu pula yang mungkin mengokohkan agama dan para pemimpin agama menjadi begitu powerfull. “Kebenaran atas nama Tuhan!”

Sahabat, alam adalah subjek yang berkuasa. Entah itu kuasa dari mana, dari Tuhan atau dari Setan. Misteri yang belum terpecahkan. Faktanya, manusia belum sanggup mengendalikan kekuasaan alam. Bahkan memahamipun masih kesulitan. Di zaman post-modern ini, dikotomi kuasa Tuhan atau Setan terus menjadi perdebatan. Tak kurang seru, perang dingin antara Tuhan dan Setan sadarr atau tidak telah memenjarakan pikiran, hingga kita tak sanggup keluar dari medan pertempuran.

Wabah, dari mana asalnya? Dari Tuhan atau Setan? Kaum agamis sendiri kebingungan. Ada yang menjawab dari Tuhan, sebagai bentuk hukuman atau peringatan. Tapi ada juga yang menjawab dari Setan, sebagai bentuk cobaan bahkan teror; bukan sekedar perbuatan kriminal yang memang menjadi profesinya.

Celakanya, orang yang punya keyakinan bahwa Tuhan tak mungkin berbuat jahat, menebar maut ke atas ciptaan yang dikasihi-Nya kurang mendapat perhatian. Maklum, kitab-kitab suci terlanjur menyebut wabah sebagai laknat. Apalagi terhadap gagasan bahwa alam merupakan subjek kekuasaan yang tak harus dikaitkan dengan perang dingin antara Tuhan dan Setan.

Pikirku, jika alam adalah ciptaan, bukankan ia subjek merdeka yang juga berhak mengungkap rasa? Jika anda bertanya, kenapa wabah ini membunuh orang baik dan orang jahat, orang tua dan anak-anak? Di manakah rasa keadilannya? Waduh repot juga. Lebih repot lagi jika anda bertanya, jika alam adalah subjek berkuasa, agamanya apa?

Salam damai.
(auw)