KITAB KEHIDUPAN

(Refleksi Hermeneutik – Perspektif Teologi Praktis)

Oleh: Andreas UW

“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh. 21:25)

 

 

Kanonisasi Alkitab memang sudah selesai, namun tidak berarti Allah berhenti bicara kepada umat-Nya. Sama seperti karya penyelamatan Allah sudah selesai oleh dan melalui pengurbanan Kristus di kayu salib, demikian karya penyelamatan-Nya terus berlanjut sampai sekarang, dan kita dipanggil untuk turut mewartakannya.

“Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.” (2Kor. 3:2)

Firman Allah dan karya penyelamatan-Nya tak terbatas oleh ruang dan waktu. Tak mungkin terpenjara hanya dalam sebuah buku, juga zaman yang tertentu. Kehidupan, adalah gelanggang atau tempat sekaligus media di mana Ia berbicara menyatakan kehendak-Nya. Masa lalu dan masa kini adalah waktu di mana Ia berkarya demi masa depan umat yang dikasihi-Nya. Damai sejahtera dan keselamatan seluruh ciptaan adalah tujuan akhirnya.

Jika kehidupan adalah tempat sekaligus media di mana Ia berbicara, maka kehidupan adalah kitab yang terbuka untuk semua orang. Demikian pula jika masa lalu dan masa kini adalah waktu di mana Ia berkarya demi masa depan umat yang dikasihi-Nya, maka damai sejahtera dan keselamatan adalah rahmat bagi semua. Anda dan saya hanyalah sebagian dari yang terpanggil untuk mengatakannya.

Kesadaran tentang kehidupan sebagai kitab yang terbuka, membawa kita menyadari bahwa  kehidupan itu sendiri adalah sesungguh-sungguhnya kitab, “Kitab Kehidupan”. Sedangkan kesadaran tentang waktu membawa kita mengerti bahwa masa lalu, masa kini dan masa depan adalah sesungguh-sunggnya waktu, “Waktu Keselamatan”. Keduanya, yaitu baik Kitab Kehidupan maupun Waktu Keselamatan adalah rahmat sekaligus hak dan tanggungjawab semua orang untuk membaca dan mewujudkan kehendak-Nya, yaitu damai sejahtera bagi seluruh ciptaan.

Kesadaran tentang Kitab Kehidupan tidak dimaksudkan untuk menyangkal otoritas Alkitab sebagai Kitab Suci yang kanonik. Sejarah penyelamatan Allah ke atas manusia dan dunia, sebagaimana ditulis di dalam Alkitab merupakan rahmat Allah yang olehnya kita beroleh karunia untuk mengerti dan memahami bagaimana cinta kasih Allah diberikan dan kehendak-Nya dinyatakan. Pengakuan atas otoritas Alkitab sebagai Kitab Suci yang kanonik adalah penting. Bukan hanya untuk menyatakan komitmen kepada gereja sebagai Ibu yang melahirkan kita, melainkan tanpanya kita tidak dapat membaca Kitab Kehidupan. Pada sisi yang lain kita juga mengerti bahwa Kitab Suci boleh kanon, namun Waktu Keselamatan tak pernah berhenti. Demikian pula kehidupan (juga kehidupan orang-orang percaya dan gereja) sebagai kitab yang terbuka tak pernah kehabisan tinta sehingga Allah berhenti menuliskannya.

Terimakasih kepada para nabi yang meneruskan Sabda. Terimakasih kepada “orang-orang kudus” yang dengan tuntunan Roh-Nya telah menulis Kitab Suci. Terimakasih kepada para rasul dan gereja yang telah menuntun umat untuk turut berkarya dalam karya penyelamatan-Nya. Melalui Kitab Suci, engkau telah memperkenalkan kepada kami bagian-bagian dari Kitab Kehidupan, yang berasal dari penggalan-penggalan zaman, sehingga mengantar kami untuk mengerti, memahami, bahkan percaya dan merasakan bahwa waktu ini adalah Waktu Keselamatan. Sekarang, ijinkan kami juga membaca Kitab Kehidupan. Dalam aneka rupa dan tanda, dalam gerak semesta, manusia dan alam. Dalam diam dan sepinya malam, bahkan dalam kesunyian batin, tanpa kata tanpa nada. Sekarang ijinkan kami membaca Kitab Kehidupan. Mendengar suara Allah di tengah hiruk pikuk dunia. Di pasar, di pabrik, di jalan, dan di tengah bisingnnya suara kendaraan. Juga di rumah, di kebun, di sawah dan di gunung berselimut kabut berteman sepi di antara batu-batu kali dan pepohonan.

Kitab Kehidupan, tak hanya milik segelintir orang, bukan pula milik segolongan umat atau sekelompok bangsa. Juga tak dapat diklaim sebagai milik negara untuk dijadikan sebagai alat kekuasaan. Kitab Kehidupan, asli ditulis oleh Tuhan. Tak hanya dalam wujud kata-kata atau tulisan namun nyata di segala sesuatu yang kita lihat, kita dengar, kita cium, kita sentuh dan kita rasakan. Kitab Kehidupan, mempersatukan semua orang, menepis sekat-sekat perbedaan yang membawa permusuhan. Kitab Kehidupan, bacaan semua orang.

 

 

====================

Yogyakarta, 16 Juli 2021

POPI Jakal, Km.8