JABATAN DALAM GEREJA

Oleh: Andreas U

 

Gol:

Memahami,

  1. Jabatan Keagamaan dalam Alkitab PL
  2. Jabatan Gerejawi dalam Alkitab PB
  3. Jabatan Gerejawi dalam tradisi Gereja Barat dan Timur
  4. Jabatan Gerejawi dalam tradisi GKJ
  5. Kesimpulan pendalaman
  6. Insight bagi GKJ masa kini 

 


I. Jabatan Keagamaan dalam Alkitab PL

  1. Nabi
  • Juru bicara Allah bagi umat.
  1. Imam
  • Pemimpin ritual keagamaan.
  1. Hakim
  • Pemimpin masyarakat setelah bangsa Israel memasuki tanah Kanaan (1405-1025 SM).
  1. Raja
  • Pemimpin pemerintahan.
  1. Ahli Taurat
  • Pemegang otoritas dalam hal menafsirkan Kitab Suci/Torat.
  • Bersama para Rabbi menyelenggarakan pengajaran bagi umat.
  1. Rabbi
  • Guru, pengajar.
  1. Tua-tua
  • Perwakilan suku-suku di Israel.
  • Bersama golongan Farisi menguasai dan memegang otoritas Bait Allah.
  1. Golongan Farisi
  • Jemaat awam yang terlibat dalam pelayanan ibadah di Bait Allah.

Catatan penting:

Jabatan keagamaan pada masa PL mengalami perkembangan sejak bangsa Israel keluar dari Mesir hingga menetap di Kanaan.

II. Jabatan Gerejawi dalam Alkitab PB

  1. Rasul (Apostoloi, menunjuk 12 murid Yesus dan Paulus)
  2. Nabi (Profetai, 1Kor. 12:28)
  3. Pemberita Injil (Euangelizomai, 2Tim 4:5; Kis. 21:8)
  4. Pengajar (Didaskaloi, 1Kor. 12:28) 
  5. Diaken (Diakonoi, Kis. 6:1-7; Flp. 1:1; 1Tim. 3:8; Kis 6)
  6. Penatua (Presbuteroi, Kis. 11:30; Tit. 1:5; Yak. 5:14; 1Pet 5:1)
  7. Penilik Jemaat (Episkopoi, Kis. 20:28; Flp. 1:1; 1Tim. 3:1)
  8. Pemimpin (Prohistamenoi, Rm. 12:8; 1Tes. 5:12-13)

Catatan penting:

  1. Jabatan gerejawi pada masa PB juga mengalami perkembangan. Selain para Rasul, muncul jabatan-jabatan baru yang tidak ada dalam tradisi PL, mis. Diaken, Pemberita Injil dan Penilik Jemaat.
  2. Perbedaan tugas dan fungsi masing-masing jabatan gerejawi tersebut tidak dinyatakan secara tegas. Boleh jadi karena organisasi gereja mula-mula belum tertata.
  3. Dlm bhs Yunani jabatan-jabatan tersebut ditulis dlm bentuk jamak. Hal ini mengisyaratkan kepemimpinan gereja mula-mula bersifat kolektif. 

III.    Jabatan Gerejawi dalam Tradisi Gereja Barat dan Timur

Di masa yang kemudian, baik Gereja Barat maupun Gereja Timur mengembangkan sistem organisasi masing-masing, termasuk dalam hal menetapkan jabatan-jabatan gerejawi yang diperlukan. 

  1. Gereja Katolik Roma misalnya menggunakan sistem hierarki dibawah kepemimpinan Para Uskup (Episkopal: Paus, Kardinal, Patriark, Primat, Uskup Agung, Uskup Metropolitan). Uskup dibantu oleh para Presbuter (Imam/Pastor) dan Diakon. Adanya supremasi Paus membuat orang menyebut Gereja Katolik Roma menganut sistem Papal. 
  2. Gereja Ortodoks Timur menolak supremasi Paus dan membangun sistem Sinodal, di mana masing-masing hierarki otokefali yang terpisah saling mengakui sebagai Gereja Kristen Ortodoks yang kanonis. Setiap hierarki otokefali memerintah dirinya sendiri yang dipimpin oleh seorang Patriark atau Uskup Agung. Setiap gereja regional terdiri dari konstituen eparki atau keuskupan dan dipimpin oleh Uskup. Secara umum orang menyebut gereja Ortodoks Timur menganut sistem Episkopal.
  3. Pasca reformasi tahun 1517, Gereja Reformasi mengembangkan sistem organisasi yang beragam: Sinodal, Sinodal-Presbiterial, Presbiterial-Sinodal, Kongregasional, Independentis (Pentakostal, Karismatis). Masing-masing denominasi menetapkan jabatan-jabatan gerejawinya sendiri. 
  4. Johanes Calvin menolak hierarkhi. Ia mengembangkan konsep Imamat Am. Meski demikian diperlukan para pelayan khusus (pejabat gereja) yang tunduk dan taat pada Kristus, Sang Kepala Gereja. Jabatan gerejawi merupakan anugerah dari Kristus dan ditetapkan oleh Kristus sendiri. 
  • Pemerintahan gereja yang Kristokrasi (bukan demokrasi) perlu ditopang dengan disiplin gereja yang tinggi. Para pejabat gereja bertanggungjawab mewujudkan kehendak Kristus dan umat wajib menaatinya. 
  • Ada 4 jabatan gerejawi menurut Calvin, yaitu: Gembala (Pastor atau Pendeta), Pengajar (Doctor Ecclesiae), Penatua dan Diaken atau Syamas. Kemudian hari diringkas menjadi 3, yaitu: Pendeta, Penatua dan Diaken.

IV. Jabatan Gerejawi dalam Tradisi GKJ

  1. Pinisepuh dan Juru Pamulasara
  • Pada saat pelembagaan GKJ Purworejo dan GKJ Temon tahun 1900, untuk pertamakali dipilih dan diangkat masing-masing 2 orang Jawa dengan jabatan Pinisepuh (Penatua) dan 1 orang Jawa dengan jabatan Juru Pamulasara (Diaken).
  • Salah satu alasan pelembagaan tersebut ialah beralihnya Sadrach ke Gereja Apostolik dan pengangkatannya menjadi “rasul” pada tahun 1899.
  1. Pamulang
  • Tahun 1923 Komisi Khusus (Ds. K. van Dijk, Ds. D. Baker, Ds. Dr. H.A. van Andel) memandang sudah saatnya ada orang Jawa yang ditetapkan sebagai Pamulang (kemudian hari disebut Pendeta).
  • Jabatan Pamulang di GKJ baru muncul pada th 1926 (Ponidi Sopater, di Yogyakarta), menyusul kemudian pada tahun 1928 (S. Wirjotenojo, di Tlepok).

Catatan penting:

  1. Pada Sidang Sinode pertama tahun 1931 di Kebumen ditetapkan Ajaran dan Tata Gereja GKJ berdasarkan warisan Gerevormeerd dhi. buku Katechismus Heidelberg dan buku Pambanguning Sariranipun Sang Kristus (Rullman). Sejak saat itu jabatan gerejawi di GKJ tidak/belum pernah berubah.
  2. Pada periode 1930-1960-an juga diangkat para guru Injil. Sekedar contoh untuk melihat peran guru Injil, ijinkan saya menyebut nama: Bp. Soekarman Hadi Puspito. Menurut kesaksiannya, beliau ditetapkan menjadi guru InjiI pada Juli 1957 di GKJ Kismorejo, pepanthan Karanganyar (waktu itu masih di kediaman Bp. Widagdo). Mei 1959 dipindah ke GKJ Manahan pepanthan Simo yang meliputi pos pelayanan Karanggede, Kacangan dan Kemusu. Kemudian hari pepanthan Simo dimandirikan menjadi GKJ Simo. Semenjak pindah ke Simo  beliau tinggal di Karanggede sampai sekarang. 

Meski tidak disebut sebagai jabatan gerejawi, namun guru Injil sangat berperan dalam pelayanan baik di tengah jemaat maupun masyarakat. Seiring berjalannya waktu, mungkin karena persoalan finansial, tidak ada lagi pengangkatan guru Injil di GKJ. Mengenai hal ini diperlukan kajian yang lebih mendalam.

IV. Kesimpulan Pendalaman

  1. Berdasarkan Alkitab PL, jabatan keagamaan di Israel bersifat dinamis, berkembang sesuai kebutuhan dan konteks (sosial politik).
  2. Berdasarkan Alkitab PB, jabatan gerejawi pada masa gereja mula-mula juga bersifat dinamis. Sesuai kebutuhan di masing-masing tempat di mana gereja tumbuh.
  3. Di masa yang kemudian baik Gereja Barat maupun Gereja Timur mengembangkan sistem organisasi masing-masing, termasuk menetapkan jabatan-jabatan gerejawi yang diperlukan. 
  4. Pasca reformasi tahun 1517 Gereja Reformasi juga mengembangkan sistem organisasi gereja sendiri, termasuk menetapkan jabatan-jabatan gerejawi yang diperlukan.
  5. Sejak kemandiriannya sebagai sinode, GKJ mengikuti warisan tradisi gereja Gerevormeerd di Belanda. Meskipun Guru Injil tidak disebut sebagai jabatan gerejawi, namun dalam praktik dibutuhkan dan memegang peran penting baik di tengah jemaat maupun masyarakat. 
  6. Dalam perkembangannya, peran dan fungsi jabatan-jabatan gerejawi dirasa tumpang tindih. Sidang Sinode XXVII GKJ tahun 2015 memutuskan perlunya mengkaji kembali Teologi Jabatan GKJ.
  • Kajian perdana dilakukan oleh Klasis-klasis di bawah koordinasi Komisi Ajaran Sinode GKJ hingga diselenggarakannya kegiatan “FGD Teologi Jabatan-I” pada 25- 26 Juli 2017 di Salatiga. Hasil FGD tersebut selengkapnya diterbitkan dalam bentuk buku dan telah dikirim ke gereja-gereja. 
  • Saat ini Komisi Ajaran Sinode GKJ tengah menyiapkan “FGD Teologi Jabatan-II” yang rencananya akan dilaksanakan tahun 2022 yad. 

 

Catatan penting:

  1. Imamat Am dan Jabatan Gerejawi
  • Setiap orang percaya menerima jabatan imamat am dan dipanggil untuk melayani (1Pet. 2:9, 4:10). 
  • Kristus, Raja Gereja, memanggil orang-orang tertentu di antara warga gereja untuk melakukan tugas khusus dan kepadanya dianugerahkan jabatan gerejawi. 
  1. Hakikat Jabatan Gerejawi
  • Hakikat jabatan gerejawi (apapun itu) adalah Pelayan Kristus (Luk. 22:27).
  • Istilah “jabatan gerejawi” tidak semestinya dipahami secara politis (berorientasi pada kekuasaan).
  • Spirit, pedoman dan aktifitas pelayanan para pejabat gereja mengikuti teladan Kristus. Intinya, perlu selalu bertanya, “Apa yang Kristus kehendaki untuk dilakukan?”
  • Jabatan-jabatan gerejawi di GKJ bersifat setara dan sementara (kecuali Pendeta?).
  1. Kepemimpinan GKJ
  • Sesuai pemahaman tentang hakikat jabatan gerejawi, watak kepemimpinan GKJ adalah kepemimpinan pelayan. 
  • GKJ memilih bentuk kepemimpinan dewan (kolektif-kolegial) yang disebut Majelis Gereja.

 

IV. Insight bagi GKJ Masa Kini 

  1. Pada akhirnya bicara tentang jabatan gerejawi tak lepas dari bicara tentang manajemen gereja, khususnya pengorganisasian dan kepemimpinan dalam gereja. 
  2. Dalam konteks manajemen gereja, apapun bentuk pengorganisasian dan kepemimpinan yang dipergunakan, termasuk jabatan-jabatan gerejawi yang menyertainya, pada dasarnya merupakan “alat bantu”, bukan tujuan. Tujuan gereja adalah Kerajaan Allah dan terwujudnya keselamatan sempurna.
  3. Jabatan-jabatan gerejawi diperlukan untuk memperlengkapi gereja dalam melaksanakan tugas panggilannya di tengah dunia. Adapun tugas panggilan gereja adalah memelihara iman warga gereja dan memberitakan penyelamatan Allah kepada mereka yang belum mendengar. 
  4. Dengan demikian cor-business gereja adalah jelas, yaitu: menghayati, menghidupi, mengembangkan dan  mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah melalui kegiatan Pemberdayaan Iman Warga Gereja (PIWG) dan Pemberitaan Injil (PI).
  5. Sebagai alat bantu untuk tercapainya tujuan gereja, pengorganisasian dan kepemimpinan gereja, termasuk jabatan-jabatan gerejawi yang ditetapkan, mestinya perlu senantiasa disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan serta cor-business gereja.
  6. Karena konteks dan kebutuhan gereja bersifat dinamis, berubah sesuai perkembangan zaman, maka pengorganisasian dan kepemimpinan gereja, termasuk jabatan-jabatan gerejawi yang diperlukan juga perlu senantiasa di-update.
  7. Agar proses updating (baca: transformasi) dapat dilakukan secara bertanggungjawab, dibutuhkan tools dan uji akademik sebelum untuk kemudian disepakati bersama dan diimplementasikan dalam pelayanan.
  8. Berdasarkan PPA GKJ 2019 dan TGTL GKJ 2015, dengan spirit pastoral transformatif penulis berharap ke depan GKJ lebih mampu menyesuaikan diri dengan konteks dan kebutuhan zaman, termasuk dalam hal pengorganisasian, kepemimpinan dan jabatan-jabatan gerejawi, serta perangkat pelayanan lainnya.

=====

Tulisan ini merupakan rangkuman hasil FGD Teologi Jabatan GKJ (I) yang diselenggarakan oleh Puskat GKJ, dengan tambahan hasil pendalam dari berbagai sumber.

Didedikasikan untuk Sinode GKJ

Dipresentasikan dalam Webinar PMG GKJ Klasis Jakarta Bagian Timur

Minggu, 18 Juli 2021

 


download materi

file ppt

file msword

file Pdf