GEREJA GEREJA KRISTEN JAWA

Di Ruang Publik

Oleh: Andreas UW

 

Minggu 22 Maret 2020 merupakan hari istimewa yang patut dicatat oleh gereja-gereja, khususnya GKJ. Itulah hari dadakan di mana ada banyak GKJ hijrah dari mimbar faktual ke mimbar virtual, dari gereja konvensional ke gereja digital.  Mereka menyelenggarakan ibadah Minggu, baik secara live streeming maupun siaran tunda melalui media youtube, zoom dan facebook. Ada pula yang menyelenggarakan ibadah dengan cara siaran langsung melalui radio bekerjasama dengan station radio setempat demi menjangkau warganya yang tidak memiliki akses internet. Hari Minggu hari Tuhan, tidak ada cerita hari Minggu gereja libur beribadah. Demikian antara lain alasan mengapa ibadah tetap diselenggarakan.

 “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. “Kuduskanlah hari Sabat.” ketaatan hari sabat hari untuk Tuhan.” (Kel. 20:8-11)

Minggu 8 dan 15 Maret 2020 gereja-gereja masih menyelenggarakan ibadah secara onsite. Masih segar dalam ingatan, betapa hari-hari awal di bulan Maret 2020 pun sampai pertengahan bulan, gereja-gereja disibukkan dengan kegiatan membagi masker, hand sanitizer, menyiapkan tempat cuci tangan dan berburu alat pengukur suhu tubuh. Menyusul kemudian ketentuan pemerintah yang lebih ketat tentang social distancing dan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan pertemuan-pertemuan terbatas termasuk kegiatan peribadatan demi pencegahan penularan virus Covid-19 yang membahayakan.

Sadar atau tidak, sejak 22 Maret 2020 GKJ telah berada di ruang publik. Seperti keluar dari rumah dan berkumpul bersama di sebuah tempat, di padang yang luas dan terbuka, di planet baru dunia digital, demikian GKJ ada bersama para penyintas. Menariknya, di situ kita dapat melihat dengan kemiripan sempurna (virtual) wajah gereja, para pendeta dan hamba-hamba yang melayani Tuhan, mendengar suara mereka, juga lantunan kidung-kidung indahnya, bahkan berkomunikasi langsung dalam bakti dan sembah bersama.

“Selamat pagi segenap warga jemaat di manapun saudara berada. Dari “rumah Tuhan” di Jl. Cilincing Raya 50 Jakarta, kami para pelayan menyapa saudara dan mengajak beribadah bersama memuliakan nama Tuhan.” Sapaan dan ajakan beribadah tersebut hendak menggambarkan kesadaran baru tentang realitas gereja yang tidak lagi terpenjara dalam ruang dan waktu. Gereja konvensional dan gereja digital, bukan dua entitas berbeda. Keduanya riil dan sama-sama nyata, meski tampil dalam wujud dan penampakan serta suasana yang tidak biasa. Lalu apa yang berbeda?

GKJ Digital tampil di ruang publik. Bukan sekedar ruang publik seperti di depan istana, gelora Bung Karno atau di taman-taman kota, melainkan ruang publik di mana saja di seluruh penjuru dunia. Melaluinya wajah GKJ dapat dibaca dan dilihat oleh siapa saja. Mimbar dan semua aksesori ruang ibadahnya, kotbah-kotbah para pendeta, detail setiap kata yang terucap dari bibir para pelayannya, informasi kegiatan dan aksi nyata yang dibacakan dari warta gereja, bahkan gaya hidup GKJ, semuanya terlihat dengan sempurna. GKJ Digital, dengan tepat merepresentasikan apa yang telah dikatakan oleh rasul Paulus,

“Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” (2Kor 3:3)

Bagi GKJ, kesadaran berada di ruang publik ini penting karena berpotensi mengubah banyak hal. Setidaknya, sebagai gereja Tuhan yang adalah surat Kristus yang dibaca oleh semua orang, kesadaran ini menuntut tanggungjawab yang lebih besar.

Transformasi digital menuntut perhatian serius tentang bagaimana semestinya GKJ di ruang publik. Tentu saja tak harus tampil berbeda dari biasanya, apalagi berusaha mengada-ada. Sebaliknya, penting untuk menjadi apa adanya sebagai GKJ selama ini turut serta dalam arak-arakan perjalanan keselamatan bersama gereja-gereja lain, agama-agama lain, dan komunitas beriman yang lain. Menurut hemat penulis, GKJ Digital justru memberi ruang yang lebih luas, sekaligus tanggungjawab yang serius dalam mewartakan dan mewujudkan kasih penyelematan Allah. Tepat seperti dinyatakan dalam pokok-pokok ajaran GKJ, bahwa dunia ini merupakan gelanggang bagi Allah untuk menyatakan kasih penyelamatan-Nya. Oleh karena itu orang percaya dan gereja dipanggil untuk menjalani kehidupannya di dunia secara serius,  mewujudkan keselamatannya di dalam kehidupan yang lumrah dan wajar, serta tidak mengganggap dunia sebagai sumber dosa sebab sumber dosa ada di dalam hati manusia (PPA GKJ, PJ. 140).

 

Itu berarti bahwa kotbah-kotbah yang disampaikan mesti dipersiapkan dengan seksama. Seberapa kuat warna teologi sosial GKJ yang menjadi salah satu ciri khasnya hendak diberitakan, perlu dipertimbangkan. Porsi pemberitaan tentang kegiatan ke dalam dan kegiatan keluar juga penting diperhatikan. Watak inclusive, peduli terhadap sesama, lingkungan dan alam juga harus dibuktikan. Bahkan suara kenabian terhadap pemegang kekuasaan wajib disampaikan. Bukan hanya kritik ketidak puasan, melainkan keterlibatan untuk turut serta mewujudkan negara kesejahteraan benar-benar menjadi tuntutan. Singkat kata, berada di ruang publik merupakan anugerah sekaligus panggilan, peluang sekaligus tantangan untuk turut terlibat dalam karya keselamatan.

Apa yang penulis sebutkan di atas merupakan salah satu contoh persoalan di sekitar kegiatan peribadatan. Bagaimana dengan kegiatan-kegiatan lain yang juga hadir atau hendak dihadirkan di ruang publik untuk kepentingan yang lebih luas? Misalnya dalam hal upaya membangun solidaritas/kebersamaan melalui kegiatan diakonia, PEJBM via CU/koperasi, e-commerce, dsb. Dalam kontek masyarakat digital, di mana semua saling bekerja sama berjejaring, diperlukan sebuah platform bersama yang melaluinya semua GKJ di manapun berada dapat saling terhubung dan bersinergi demi sebuah visi bersama menghadirkan damai sejahtera di tengah masyarakat/bangsa.

 

GKJ di ruang publik, semoga tarianmu semakin indah sehingga nama Tuhan dimuliakan. Selamat datang di era baru Gereja Digital.

 

Yogyakarta, 1 Agustus 2021

POPI Jakal, KM. 8