REACH-ing Effective Communication

pada Gereja Kristen Jawa

Marieti Debyora Gardiana
Jemaat GKJ Danukusuman Surakarta
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

 

Kata “komunikasi” berasal dari Bahasa Latin “communicatus” yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Ada banyak definisi dari kata komunikasi, salah satunya berdasarkan Webster New Collogiate Dictionary yang menjelaskan komunikasi sebagai “suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.” Sedangkan KBBI mendefinisikan komunikasi sebagai pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak.

Dari definisi di atas, nampak bahwa komunikasi merupakan suatu keniscayaan bagi manusia yang dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan orang lain. Namun demikian tentunya membutuhkan keterampilan dan strategi komunikasi tertentu, supaya informasi/pesan yang kita kirimkan dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh orang lain. Demikian pula dalam kehidupan religius bersama umat Kristiani yang diwadahi dalam suatu organisasi yang disebut Gereja.

Secara khusus, Gereja Kristen Jawa (GKJ) merupakan komunitas orang Kristen yang memiiki kesamaan secara geografis yaitu tinggal di pulau Jawa, yang keberadaannya sebagai sebuah organisasi dilegalkan oleh SK. Mentri Agama No. 19 Tahun 1966 dan SK. DIRJEN BIMAS (Kristen) Protestan No. 126 tahun 1988. Dengan adanya kesamaan geografis yang secara umum juga menyebabkan kesamaan latar belakang sosial budaya dari setiap anggota gerejanya, maka proses komunikasi yang terjadi tentunya dapat berjalan lebih efektif dari organisasi lain yang lebih beragam identitas anggotanya.

Untuk menjalankan kehidupan organisasinya, Gereja Kristen Jawa dipimpin oleh sekelompok orang yang disebut Majelis. Majelis merupakan dewan yang menjadi representasi dari seluruh jemaat, sehingga setiap pendapat dan keputusan yang diambil seyogyanya sejalan dengan keinginan serta mengakomodasi kebutuhan seluruh jemaat.

Dalam ruang lingkup organisasi yang lebih luas, Gereja Kristen Jawa yang berada dalam suatu wilayah tertentu terhimpun dalam Klasis. Dan semua Klasis tergabung dalam jaringan komunikasi yang disebut Sinode. Majelis masing-masing gereja memang memiliki kewenangan absolut untuk menentukan kebijakan maupun memutuskan hal-hal terkait praktik bergerejanya, namun demikian Majelis dapat memanfaatkan jejaring komunikasi dalam Klasis ataupun Sinode untuk menganalisis serta mencari alternatif-alternatif penyelesaian suatu permasalahan yang sedang dialami sebuah gereja. Hasil dialog digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan, namun keputusan akhir tetap merupakan wewenang Majelis gereja setempat.

Latar belakang sosio-kultural maupun model jalinan komunikasi antara satu gereja dengan gereja lain tersebut menjadi ciri organisasi GKJ secara Sinodal. Dengan latar belakang tersebut, dapat dideskripsikan bahwa komunikasi Gereja Kristen Jawa secara internal memiliki beberapa bentuk pola sebagai berikut :

1. Komunikasi “Supra-Religi”

Sebagai organisasi religius, maka setiap kebijakan maupun keputusan yang diambil oleh Majelis harus merepresentasikan “kehendak Allah” (supra-religi) yang diwahyukan kepada anggota Majelis gereja dalam forum persidangan Majelis. Hal tersebut menjadi salah satu pembeda utama antara organisasi gereja dengan organisasi non-gerejawi. Dewan Majelis yang memaksakan kehendak manusiawi dalam pengambilan kebijakan maupun keputusan, dapat dikatakan mengingkari hakikat gereja sebagai organisasi yang berdasarkan nilai-nilai supra-religi atau yang Illahi.

2. Komunikasi Kolektif-Dialogis

Majelis selaku pemimpin Gereja memiliki mitra kerja dalam menjalankan organisasi gereja, yang terdiri dari komisi, tim, panitia, serta seluruh jemaat. Seluruh bagian tersebut merupakan satu kesatuan sehingga harus memiliki kesamaan visi terkait pengembangan karya gereja. Majelis sebagai dewan pemimpin harus memiliki kemampuan mengkomunikasikan visimisi gereja sehingga dihasilkan kesepahaman kolektif agar setiap program kerja komisi, tim, panitia, dan sebagainya berjalan searah dan beriringan demi pencapaian tujuan dan cita-cita gereja. Pola komunikasi yang paling tepat adalah berupa kolektif-dialogis; artinya Majelis membuka diri untuk berkomunikasi dua arah dengan semua pihak untuk dapat mendengar aspirasi dan memahami kebutuhan masing-masing komponen yang semuanya berperan penting dalam karya pelayanan gereja.

3. Komunikasi Koordinatif

Secara garis besar struktur organisasi gereja memiliki kemiripan dengan organisasi yang lain, yaitu berupa ketua, sekretaris, bendahara, dilanjutkan dengan bidang atau komisi. Yang membedakan adalah garis komunikasi struktur organisasi GKJ bukanlah garis komando top-down. Majelis bukan dewan pemimpin yang secara sakelijk mengatur segala sesuatu praktik bergereja, melainkan berperan untuk mengkoordinasikan semua kepentingan badan-badan pembantu Majelis serta menyerap aspirasi jemaat yang diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan. Pola komunikasi koordinatif akan menghasilkan sinergisme seluruh komponen gereja sehingga berdampak signifikan pada atmosfir kehidupan bergereja yang nyaman, tentram, dan damai.

Interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam kehidupan bersama jemaat di Gereja Kristen Jwa di satu sisi merupakan alat pemecahan masalah dan sebagai sarana untuk meraih tujuan. Namun di sisi lain, komunikasi yang tidak tepat juga dapat mengakibatkan dan menimbulkan permasalahan. Untuk meminimalkan masalah-masalah akibat cara berkomunikasi yang tidak tepat, maka Gereja Kristen Jawa perlu menerapkan lima Hukum Komunikasi yang Efektif, yang juga sesuai dengan Firman Tuhan. Kelima hukum itu dapat dirangkum dalam 1 kata yaitu REACH (meraih), dengan penjelasan sebagai berikut:

R (Respect) : Menghormati dan menghargai semua orang saat berkomunikasi, tanpa memandang status ataupun latar belakangnya.
1 Petrus 2:17 “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!”

E (Emphaty) : Menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi orang lain.
Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

A (Audible) : Dapat didengarkan dan dimengerti oleh penerima pesan.
1 Korintus 14:19 “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”

C (Clarity) : Kejelasan pesan sehingga tidak menyebabkan multi tafsir ataupun perbedaan interpretasi.
Lukas 24:27 “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”

H (Humble) : Sikap rendah hati, tidak merasa diri lebih hebat daripada orang lain, mau mendengarkan masukan dan kritik, berani minta maaf dan juga bersedia memaafkan.
Efesus 4:2 “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”

Dengan menerapkan REACH dalam berkomunikasi baik secara interpersonal, dalam kelompok, maupun secara massal maka diharapkan terjalin hubungan yang armonis dan penuh damai sejahtera dalam kehidupan berjemaat di Gereja Kristen Jawa sehingga menjadi wujud kesaksian yang nyata bagi kemuliaan nama Tuhan.

Surakarta, 24 Desember 2021

Referensi:
Fajar, Marhaeni. (2009). Ilmu Komunikasi : Teori & Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu

 

klik disini untuk mengunduh

REACH-ing Effective Communication pada Gereja Kristen Jawa