TEOPRENEUR

(Teolog Entrepreneur)

Lazimnya lulusan Sekolah Tinggi Teologi dan Fakultas Teologi dari Universitas-universitas Kristen atau Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) di Indonesia diproyeksikan menjadi pendeta, konselor, penginjil, guru agama Kristen, penyuluh agama Kristen, pekerja sosial atau pelayanan gereja lainnya. Dalam praktik, lulusan sekolah tinggi teologi atau fakultas teologi tersebut tidak semuanya berprofesi sebagaimana diproyeksikan sesuai kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki. Bahkan di antaranya profesi yang dijalani dianggap tidak ada kaitannya sama sekali dengan ilmu teologi yang pernah dipelajari dan ditekuni di bangku perguran tinggi.

 

Seiring perkembangan zaman dan perkembangan ilmu teologi itu sendiri, khasanah teologi di Indonesia mengalami perubahan. Para teolog praktisi menjumpai banyak hal di lapangan yang membuatnya harus mampu beradaptasi dan/atau mengembangkan diri untuk memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Demikian halnya para teolog akademisi mengembangkan ilmu teologi yang diajarkannya dengan disiplin ilmu lain (interdisipliner) yang mendukung, meski pada umumnya masih berada dalam rumpun ilmu sejenis.

 

Teopreneur (teolog entrepreneur) diharapkan akan menjadi profesi baru yang dibutuhkan oleh gereja dan masyarakat. Bahkan tidak menutup kemungkinan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh para teopreneur juga diperlukan untuk memperlengkapi para pendeta, konselor, penginjil, guru agama Kristen, penyuluh agama Kristen, pekerja sosial atau pelayanan gereja lainnya sehingga mampu membimbing umat bahkan masyarakat dalam menjalani hidupnya secara bermartabat: lahir-batin, jasmani-rohani, dunia-akhirat. Penulis memahami bahwa cara pandang ini bukanlah hal yang baru di kalangan para teolog baik yang ada di lapangan maupun yang mengajar di perguruan tinggi teologi bahkan di gereja-gereja meskipun dalam praktik pemahaman dikotomis tersebut masih kuat dan sering kita dengar.

 

Apa itu teopreneur? Ide dasarnya sederhana, yaitu orang yang belajar, mengerti dan memahami disiplin ilmu teologi serta memiliki keterampilan berteologi sekaligus seorang entrepreneur yang mandiri dan berdedikasi tinggi untuk melayani Tuhan serta memajukan kehidupan masyarakat/lingkungan demi terwujudnya kesejahteraan bersama dan keutuhan ciptaan. Teopreneur tidak harus menjadi pendeta, konselor, penginjil, guru agama Kristen, penyuluh agama Kristen, pekerja sosial atau pelayanan gereja. Ia dapat bekerja dan menjadi produktif sesuai minat dan talenta baik yang dianugerahkan Tuhan kepadanya untuk dikembangkan. Teopreneur, mendedikasikan pengetahuan dan keterampilan bahkan keahlian yang dimiliki bukan hanya untuk hidupnya sendiri, melainkan untuk memuliakan Tuhan dan menyejahterakan sesama serta peduli terhadap lingkungan. Ia dapat menjadi produktif sebagai pengusaha, seniman, budayawan, jurnalis, bahkan petani atau politisi yang berwawasan teologi sekaligus seorang entrepreneur di bidangnya. Jangan salah, ada beda antara pengusaha dan entrepreneur. Tidak semua teopreneur harus menjadi pengusaha.

 

 

Solotech University

15 Feb. 2022

 

Penulis:

Pdt. Andreas UW, D.Min.