Selasa Kliwon, 2 Agustus 2022

Berdasarkan sejarahnya, perkembangan orang Jawa Kristen di daerah Danukusuman, kelurahan Serengan, Kota Surakartadimulai tahun 1929. Sejak saat komunitas tersebut betibadah di salah satu gedung yang ada di kompleks Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen 5 milik PPKS.

Dalam perkembangannya, Jenaat GKJ Danukusuman memiliki kerinduan untu beribadah di gedung dan ranah milik sendiri. Akhirnya, di tahun 2010 mereka bersepakat membeli tanah di Dewi Sartika 38. Sejak saat itu juga mereka memutuskan berjuang menjuku ke “Tanah Perjanjian” dengan semboyan “Saiyeg tumuju tanah prajanji”.

Berkat karunia Tuhan, dan perjuangan yang tidak kenal lelah dari segenap warga, juga support dari banyak pihak, akhirnya tepat 12 tahun dari tekad “saiyeg tumuju tanah prajanji” tersebut, Gedung GKJ Danukusuman dapat berdiri di tanah milik sendiri. Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka didaulat untuk yang meresmikannya dengan nama: BAITA KARAHAYON.

Baita Karahayon itu sendiri dibangun dengan mengusung filosofi Bahtera Nabi Nuh. Hal tersebut dimaksudkan agar hal yang berhubungan dengan upaya penyelamatan bagi semua ciptaan sebagaima Bahtera Nuh dulu difungsikan, dapat dihidupi oleh GKJ Danukusuman.

Serentak dengan itu, Kompleks GKJ Danukusuman pun dibuat dengan konsep terbuka, tidak berpagarar. Hal tsb didasarkan pd Filosofi Jawa: “Ajur-ajer” yg artinya senantiasa menyadarkan diri untuk terus rendah hati n mengakui kelemahan dihadapan Tuhan, sekaligus bertekad ut berbaur dg masyarakat.

Akhirnya, proficiat untuk GKJ Danukusuman. Teruslah menjadi komunitas yang bertumbuh, rendah hati, dan yang siap untuk membuka diri terhadap yang lain demi dapat menjadi wadah berkumpulnya warga untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial.
GBU

(tyas)

 

Video
Video Persemian Gedung GKJ Danukusuman