11th Assembly of the WCC – Day 1

Akhirnya sidang dimulai!

Begitu banyak orang, begitu padat dan ramai… Konon ada sekitar 4000 orang berpartisipasi dalam Sidang kali ini, dengan berbagai kapasitasnya. Acting General Secretary, dalam roll call, menyebutkan, dari 352 gereja anggota, 295 di antaranya hadir. Ada 880 orang peserta, advisor, dan outgoing Central Committee member. Lalu ada 277 Ecumenical Partners, 144 Assembly Participants, 974 macam-macam (staf, panitia, petugas ibadah, dll), 137 mahasiswa GETI, dan 150 stewards. — Semoga aku tidak salah dengar dan catat angka-angka itu, ya… Hehehe…

Hari pertama ini ada lima hal besar yang dilakukan.

1. Orientasi program

Bagian orientai program ini berisi tentang hal-hal yang harus diketahui secara teknis. Mulai dari apa itu sidang, semangat bersidang, sampai hal teknis menggunakan kartu dan pengambilan keputusan dengan konsensus.

2. Pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan pertama adalah menerima agenda sidang, menerima laporan moderator central committee dan acting sekjen untuk diteruskan ke komite supaya dibahas.

3. Sambutan-sambutan

Sambutan disampaikan oleh Federal President Jerman, Minister President Baden Wuttenberg, Presidium of the Central Council of Jews, dan  Coordination Council of Muslims in Germany. Lalu dilanjutkan dialog tentang harapan terhadap Assembly dari perwakilan Dewan Gereja di Baden-Württemberg, Gereja Protestan di Baden, dan Keuskupan Freiburg.

4. Ibadah Pembukaan

Setelah dipersiapkan selama tiga tahun (sejak diputuskan Sidang bertempat di Karlsruhe pada 2018) akhirnya Ibadah bisa diselenggarakan….

5. Perayaan

Nyanyian dan tarian. Pertunjukan dan kebersamaan.

Laporan Moderator Central Committee

Laporan Moderator Central Committee, Dr. Agnes Abuom, memberikan penekanan bahwa semua yang berkumpul di Karlsruhe ini adalah gambar hidup dari semua umat manusia dalam segala keberagamannya (living image of all humankind in all its diversity). Ada empat alasan berkumpul di Karlsruhe, yaitu: (1) Kita adalah murid Yesus dari Nazaret yang membawa kabar baik bagi yang menderita (2) Kita berasal dari komunitas yang berbeda-beda, tetapi sama-sama murid Kristus, sehingga merasa tidak utuh ketika tidak saling melengkapi (3) Kita, dengan segala keberagaman yang ada, adalah sama-sama umat manusia dengan martabat yang setara (4) Kita hendak melakukan WCC bussiness: merenungkan dan mengevaluasi kerja WCC sejak sidang ke-10.

Selain itu, Dr. Agnes Abuom juga memberikan penekanan tentang tema yang tepat waktu. Sekalipun ada orang-orang yang merasa bahwa tema tentang kasih itu sudah basi, tapi saat ini kasih sangat dibutuhkan dalam relasi bersama kita. Kasih sangat tepat menjadi tema sidang karena tema sidang WCC selalu tentang misi, kesaksian, dan keesaan dalam dialog kenabian. Selain itu, kasih akan membawa “radikalitas” dalam refleksi dan dialog yang kita lakukan.

Peziarahan keadilan dan perdamaian, yang dimulai sejak Sidang ke-10 di Busan, disebut sebagai inisiatif yang tepat waktu. Bisa saja karya-karya memperjuangkan keadilan dan perdamaian bukan hal yang baru di gereja-gereja. Namun, ada dimensi baru yang diberikan melalui ajakan peziarahan (pilgrimage) ini, yaitu melihat karya-karya itu sebagai bentuk peziarahan bersama dalam Gereja melakukan kesaksian dan mewujudkan keesaannya. Ada empat hal yang menjadi pokok perhatian peziarahan ini: (1) krisis iklim dan kepedulian terhadap ciptaan, (2) ketidakadilan ekonomi dan perjuangan menuju economy of life, (3) kekerasan dan perang serta karya bina damai, (4) rasisme, kebanggaan etnis, dan penindasan terhadap perempuan, serta afirmasi terhadap martabat manusia. Untuk mendekati empat hal itu, digunakan lima lensa: (1) kebenaran dan trauma (2) tanah dan penggusuran (3) keadilan gender (4) rasisme (5) kesehatan dan pemulihan.

Mengakhiri laporannya, Dr. Agnes Abuom menyampaikan penghargaan kepada semua anggota central dan executive committee, staf, dan semua pihak yang telah berjalan bersama selama 9 tahun (seharusnya 8, tapi bertambah satu tahun karena pandemi). Pandemi mengubah segalanya, tetapi tidak menghambat kerja WCC karena tidak ada satu pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Gereja diundang untuk mewujudkan keesaan dengan cara selalu memandang gereja lain dengan kacamata persekutuan kasih dan belas kasih Yesus.L

Laporan lengkap Central Committee yang berjudul “Pilgrims on the Path of Peace” bisa diakses di website WCC: https://www.oikoumene.org/publications/pilgrims-on-the-path-of-peace

Laporan Acting General Secretary

Prof. Ioan Sauca menjadi acting general secretary sejak awal 2020, ketika general secretary yang lama, Rev. Olav Fykse Tveit, menyatakan tidak bersedia diperpanjang lagi dan sudah terpilih sebagai presidium bishop di Norwegia. Seharusnya Prof. Ioan Sauca hanya menjabat hingga Maret 2020, yaitu ketika Central Committee rapat dan memilih general secretary yang baru. Namun, nyatanya, pandemi melanda dunia dan Prof. Ioan Sauca akan menjabat hingga akhir tahun 2022. Awal 2023 general secretary akan dijabat oleh Rev. Jerry Pillay yang terpilih dalam rapat Central Committee Juni 2022 lalu.

Dalam laporannya, Prof. Ioan Sauca mengusulkan untuk melanjutkan “pilgrimage of justice and peace” dengan “pilgrimage of reconciliation and unity”. Untuk mencapai rekonsiliasi dan kesatuan, selalu dibutuhkan keadilan dan perdamaian, sehingga peziarahan ini masih berada dalam kesinambungan dengan peziarahan yang lalu. Peziarahan ini bukan eksklusif milih orang Kristen apalagi gereja anggota WCC, melainkan peziarahan bersama semua orang beriman (apapun agama dan kepercayaannya) dan orang-orang dengan niat baik.

Father Ioan Sauca juga memberikan penekanan tentang relasi. Dia menyebut bahwa relasi merupakan hal yang esensial untuk memperdalam persekutuan antar gereja anggota dan meluaskan gerakan ekumenis. Tahun 2025 merupakan peringatan 1700 tahun Konsili Ekumenis di Nicea. Pengakuan Iman Nicea merupakan ekspresi kesatuan iman yang tampak dalam satu iman dan hidup bersama dalam Kristus.

Prof. Ioan Sauca mengusulkan dua kerangka besar untuk program WCC ke depan. Pertama, karya WCC dalam “unity, mission, and ecumenical formation” (keesaan, misi, dan bangunan ekumenis). Kedua, karya WCC dalam “public witness and diakonia” (kesaksian publik dan diakonia). Beberapa tantangan ke depan adalah: (1) keadilan iklim (2) keadilan rasial (3) seksualitas manusia. Beberapa tindakan “visiting the wounds” yang telah dilakukan dan masih membutuhkan tindak lanjut dengan (1) perang di Ukraina (2) Syria dan Libanon (3) Israel dan Palestina.

Father Ioan Sauca mengakhiri laporannya dengan menyebutkan pengalaman di WCC selama pandemi ini. Dia menyaksikan bahwa di tengah pandemi, WCC justru semakin bisa berperan dengan menghadirkan refleksi teologis dan sumber-sumber lain berkait dengan kondisi saat ini. Di tengah kondisi pandemi, relasi antara gereja anggota dengan WCC semakin kuat. Demikian pula relasi dengan gereja-gereja Pentakostal, Evangelikal, dan Orthodox (yang biasanya sangat kritis terhadap kerja WCC, walaupun sebagian besar adalah anggota WCC).

Sambutan Federal President

Federal President Jerman, Frank-Walter Steinmeier, memberikan sambutan dengan menunjukkan bahwa gereja selalu dan terus perlu membuka diri untuk menolong. Presiden juga menyoroti logo Sidang dan menyebut bahwa lingkaran di dalamnya menggambarkan bumi, sementara garis lengkung yang ada menggambarkan bahwa gereja selalu berada dalam perjalanan. Presiden mengajak untuk memberi perhatian khusus terhadap rasisme dan kebencian. Selain itu juga mendorong gereja Rusia menyatakan ketidaksetujuannya dengan perang terhadap Ukraina. Di dalam Kerajaan Allah, dengan gereja yang beragam, seharusnya bekerja sama dalam solidaritas untuk merespons perubahan iklim, pelecehan seksual, dan kekerasan. Gereja perlu terus melanjutkan karya-karya keadilan untuk menghadirkan perdamaian.

Sambutan Minister President Baden-Württemberg

Minister President atau Presiden Negara Bagian Baden-Wittenberg bernama Winfried Kretschmann. Dia juga menyebut mengenai perang Rusia-Ukraina. Selain itu juga menyebutkan bahwa tidak akan ada perdamaian dalam sebuah negara tanpa perdamaian antara gereja-gereja yagn berbeda-beda dan dengan agama lain.

Sambutan dari Komunitas Yahudi

Prof. Barbara Traub menyoroti tentang Ukraina, antisemitisme, dan perdamaian. Dia juga menyebutkan bahwa rekonsiliasi bukan eksklusif topik orang Kristen. Bagi komunitas Yahudi, hari raya Yom-Kippur merayakan rekonsiliasi. Adalah lebih baik rekonsiliasi daripada melanjutkan prasangka terhadap orang Yahudi. Harapannya, Assembly ini menghasilkan rekonsiliasi.

Sambutan dari Komunitas Islam

Imam Erol Purlu menyampaikan salam dari 6 organisasi Islam di Jerman. Dia menegaskan bahwa di tengah kesulitan, harus bersama bekerja. Keadilan juga adalah untuk orang-orang Islam yang tidak diterima oleh komunitasnya. Salam (damai) untuk Ukraina, Siria, dll. Doa disampaikan supaya damai dari Allah diterima dan kembali kepada Allah.

Dialog

Dipandu oleh Bishop Petra, dialog dilakukan untuk mendengarkan harapan dari tiga komunitas di Jerman terhadap Assembly ini. Perwakilan dari Dewan Gereja di Baden-Wuttenberg menyampaikan harapan supaya Assembly menghadirkan rekonsiliasi dan kedamaian. Perwakilan dari Gereja Protestan di Baden menyampaikan harapan supaya Assembly menghasilkan sesuatu untuk yang terluka dan bisa dilakukan bersama-sama. Perwakilan dari Keuskupan Freiburg mengharapkan tumbuhnya relasi yang saling percaya serta saling memahami.

Ibadah Pembukaan

Ibadah dilakukan dengan meriah, tetapi khidmat. Khotbah disampaikan oleh John X Patriarch of Antioch and all the East dalam Bahsa Arab. Ayat Alkitab hari ini adalah Yohanes 4:5-26. Patriarch memberikan penekanan tentang Yesus yang melampaui batas: (1) batas kebencian antara orang Yahudi dan Samaria (2) batas reputasi buruk sang perempuan Samaria (3) batasan gender. Semua batasan itu tidak menghalangi Yesus untuk menyampaikan kabar baik. Percakapan ini menunjukkan kemauan Kristus untuk memulihkan orang berdosa dan mendamaikan diri-Nya dengan manusia. Perempuan Samaria memberikan undangan kepada kita untuk percaya kepada Kristus tanpa kemunafikan dan menerima air hidup.

Selain khotbah, ada kesaksian dari orang muda, yang diwakili oleh Ann Jacob dari United Methodist Church, USA. Dia merefleksikan tema Assembly dari pengalamannya melayani di gereja dengan Refugee Resettlement Ministry (pelayanan bagi pengungsi), neneknya yang selalu memberi tempat di meja makan untuk orang-orang yang membutuhkan, dan pengalamannya menerima tumpangan gratis dari seseorang di Georgia saat dia bepergian ke sana. Tiga hal itu membuatnya yakin bahwa dibutuhkan sebuah tindakan yang radikal untuk mewujudkan rekonsiliasi dan damai. Doanya: May our love be a balm, healing wounds and tending to places of hurt. May our love be radical, proximate to the margins prioritizing people over profit. May we offer Christ to one another, overflowing with peace and reconciliation. May it be so. Amen. (Kiranya kasih kita seperti balsem yang menyembuhkan luka dan memberi kenyamanan untuk kesakitan. Kiranya kasih kita radikal, memprioritaskan orang daripada keuntungan material. Kiranya kita menghadirkan Kristus kepada semua orang, mengalirkan keadilan dan rekonsiliasi. Kiranya terjadi demikian. Amin)

Perayaan

Judul acaranya sebenarnya Entertainment in Marktplatz. Nyatanya, keseruan sudah dimulai sejak tempat sidang. Sekelompok pemusik menggiring peserta untuk bersama menari dan berjalan menuju Marktplatz. Perjalanan antara 500-1000 meter jadi terasa asyik dan seru. Di Marktplatz sendiri sudah tersedia panggung dan hiburan berupa konser musik. Semua berbaur merayakan sukacita bersama penduduk Kota Karlsruhe.

 

Sumber :
https://thie36.wordpress.com/2022/09/01/11th-assembly-of-the-wcc-day-1/