11th Assembly of the WCC – Day 2

1 September diperingati sebagai the Day of Creation, Hari Penciptaan. Oleh karena itu, ibadah dan fokus percakapan dalam pleno dan home group diarahkan pada keutuhan ciptaan.

Ibadah pagi menggunakan aksi teaterikal untuk menggambarkan penciptaan. Tarian berdasarkan Amsal 8:1,22-31 menggambarkan hikmat dan penciptaan. Kemudian, delapan orang maju dan menuangkan air ke dalam wadah, mewakili delapan region: Asia, Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Karibia, Afrika, Timur Tengah, dan Pasifik. Aksi teaterikal itu menggambarkan terkumpulnya air dari delapan region, menyatu dalam WCC. Ayat bacaan dari Kolose 1:15-20.

Thematic Plenary, dimoderatori oleh Dr. Agnes Abuom, berbicara mengenai tujuan kasih Allah untuk semua ciptaan. Dua orang muda menjadi panelis dalam pleno ini. Mereka adalaha Rev. Bjorn Warde dari Trinidad Tobago, Karibia, dan Ms. Julia Rensberg dari Swedia, khususnya orang Sami (masyarakat adat di Swedia). Bjorn menyebutkan konteks di Karibia yang alamnya sangat indah, tetapi dirusak dengan eksploitasi industri. Semua itu menyebabkan banjir, kerusakan hutan. Sementara itu, di Swedia, menurut Julia, juga terjadi krisis iklim dan yang pertama kali merasakannya adalah masyarakat adat, dengan melelehnya es dan naiknya permukaan air laut. Oleh karena itu kita perlu melindungi ibu bumi.

Pembicara kunci pertama adalah Metropolitan Emmanuel of Chalcedon. Dia menegaskan bahwa jalan menuju Kristus harus mewujud dalam kerja sama gereja-gereja untuk melindungi ciptaan. Gereja harus menghentikan kompetisi, melainkan bekerja sama. Tantang bersama dengan adanya krisis iklim adalah penderitaan. Itu tidak hanya disebabkan oleh globalisasi, tetapi juga pandangan filosofi dan teologi yang keliru. Misalnya, pandangan Kristen tentang manusia sebagai tuan dan pemilik ciptaan telah menyesatkan orang percaya. Seharusnya, dalam segala tindakannya, yang dihasilkan adalah buah untuk kemuliaan Tuhan, bukan diri sendiri. Rekonsiliasi berarti pemulihan. Gereja perlu melakukan pertobatan ekologis dengan melakukan perlindungan terhadap ciptaan Tuhan.

Menanggapi pembicara pertama ini, Julia menegaskan bahwa kita tidak terpisah dari ibu bumi. Ibu bumi telah menjaga kita, sekarang waktunya kita yang menjaganya. Untuk itu diperlukan rekonsiliasi dan persatuan. Selama ini gereja telah menyingkirkan masyarakat adat. Untuk melindungi ibu bumi, gereja perlu mendengarkan masyarakat adat. Bjorn menambahkan bahwa seluruh ciptaan adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari seluruh ciptaan. Kekurangan kitalah yang menyebabkan terjadinya kerusakan alam. Kita tidak menjadi pelayan/pengurus yang baik atas ciptaan Tuhan.

Pembicara kunci kedua adalah Archbishop Angaelos. Berbicara mengenai konteks Timur Tengah, dia menyebutkan bahwa keberagaman gereja ada secara by design, memang sengaja dibuat demikian. Namun, manusia membuat keberagaman itu sebagai perbedaan yang menyebabkan konflik. Sebenarnya kita bisa memandang keberagaman gereja seperti cabang pohon atau aliran sungai yang keluar dari mata air yang sama. Masing-masing cabang pohon punya fungsinya sendiri-sendiri. Demikian pula gereja bisa menjalankan fungsinya masing-masing. Misi gereja adalah keesaan. Karena sudah didamaikan oleh Tuhan, maka melakukan karya pendamaian dalam bentuk keesaan gereja. Dalam hal ini, jangan sampai melupakan gereja-gereja di Timur Tengah, tempat awal kekristenan. Selain itu, dalam jalan keesaan itu, jangan sampai kita membiarkan orang lain memikul salib penderitaan karena sikap diam kita.

Untuk topik percakapan tentang rekonsiliasi ini, Julia menunjuk pada trauma yang dialami oleh masyarakat adat atas perlakuan gereja pada masa lalu. Oleh karena itu diperlukan pemulihan dan rekonsiliasi terhadap generasi demi generasi yang secara sejarah mengalami trauma. Bjorn mengingatkan akan konteks kelompok minoritas. Dalam mewujudkan kesatuan, perlu berjuang dalam kasih.

Thematic plenary diakhiri dengan tindakan simbolis penyerahan bibit pohon cedar kepada walikota Karlsruhe. Walikota Karlsruhe menerimanya dan mengatakan bahwa akan menanamnya di Garden of Religion. Penanaman pohon membawa pesan bahwa kita sedang merekonstruksi bumi. Namun, kita harus selalu ingat bahwa kita bukanlah kontraktor asli dari bumi ini. Kita juga harus ingat bahwa pohon bisa hidup tanpa manusia, tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa pohon.

Home group menjadi wahana bagi peserta, dalam kelompok-kelompok kecil, untuk berefleksi lebih dalam tentang tema hari itu, yang muncul dalam ibadah pagi dan thematic plenary. Saya berada di grup 9. Percakapan dilakukan dengan peserta saling menyampaikan pemahaman mereka tentang “tujuan kasih Tuhan untuk semua ciptaan” dan “belas kasih Kristus”. Sebagian dari peserta menyatakan pengakuan bahwa selama ini gereja mereka tidak memberikan perhatian besar terhadap isu lingkungan. Namun, selalu ada kabar gembira bahwa gereja sedang atau telah memulai upaya kepedulian terhadap keutuhan ciptaan ini. Kalau mengingat GKJ, sikap terhadap alam ada di dalam Pokok-pokok Ajaran GKJ. Namun, ada kecenderungan anthroposentris dalam pandangan PPAGKJ. Namun, dalam sidang sinode mendatang (tahun 2023) tema tentang keutuhan ciptaan akan dipergumulkan secara lebih serius.

Bussiness session diisi dengan perkenalan enam komite yang bekerja selama sidang, yaitu:

1. Nomination Committee. Komisi ini bertugas untuk memilih 150 anggota Central Committee dan 8 orang orang presiden. Lalu dari antara 150 orang anggota Central Committee itu mengusulkan nama moderator dan para vice-moderator. Nama-nama anggota Central Committee itu didapatkan dari usulan gereja-gereja anggota dan atau persekutuan gereja di tingkat nasional atau regional, yang berdasarkan kesepakatan gereja-gereja di negara atau regional itu. Sampai saat komite menyampaikan laporan, 155 nama yang telah diusulkan, yang berasal dari 105 gereja (dari keseluruhan 352 gereja anggota). Yang bisa diusulkan menjadi anggota Central Committee adalah delegasi yang hadir saat sidang. Pengusulan nama masih dibuka kembali sampai Jumat, 2 September 2022, jam 16.00 waktu Jerman.

2. Public Issue Committee. Komisi ini bertugas untuk membahas isu-isu yang perlu mendapatkan perhatian dari WCC dan gereja anggota, serta menyusun draf pernyataan WCC terhadap isu-isu itu. Sampai saat dilaporkan, telah ada 8 isu yang masuk dan dibahas oleh komisi, yaitu: (1) Perang di Ukraina, perdamaian dan keadilan di Eropa (2) Planet yang hidup: mengupayakan komunitas global yang adil dan berkelanjutan (3) Hal-hal yang membuat perdamaian: menggerakkan dunia kepada rekonsiliasi dan kesatuan (4) Mengupayakan keadilan dan perdamaian untuk semua orang di Timur Tengah (5) Kesaksian dan karya orang Kristen untuk martabat manusia dan hak-hak asasi manusia (6) Menghadapi rasisme dan xenophobia, mengatasi diskriminasi, memastikan status kewargaan seseorang (7) Kesehatan dan kesejahteraan global (8) Teknologi baru dan yang baru muncul, tantangan etis.

3. Finance Committee. Komisi ini akan membahas tentang kebijakan keuangan WCC. Termasuk di dalamnya adalah proyek Green Village di kompleks kantor WCC, Ecumenical Centre.

4. Message Committee. Komisi ini bertugas untuk menyiapkan pesan dari Sidang untuk disampaikan kepada gereja anggota dan masyarakat umum. Pesan ini diharapkan menjadi materi refleksi gereja-gereja anggota dalam arah program mereka.

5. Policy Reference Committee. Komisi menyusun arah kebijakan WCC delapan tahun ke depan. Yang menjadi perhatian adalah the Statement of Unity dan relasi WCC dengan pihak-pihak lain.

6. Program Guidelines Committee. Komisi ini menyusun rancangan program WCC delapan tahun ke depan.

Setiap komisi bekerja saat makan siang dan akhir pekan. Ada juga yang bekerja pagi, sebelum sidang dimulai. Anggota komisi telah dipilih sebelum sidang dan pimpinan komisi (moderator dan rapporteur) disetujui dalam bussiness plenary hari pertama kemarin.

Ecumenical Conversation yang saya ikuti berbicara tentang FORB (Freedom of Religion and Belief) atau KBB (Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Narasumber pertama, Dr. Heiner Bielefeldt, memberikan contoh beberapa negara yang terjadi pelanggaran FORB. Menurutnya, akar masalah dari pelanggaran FORB adalah korupsi, mafia tanah, fanatisme, dan nasionalisme. Pelanggaran FORB biasanya juga bersamaan dengan pelanggaran HAM yang lain, karena adanya prinsip indivisibility of human rights. Jadi hak asasi yang satu tidak terpisahkan dari yang lain, tidak bisa hanya dipenuhi salah satu hak saja, sementara yang lain tidak. FORB berarti kebebasan untuk percaya, mempraktikkan, dan termasuk dalam komunitas (believing, behaving, belonging). FORB bukan melindungi agama, melainkan melindungi orangnya. Manusia itu kompleks. Tanpa kesadaran tentang FORB, HAM tidak bisa diwujudkan. Gereja memiliki kuasa untuk menyuarakan FORB ini.

Narasumber kedua, Rev. Dr. Patrick Schneibel, menyebutkan pesan Marthin Luther, yaitu bahwa seseorang menjadi percaya itu karena relasinya dengan Tuhan. Oleh karena itu, Dr. Patrick menyebutkan bahwa gereja harus memiliki sikap seperti itu. Yang menjadi seseorang menjadi Kristen bukan baptisan atau ajaran gereja, melainkan relasinya dengan Tuhan. Berdasarkan hal ini, perpindahan agama adalah pilihan pribadi, tidak boleh dipaksakan atau dilarang. Dalam hal ini kita juga harus menunjukkan solidaritas kepada saudara-saudara di seluruh dunia yang mengalami kondisi tidak baik berkait dengan pelanggaran FORB. Selain itu, gereja juga harus terlibat dalam perjuangan untuk FORB.

Hal lain. Hari Kamis diperingati sebagai Thursdays in Black. Setiap orang diminta untuk mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk solidaritas terhadap korban kekerasan dan pemerkosaan. Siang ini delegasi dan partisipan dari gereja-gereja anggota di Indonesia makan siang bersama sehingga bisa saling bertemu dan mengenal. Sebelum thematic plenary ada sambutan dari wakil Vatikan. Pontifical Council for Promoting Christian Unity menyampaikan bahwa Vatikan mengirim utusan untuk hadir dalam sidang WCC sudah dimulai sejak sidang ke-3 di New Delhi, India, pada 1961. Sekalipun tidka menjadi anggota WCC, tetapi Gereja Katolik banyak terlibat dalam program-program WCC. Misalnya, bersama menyiapkan Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani. Disebutkan juga bahwa telah terjadi tiga kunjungan Paus ke WCC, yaitu Paus Paulus VI (1969), Paus Yohanes Paulus II (1983, menyampaikan bahwa hubungan WCC dan Gereja Katolik tidak terhindarkan), dan Paus Fransiskus (2018, saat ulang tahun ke-70 WCC). Selanjutnya, sambutan Paus Fransiskus dibacakan dan beliau menyebutkan bahwa dunia membutuhkan berita Alkitab. Orang Kristen harus bekerja sama untuk itu. Gereja dalah simbol persatuan. Jika di dalam dan antar gereja tidak ada persatuan, tidak bisa