Info Kontak:

: Dsn. Tegalsari, RT. 05, RW. 01, DS. Jonggolsari, Kec. Leksono, Kab. Wonosobo

: 082227227947

: –

Pendeta :

  • Pdt. Samuel Sambudi S.PAK.M.Min.

Jadwal Ibadah:

  1. Induk : Minggu, Pk. 09.00 WIB
  2. Pepanthan Leksono : Minggu, Pk. 08.00 WIB
  3. Pepanthan Welahan : Minggu, Pk. 09.00 WIB
  4. Pepanthan Keseneng : Minggu, Pk.09.00 WIB
  5. Pepanthan Prumasan : Minggu, Pk. 10.00 WIB
  6. Kelompok Tripis : Minggu, Pk. 09.00

Profil dan Sejarah:

Sejarah Gereja Kristen Jawa ( GKJ ) Jonggolsari terjadi melalui proses yang panjang dan penuh tantangan. Pasang surutnya kehidupan bergereja dan suka dukanya menjadi pengikut Kristus telah mewarnai proses panjang, tumbuh dan berkembangnya GKJ Jonggolsari.

Seorang plokamator Indonesia, Bung Karno pernah mengatakan :

“ Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya dan menghargai jasa para pahlawannya “. Demikian pula GKJ Jonggolsari, tidak akan pernah melupakan sejarahnya dan akan tetap menghargai jasa-jasa pendahulunya.

Kehidupan masa lalu tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Kehidupan masa lalu telah memberikan warna tersendiri bagi kehidupan sekarang. Segala sesuatunya, baik kekurangan maupun kelebihannya masa lalulah yang menjadikan masa sekarang seperti yang kita hadapi dan rasakan saat ini.

GKJ Jonggolsari telah berdiri. Kita bisa melihat kedalam dan merenungkannya. Kita bisa mawasdiri, sudahkah semangat awal para pendahulu kita, yang begitu setia menjadi murid-murid Kristus telah kita warisi ?. Segala bentuk kekurangan dan kelemahan masa lalu adalah hal manusiawi yang perlu segera kita lupakan. Dan semangat juang di jalan Kristus yang dimiliki oleh para pendahulu kita, hendaklah tetap mengalir dalam urat nadi kita.

Penulisan sejarah GKJ Jonggolsari, adalah dalam upaya untuk terus mewarisi semangat juang pengikut-pengikut Kristus yang pertama di GKJ Jonggolsari. Penulisan sejarah GKJ Jonggolsari ini tersusun dengan sistematika sebagai berikut :

  1. Peta perjalanan pekabaran Injil ( PI ) oleh Kyai Sadrah dan cikal bakal GKJ Jonggolsari.
  2. Penyerahan Pasamuan Kerasulan GKJ Jonggolsari kepada Badan Zending Wonosobo.
  3. Masuknya Pepanthan Leksono, Welahan dan Keseneng ke GKJ Jonggolsari.
  4. GKJ Jonggolsari menuju proses pemanggilan Pendeta.
  1. Peta Pekabaran Injil ( PI ) oleh Kyai Sadrah dan cikal bakal GKJ Jonggolsari.

Kyai sadrah adalah salah satu tokoh pekabar Injil pribumi pertama di daerah  Jawa Tengah. Beliau berdomisili di Karangjasa, Kutoarjo dan Purworejo. Oleh kedua orang tuanya diberi nama Radin, setelah dewasa beliau berganti nama Abas. Dan setelah mendapatkan Babtisan Suci beliau bernama Sadrah Sura Pranata. Sebutan “ Kyai “ didepan nama Sadrah adalah sebuah  penghormatan bagi seorang yang memiliki kepandaian/ kepintaran tertentu ( jawa : kawicaksanan ), khususnya dalam hal “ olah kebatinan “.

Kerinduan untuk terus mengabarkan Injil, adalah api semangat yang membara dalam diri Kyai Sadrah. Mengikuti keinginan hati dan mengikuti dorongan Roh Suci, Kyai Sadrah meninggalkan Karangjasa pergi kearah pantai Utara Jawa, hingga akhirnya sampai di daerah Pekalongan. Dari daerah Pekalongan, Kyai Sadrah meneruskan perjalanan PI nya dengan berbalik arah menuju ke Selatan. Sembari berjalan pulang ke Karangjasa, Kyai Sadrah singgah di beberapa tempat sambil terus mewartakan kabar sukacita. Banyak daerah yang disinggahi    Kyai Sadrah kemudian tumbuh benih –benih Kekristenan. Adapun daerah-daerah yang pernah disinggahi Kyai Sadrah adalah sebagai berikut :

PERSINGGAHAN PERTAMA DI TEDUNAN, PAGENTAN BANJARNEGARA

Walaupun benih keKristenan tidak bisa tumbuhdi daerah tedunan ini, namun ada kisah menarik yang berhubungan dengan Kyai Sadrah. Sampai saat ini kisah tersebut masih sering dituturkan orang di daerah tersebut. Kisahnya adalah, ketika itu Kyai Sadrah sedang beristirahat dalam perjalanannya. Beliau memetik buah nangka dan memakan isinya. Biji nangka yang ditinggalkan tumbuh berkembang dan berbuah. Pada saat ini diyakini olehpenduduk setempat bahwa pohon nangka tersebut masih ada bahkan dikeramatkan. Dianggap keramat karena jika seorang memetik buah nangka dari pohon tersebut dan langsung dibawa pulang, bisa di pastikan jika buah tersebut dibelah tidak akan ada isinya. Tetapi jika memetik dan langsung dibelah ditempat pasti ada isinya. Adapun tempat tumbuhnya pohon nangka tersebut berada pada tanah milik Bp. Tarno ( telah tumbang dengan proses alami, November tahun 2012 ).

PERSINGGAHAN KEDUA DI TRIPIS

Dari Tedunan, Kyai Sadrah melanjutkan perjalanannya dantiba di Tripis. Disini beliau berjumpa dengan seorang yang bernama Terwinah ( Resawijaya ) dan dia menjadi pengikut Kristus. Dikemudian hari Terwinah ( Resawijaya ) pindah tempat tinggalnya ke dukuh Jaban, Desa Jonggolsari. Sedangkan keberadaan orang Kristen di Tripis dilanjutkan oleh Bp. Mitrareja   ( adik Terwinah ) ( ayahanda Bp. Sasmita dan Bp. Warsito ). Setelah beliau mendapat pendidikan Agama Kristen dari Zending Wonosobo, beliau ditetapkan di Tripis sebagai Guru Injil.

PERSINGGAHAN KETIGA DI KLUWUNG ( TEMBOK )

Dari Tripis, perjalanan Kyai Sadrah berlanjut ke daerah Kluwung ( Tembok ). Di Kluwung beliau bertemu dengan seorang yang bernama Jayadrana. Selanjutnya Jayadrana menjadi pengikut Kristus dan diBabtis di Karangjasa. Namun di daerah Kluwung benih keKristenan tidak bisa tumbuh subur. Kehendak Allah bukanlah keinginan manusia. Adapun yang dikehendaki Allah semua pasti terjadi. Adalah seorang yang bernama Janten, pada saat itu menjabat sebagai “ Bau/ Kadus “ di Prumasan, beliau merasa perlu untuk menemui Jayadrana. Pak Bau Janten datang untuk minta tolong kepada Jayadrana. Karena salah seorang putranya membakar rumpun bambu milik tetangga. Oleh si pemilik bambu putra Janten tersebut akan dilaporkan kepada pihak berwajib. Janten minta tolong kepada Jayadrana. Bagaimana agar kasus tersebut tidak berlanjut kepada pihak berwajib. Jayadrana memberi saran kepada Janten agar mau diajak menemui seorang “ dukun sakti “ yang bertempat tinggal di Karangjasa. Seorang dukun yang dimaksud adalah Kyai Sadrah. Sesampainya di Karangjasa, Janten bertemu langsung dengan Kyai Sadrah yang sanggup

menolongnya, namun dengan mengajukan syarat-syarat. Syaratnya adalah :

  1. Agar Janten mau meletakkan jabatannya sebagai “ Bau “ Prumasan.
  2. Agar Janten mau menjadi murid Kristus.

Janten menyanggupi syarat-syarat tersebut dan akhirnya beliau diBabtis di Karangjasa. Kasus putranyapun selesai, tidak berlanjut ke pihak berwajib. Setelah menjadi pengikut Kristus, janten dan keluarga beribadah di Kluwung.  Adapun putra putri mbah Janten sebagai berikut :

  1. Singadrana
  2. Murni
  3. Kinah ( salah satu cucu mbah Kinah adalah ibu Wiyatno, Tegalsari ) dan salah satu buyut mbah Kinah adalah ibu Suripto, Prumasan ).
  4. Bolot ( salah satu cucu mbah Bolot adalah Bp. Jarkomi, Prumasan ).
  5. Nipan
  6. Pai ( salah satu buyut mbah Pai adalah Bp. Darmanto, Prumasan ).
  7. Sarwi ( salah satu anak mbah Sarwi adalah Mini Jarkomi, Prumasan )

 

Merekalah yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja Prumasan. Walaupun didaerah Kluwung benih Gereja tidak bisa tumbuh, namun didaerah Prumasan, Tuhan menumbuhkan benih-benih Gereja itu dan memelihara kehidupannya sampai sekarang. Setelah anak cucu Janten bertambah, Ibadah dilaksanakan di rumah Singadrana dan yang menjadi Imamnya Singadijaya. Setelah beberapa bulan Kyai Sadrah pergi ke Karangjasa, beliau memberI uang empat ( 4 ) Rupiah untuk membeli tanah pekarangan sebagai tempat berdirinya Gedung Gereja. Karena belum memiliki dana untuk membangun gedung Gereja, warga Prumasan beribadah di rumah Bp. Jarkomi( sekitar tahun 1974 – 1982 ). Kerinduan untuk memiliki gedung Gereja semakin tumbuh. Atas berkat Tuhan yang sungguh ajaib, Bp. Jarkomi beserta warga Prumasan akhirnya membuat gedung Gereja. Dan gedung Gereja tersebut dipakai untuk beribadah sampai sekarang.

PERSINGGAHAN KEEMPAT DI TALUNAMBA / JONGGOLSARI

Dari daerah Kluwung, Kyai Sadrah melanjutkan perjalanannya ke daerah Dk. Talunamba DS. Bramasari, yang sekarang namanya DS. Jonggolsari ( nama gabungan dari DS. Jonggolan dan DS. Bramasari ) ( pada zaman Lurah Dipareja ). Di daerah ini Kyai Sadrah bertemu dengan seorang yang bernama Kawer. Kawer berasal dari Kalibeber, Pekalongan. Sebagai salahseorang anak buah Pangeran Diponegoro, Kawer menjadi buronan pihak Belanda dan melarikan diri. Hingga akhirnya sampai di Jonggolsari. Pertemuannya dengan Kyai Sadrah menjadikan Kawer mengenal Kristus. Pada saat itu Kawer mempunyai dua orang isteri. Salah satu isterinya adalah puteri Temenggung di Worawari, Sukoharjo. Dari purteri Temenggung ini lahirlah putra – putri Kawer yaitu Sambiya, Sataruna dan Ny. Bolot. Dan dari Ny. Bolot inilah lahir orang-orang Kristen di Tegalsari. Pada waktu itu, peribadatan warga Tegalsari masih berpindah pindah. Yang pertama warga Tegalsari beribadat di rumah Mbah Kaswadi, karena alasan tertentu kemudian pindah di Rumah Mbh. Dullahreja. Warga Tegalsari merindukan mempunyai gedung Gereja untuk beribadat. Mbh. Dullahreja menghibahkan tanah untuk tempat berdirinya gedung Gereja. Pada tahun 1959 gedung Gereja Tegalsari dibangun meskipun masih semi permanen. Pada tahun 1970 didirikan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama ( SMEP ) oleh YPK Wonosobo di Tegalsari. Yang mengampu adalah Bp. Suripto ( Tegalsari ) dan kawan – kawan, tetapi sekolah tersebut tidak bertahan lama. Pada tahun 1972 sekolah tersebut ditutup karena kekurangan murid. Pada tahun 1983 – 1984, gedung Gereja Tegalsari di rehab yang tadinya semi permanen menjadi permanen. Pada waktu itu dalam pembangunan gedung Gereja, warga Tegalsari masih 21 KK. Atas berkat Tuhan yang luar biasa, DS. Jonggolsari mendapatkan dana Bandes. Dan dana tersebut diberikan untuk pembangunan gedung Gereja Tegalsari ( zaman Lurah Marto Suwarno ).

Dari Jonggolsari, Kyai Sadrah melanjutkan perjalanannya ke daerah Mranggen, Selomerto. Disana Kyai Sadrah bertemu dengan seorang yang bernama Tumbu. Yang dikemudian hari melahirkan seorang anak yang diberi nama Janten ( nama samaran ), Marto, Cokro dan  M. Martiodiweryo. Dari Mbh. M. Martodiweryo inilah lahir Bp. Marto Supono, Leksono. Yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja Leksono.

Itulah tempat-tempat yang disinggahi oleh Kyai Sadrah dalam perjalanan pulang dari Pekalongan ke Karangjasa.Dan dibeberapa tempat persinggahannya tersebut, kemudian tumbuh Gereja, yaitu di Tripis, Prumasan dan di Tegalsari. Gereja yang tumbuh sebagai hasil pekabaran Injil Kyai Sadrah dikenal dengan sebutan “ PASAMUAN KRISTEN KERASULAN “

yang berpusat di Karangjasa. Peribadatan dilaksanakan di Karangjasa, dikenal dengan sebutan   “ SELAPANAN “   ( terutama dilaksanakan pada hari Selasa atau Jum’at Kliwon )( nara sumber : Bp. Jarkomi, Bp. Wiyatno, Bp. Misno, Bp. Sisworejo, Bp. Ruhanto, danBp. Cipto Adi Asmoro ).

Sementara Gereja Leksono, Welahan dan Keseneng bukanlah hasil pekabaran Injil yang dilakukan oleh Kyai Sadrah ( bukan Pasamuan Kristen Kerasulan ).

  1. PENYERAHAN PASAMUAN KRISTEN KERASULAN KEPADA BADAN ZENDING WONOSOBO

Tahun 1924, Kyai Sadrah Surapranata meninggal dunia. Kepemimpinan Pasamuan Kristen Kerasulan Karangjasa diteruskan oleh putra angkatnya yaitu Rasul Yotam Martareja yang dibantu oleh Abraham Wangsareja.

Tahun 1930 Rasul Yotam Martareja datang ke Pasamuan Kreisten Kerasulan Kalimade, Selomerto. Di Kalimade Rasul Yotam Martareja mengadakan pertemuan dengan para Imam dari Jonggolsari, Prumasan dan Kalimade. Dari Jonggolsari diwakili oleh Cakrasmita, Wangsataruna dan Cakrareja. Prumasan mengutus wakilnya yaitu Singadijaya. Hasil pertemuan tersebut memutuskan bahwa Pasamuan Kristen Kerasulan diserahkan kepada badan Zending di Wonosobo dengan tujuan agar mendapat pengajaran Agama Kristen yang benar ( catatan : Kyai Sadrah dalam pekabaran Injilnya, mengajarkan Injil dipadukan dengan ajaran kejawen / ajaran Sinkretisme ). Sehingga Pasamuan Kristen Kerasulan perlu mendapatkan pengajaran Agama Kristen yang benar, yaitu ajaran Kristen yang tidak dicampur adukkan dengan ajaran kejawen.

Sejak pertemuan para Imam dengan Rasul Yotam Martareja di Kalimade inilah, Pasamuan Kristen Kerasulan berubah menjadi Pasamuan Zending di Wonosobo yang dipimpin oleh Pdt. A.K Van Dyik.

Pada tahun 1931, Pdt. A.K Van Dyik meminta pada pasamuan-pasamuan di Jonggolsari, Prumasan, Tripis, Keseneng, dan Kalimade untuk mengirimkan perwakilannya guna diberi kursus pelajaran Agama Kristen di dalem kapanditan Wonosobo. Perwakilan dari masing-masing pasamuan tersebut antara lain :

  • Dari Tripis : Bp. Mitrareja
  • Dari Keseneng : Bp. Jayapawira
  • Dari Prumasan : Bp. Warsita
  • Dari Jonggolsari : Bp. Dulahreja
  • Dari Kalimade : Bp. Sartun dan Bp. Sisworejo

 

Setelah diadakan ujian, yang berhasil lulus dalam ujian tersebut adalah Bp. Mitrareja, Bp. Jayapawira, Bp. Dulahreja, Bp. Sartun dan Bp. Sisworejo. Mereka yang telah lulus ini dimasukkan ke pendidikan kilat sekolah Theologi selama satu tahun, yaitu tahun 1934 – 1935. Dengan ketentuan apabila lulus akan kembali ke jemaatnya masing-masing sebagai guru Injil. Bp. Mitrareja kembali ke Tripis, Bp. Jayapawira kembali ke Keseneng, Bp. Dulahreja kembali ke Jonggolsari, Bp. Sartun kembali ke Kalimade, dan Bp. Siswareja ditempatkan di Prumasan. Pada tahun 1951 – 1976 berdiri sekolah Kristen di Prumasan dari YPK Wonosobo yang berpusat di Salatiga, pada zaman pelayanan Bp. Siswareja. Yang menjadi Kepala Sekolah adalah Bp. Siswareja dan salahsatu Guru di sekolah Kristentersebut adalah Bp. Suripto ( Prumasan ). Melalui para Guru Injil inilah pengajaran Agama Kristen dilakukan. Kehendak manusia bukanlah kehendak Tuhan. Karena kekurangan Guru, pada tahun 1976 sekolah Kristen tersebut ditutup dan diserahkan kepada Pemerintah.

  1. MASUKNYA PEPANTHAN LEKSONO, KESENENG DAN WELAHAN KE GKJ JONGGOLSARI.

Diatas disebutkan bahwa Gereja Leksono, Welahan dan Keseneng bukanlah hasil pekabaran Injil yang dilakukan oleh Kyai Sadrah, tetapi buah pelayanan Zending Wonosobo. Dibawah ini proses masuknya pepanthan-pepanthan tersebut akan dipaparkan satu persatu.

  1. LEKSONO

Tahun 1943 badan Zending di Wonosobo memberi tugas kepada Bp. Armujo sebagai mantri kesehatan di Leksono. Selain tugas pokoknya sebagai mantri kesehatan, Bp. Armujo juga diberi tanggung jawab untuk mengabarkan Injil di daerah Leksono.

Tahun 1943 Bp. Armujo ditarik kembali ke wonosobo. Sampai tahun 1943 buah pekabaran Injil tersebut belum Nampak. Pengganti Bp. Armujo sebagai mantri kesehatan, badan Zending di Wonosobo menugaskan Bp. Marto Supono, yang sekaligus diberi tanggung jawab untuk mengabarkan Injil di Leksono. Pelayanan Bp. Marto Supono membuahkan hasil. Terbukti dengan masuknya beberapa orang menjadi Kristen dileksono. Misalnya Arsodiharjo, Jarkoni, Kastomo, dan Proyo. Namun sayang dikemudian hari Jarkoni dan Kastomo menyangkal Kristus kembali. Pelayanan Bp. Marto Supono tidak hanya di Leksono, namun sampai ke Kemiri, Jlamprang. Disana ada beberapa orang yang mau terbuka menerima kabar sukacita itu. Diantaranya : Bp. Marsono, Bp. Trisnorejo, Bp. Bp. Sumitro, Bp. Parto, Bp. Sawireja, Bp. Atmowikarto, Bp. Reja, Bp. Tarjo, Bp. Suwaryo dan Bp. Bayan Kemiri. Ada beberapa sampai saat ini tetap setia kepada Kristus. Selain di Leksono dan Kemiri, Pelayanan Bp. Marto Supono sampai juga ke daerah Bojanegara, Banjarnegara. Bp. Carik Dirja adalah orang Kristen pertama disana. Sampai saat ini anak cucu pak Carik Dirja masih setia menjadi pengikut Kristus. Benih-benih keKristenan kini telah tumbuh. Dan tercatat dalam buku induk GKJ Jonggolsari. Babtisan pertama warga Leksono atas nama Sudarmi Marto Supono, di Babtis oleh Pdt. A.K Van Dyik bertempat di Gereja Tegalsari. Sebelum Leksono bergabung dengan Jonggolsari, mbah Abraham Wangsareja Guru Injil dari Zending di Wonosobo sering datang ke Leksono untuk memberikan Katekisasi, Patuwen dan Khotbah-khotbah. Para pengikut Kristus dari Bojanegara dan Kemiri datang ke Leksono untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Mereka mendalami Iman Kristen  dan memuliakan Tuhan bersama-sama. Bertempat dirumah Bp. Arsodiharjo, warga Kristen mula-mula tersebut menjalankan ibadahnya ( lokasi sekarang dibelakang rumah Bp. Suhaji ).  Karena alasan tertentu tempat Ibadah pindah dirumah Bp. Karto ( Kali kluwih ) dan berpindah lagi ke rumah Bp. Marto Supono. Kurang lebih tahun 1960 – an, Bp. Marto Supono dan Bp. Dulahreja datang ke kantor Klasis Kedu di Magelang untuk meminjam dana guna untuk membeli pekarangan. Cara mengangsur dana tersebut dengan memotong gaji Bp. Marto Supono setiap bulannya. Dan tanah pekarangan tersebut dihibahkan untuk tempat berdirinya gedung Gereja Leksono. Sekitar tahun 1964 gedung Gereja Leksono dibangun.

Melihat kembali ke belakang, pada kurang lebih tahun 1954 / 1955, jemaat Leksono bergabung menjadi satu dengan jemaat Jonggolsari. Adapun alasan bergabungnya tersebut adalah, jemaat Jonggolsari yang dulunya menjadi Pepanthan Gereja Wonosobo, pada tanggal 13 Agustus 1953 di dewasakan dan menjadi Gereja yang mandiri. Sehingga untuk memperkuat Jonggolsari sekaligus mengefektifkan pelayanan, Gereja Wonosobo merelakan jemaat Leksono untuk bergabung dengan Gereja Jonggolsari. Mulai itulah jemaat Leksono menjadi bagian dari GKJ Jonggolsari. ( narasumber : Bp. Sugito dan Bp. Widi Harsono

  1. KESENENG

Pepanthan Keseneng adalah buah pelayanan dari seorang Guru Injil Bp. Jayapawira. Beliau Guru Injil di Keseneng namun juga yang mengampu Tripis. Karena Guru Injil di Tripis yaitu Bp. Mitrareja dipandang kurang efektif dalam pelayanan. Hal itu terjadi sekitar tahun 1937. Dengan masuknya keluarga besar Bp. Martono menjadi Kristen, jemaat Keseneng mengalami perkembangan yang cukup baik. Sehingga Keseneng mendirikan tempat Ibadah sendiri. Dan dikemudian hari warga Tripis ikut bergabung dalam Ibadah di Keseneng.

Sejak semula jemaat Keseneng masuk dalam wilayah pelayanan GKJ Wonosobo. Berdasarkan kesepakatan antara GKJ Wonosobo dan GKJ Jonggolsari, atas dasar pertimbangan letak geografis dan efektifitas jangkauan pelayanan, maka diputuskan untuk mengadakan pertukaran wilayah pelayanan. GKJ Jonggolsari yang memiliki wilayah di Ngalihan Wadaslintang dan Kaliwiro, diserahkan pelayanannya kepada GKJ Wonosobo. Sebaliknya jemaat di Keseneng diserahkan kepada pelayanan GKJ Jonggolsari. Hal ini terjadi sekitar tahun 1957.

  1. WELAHAN

Orang Kristen di Welahan mula-mula adalah Bp. Martopawiro yang berasal dari Tripis. Sekalipun sudah bertempat tinggal di Welahan, namun masih tetap beribadah di Tripis. Setelah putra-putri Bp. Martopawiro bertambah banyak, dirasakan mengalami kesulitan setiap Minggu beribadah di Tripis. Maka seijin Majelis Gereja setempat Bp. Wartopawiro sekeluarga mengadakan Ibadah dirumahnya sendiri, dan yang bertindak sebagai pengkhotbahnya, sering dilakukan oleh Bp. Wartopawiro sendiri. Pada awal-awal orang Kristen di Welahan, setatus keGerejaannya masih menjadi bagian pelayanan GKJ Wonosobo. Dalam perkembangan selanjutnya ada seorang pendatang dari Yogyakarta dan ditugaskan sebagai Guru ( PNS ) oleh Pemerintah di Welahan. Beliau adalah Bp. Pramono. Kedatangan Bp. Pramono semakin memperkokoh jemaat di Welahan. Dan pada saat itulah Welahan dinyatakan menjadi salah satu Pepanthan GKJ Wonosobo.

Dan masuknya Welahan ke dalam wilayah pelayanan GKJ Jonggolsari, bersamaan waktunya dengan jemaat Keseneng.

Demikianlah proses masuknya jemaat Leksono, Keseneng, dan Welahan bagian dari GKJ Jonggolsari.

  1. GKJ JONGGOLSARI MENUJU PROSES PEMANGILAN PENDETA

Setelah didewasakan dari GKJ Wonosobo, keinginan untuk memiliki seorang penggembala ( Pendeta ) sendiri semakin kuat. Maka proses yang mengarah ke pemanggilan Pendeta berdasarkan Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ. Tahun 1962 GKJ Jonggolsari akhirnya mentabiskan seorang Pendeta atas diri  Pdt. Supangat Reksowardoyo. Namun pada tahun 1970, beliau pindah ke GKJ Wonosari Gunung Kidul. Masa-masa panjang setelah Pdt. Supangat Reksowardoyo pindah ke GKJ Wonosari Gunung Kidul ( tahun 1971 – 1992 ), GKJ Jongolsari dilayani oleh Pdt. Konsulen antara lain :

  1. Pdt. Sudarsono ( Banjarnegara )
  2. Riantoro ( Banjarnegara )
  3. Marmo Suwignyo ( Wonosobo     )
  4. Ruhanto ( Bendungan    )
  5. Sarjono ( Wonosobo    )

Disamping Pendeta – pendeta tersebut, juga dilayani oleh Bp. Kristianto.

Dan atas berkat dari Kristus Sang Raja Gereja, pada tangal 6 Mei 1993 GKJ Jonggolsari menabiskan Pendeta yang ke dua atas diri  Pdt. Samuel Sambudi S.PAK. Tahun 2003 – 2005, Bp. Pdt. Samuel Sambudi S.PAK melanjutkan study strata-2 ( S-2 ) di Unifersitas Duta Wacana Yogyakarta, dan tetap melayani di GKJ Jonggolsari hingga kini.

  1. PERUBAHAN NAMA GKJ JONGGOLSARI MENJADI GKJ ARDI MULYA

Pada tanggal 13 Agustus 2020 bersamaan dengan HUT GKJ Jonggolsari ke – 67, nama GKJ Jonggolsari dirubah menjadi GKJ Ardi Mulya.

Adapun lasannya sebagai berikut :

  1. GKJ Jonggolsari berada di daerah pegunungan, maka dinamakan Ardi/ Argo yang berarti Gunung, Mulya berarti kemuliaan Nama Tuhan. Arti GKJ Ardi Mulya yaitu Gunung/ Tempat Kemuliaan.
  2. Ardi Mulya ini mencakup 1 ( satu ) Induk dan 4 ( empat ) Pepanthan yang tersebar di 3 ( tiga ) Kecamatan ( Leksono, Watumalang dan Sukoharjo ). Sementara Jonggolsari           ( nama lama ) berada di Kecamatan Leksono, sehingga dengan berganti nama Ardi Mulya mencakup ketiga Kecamatan dan Desa dimana Gereja-gereja itu berada.

PENUTUP

Demikian sejarah GKJ Jonggolsari yang dapat kami tuliskan. Kami menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna. Kurangnya data-data yang mendukung dalam tulisan ini menjadi salah satu penyebab kurang sempurnanya penulisan ini.

Kami menunggu saran masukan dan kritikan dari berbagai pihak guna lebih menyempurnakan tulisan sejarah GKJ Jonggolsari ini. IMANUEL.

Link Update Pembaharuan