Info Kontak:

: Jl. Sidotresno No.05, Baturetno, Kec. Baturetno, Kab. Wonogiri 57673

: 0273 461048

: –

Pendeta:

  • Pdt. Dyan Sunu Prakosa, S.Si.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 07.00

  2. Rabu, Pk. 05.00

 

Profil dan Sejarah:

SEJARAH GEREJA KRISTEN JAWA BATURETNO

 

  1. Sejarah berdirinya Gereja di Kedungrejo.

Jemaat Kedungrejo tumbuh dan berkembang melalui sebuah perjalanan panjang. Sejarah GKJ Pepanthan Kedung rejo terdiri du bagian. Bagian pertama pertumbuhan warga kristen dimulai dari Nguntoronadi(betal lama). Warga betal lama diantaranya B.Sujiati. P. Citromaryoto, B. Jono. P. Somo, P.Tri .B.Indriarso, dan Guru sekolah minggu P.Samingan. . Disamping itu masih ada satu warga yang tinggal di Ngadiroyo yaitu P.Prapto guru SD Pondok sari, Nguntoronadi.

Pada waktu itu di Betal lama sudah menjadi Pepanthan dari GKJ Wonogiri. Majelisnya pada waktu itu adalah P. Subandi seorang pegawai Dinas Pertanian Wonogiri. Pada waktu itu jumlah warga  gerejanya cukup banyak. Namun sejak dilaksanakan pembangunan waduk Gajahmungkur beberapa warga gereja yang tanahnya tergenang mengikuti transmigrasi bedol desa ke Sumatra (transmigrasi), Tetapi beberapa warga gereja yang tidak mengikuti transmigrasi ada yang melakukan diaspora ke Kamplong, Ngadipiro, ada juga yang pindah ke Wonokarto. Pusat Pemerintahan Kecamatan Nguntoronadi juga mengalami perpindahan.

Akibat pembangunan waduk yang dimulai pada tahun 1977 kondisi warga gereja betal menjadi tercerai berai di berbagai tempat. Pepanthan Betal lama kehilangan sebuah bangunan tempat peribadatan karena tergenag air waduk  Dalam keadaan seperti itu, atas usulan majelis Gereja Betal yaitu Bapak Subandi dan didukung oleh Majelis Induk Wonogiri mengusulkan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri agar GKJ Wonogiri Pepanthan Nguntoronadi memperoleh ganti bangunan gereja yang tergenang. Atas usulan tersebut Pemerintah Daerah membuatkan bangunan Gereja . Tanpa diketahuoi sebab musabanya Gedung Gereja yang sudah dibuatkan oleh Pemerintah Daerah diambil alih oleh GPPS . Alasannya pihak GPPS waktu itu jemaat GKJ banyak yang tidak berdomisili di Kedungrejo.

Akibat pengambil alihan gedung gereja tersebut terjadi poerselisihan antara GKJ Wonogiri dengan GPPS. Atas prakarsa Bapak Subandi GKJ Wonogiri mengajukan permohonan kembali untuk dibuatkan bangunan Gereja. Bupati Wonogiri waktu itu Bapak Soemo Harmoyo bersedia membangun gereja asal tersedia tanah. Melalui sebuah perjuangan yang cukup panjang akhirnya dapat diperoleh tanah milik Pemerintah Daerah seluas 1000 m,  Pembangunan gedung gereja selesai dan ditempati untuk tempat beribadah warga GKJ Pepanthan Nguntoronadi, (sekarang menjadi Pepanthan Kedungrejo) pada tahun 1982. Dana pembangunan gedung gereja sepenuhnya dari APBD II.

Bagian kedua diawali  adanya penyuluhan agama kristen yang tidak lepas dari peran disampaikan bapak Y.Subandi pegawai dinas pertanian Wonogiri. Dan P. Samingan guru SD Semin I Nguntoronadi. Pada awalnya P.Radi seorang pegawai dinas pertenian di kecamtan Nguntoronadi diberi buku kitab perjanjian lama dan perjanjian bari (babad kitab suci) oleh pak Bandi. Setelah dibaca, P.Radi kemudian meminta kepada P. Bandi untuk melakukan pekabaran injil di  Krapyak. Pada mulanya yang berkumpul yaitu, P.Radi, P.Yadi. P.Sakimo. P. Suhono dan P.Sumino pada tahun 1969.mereka semua berstatus sebagai perjaka. Tempat pertemuan pertama kali dilaksanakan dirumah Bapak.Kasno, Tenggar. Setelah itu pertemuan berpindah ke rumah P.Carik Bulurejo Hatmo Sukusno. Kekristenan Bp. Hatmo Sukusno terjadi pada saat mau meninggal dunia. Pertemuan untuk Pekabaran Injil dilaksanakan satu bulan sekali dan tempatnya selalu berpindah dari rumah kerumah. Dari pertemuan-pertemuan tersebut kemudian pada tahun 1971 terjadi baptisan atas diri P. Yadi P. Suhono, P.Sakimo.B.Harini. dan B.Parni. Baptisan dilaksanakan di Pepanthan Betal lama. Dan dilayani oleh Pdt. Hastosumarso.

Sejak terjadi pembangunan waduk dan beberapa warga gereja yang tidak ikut transmigrasi menjadi kelompok nomaden. Ibadah minggu yang dilakukan oleh warga gereja yang tidak ikut transmigrasi tidak menentu. Mereka berpindah dari gereja saru ke gereja lain Kadang di Tirtomoyo, kadang di Baturetno. Keadaan seperti ini dijalani oleh warga gereja di Kedungrejo dari tahun 1979 sampai 1981.Setelah mendapatkan tanah dari Pemda di sekitar gedung gereja Katolik,  pada tahun 1981 oleh P. Bandi dilakukan pendataan ulang warga gereja Kristen Jawa di Nguntoronadi. Dari hasil pendataan ulang tersebut disamping sebagai dasar pengajuan permohonan bangunan Gedung Gereja kepada Pemerintah Daerah juga untuk mengumpulkan kembali “domba-domba” yang sudah tercerai berai untuk melakukan peribadatan sendiri di Nguntoronadi. Selama belum memiliki tempat ibadah yang permanen kebaktian minggu menggunakan tempat Kantor Pertanian, Nguntoronadi. Hal ini terjadi pada tahun 1981 sampai tahun 1982. Setelah gedung gereja jadi tahun 1982 kemudian tempat ibadah dari Kantor Pertanian  pindah ke Gereja baru sampai sekarang.

Sejarah  berdirinya jemaatn kristen  di Kudi diawali dari sejarah perjalan Bapak Ciptosumarto Majelis Pepanthan GKJ Tirtomoyo dan juga Seorang Penilik Sekolah di dinas P dan K Kecamatan Batuwarno. Pada tahun 1967 Bapak Ciptosumarto memberikan pengertian agama Kristen kepada guru-guru SD Kudi I diantaranya P. Sriyanto, P.Tumin, P.Maryanto, dan P.Wardi, Pertemuan dilakukan beberapa kali. Bersamaan dengan itu pada waktu di Batuwarno, P.Siswoatmodjo juga belajar agama kristen dari P.Ciptosumarto. Mengingat usianya yang dianggap lebih tua dari teman-teman yang sama-sama belajar ajaran agama Kristen P. Siswoatmodjo oleh teman-temannnya ditunjuk untuk mengkoordinir pekabaran Injil di Nggabel, Desa Sumberagung tempat kelahiran P. Siswoatmodjo. Yang ikut dalam pertemuan di Nggabel adalah  guru-guru SD Kudi I diantaranya P.Sriyanto P.Maryanto semuanya sekalian,ditambah P. Sastrowidodo Kepala SD II Kudi. P.Carik Prawiro Kasmunto dan P.Siswoatmojo l.. Pekabaran injil di Nggabel, akhirnya menjadi kelompok persekutuan dan katekisasi Sumberagung, bagian dari pelayanan pepantahan Tirtomoyo/ GKJ Wonogiri. Kebaktian di laksanakan di rumah P.Carik Prawiro Kasmunto di Nggabel dan beralangsung sampai tahun tahun 1972..

Baptisan pertama warga di Pepanthan Sumberagung dilaksanakan pada tahun 1967 atas diri Bapak Sriyanto, Bapak Maryanto, P.Tumin, P.Siswoatmojo, baptisan dilaksanakan di Pepanthan Tirtomoyo dan dilayanai oleh Pdt.Hasto. Pada tahun 1968 kelompok sumber agung didewasakan menjadi   Papanthan, majelis pertama kali satu orang yaitu P.Siwoatmojo Pada tahun 1968 dilaksanakn baptisan di Pepanthan Nggabel atas diri Bapak Larmo,P.Kirno sekalian.P.Sukino,p.Budi Rahayu, P.Sutiyo sekalian, P. Sutimin. Baptisan dilayani oleh Pdt.Atmorejoko dari GKJ Sukoharjo.

Pelayanan Bujono suci di Kudi pada awalnya dilaksanakan bersamaan dengan pelayanan Baptisan dan  perkawinan. Akan tetapi khusus pelayanan Baptisan  dilayani bersamaan dengan jadwal Bujono suci yang diselenggarakan 1 tahun 2 kali pada pertengahan dan akhir bulan tahun. Hal ini mengingat jarak pelayanan GKJ Wonogiri yang cukup jauh dan sarana yang dimiliki oleh Pdt.Hasto hanya naik sepeda angin.

Sebelum dilaksanakan Baptisan dilaksanakan katekisasi di Dusun Carat (waktu itu; sekarang dusun Mangunharjo) Ronggojati di rumah Bapak Tukiman.

Sejak 1967 sampai 1972 perkembangan umat kristen mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pertumbuhan ini terjadi di  Desa Ronggojati Hal itu ditandai dengan masuknya P.Sutiyo.P.Tukiman.p.Budi Rahayu.P.Larmo, P.Sutimin menjadi warga Gereja Dewasa. Selain itu dari Desa Sumberagung ditandai dengan dibaptisnya P.Kalino.P.Yatno.P.Siswoatmojoadan P.Prawiro Kasmunto menjadi warga Dewasa. Pertmubuhan terbesar terjadi di Dusun dan Desa Kudi. Hal ini disebabkan karena banyaknya tokoh masyarkat yang masuk menjadi warga agereja diantaranya Bp.Sriyanto, Bp. Maryanto, Bp. Tumin yang awaktu itu menjadi guru SD Kudi I. Disamping itu seorang tokoh masyarakat yang cukup berpengaruh  sebagai seorang penyembuh tradisional Catatan kesaksian di Kudi terjadi terhadap seorang warga masyarakat Kudi  bernama Warsi, yang mengalami sakit menghabiskan harta benda dan tidak bisa sembuh, oleh keluarganya akhirnya diserahkan ke P.Maryanto dan P.Siswoatmojo untuk didoakan.. Oleh kedua beliau dilakukan doa dan akhirnya sembuh. Dari kesaksian peristiwa tersebut akhirnya banyak orang percaya dan masuk Kristen termasuk didalamnya.seorang tokoh masyarakat bernama Samidi Sumodiyono seorang juru sembuh tradisional  masuk agama Kristen.

. selaian pelayanan kebaktian orang dewasa di Nggabel, pada tahun 1969 juga dilayani  kebaktian sekolah minggu yang dilayani oleh Budi Rahayu. Dan dilanjutkan oleh bapak Rajino sampai tahun 1980.tempat sekolah minggu dilaksanakan ditempat yang berpindah-pindah diantaranya di perumahan warga gereja, di SD I Kudi, di rumah Bp. Carik Kudi.

 

  1. Sejarah Berdirinya Gereja di Kudi.

Sejarah berdirinya Gereja Kristen Jawa dan Sumber-sumber Potensi Berdirinya Gereja.Selain spiritualitas yang cukup kuat dari warga gereja di Papanthan Nggabel untuk mendirikan sebuah jemaat yang memiliki gereja, pertimbangan jarak warga Gereja untuk mengikuti kebaktian minggu harus ke Tirtomoyo sehingga mempersulit pelayanan warga jemaat. Modal lainnya yang  dimiliki adalah ketersidaan tanah pemberian Pemerintah Desa.

Untuk mendirikan bangunan Gereja P.Siswoatmojo melakukan pendekatan dengan pemerintah Desa Sumber agung. Oleh Pemerintah Desa Sumberagung akhirnya diberi tanah Kas Desa di depan rumah P.Carik Prawiro Kasmunto. Dengan modal tanah tersebut warga Gereja mulai mengumpulkan batu untuk dasar pondasi bangunan Gereja. Mengingat kondisi tanahnya tidak memenuhi syarat akhirnya tanah tersebut oleh warga Gereja diserahkan kembali kepada  Pemerintah Desa Sumberagung. Namun sebelum dikembalikan P.Siswoatmodjo dibantu beberapa warga Gereja sudah melakukan pendekatan ke Pemerintah Desa Kudi untuk memperoleh alternatif tanah. Oleh Pemerintah Desa Kudi yang pada waktu itu dikepalai oleh Bpak Hadiwiyono, akhirnya diberi tanah seluas 560 m2 yang terletak di Dusun Kudi yang kondisi dan letaknya lebih memadai.

Pada tahun 1972 pembangunan Gedung Gereja di Kudi mulai dirintis.Material dikumpulkan warga Gereja setempat dan Batu Bata sebagian besar dibuat sendiri oleh warga Gereja.  Disamping iu modal uang yang dimiliki sebesar Rp. 1000; dai Pemerintah Desa Sumberagung sebagai ganti batu yang sudah dikumpulkan warga Gereja untuk membangun Gereja di Nggabel yang tanahnya kemudian dikembalikan kepada Pemerintah Desa Sumberagung. Pembangunan Gedung Gereja dimulai pada 1977 dan selesai pada tahun 1978

 

Sejak berdiri sebagai Kelompok dan Pepanthan Tempat kebaktian di Kudi mengalami perpindahan berulang kali. Pada awalnya kebaktian dilaksanakan di rumah Bapak Carik Prawiro Kasmunto. Kemudian berpindah mendekati lokasi tanah bakal bangunan Gereja. Namun sebelum memiliki baunan Gereja selesai dibangunan kebaktian dilaksanakan dirumah Bapak Maryanto dari tahun 1972-1978. Kebaktian pertama ditempat ibadah yang baru dimulai tahun 1978 dan sampai sekarang

 

  1. Sejarah Berdirinya Gereja di Ture.

Awal jemaat di GKJ Ture  diawali dari Bp. Siswomartoyo penduduk asli Ture, yang menjadi Kepala Sekolah Rakyat Negeri Tukulrejo pada tahun 1952 . Penyebaran agama kristen dilakukan dengan melakukan kegiatan riil yaitu mendoakan orang-orang yang sakit, mengajarkan langsung kepada beberapa orang untuk belajar agama kristen. Diantaranya B.Sukir, P.Wakiman, P. Sutimin P.Sutrisno. B.Sutris, Giyarti. Diantara beberapa orang tersebut yang kemudian tetap mengikuti ajaran kristen adalah B. Sukir, P.Wakiman, dan P. Sutimin. Dan dibaptis pada tahun 1968 di Baturetno atas diri Bapak Wakiman, B. Sumiyati (b.Sukir). P.Supardi yang berasal dr Girimarto dan menjadi Kepala SD Pidekso I dan masih ada ikatan saudara dengan P. Siswomartoyo. P. Pardi dan istri dan seorang anaknya bernama Sundari dibaptis pada tgl 6 Desember tahun 1959. Katekisasi dilayani oleh Bp. Padmomihardjo dan Bp. Mulyo Utomo. Baptisan dilaksanakan di Pepanthan Batu yang masih merupakan bagian dari  GKJ Wonogiri dan dilayani oleh Pdt. Hasto. 2 KK kemudian mengadakan kegiatan Natal pertama pada tahun 1962 di rumah P. Siswomartoyo. Pada tahun 1966 P. Pardi diangkat menjadi Majelis GKJ Wonogiri Pepanthan Baturetno di kelompok Ture , ibadah masih dilaksanakan di Baturetno. Pada tahun 1967 dimulai kebaktian pertama di rumah bapak Martosuyoto,(atau P.Pardi sekarang)  Carik Ture.Pada tahun 1969 B.Carik dibaptis menjadi warga Gereja. Pelayanan kotbah satu bulan sekali dilayani dari GKJ Wonogiri diantaranya P. Budoyo, P. Kasim, P. Dawud, P. Tutup. P. Warasto.

Pelayanan nikah pertama dari Ture atas diri Bapak Sukir dan Ibu Sumiyati. Pelayanan nikah pertama dilaksanakan di Pepanthan Baturetno pada tahun 1970. sejak saat itu mulai tumbuh pelayanan pernikahan dan baptisan tetapi masih dilaksanakan di Pepanthan Baturetno. Bersamaan dengan itu mulai tumbuh beberapa warga masyarakat yang mengikuti ajaran Kristen.

 

  1. Sejarah Berdirinya Gereja di Watangrejo.

Sejarah berdirinya Gereja Kristen Jawa di Watangrejo secara embrional dimulai pada tahun 1986 . Pada awalnya Bp Sarijono (seorang kepala Desa  Watangrejo dan beragama Islam) diminta  restu oleh  Ib. Suparmi  Sarijono (istri Kepala Desa tersebut) untuk kembali beribadah menurut Agama Kristen. Atas permintaan istrinya tersebut P. Sarijono akhirnya menyetujuinya (dan kelak kemudian ia mengikuti agama istrinya) Sebelumnya Ib. Suparmi beribadah di tempat asalnya di Eromoko. Mengingat jarak rumah ke Eromoko cukup jauh akhirnya bu Suparmi setelah mendapatkan informasi ada Gereja Kristen Jawa yang kebih dekat akhirnya memilih kebaktian di Giribelah yang merupakan salah satu pepanthan GKJ Baturetno. Bersamaan dengan itu pelayanan pekabaran Iinjil di Watangrejo dilayani oleh beberapa majelis dari GKJ Baturetno diantaranya adalahi Bp. Dwijo Marsono, Bp. Bejo Utomo, Bp. Paidjo, Bp. Siswoatmojo Buah dari palayanan tersebut pertumbuhan warga Gereja di Watangrejo mulai tampak. Diawali dengan masuknya  Bp. Samino (Sambiroto) sekeluarga yang menjadi Kristen, kemudian diikuti Bp. Sarijono. Sekalipun ada pertumbuhan warga gereja Kristen Ibadah Minggu tetap di GKJ Baturetnoo Pepanthan Giribelah.

 

Pergumulan masuknya Bp. Samino menjadi orang Kristen dimulai dengan diskusi dengan beberapa orang disekitarnya tentang bahasa agama yang gampang dipahami. Dari pergumulan tersebut Bp. Samino kemudian  memilih agama dengan bahasa yang mudah dipahami . Hal yang sama juga menjadi pergumulan  Bp. Sarijono yang pada akhirnya ikut memutuskan untuk memeluk agama Kristen.

 

Seiring dengan pertumbuhan warga Gereja di Waangrejo pada Th. 1987 berdasarkan usulan warga Gereja di Watangrejo, dalam persidangan Majelis GKJ Baturetno disetujui untuk membangun jemaat dalam kelompok di Watangrejo. Yang melatarbelakangi munculnya usulan pembentukan kelompok ibadah tersebut  dikarenakan kaarena pertimbangan jarak yang membutuhkan uang transport. Biaya transport yang bisa digunakan  sebagai persembahan Mengingat belum memiliki tempat peribadatan,   kebaktian dilaksanakan di rumah Bp. Sarijono, Namun status ibadah ini masih merupakan cabang (bagian dari kelompok) dari GKJ Baturetno Pepanthan Giribelah.. Jumlah keluarga yang melakukan ibadah kel Bp. Sarijono (4 orang), Kel. Samidjan (6 orang), Kel. Maharyanto (3 orang), Kel. Samino (6 orang), Kel. Suwarto (3 orang), Kel Lagiatmo – 2 orang (camat Pracimantoro), Bp. Bambang Tricahyo, Bp. Ngadiran, Bp. Daryono, Bp. Piyo, Ib. Marsiyam Ciptodasoko (2 orang) – pindahan dari Boja.

Kebaktian pertama sebagai kelompok mandiri dari pepanthan Giribelah secara resmi dilakukan pada hari Minggu tanggal 3 Januari 1988 bersamaan dengan peletakan Batu Pertama Gedung Gereja.

Sejak diresmikan menjadi kelompok dengan otoritas pengelolaan keuangan sendiri Baptisan pertama dilakukan pada tahun 1989 atas diri Bp. Samino dan Ib. Supi Samino. Kemudian disusul Bp. Sarijono bersama dengan warga Tlogosari tahun 1991 pelayanan baptisan dilakukan oleh Pdt. Darsono Eko Nugroho.

Bersamaan dengan semangat kemadirian jemaat yang  mulai tumbuh pada tahun 1988 dimulai Pembangunan Gedung Gereja kelompk Watangrejo  diatas sebidang tanah yang dihibahkan oleh Bp. Sarijono kepada GKJ Baturetno, khusunya Warga Gereja di Kelompk Watangrejo. Pembangunan Gedung Gereja dibangun dalam proses yang cukup panjang. Namun demikian walaupun belum selesai secara sempurna Gedung Gereja tersebut sudah dipergunakan untuk  tempat Kebaktian  pada awal tahun 1990 sekaligus menandai exodusnya tempat peribadatan  dari rumah Bp. Sarijono ke Gedung Gereja sendiri.

 

  1. Sejarah Berdirinya Gereja di Giribelah.

Bibit tumbuhnya kekristenan di Giribelah dimulai pada waktu kedatangan Bp. Sastrodiono seorang Pensiunan Tentara pada tahun 1970. Bp. Sastrodiono inilah yang memulai mengenalkan Kekristenan kepada masyarakat di sekitar rumahnya setiap malam. Dimulai dengan membagikan pethilan Injil kepada beberapa warga masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Dari perkenalan tentang Injil yang sepotong-potong tersebut maka ketertarikan akan Kekristenan mulai tumbuh. Semula yang tertarik adalah Bp.Tumin, Bp. Kasno, Bp. Kariomedjo, Bp. Sonokaryo, Bp. Sadrach Kirno, Bp. Sonosemito, Bp. Kromotiko. Dalam pengajaran sehari-hari yang digunakan adalah Babad kitab Suci. Pengajarana dilakukan sendiri oleh Bp. Sastrodiono sebatas kemampuan yang dimilikinya. Dari hari kehari, bukan kebulan, pada akhirnya yang tertarik untuk mempelajari tentang agama kristen berkembang semakin banyak. Kerena keterbatasannya  maka atas inisitatif Bp.Sastrodiono didatangkanlah seorang Guru Injil dari Baturetno yang ditugasi oleh GKJ Wonogiri sebagai guru Injil untuk mengajar di Giribelah. Rekomendasi ini disampaiakn oleh Bp. Atmadi warga GKJ Wonogiri yang secara kebetulan enjadi camat di Giritontro.

Pesatnya perkembangan penyebaran pekabaran injil di Giribelah yang cukup pesat menarik perhatian majelis Gereja Kristen Jawa Wonogiri. Pada awal tahun 1972 kemudian mengirim beberapa Majelisnya baik dari induk Wonogiri maupun dari pepanthan Baturetno secara rutin untuk melakukan pelayanan di Giribelah. Dalam tahun ini belum dilakukan Kebaktian, melainkan hanya Pengajaran Katekisasi, dan persiapan sebagai kelompok..

Pada awal tahun 1973 mulai diadakan Kebaktian dengan pelayanan dari GKJ Wonogiri. Kegiatan ibadah dilakukan di rumah  Bp. Sastrodiono. Hal ini berlangsung sampai dengan tahun 1977 . Baptisan Pertama secara Massal diikuti sekitar 50 warga Giribelah terjadi pada tanggal 23 Oktober 1973 yang dilayani oleh 2 orang pendeta yaitu Pdt. Hastosumarto dan Pdt. Suyadi Hadi Nugroho..

Pada awalnya Pelayanan Perjamuan Kudus masih dilakukan di Wonogiri. Mengingat semakin banyaknya jumlah warga gereja dewasa Perjamuan Kudus di Giribelah dilayani secara khusus. Catatan yang menarik pada awal dimulainya perjamuan kudus di Giribelah adalah sulitnya mendapatkan roti tawar dan anggur. Sebagai dasariah sakramen diganti makanan khas setempat. 

Kegiatan awal orang-orang Kristen di Giribelah setelah baptisan adalah Kebaktian Minggu dan Pemahaman Alkitab Malam Minggu. Untuk pelayanan bagi anak-anak dilayankan Sekolah Minggu bersamaan dengan Kebaktian Minggu. Perkembangan berikutnya ditahbiskanlah Majelis di Giribelah atas diri Bp. Martoyo dan Bp. Sastrodiono. Dengan demikian status Giribelah adalah pepanthan dari GKJ Wonogiri. Sebelumnya pelayanan katekisasi, dan kebaktian di Giribelah dilayani oleh GKJ Induk Wonogiri dan Pepanthan Baturetno.

 Gelombang kedua pendalaman Kekristenan dimulai pada masa Bp. Giyono seorang Pembantu Pendeta GKJ Wonogiri bagian Selatan pada tahun 1976. Tugasnya adalah membantu Bp. Padmomiharjo dalam mengabarkan Injil di wilayah selatan Wonogiri..

Pada tahun1986 GKJ Wonogiri kemudian mendewasakan wilayah pelayanannya di bagian Selatan menjadi GKJ Baturetno, wilayah pelayanannnya termasuk Giribelah.

Perkembangan berikutnya wilayah penyebaran Kekristenan di Giribelah berkembang di daerah Watangrejo, Tlogosari dan kemudian Giritontro. Watangrejo memisahkan diri dikarenakan jarak yang jauh. Sedangkan pertumbuhan di Tlogosari dikarenakan seorang PNS yang beragama Kristen tinggal di sana. Giritontro menjadi bagian dari Giribelah dikarenakan tutupnya pelayanan Gereja GSPII.

 

  1. Sejarah Berdirinya Gereja di Tirtomoyo.

Pada tahun 1927 di Tirtomoyo didatangi utusan Zending dari Nederland. Zending pertama berasal dari Mojowarno. Pada tahun 1939 di Tirtomoyo sering didatangi Pdt. Van Andel dari Dokter Rumah Sakit Jebres – Solo dan mulai saat itu diadakan kelompok orang percaya kepada Kristus. Kemudian mendirikan tempat ibadah berbentuk rumah kampung yang berdinding bilik bambu (gedhek), bertempat di utara Pasar Kecamatan Tirtomoyo. Kelompok Tirtomoyo menjadi patner Gereja Nederland, adapun sebagai Guru Injil yang pertama adalah Ndoro Guru Dirjo Sewoyo. Beliau dijuluki Ndoro Guru dari Jogjakarta dan sebagai guru Injil dari tahun 1927-1949.

 

Anggota persekutuan pertama :

  1. Marto Dikaryo (mbah Bawuk) – Krendetan Lor, Hargantoro
  2. Yakubus – Naiban, Tirtomoyo
  3. Karyo Trapsilo – Demang, Tirtomoyo
  4. Marto Kasiyo (sekeluraga) –  Tonggoro, Nawangan, Jatim
  5. Sodikromo – Naiban, Tirtomoyo
  6. Mbah Paul – Demangan, Tirtomoyo

 

 

Ndoro Dirjo Sewoyo kemudian pindah tempat tugasnya dari Tirtomoyo ke tempat yang lain yang tidak diketahui pada tahun 1949, lalu duiganti Bp. Tirto Sudarmo berasal dari Selogiri, Wonogiri sebagai Guru Injil yang kedua. Kemudian ada tambahan anggota warga yaitu keluarga Bp. Reso Dikromo.

 

Pada tahun 1958 , Bp. Tirto Sudarmo pensiun dan meninggal dunia di Selogiri Wonogiri. Bp. TirtoSudarmo meninggal dunia dan digantikan oleh B. Reso Dikromo, sebagai Guru Injil yang ketiga, yang berasal dari Slogohimo dan menetap di Tirtomoyo. Dan pada waktu inilah terbentuk pepanthan Tirtomoyo yang meningduk di GKJ Wonogiri dengan Gembala :

  1. Pdt. Hastosumarto
  2. Pdt. Suyadi Hadinugroho.

 

Majelis pepanthan Tirtomoyo angkatan pertama :

  1. Bp. Ciptosumarto – sebagai Guru SR / Penilik SR Tirtomoyo
  2. Bp. Tirto Sentono – sebagai Kepala Lingkungan Cangkring
  3. Bp. Wakito – Cangkring

 

Majelis pepanthan Tirtomoyo angkatan kedua :

  1. Bp. Bandi Dwijo Atmojo – sebagai Guru SR
  2. Bp. Darmo Wiyono – sebagai Pengawas TCPS (Treponema Control Program Slepevait)
  3. Bp. Hadi Wiyono – sebagai Pegawai Kesehatan Tirtomoyo

 

Jumlah warga + ada 12 keluarga :

  1. Kel. Bp. Reso Dikromo – Naiban
  2. Kel. Bp. Reso Sumarto – Tirtomoyo
  3. Kel. Bp. Cipto Sumarto – Sembung
  4. Kel. Bp. Wiryo Wiyono – Sembung
  5. Kel. Ib. Dini – Sembung
  6. Kel. Bp. Tirto Sentono – Cangkring
  7. Kel. Bp. Wakito – Cangring
  8. Kel. Bp. Darmo Wiyono – Tirtomoyo
  9. Kel. Bp. Karto Semito – Cangkring
  10. Kel. Bp. Karto Sentono – Tenggoro.
  11. Kel. Bp. Bandi Dwijo Atmojo – Tirtomoyo
  12. Kel. Bp. Marto Dikaryo – Krendetan.

 

  1. Sejarah Berdirinya Gereja di Beji, Baturetno dan Giriwoyo masih dalam penyusuna).

 

 

  1. Merphin Panjaitan M.Si

Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Jl. Mayjen Sutoyo, Cawang Jakarta Timur

Telp. Rumah – pagi 06.00 WIB (021) 7870818