Info Kontak:

: Jl. Jatiluhur Raya, RT.001 RW.013, Komp. Pengairan, Kel. Jakasampurna, Bekasi 17145

: 0218 840760

: gkjbekasi@yahoo.com

: www.gkjbekasi.org

Pendeta:

  • Pdt. Kartini Astuti, S.Si.
  • Pdt. Oktavianus Heri Prasetyo Nugroho, M.Si.
  • Pdt. Temi Setyowati, S.Si.
  • Pdt. Em. Suwandi Martoutomo, S.Th. (Emeritus)

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 06.00
  2. Minggu, Pk. 09.00
  3. Minggu, Pk. 17.00

Profil dan Sejarah:

DINAMIKA  GKJ  BEKASI

DALAM  MENCARI  IDENTITAS  DAN  RUANG  GERAK

DALAM  MASYARAKAT  PLURAL

 

 

I.                   Pendahuluan

1.1. Titik Tolak Permasalahan

Hanya ada satu jawaban ketika orang bertanya apakah ada Gereja Kristen Jawa di Bekasi yakni sebuah gereja yang terletak di Jl.Jatiluhur Raya, Komplek Pengairan, Jakasampurna Bekasi Barat dengan kode pos 17145. Jawaban ini pasti karena baik di Kota maupun di Kabupaten Bekasi memang hanya terdapat satu Gereja Kristen Jawa.

Meskipun hanya memiliki satu alamat namun tidak demikian halnya dengan pelaksanaan peribadahan. GKJ Bekasi melaksanakan beberapa kali Ibadah Minggu yang dilaksanakan di 4 tempat ibadah. Di Jatiluhur, dengan alamat seperti diatas, dilaksanakan tiga kali ibadah pada jam 06.00, 09.00, 17.00, satu kali ibadah dilaksanakan di Gedung Pertemuan Departemen Sosial (Dep-Sos) Bulak Kapal Bekasi Timur pada jam 06.00, satu kali ibadah di Ruko Permata Hijau Bekasi Utara pada jam 09.00 dan satu lagi dilaksanakan di Ruko UNION Lippo Cikarang jam 07.00. Pada masing-masing Ibadah Minggu tersebut dilaksanakan 2 macam ibadah yakni Ibadah Umum Minggu dan Ibadah Anak (tentunya dengan menggunakan ruangan yang berbeda). Belum lagi ditambah Ibadah Pra-Remaja jam 06.00 dan Ibadah Remaja jam 09.00 di Jatiluhur, juga Ibadah Pemuda-Remaja jam 06.00 di Dep-Sos. Sehingga kalau dijumlah, dalam satu hari Minggu, maka GKJ Bekasi melaksanakan 15 pelayanan ibadah.

Pelaksanaan ibadah 15 kali setiap minggu dengan menggunakan 4 tempat berbeda ini bertujuan untuk menjangkau 813 KK yang terdiri atas 3051 jiwa warga GKJ Bekasi (2091 warga dewasa dan 960 jemaat anak)[1] yang tersebar seantero Bekasi,  Cikarang dan juga Karawang. Selain dengan mengadakan sejumlah ibadah tersebut, sejak tahun 2000 GKJ Bekasi telah membagi wilayah pelayanannya dalam 24 kelompok dengan tujuan agar pembinaan dan pemeliharaan  iman dapat berlangsung lebih efektif dan efisien, baik bagi yang melayani maupun yang dilayani.

Dalam melaksanakan pelayanan kepada jemaatnya, GKJ Bekasi diawaki oleh 51 anggota majelis dengan komposisi kemajelisan GKJ Bekasi adalah 34 orang Penatua, 15 orang Diaken dan 2 orang Pendeta.

Selain berupaya mengintensifkan pelayanan melalui pembagian kelompok, GKJ Bekasi juga menyusun Visi dan Misi. Penyusunan Visi dan Misi yang berlangsung sejak tahun 1999-2002 ini memiliki tujuan agar supaya pelayanan GKJ Bekasi baik kedalam maupun keluar memiliki arah yang jelas dan dilakukan secara berkesinambungan. Adapun visi dari GKJ Bekasi adalah Menjadi Gereja Dengan Kualitas Berjemaat Yang Tinggi, Bertumbuh Kembang dan Menjadi Saluran Berkat. Visi ini kemudian diterjemahkan dalam misi untuk 15 tahun kedepan terhitung sejak tanggal 1 April 2002 dengan pembagian 3 periode ;

  1. Misi lima tahun pertama adalah Membangun Warga Jemaat Menjadi Gereja Dengan Kualitas Berjemaat Yang Tinggi
  2. Misi lima tahun kedua adalah Membangun Dinamika Berjemaat Agar Kualitas Warga Jemaat dan Persekutuan Jemaat Dapat Berkembang Dari Waktu ke Waktu
  3. Misi lima tahun ketiga adalah Membangun Kehidupan Jemaat Agar Dapat Menjadi Saluran Berkat Bagi Sesamanya

Inilah sekelumit kecil tentang GKJ Bekasi saat ini, sebuah gereja kristen jawa yang memiliki wilayah pelayanan di Kota dan Kabupaten Bekasi dan terus berkembang khususnya ke arah utara (batas laut) dan kearah timur (sampai ujung timur Jawa Barat bagian Utara mungkin). Sebuah wilayah pelayanan yang sangat luas, yang kini terbentang, yang mungkin tak terbayangkan oleh para pendiri GKJ Bekasi yang memulai dengan sekelompok keluarga saja.

Namun dari situ jugalah tanda tanya dan daya tarik akan GKJ Bekasi dimulai. Bagaimana mungkin sebuah persekutuan yang dimulai dari segelintir orang bisa berubah menjadi gereja yang sedemikian besar? Dan bagaimana pula segelintir orang yang memulai persekutuan di daerah pinggiran Jakarta bisa menjelma menjadi gereja besar ditengah kota sebesar Bekasi dan memiliki wilayah pelayanan meliputi seantero Bekasi? Pertanyaan ini akan kita coba jawab dengan menengok kembali sejarah perjalanan GKJ Bekasi.

            1.2. Metodologi dan  Cara Pendekatan

Dalam menengok sejarah GKJ Bekasi ini kita akan menggunakan satu metode penelitian sejarah yang berbasis pada sejarah lokal yakni sejarah orang-orang di Bekasi dalam membangun komunitas keagamaannya. Meskipun penelusuran sejarah ini berbasis pada sejarah lokal, hubungan dengan pusat juga tidak ditinggalkan sama sekali karena lokalitas hanya muncul jika ada pusat. Namun penemuan dinamika, prakarsa dan motivasi lokallah yang menjadi titik berat dari penulisan sejarah ini. Oleh karena itulah dalam penulisan sejarah ini metodologi yang dipakai adalah :

  1. Mengutamakan penelitian lapangan yang bersifat etnografis
  2. Pengumpulan kisah, cerita dan isu lokal
  3. Membuat life history orang-orang lokal yang dipilih secara acak
  4. Melakukan wawancara mendalam kepada responden ketika dibutuhkan informasi lebih mendalam dari life history yang telah ada
  5. Observasi

 Melalui metodologi ini interaksi keseharian dari pengalaman keagamaan yang menghasilkan praktek keagamaan lokal akan terekam dan akan menjadi cerita khas dari sejarah setempat.

 

II.                Mengenal Masyarakat  Plural  Bekasi

 

Bekasi adalah buffer zone  DKI Jakarta di sebelah timur, itulah julukan sekaligus fungsi Bekasi. Peralihan fungsi dari daerah persawahan yang menjadi identitas Bekasi sebelumnya terjadi mulai tahun 1976 ketika sebuah INPRES No. 13/1976 menetapkan Bekasi sebagai salah satu wilayah BOTABEK (Bogor, Tangerang, Bekasi) yang menyangga Jakarta. Artinya Bekasi harus ‘berperan serta’ menyediakan lahan perumahan bagi kebutuhan warga Jakarta. Bukan hanya itu, Bekasi juga mengalami perubahan prilaku dari daerah agraris menjadi daerah industri ketika PERDA No. 13/1988 menetapkan Bekasi menjadi zona industri dan kawasan industri.[2]

Dari kedua ciri khas ini, perumahan dan industri, maka kita bisa sedikit melakukan pemisahan ciri khas. Kota Bekasi lebih dikenal sebagai daerah perumahan dan kabupaten Bekasi lebih dikenal sebagai daerah Industri.[3] Kedua fungsi kota Bekasi inilah yang kemudian menciptakan angka pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, baik perpindahan dari Jakarta maupun arus urban yang langsung memilih Bekasi sebagai tempat tinggal. Ini berakibat pada kepadatan di Kota Bekasi yang telah mencapai 7.780 orang/km2

Di tengah-tengah kota perumahan yang menampung berbagai macam budaya, agama dan keragaman latar belakang ekonomi baik dari kaum migran maupun penduduk asli inilah terletak tiga tempat ibadah GKJ Bekasi yakni di Jatiluhur, Ruko Permata Hijau dan Bulak Kapal. Sedangkan satu tempat ibadah lainnya yakni Cikarang berada di Kabupaten Bekasi yang disesaki pabrik dan sentra-sentra industri.  Meskipun keempat tempat ibadah berbeda letak, ada yang di Kota Bekasi dan ada yang kabupaten Bekasi, namun masih ada kesamaannya yakni sama-sama berhawa panas dan semrawut.

Secara khusus, (gedung) GKJ Bekasi terletak diseputar Perumnas I Bekasi  yang merupakan salah satu perumahan awal di daerah Bekasi. Perumnas ini dikembangkan sejak akhir dekade 70-an. Sebagaimana peruntukannya, perumnas I ini kemudian segera dipadati oleh warga DKI Jakarta serta kaum urban baru. Seiring dengan pembangunan dan perpindahan penduduk DKI Jakarta serta dari kota dan daerah-daerah lainnya maka penduduk asli Bekasi mulai tergeser ke arah  luar perumahan.

Perpindahan penduduk ini juga mengakibatkan munculnya rumah-rumah ibadah sebagai sarana pemenuhan kebutuhan rohani, baik di dalam lingkungan perumahan ataupun di luar lingkungan perumahan. GKJ Bekasi pun muncul sebagai akibat dari perpindahan penduduk ke Bekasi ini.

Menempati tanah yang diperoleh dari Dinas Pengairan dan berada di Komplek Pengairan adalah keberadaan GKJ Bekasi saat  ini. Letak GKJ Bekasi di komplek ini cukup representatif karena mudah dijangkau dan dekat dengan komunitas GKJ Bekasi kala itu meskipun yang tinggal di Komplek ini sedikit. Bukan hanya itu saja, GKJ Bekasi dibangun tepat bersebelahan dengan Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi dan hanya berjarak + 500 meter dari Masjid As-Salam. Maklum karena memang tanah yang diberikan oleh Dinas Pengairan sudah dibagi seperti itu.

Bersebelahan dengan rumah ibadah yang lain serta sedikitnya jumlah jemaat di lingkungan perumahan tempat GKJ Bekasi berada tentu menjadi hal yang menarik untuk dicermati. Untuk mencermatinya mari kita melihat bagaimana pertumbuhan jemaat GKJ Bekasi sampai bisa menempati lahan tersebut.

 

III.             Berkumpulnya Orang Jawa-Kristen di Bekasi

  • Berkumpulnya Jemaat Migran

Pertumbuhan perumahan demi perumahan yang terjadi di Bekasi adalah awal dari munculnya GKJ Bekasi. Berawal dari keberadaan Perumnas I Bekasi kemudian disusul dengan menjamurnya perumahan di Bekasi yang merupakan solusi kepadatan penduduk di Jakarta sekaligus solusi keterjangkauan harga perumahan bagi para pendatang baru yang bekerja di Jakarta.

Komunitas GKJ Bekasi sendiri diawali oleh keluarga-keluarga yang pindah rumah ke Bekasi. Sebagian besar  dari mereka yang pindah ke Bekasi ini adalah orang-orang yang minimal telah berpindah sebanyak 2 kali yakni dari berpindah dari daerah asal masing-masing (diluar DKI Jakarta) menuju Jakarta kemudian baru pindah ke Bekasi. Ada juga yang memang merupakan ‘anak Jakarta’ yang kemudian pindah ke Bekasi.[4]  Ada pula ‘anak Jakarta’ yang lahir di Jakarta, besar di daerah ( di luar Jakarta) kemudian pindah lagi ke Jakarta lalu pindah lagi menuju Bekasi.[5]

Mereka yang pindah ke Bekasi ini punya alasan masing-masing, ada yang mengatakan karena Jakarta sudah terlalu padat dan lalu lintas macet atau harga rumah di Jakarta tidak terjangkau, atau dapat jatah perumahannya kebetulan di Bekasi dan sebagainya. Dari semua alasan ini ada satu fenomena yang menarik yaitu semua menjadi lebih jauh dan membutuhkan waktu lebih lama menuju tempat bekerja. Sekalipun begitu, toh dengan alasan masing-masing mereka tetap pindah ke Bekasi dengan konsekwensi berangkat bekerja lebih awal dan pulang lebih lambat. Kenyataan berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam adalah hal yang kini sudah menjadi kewajaran bagi masyarakat migran Bekasi saat ini. Namun dulu, alasan menghindari macet memang merupakan salah satu alasan yang tepat.

Berkumpulnya orang-orang yang menyatu di berbagai perumahan ini kemudian juga memunculkan komunitas-komunitas rohani, termasuk didalamnya komunitas kristen protestan. Komunitas ini berisi orang-orang kristen protestan yang sebelumnya sudah bergereja di Jakarta termasuk di GKJ Jakarta. Komunitas ini berkumpul dan menyelenggarakan persekutuan Oikoumene Perumnas I. Hal ini terjadi mengingat jarak yang cukup jauh kalau harus beribadah di gereja masing-masing yang berada di Jakarta. Persekutuan ini sendiri terselenggara berkat kerja keras Bpk. Sidabutar yang rajin berkunjung dari satu rumah orang kristen ke rumah yang lain tanpa memperdulikan asal gerejanya. Dari persekutuan oikoumene inilah kemudian bertemu beberapa orang jawa-kristen  jemaat GKJ Jakarta, diantaranya Kel. Soemadhi, Kel. Ibu Katarina Sri Yudani dan Kel. Margono.

Hampir bersamaan dengan bersekutunya warga-warga GKJ Jakarta di persekutuan Oikoumene, perpindahan tempat tinggal beberapa warga GKJ Jakarta ini kemudian juga disikapi  oleh GKJ Jakarta melalui Penatua Soerono yang saat itu melayani daerah Cakung. Melalui Penatua Soerono inilah pada akhir tahun 1979 dimulailah perkunjungan ke warga-warga GKJ Jakarta yang tinggal di perumnas I. Hal ini dilakukan GKJ Jakarta sebagai bentuk pemeliharaan iman warga jemaatnya dimanapun mereka berada. Perkunjungan yang dilakukan oleh Pnt. Soerono selaku majelis GKJ Jakarta ini ditempuh melalui ruas jalan raya bekasi yang baru satu jalur, melewati jalan tanah yang berlumpur kala hujan bahkan ada kalanya Pnt. Soerono menggunakan ‘gèthèk’ kala harus menyeberangi rawa-rawa. Bukan hanya dengan perkunjungan namun Pn. Soerono juga kemudian mempersilahkan warga GKJ Jakarta yang ada di Perumnas I untuk bergabung dengan kelompok Cakung.

Perpindahan warga GKJ Jakarta yang tinggal di Jakarta ke Bekasi ini kemudian disikapi dengan disiapkannya seorang Penatua atas diri Bpk Sugeng Effendi pada tahun 1981 untuk melayani daerah Bekasi.

Pertumbuhan kelompok GKJ Jakarta di Bekasi ini ternyata  bukan hanya soal jumlah namun juga semakin meluas. Bermula dari arahan GKJ Jakarta yang menyarankan beberapa warganya di daerah INKOPOL antara lain Kel. Sri Mulyanto, Kel. Purwatmo, Kel. Paitono dan Kel. Subianto untuk bergabung dalam kelompok Perumnas I. Keluarga-keluarga ini semula telah beribadah di GKO INKOPOL dibawah  pimpinan Pdt. Watimena dari GPIB namun karena keinginan yang kuat untuk tetap ‘berbaju’  GKJ maka mereka pun ingin menyelengggarakan ibadah sendiri sebagai ‘anak’ GKJ Jakarta. Hal ini karena mereka belum tau bahwa sebenarnya sudah ada komunitas GKJ Jakarta di Perumnas I. Motivasi untuk tetap berbaju GKJ ini tentunya menarik, salah satunya adalah tidak mau kalah dengan wilayah-wilayah pengembangan GKJ Jakarta yang lain yakni Wilayah Tanjung Priuk[6] dan juga Nehemia (Pondok Indah) serta Pasar Minggu.[7]

Pertambahan jumlah dan daerah pelayanan yang semakin meluas ini ternyata juga menyisakan masalah. Bersekutu kembali dengan orang GKJ padahal sejak pindah ke Bekasi telah bergabung dengan GKO (Perumnas I dan INKOPOL) bahkan aktif didalamnya adalah masalah yang dihadapi. Permasalahan ini kemudian disikapi dengan ‘pisowanan’ yang dilakukan oleh Pdt. Suwandi dan Bpk. Sugeng Effendi ke GKO. Perkunjungan ini bukan hanya dimaksudkan untuk menjernihkan persoalan yang ada serta menjelaskan keinginan warga GKJ namun juga sebagai sebuah penghargaan dan terima kasih karena bagaimanapun juga GKO telah berperan untuk menjagai iman percaya warga GKJ untuk sementara waktu.

Dengan selesainya persoalan dengan GKO dan semakin menyebarnya daerah pelayanan ke Perumnas II, Bekasi Kota dan Jakasetia  serta semakin besarnya jumlah warga GKJ Jakarta di Bekasi maka pada tanggal 6 Februari 1983 GKJ Jakarta menetapkan kelompok-kelompok yang ada di Bekasi ditambah dengan Kelompok Cakung menjadi GKJ Jakarta Wilayah Bekasi.

Penetapan tanggal sebagai wilayah ini semakin memiliki arti sejarah ketika pada tangal tersebut kelompok Bekasi mendapat tempat beribadah di Sekolah Luar Biasa ( SLB ) Sriwedari. Pemakaian tempat di SLB merupakan bentuk dukungan dari Ibu Waluyo kepada kelompok Bekasi semakin besar dan memerlukan tempat ibadah.

  • Ingin Memiliki Gedung Gereja

Saat ditetapkan sebagai wilayah, jemaat Wilayah Bekasi berjumlah 60 KK dan terus bertambah, bahkan pada akhir tahun 1984 telah mencapai hampir 2 kali lipat yakni 119 KK. Perkembangan ini antara lain dicapai dengan sikap majelis yang segera melakukan perkunjungan ketika mendengar atau mendapat info tentang keberadaan seorang migran baru yang berasal dari GKJ manapun[8] serta kemauan keras warga jemaat untuk melayani warga-warga yang jauh.[9]  Ketua-ketua kelompok dan juga warga kelompok tempat migran baru juga tidak ketinggalan menjadi salah faktor cepatnya pertumbuhan Wilayah Bekasi. Sebagai contoh adanya ‘tradisi grubyukkan’ di Kelompok Bekasi Kota (saat itu). Sebuah tradisi yang melibatkan hampir semua anggota kelompok ketika ‘sowan’ kerumah migran baru.[10]

Pada satu sisi pertambahan jumlah ini tentu menggembirakan namun pada sisi lain menuntut adanya tempat ibadah yang lebih luas.  Oleh karena itulah kelima Majelis gereja saat itu yakni Pnt. Sugeng Effendi, Pnt. Suharto Kartomoyo, Pnt. Warsito, Pnt. Soerono dan Dkn. Pryambodo beserta seluruh jemaat bersepakat untuk mulai memikirkan memiliki gedung gereja sendiri sebagaimana lazimnya wilayah-wilayah lain dari GKJ Jakarta. Kesepakatan ini membuahkan lahirnya sebuah badan yakni Badan Pelaksana Pembangunan Gedung Gereja (BPPG) Bekasi yang diketuai oleh Pnt. Soeharto Kartomoyo. Badan inilah yang diserahi tanggungjawab untuk membangun Gedung Gereja GKJ Bekasi.

Dari keinginan ini maka mulailah digaungkan semangat untuk memiliki gedung gereja sendiri. Semangat  ini dimulai dengan penggalangan dana dan pencarian tanah untuk gedung gereja. Semangat ini akhirnya membuahkan hasil pada tahun 1986 ketika Ibu Kristin memberi informasi bahwa ada sebidang tanah di Kayu Ringin yang akan dijual. Semangat dan kebersamaan yang tinggi jemaat terwujud melalui keterlibatan membeli tanah dengan cara mempersembahkan sejumlah dana sesuai dengan luas tanah yang hendak dipersembahkan. Satu meter , dua meter, sepuluh meter, seratus meter dan akhirnya terkumpul tanah seluas 1550m2. Namun karena tanah tersebut terletak di luar Komplek Bumi Satria Kencana (BSK) maka  pembelian tanah dilanjutkan dengan membeli 150m2  sebagai jalan penghubung ke Komplek BSK.

Tanah sudah dibeli, kini perjuangan baru ada dihadapan jemaat GKJ Jakarta Wilayah Bekasi yaitu membangun gedung gereja.

IV.             Membangun Gedung Gereja

  • Menebar Benih di Kayu Ringin

Daerah Kayu Ringin adalah daerah yang terletak disisi luar Perumahan Bumi Satria Kencana (BSK). Merupakan daerah perkampungan dimana mayoritas penghuninya merupakan penduduk asli Bekasi yang sebagian besar kaum muslim. Ditengah-tengah komunitas itulah warga jemaat Bekasi membeli tanah untuk dibangun gereja meskipun saat itu tidak ada warga jemaat Bekasi yang tidak tinggal disana.

Selain terletak ditengah perkampungan dan tidak memiliki warga jemaat yang tinggal disana, posisi tanah tersebut tidak memiliki akses jalan yang cukup memadai. Tanah tersebut berjarak cukup jauh dari jalan raya, ruas jalannya sempit dan belum diaspal. Untuk mengatasi hal tersebut maka BPPG Bekasi segera membuka akses jalan menuju perumahan BSK. Namun hal itu ternyata mendatangkan persoalan dengan pihak pengembang perumahan BSK. Persoalan itu adalah pihak pengembang perumahan BSK tidak diajak berkoordinasi oleh BPPG Bekasi. Akibatnya adalah penutupan kembali akses jalan yang telah disiapkan BPPG Bekasi oleh pihak pengembang perumahan BSK.[11]

Seiring dengan pencarian jalan keluar atas permasalahan jalan tersebut, pendekatan berupa kunjungan terhadap warga sekitar dilakukan oleh BPPG Bekasi untuk menyampaikan keinginan membangun gereja diatas tanah tersebut. Mendengar perjelasan tersebut masyarakat Kayu Ringin dan sekitarnya mengatakan bahwa tidak menghendaki ditengah-tengah perkampungan mereka berdiri gereja. Alasannya pun cukup bisa dipahami yakni karena tidak ada masyarakat Kayu Ringin yang merasa membutuhkan gereja apalagi tak ada satupun warga Kayu Ringin yang menjadi anggota jemaat GKJ.

Kenyataan ini tidak menyurutkan niat warga GKJ Jakarta Wilayah Bekasi untuk membangun gereja disana. Tetap dikomandoi oleh BPPG Bekasi yang diketuai oleh Bpk. Suharto Kartomojo, pendekatan terhadap masyarakat sekitar terus dilakukan. Upaya pendekatan itu dimulai dengan ‘pisowanan’ kepada beberapa pemuka masyarakat dan pemuka agama di Kayu Ringin. Dari hasil ‘pisowanan’ tersebut didapati beberapa hal yang bisa dilakukan bersama sebagai bentuk kehadiran gereja disana.

Hal pertama adalah penduduk yang tinggal di belakang tanah gereja tersebut membutuhkan akses jalan keluar karena lahan kosong yang semula dipakai sebagai jalan telah dibeli gereja. Akses itu hanya bisa kalau gereja merelakan sebagian tanahnya untuk diwakafkan sebagai jalan. Karena ada kepentingan yang lebih besar yakni membuka komunikasi dengan masyarakat maka gerejapun merelakan sebagian tanahnya untuk dibuat jalan. Hal selanjutnya adalah pengerasan jalan kampung. Selain untuk kepentingan masyarakat sekitar hal itu juga merupakan jalan menuju tanah gereja. Maka pada tahun 1988 dilakukan pengerasan jalan yang dibiayai oleh jemaat Bekasi.[12]

Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh jemaat Bekasi ternyata belum juga membuahkan hasil, masyarakat Kayu Ringin masih tidak berkenan dengan kehadiran gereja. Namun hal ini tetap tidak menyurutkan langkah jemaat Bekasi, dan beberapa hal lain selain ‘pisowanan’ pun mulai ditempuh. Mengingat kondisi masyarakat perkampungan yang memang nampak terjadi kesenjangan ekonomi dengan masyarakat perumahan maka jemaat Bekasi berinisiatif melakukan pembagian sembako dan bingkisan lebaran. Hal ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Kayu Ringin, terbukti hal ini terus dapat dilakukan ulang sebanyak 3 kali sampai tahun 1991.[13]  Setelah beberapa bhaksi sosial tersebut, BPPG Bekasi pun kembali melakukan perkunjungan ke Ketua RT dan juga warga setempat untuk membicarakan rencana pembangunan gereja. Dari jawaban paling halus seperti,”Kalau soal sembako itu silahkan saja, namun soal membangun gereja nanti dulu”, sampai bentuk jawaban yang paling keras seperti,”Tanah betawi tidak untuk didiriin gereja!” adalah hasil dari perkunjungan itu.[14]

Ketika upaya ijin membangun gereja melalui bhakti sosial belum berhasil maka jemaat Bekasi memikirkan untuk tidak langsung menghadirkan gereja di Kayu Ringin namun menghadirkan Klinik Kesehatan. Upaya ini dimaksudkan untuk mendekatkan komunitas gereja dan masyarakat serta menunjukkan kepedulian gereja pada masyarakat setempat. Ketika rencana ini disampaikan kepada pihak kelurahan, ternyata niat itu ditolak oleh pihak Kelurahan dan masyarakat Kayu Ringin karena hal itu dianggap sebagai strategi untuk suatu saat kelak akan tetap membangun gereja.[15]

Ketika upaya demi upaya terus dilakukan dan penolakan demi penolakan juga terus dituai namun terobosan demi terobosan  lain tetap terus dipikirkan dan tak ketinggalan Tim Doa yang senantiasa ‘nyenyuwun’ supaya Tuhan mengkaruniakan gedung gereja kepada jemaat Bekasi. Menabur kasih dengan tiada henti itulah penggambaran yang pas bagi kehidupan jemaat Bekasi saat itu.

  • Bertumbuh di Jatiluhur

Ditengah upaya menghadirkan gereja di Kayu Ringin terus dilakukan, sebuah berita yang sangat menggembirakan diterima jemaat Bekasi. Betapa tidak ditengah penolakan yang tiada henti, pada tahun 1991 Tuhan mengkaruniakan berkat berupa tanah melalui Bapak Soebandi yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. [16]  Bapak Soebandi, yang saat itu menjabat Dirjen Pengairan di Departemen Pekerjaan Umum, meminta Bapak Agus Pratiknyo dan beberapa anak buahnya yang beragama kristen untuk memanfaatkan tanah di Komplek Pengairan Jatiluhur seluas 2000m2. Tanah ini memang disediakan untuk geeja bagi umat Kristen Protestan. Peluang ini langsung disambut oleh Bpk. Agus Pratiknyo yang juga anggota jemaat Bekasi dengan memberikan info melalui kepada BPPG Bekasi melalui Yayasan Pembangunan Gereja (YPG) yang ada di GKJ Jakarta. Info inipun segera ditindaklanjuti oleh BPPG Bekasi dalam hal ini Bpk. Suharto Kartomoyo selaku ketua BPPG dengan segera mengurus Ijin Hak Pinjam Pakai dari Departemen PU.

Pergumulan dan upaya menembus ‘jalan buntu’ untuk membangun gereja di Kayu Ringin telah dijawab Tuhan dengan berkat di Komplek Pengairan Jatiluhur.  Sudah barang tentu anugerah ini disambut dengan penuh syukur oleh jemaat Bekasi. Rasa syukur atas anugerah dan antusiasme jemaat Bekasi untuk segera memiliki gereja ini dapat kita lihat dari semangat jemaat Bekasi yang berbondong-bondong menuju tanah di Jatiluhur untuk bekerja bhakti pada hari minggu setelah beribadah di SLB Sriwedari, paling tidak satu bulan satu kali. Kerja bhakti itu meliputi membersihkan rumput, membersihkan sungai dari sampah sampai menggali selokan di halaman gereja.[17] Perkembangan yang kemudian terjadi adalah pembangunan Gedung Gereja Kristen Jawa Bekasi yang ditandai dengan peletakan batu pertama pada Perayaan Paskah tahun 1992.

Bersamaan dengan aktifitas pembangunan gedung gereja, jemaat Bekasi juga terus mengalami perkembangan. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah jemaat mencapai 388KK dengan jumlah jiwa sebanyak 1467 pada pertengahan tahun 1993 serta wilayah pelayanan yang makin meluas sampai Pekayon dan Perumnas III di Bekasi Timur. Dengan semakin berkembangnya jumlah jemaat dan wilayah pelayanan maka pada tanggal 10 September 1993 Wilayah Bekasi dinyatakan sebagai Wilayah Pra-Kelola Penuh. Masa Pra-Kelola Penuh tersebut dimulai pada tahun anggaran 1993 yakni tanggal 1 April 1993.

Terus mencari dana untuk membangun dan terus bertumbuh besar sebagai jemaat menjadikan banyak orang memandang Wilayah Bekasi dengan penuh kekaguman. Namun jangan lupa bahwa ‘Kebesaran’ ini tidak dicapai dengan berpangku tangan. Banyak hal dikerjakan dan banyak hal dikorbankan. Jika dahulu perjuangan di Perumnas I dan Inkopol diwarnai dengan naik ‘gèthèk’ maka kala menjangkau ke daerah Tambun, jalanan licin dan  berlumpur yang siap ‘menjebak’ kendaraan ditengah-tengah kubangan menjadi teman akrab kala hujan.[18]  Lain lagi untuk halnya ketika jangkauan mengarah ke Utara, maka badan harus siap-siap pegal-pegal karena sebelum berangkat ibadah di Wisma Asri perlu mengangkut kursi, tikar dan perlengkapan ibadah yang lain. Maklum, saat itu Taman kanak-kanak (TK) Anugerah di Wisma Asri yang dipakai ibadah pada tahun 1992 memang hanya menyediakan ruangan.[19] Inilah harga yang harus dibayar untuk pertumbuhan wilayah Bekasi.

Pertumbuhan jumlah jemaat dan wilayah Bekasi ini juga  dibarengi dengan kemampuan jemaat Bekasi menata organisasi sebagai gereja. Sebagai bentuk pengakuan akan kemampuan pengelolaan Wilayah Bekasi ini maka dalam Akta Sidang Klasis Tegal ke 26 tahun 1995 Artikel 32 diputuskan bahwa GKJ Jakarta Wilayah Bekasi akan dimandirikan menjadi GKJ Bekasi.

Tanggal 25 Agustus 1995 juga tercatat sebagai tanggal bersejarah bagi jemaat Bekasi karena ada tanggal inilah GKJ Jakarta Wilayah Bekasi dimandirikan menjadi GKJ Bekasi. Pemandirian itu sendiri dipimpin oleh kelima Pendeta GKJ Jakarta, mereka adalah Pdt. Suwandi Martoutomo, Pdt. Kadarmanto H, Pdt. Johanes Bedjo Sudarmo, Pdt. Hosea Sudarna dan Pdt. Neny Suprihartati. Dalam pemandirian ini juga diteguhkan 21 anggota Majelis GKJ Bekasi terdiri atas 18 Penatua dan 3 Diaken untuk melayani 1766 jemaat Bekasi dari 461 KK yang ada.

Begitulah perjalanan jemaat Bekasi menggapai kedewasaannya, namun kurang lengkap rasanya kalau kita tidak menyimak proses pembangunan Gereja Bekasi yang penuh pergumulan dan liku. Oleh karena itulah dalam bab selanjutnya kita akan melihat betapa indahnya lika-liku dan kerasnya pergumulan itu. Sebuah pergumulan yang ikut membentuk jati diri Jemaat GKJ Bekasi.

 

 

V.                Membangun Gedung Gereja

  • Tidak ‘Kegedhèn Empyak Kurang Cagak’

Dalam budaya jawa, ungkapan ‘Kegedhèn Empyak Kurang Cagak’ mengandung arti adanya keinginan yang terlalu tinggi tanpa dibarengi dengan kesadaran akan keterbatasan kemampuan. Ungkapan inilah yang paling sering diingat oleh jemaat GKJ Bekasi kala memandang kemegahan gedung gereja saat ini sembari mengingat  masa lalu. Barangkali ungkapan diatas bisa disejajarkan dengan ungkapan ‘Bagaikan punguk merindukan bulan’ alias keinginan terlalu tinggi.

Bagaimana tidak meluncur ungkapan itu kalau pada tahun 1992 jemaat Bekasi telah merancang gedung gereja senilai 1 Milyar rupiah dengan perhitungan 881,6 juta untuk biaya pembangunan dan sisanya sebagai dana antisipasi inflasi.  Apalagi saat itu jemaat Bekasi didominasi oleh para pengangsur rumah Perumnas dan KPR BTN dengan kehidupan ekonomi yang pas-pasan. Ungkapan ini didengar oleh pengurus BPPG Bekasi kala melaporkan rancangan pembangunan ke YPG GKJ Jakarta.[20]

Ungkapan dan kenyataan itu toh tidak ditanggapi oleh BPPG Bekasi dengan mengendorkan semangat namun malah dijadikan pemicu untuk membuktikan diri. Hal itu dibuktiikan dengan upaya keras BPPG Bekasi bersama dengan jemaat dalam pencarian dana ‘keluar’.

Bermodal dana + 100 juta yang telah terkumpul sejak 1982-1992 saat merancang gereja di Kayu Ringin  maka segeralah dimulai pencarian dana pembangunan. Pencarian dana pun dilakukan dengan berbagai macam cara mulai dari mengajukan permohonan bantuan ke beberapa donatur, pemutaran film dan pementasan wayang orang di Taman Ria. Belum cukup dengan itu maka upaya dilanjutkan dengan menyelenggarakan pameran dan penjualan lukisan serta penyelenggaraan  malam dana bersama beberapa artis Ibukota di Hotel Sahid. BPPG sendiri juga melakukan pencarian dana dengan ‘memborong’ renovasi dan pembangunan rumah beberapa warga.[21] Selain kegiatan pencarian keluar, dalam jemaat sendiri juga dilakukan bazar-bazar makanan dan  penjualan barang-barang kebutuhan rumah tangga serta penggalangan persembahan khusus pembangunan. Dari upaya pencarian ini (kecuali donatur), dana terkumpul mencapai 20%-30% dari seluruh total anggaran atau sekitar 200juta-300juta, selebihnya adalah bantuan dari para donatur ataupun pihak lain. [22]

Inilah upaya-upaya yang dilakukan oleh segenap warga jemaat Bekasi dalam menggalang dana. Sebuah upaya yang turut dilatar belakangi oleh keinginan untuk membuktikan bahwa memiliki gedung gereja yang megah (senilai 1 milyar) bukanlah keinginan yang ‘Kegedhèn Empyak Kurang Cagak’.[23]

  • Bukan Hanya Berkurang Tapi Tanah Gereja Hampir Lepas

Disela-sela upaya pencarian dana yang dilakukan oleh seluruh jemaat GKJ Bekasi, pembangunan gedung GKJ Bekasi juga mengalami masalah.

Saat Dinas Pengairan PU membagikan tanah seluas 8000m2 kepada umat beragama di Bekasi, umat kristen adalah yang paling akhir menerima. Ini bukan karena sentimen negatif terhadap umat kristen namun hal ini malah dipandang sebagai strategi jitu dari Bapak Soebandi mengantisipasi penolakan warga muslim seperti yang terjadi di Kayu Ringin. Oleh karena itulah pembagian tanah oleh PU dimulai dari umat Muslim, Hindu, Katolik dan terakhir Kristen. [24]

Umat muslim mendapat tanah seluas 2000m2 yang kemudian di bangun Masjid As-Salam. Umat muslim kemudian juga mendapat tambahan  tanah seluas 2000m2. yang letaknya persis disebelah mereka. Tanah itu semula menjadi bagian umat Katolik, namun tidak diambil. Sehingga total luas tanah untuk umat muslim seluas 4000m2. Umat Hindu mendapat tanah seluas 2000m2 yang kemudian dibangun Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi. Dan yang terakhir adalah umat Kristen yang dalam hal ini adalah GKJ juga seluas seluas 2000m2. Karena hadir paling akhir maka saat tanah ini diserahkan, Pura yang letaknya persis disebelah tanah gereja telah mulai dibangun. Dan ternyata pembangunan Pura lebih luas 200 m2. dari pembagian semula dan perluasan itu ternyata mengambil tanah yang seharusnya untuk gereja. Meskipun berkurang, sikap yang diambil oleh gereja saat itu adalah tetap bersyukur dan dengan tetap mengedepankan prinsip harmoni, apalagi setelah menerima permohonan maaf dari pemimpin umat Hindu yang datang langsung ke gereja maka hal itu tidak dipermasalahkan. Hal ini dibuktikan dengan sikap ‘nrimo’ kala di sertifikat tanah  tertera tanah gereja ‘hanya’ seluas 1800 m2 .[25]

Sikap ‘nrimo’ yang muncul tersebut ternyata memiliki latar belakang tersendiri. Sikap itu bisa diwakili dengan ungkapan ‘masih untung dapat 1800m2 daripada tidak sama sekali’. Apa yang terjadi?

Persoalannya bermula dari ketidaktahuan Pemda Bekasi tentang status tanah tersebut. Karena ketidaktahuan itu maka Pemda Bekasi dalam sebuah pertemuan dengan Pemuka-Pemuka Gereja di Gedung Pertemuan Kartini mengatakan bahwa tanah di Jatiluhur tersebut akan diberikan Pemda Bekasi ke gereja HKBP. Bapak Suharto Kartomoyo yang diutus menghadiri pertemuan itupun sontak menjadi kaget. Kekagetan beliau inilah yang kemudian memunculkan keberanian dalam diri BPPG Bekasi untuk langsung menanyakan perihal ,”apakah bisa tanah milik PU diserahkan oleh Pemda kepada suatu pihak?” kepada Tim 7  Pemda (sebuah tim yang bertugas mengkaji setiap perijinan yang akan dikeluarkan). Mendengar pertanyaan ini, Pemda Bekasi segera menyadari kesalahan mereka. Untuk  menutup kesalahan ini maka Pemda Bekasi langsung berkoordinasi dengan PU dan meminta untuk segera menyerahkan tanah tersebut kepada GKJ. Hanya berselang 3 hari, tanah beserta IMB diserahkan PU dan Pemda Bekasi kepada GKJ. “Untung tidak jadi hilang, malah dapat berkah tambahan berupa IMB”, itulah ungkapan BPPG Bekasi kala itu. Jadi kalau hanya berkurang 200m2, toh itu belum sebanding dengan 1800m2 yang tetap dipertahankan. Peristiwa ‘hanya berkurang tapi tidak hilang’ inilah yang menjadi latarbelakang sikap nrimo tersebut.

  • Kebersamaan Dengan Masyarakat Plural

Lika-liku berikutnya yang bisa kita lihat dalam pembangunan gedung gereja Bekasi adalah adanya peran banyak orang diluar jemaat GKJ Bekasi, baik itu anggota jemaat  lain maupun yang beriman lain.

Jika dalam masa pembentukan jemaat Bekasi kita mengenal Bpk. Sidabutar dan Pdt. Watimena yang membina jemaat migran asal GKJ dalam sebuah wadah oikoumene, maka dalam masa-masa pembangunan gereja kita dapat menyebut beberapa nama dan juga hal ;

  1. Pakpahan[26]

Bapak Pakpahan adalah seorang Kristen yang telah tinggal di Komplek Pengairan Jatiluhur. Sebagai orang yang tinggal disekitar tanah gereja GKJ Bekasi, beliau sangatlah membantu proses pencarian ijin dari lingkungan disekitar tanah gereja. Apa motivasi yang menggerakkan beliau tidak diketahui dengan jelas namun apa yang dilakukannya sangatlah jelas. Hampir setiap hari dalam proses pencarian ijin warga beliau selalu berkeliling mendatangi rumah warga satu persatu.

  1. Ir. Bambang Budiarto

Kalau orang ingin tahu siapa arsitek dari gedung GKJ Bekasi, beliau adalah seorang arsitek senior yang bekerja di Paramaloka Konsultan bernama Ir. Bambang Budiarto. Yang menarik dari kiprah dan siapa beliau dalam membangun GKJ Bekasi adalah bukan hanya karena beliau bekerja tanpa meminta imbalan biaya namun karena beliau seorang muslim. Sekalipun beliau seorang muslim, beliau ini sudah tidak canggung lagi untuk terlibat dalam pembangunan rumah ibadah umat agama lain. Seperti ketika BPPG Bekasi meminta bantuan, beliau juga baru saja menyelesaikan pembangunan gereja Katolik.[27]

Dalam merancang gedung GKJ Bekasi, beliau mengusulkan satu pemahaman yang cukup menarik. Dalam pengalaman dan pengamatannya, banyak gereja dibangun dengan arsitektur tempo dulu, yakni dibuat memanjang dan mengadakan pemisahan yang sangat jauh antara umat dan pemimpin umat dengan altar yang sangat  luas. Gedung yang memanjang juga menyebabkan umat yang duduk di bagian belakang akan sangat jauh dengan pemimpin  ibadah. Dari pemahaman ini maka muncullah ide ruangan ibadah berbentuk seperti tangan yang terbuka dan umat duduk setengah lingkaran menghadap ‘orang yang membuka tangan tersebut’. Dan arah terbuka bangunan ini dibuat menghadap jalan serta memiliki pintu lebar bahkan rancangan semula tanpa pagar. Sebagai arsitektur beriman muslim, beliau memahami bahwa selain bentuk arsitektur ini diyakini menjadikan jarak antara umat dan pemimpin ibadah tidaklah terlalu jauh juga membuka wacana bahwa gereja membuka diri bagi siapa saja yang ingin datang ke gereja.[28]

Namun bersamaan dengan ide itu Bapak Bambang Heru (warga GKJ Bekasi sebagai owner arsitek) kemudian memaknainya sebagai tangan Tuhan yang terbentang sambil mengatakan “Hé, para wong kang kasayahan lan kamomotan, padha mrénéa, Aku bakal gawé ayemmu” (Mateus 11:28). Tulisan ini pulalah yang kemudian terpampang di belakang mimbar, arah pusat mata  memandang.[29]

Bukan hanya ruang ibadah, namun desain keseluruhan dari beliau ini adalah gereja dikelilingi oleh kaca patri yang bercerita tentang rangkaian perjalanan Yesus. Sedangkan dinding didalam gereja adalah dinding-dinding masif yang merupakan tempat meletakkan/menempelkan karya-karya umat baik itu lukisan maupun tulisan.[30]

  1. Edi Susanto

Bapak Edi Susanto juga seorang Konsultan dan juga seorang muslim. Beliau mulai berperan dalam pembangunan gedung GKJ Bekasi ini ketika BPPG Bekasi meminta tolong kepada beliau untuk menggambar struktur gereja. Lagi-lagi tidak sepeserpun dikeluarkan BPPG Bekasi untuk jasa beliau ini.[31] 

  1. Donatur tak dikenal

Banyak diantara jemaat khususnya anggota BPPG Bekasi yang mengenang peristiwa pemberian dari orang tidak dikenal, baik itu yang sengaja datang untuk memberikan sumbangan atau yang kebetulan lewat. Bentuk sumbangannya pun bermacam-macam, ada yang berupa uang, material bangunan dan juga kaca untuk menutup semua bagian jendela atas gereja. Hal ini bukan hanya karena peristiwa ini beberapa kali terjadi namun juga karena terjadi pada saat-saat gereja sangat membutuhkan terjadi pada saat pembangunan gereja berlangsung.

  1. Permohonan hibah ke PU bersama-sama Masjid dan Pura

Perjuangan GKJ Bekasi memang seolah tiada hentinya. Belum selesai dengan persoalan pembangunan sudah datang masalah baru yakni akan adanya penarikan Hak Pinjam Pakai Tanah. Permasalahannya berawal saat terjadi pergantian kepemimpinan di PU diakhir tahun 1995. Dirjen PU  yang baru ini kemudian mengambil kebijakan atas semua tanah PU yang berstatus Hak Pinjam pakai akan ditinjau ulang. Dan atas tanah-tanah tersebut jika tidak segera diubah statusnya maka penarikan ijin akan dilakukan.[32]

Mensikapi hal ini maka BPPG GKJB bergegas untuk bergerak. Tahun 1996 segera dilayangkan pengajuan hibah ke PU. Karena sampai tahun 1997 belum ada jawaban maka tahun 1997 pengajuan itu diulang lagi. Namun kali ini dengan strategi berbeda, yaitu merangkul Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi dan Masjid As-Salam yang juga menghadapi kendala serupa. Sehingga pengajuan yang ditahun sebelumnya dilakukan sendiri-sendiri kini dilakukan bersama-sama.[33]

Selain mengajukan surat pengajuan hibah, BPPG Bekasi juga melakukan lobby-lobby Dirjen PU yang baru beserta staf-stafnya. PU-pun akhirnya mulai menanggapi, namun ternyata hibah hanya bisa dilakukan kalau pihak yang mengajukan memiliki Yayasan. Dalam hal ini, Masjid sudah mempunyai Yayasan, demikian juga dengan Pura, tinggal gereja yang belum punya, maka segera dibentuklah Yayasan Cipto Hayuning Bawono pada tahun 1997 dengan Bpk. Soebandi sebagai pelindungnya. Yayasan Cipto Hayuning Bawono ini dibentuk hanya untuk kepentingan ini saja, setelah itu BPPG Bekasi merencanakan untuk segera balik nama yakni atas nama GKJ Bekasi.[34]

Hal lain yang menjadi rahasia umum bagi masyarakat Bekasi (saat itu) ketika mengajukan ijin dan melakukan lobby ke instansi pemerintah adalah menyertakan ‘amplop ucapan terima kasih’. Hal ini ternyata juga dilakukan oleh GKJ Bekasi baik ketika dahulu minta Ijin Hak Pinjam pakai maupun ketika berusaha untuk mendapatkan hibah.[35]

Akhirnya, melalui segala upaya diatas, pada tahun 2000, GKJ Bekasi bersama dengan Pura dan Masjid mendapat surat hibah dari PU ke Yayasan masing-masing. Segera setelah mendapatkan surat hibah ini, BPPG Bekasi segera membuat Sertifikat Tanah atas nama GKJ Bekasi.

Pada tahun 2001 sertifikat tersebut telah dimiliki GKJ Bekasi dan dengan sertifikat ini maka GKJ Bekasi menjadi salah satu dari 9 gereja di Kota Bekasi yang disebut  gereja permanen (memiliki sertifikat tanah dan IMB) oleh pihak Pemkot Bekasi.[36]

 

 

 

 

VI.             Upaya Mencari Ruang Gerak Sebagai Gereja Orang Jawa-Kristen Migran

  • Gereja Orang Jawa-Kristen Migran di Bekasi

Memang belum ada data resmi tentang berapa banyak jemaat GKJ Bekasi yang bukan orang Jawa dan bukan orang migran[37], namun dari paparan perjalanan sejarah GKJ Bekasi diatas nampak jatidiri GKJ Bekasi. GKJ Bekasi memang layak menyandang sebutan Gereja Orang Jawa-Kristen Migran.

Berawal dari penetapan Bekasi sebagai sebuah daerah yang difungsikan sebagai ‘buffer zone’ DKI Jakarta, ini menjadikan Bekasi yang semula kawasan pertanian akan segera berubah dan dipenuhi orang-orang Jakarta ataupun orang-orang yang baru datang dari ‘daerah’ dan hendak bekerja di Jakarta. Jika kita teliti lebih jauh lagi, orang-orang Jakarta ini pun dulu adalah orang ‘daerah’ juga. Kalaupun ada yang menyebut diri asli Jakarta, hal itu hanya karena lahir di Jakarta, sedangkan orang tuanya juga ‘orang daerah’.[38]

Pertumbuhan yang kemudian muncul seiring dengan migrasi ini adalah tumbuhnya komunitas religius, termasuk kristen protestan. Sejarah GKJ Bekasi mencatat bahwa pernah terjadi peleburan antara komunitas Jawa-Kristen dengan komunitas kristen yang lain dalam sebuah wadah oikoumene pada awal dekade 80-an. Namun peleburan ini hanya terjadi untuk sementara waktu, setidaknya sampai beberapa waktu setelah persekutuan oikoumene dinyatakan sebagai Gereja Kristen Oikoumene. Memang belum diketahui apa sebabnya (setidaknya dalam penelitian ini), yang jelas dalam sebuah keputusan rapat pleno Majelis GKJ Jakarta pernah diputuskan bahwa keberadaan persekutuan oikoumene bukanlah merupakan sebuah gereja melainkan “persekutuan bersama”.[39]  Dengan adanya keputusan inilah komunitas Jawa-Kristen yang semula telah melebur dalam komunitas kristen di Perumnas I Bekasi dan sekitarnya mulai membentuk komunitas sendiri dibawah naungan GKJ Jakarta.

Seiring dengan semakin bertumbuhnya perumahan di Bekasi, saat itu pula migrasi orang Jawa-Kristen semakin banyak dan semakin beragam asal gerejanya. Sebagian dari GKJ Jakarta, sebagian lagi dari GKJ-GKJ di ‘daerah’, ada pula yang dari GKI[40], dari GKJW[41].  Dengan bermacam dasar alasan para kaum Jawa-Kristen Migran ini kemudian bertemu dan berkumpul.  Sebagian merasa diri sebagai bagian dari GKJ Jakarta atau bagian dari GKJ di ‘daerah’, namun ada pula yang ingin kembali berkumpul dengan komunitas Jawa-Kristen setelah lama bergereja di ‘luar’ GKJ[42]. Ada pula yang menjadikan pemilihan bergereja di GKJ sebagai jalan tengah sebuah perkawinan, yakni demi ‘keadilan’ maka setelah menikah mencari gereja yang bukan merupakan asal keduanya[43]. Ada juga yang semata ingin menyenangkan hati orang tuanya sekalipun hati kurang ‘sreg’ dengan gaya ibadah di GKJ[44]. Namun apapun juga alasannya, kaum Jawa-Kristen Migran ini telah bertemu dan berkumpul, kelompok inilah yang kemudian sejak 25 Agustus 1995 menyebut dirinya GKJ Bekasi. Maka tidaklah berlebihan jika kita sekarang menyebut GKJ Bekasi adalah Gereja Orang Jawa-Kristen Migran di Bekasi.

Selain penemuan jati diri diatas, hal memiliki sarana fisik berupa gedung gereja juga menumbuhkan penemuan jati diri yang lain. Perjalanan sejarah telah menyatakan bahwa tempat ibadah GKJ Bekasi dirancang dan dibangun bukan hanya dengan daya dan dana sendiri. Bahkan sebagian dari orang lain tersebut diketahui bukanlah orang kristen. Kenyataan sejarah inilah yang kemudian disikapi dengan kesadaran bahwa kalau dahulu orang lain mau melakukan sesuatu untuk GKJ Bekasi, kini saatnya GKJ Bekasi menjadi berarti bagi orang lain.[45]  Gagasan atau keinginan inilah yang kemudian tertuang dalam bagian Visi GKJ Bekasi yakni GKJ Bekasi adalah gereja yang menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Dari 2 penemuan jati diri inilah maka bisa kita katakan bahwa saat ini GKJ Bekasi adalah Gereja Orang Jawa-Kristen Migran di Bekasi yang menjadi saluran berkat bagi orang lain.

  • Upaya Mencari Ruang Gerak

Gereja sebagai wadah kaum migran yang bertemu, berkumpul dan berkegiatan adalah fungsi GKJ Bekasi saat ini. Oleh karena itulah tak heran jika kegiatan gereja juga merupakan wadah temu kangen sebagai sesama orang Jawa-Kristen Migran.[46] Dengan latar belakang alasan ini tentulah menjadi sebuah keanehan jika kita menyaksikan apa yang terjadi dalam peribadahan. Pada pelaksanaan ibadah khususnya hari minggu, Gedung gereja GKJ Bekasi akan penuh menjelang 5 menit sebelum ibadah, selama ibadah dan tidak lebih dari 10 menit setelah ibadah. Fenomena ini yang kemudian dimaknai sebagai hilangnya unsur kebersamaan[47], meskipun masih ada yang juga bisa memahami dan merasa cukup dengan waktu + 10 menit temu kangen setelah ibadah.[48] Fenomena menurunnya rasa kebersamaan inilah yang kemudian menciptakan kegiatan gereja plus temu kangen lebih banyak terjadi di komunitas yang lebih kecil, seperti kelompok ataupun di komisi. Apakah ini merupakan sebuah antisipasi/upaya? Atau inikah tantangan untuk mewujudkan misi 5 tahun pertama GKJ Bekasi yakni mengembangkan kualitas jemaat tinggi dimana didalamnya terdapat penekanan pada pengembangan relasi dengan Allah dan sesama?[49] Bisa jadi hal ini bukan karena keduanya, namun lebih mengarah ke gaya hidup individual dan menurunnya rasa kepedulian kepada sesama[50] khususnya sesama kaum Jawa-Kristen Migran.

Jika hal gaya hidup individual dan menurunnya rasa kepedulian ikut mempengaruhi ruang gerak ke dalam dari GKJ Bekasi, bagaimana halnya ketika gaya hidup itu mewarnai ruang gerak keluar dari GKJ Bekasi?

Perjalanan sejarah GKJ Bekasi memang menjadi bukti adanya kerjasama dengan orang-orang atau lembaga keagamaan lain. Baik itu dalam membangun sarana fisik berupa gedung gereja maupun ketika mengurus hibah tanah. Namun menilik pengalaman kerjasama ini nampak jelas disana bahwa itu semua itu terjadi ketika gereja membutuhkan sesuatu atau sedang ingin mencapai sesuatu. Hal ini ditandai dengan munculnya ungkapan bahwa “kalau lagi ada maunya (membangun gedung gereja) memang gereja mau bekerjasama, namun setelah itu ya sudah”[51].

Bahkan satu fakta lain yang bisa kita temukan adalah kerjasama dengan orang lain khususnya orang muslim belum dapat dilakukan karena belum saling mengenal, bahkan para pemimpin gereja pun juga tidak saling mengenal dengan lingkungan atau tokoh-tokoh agama yang lain.[52]

Memang jika melihat kembali apa yang dilakukan sebelum memiliki gedung gereja, dua ungkapan diatas pantas muncul. Namun setelah menjadi gerejaj mandiri, GKJ Bekasi pun segera melakukan beberapa hal bagi orang lain. Ada beberapa hal yang telah dilakukan dan menjadi rutinitas yaitu Program nasi Murah dan Perkunjungan Rumah Sakit. Program Nasi Murah adalah penjualan nasi dengan sayur dan lauk setiap seminggu sekali seharga Rp. 500 setiap bungkusnya. Sasaran pembelinya adalah para tukang becak dan orang-orang jalanan. Program ini telah berlangsung sejak tahun pertama GKJ Bekasi mandiri.[53]  Program perkunjungan rumah sakit dijuga dilakukan seminggu sekali ke RS. Daerah Bekasi, RS Mekarsari, RS. Mitra Keluarga, RS. Harum dan RS. Hermina Bekasi. Pasien yang dikunjungi bukanlah hanya orang Kristen namun setiap orang yang memang mau menerima pendampingan dan dukungan doa. Hal lain yang menjadi rutinitas setiap bulan sekali adalah perkunjungan dan pelayanan ibadah di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Bekasi, LP Karawang bahkan bersama Pokja PGI melakukan pelayanan ke Nusa Kambangan.[54]

Pelayanan Diakonia yang menjadi ‘Leader’ dalam pelayanan kepada orang lain ini juga membantu jemaat GKJ Tempurung Gubug di Jawa Tengah untuk anak asuh, dan penggaduhan kambing untuk peningkatan perekonomian jemaat disana. Sementara untuk daerah Semarang, program membantu janda-janda Pendeta di Klasis Semarang bagian Timur juga dilakukan.[55]

Hal lain yang pernah dilakukan GKJ Bekasi adalah bekerjasama dengan Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi membentuk Tim Peduli yang membagikan sembako pada saat krisis ekonomi melanda bangsa ini pada tahun 1998.[56]  Sedangkan yang dilakukan GKJ Bekasi dalam hal ini Panitia HUT ke-9 GKJ Bekasi tahun 2004 adalah Doa Bersama Bagi Bangsa dan donor darah pada HUT RI ke 59 bersama Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi dan Masjid As-Salam. Doa bersama dilakukan di GKJ Bekasi dan donor darah di lakukan di Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi. Sekalipun dalam kedua acara ini perwakilan dari Masjid As-Salam tidak hadir namun setidaknya acara Doa Bersama dari 3 umat agama yang berbeda ini tetap berlangsung karena ada perwakilan umat muslim dari Nahdhatul Ulama Kabupaten Bekasi yang hadir dan bersedia membawakan doa.[57]

 

VII.          Refleksi Theologis dan Penutup

7.1. Refleksi Theologis

Tulisan yang tertera di atas mimbar GKJ Bekasi, “Hé, para wong kang kasayahan lan kamomotan, padha mrénéa, Aku bakal gawé ayemmu” (Mateus 11:28) adalah merupakan refleksi akhir perjalanan menuju gereja dewasa sekaligus panggilan peran GKJ Bekasi kedepan.

Mengawali perjalanan sejarah dari daerah pinggiran yang sepi serta menemui banyak tantangan saat membangun gedung gereja menjadikan ayat Alkitab diatas sebagai sebuah panggilan bagi kaum Jawa-Kristen Migran di Bekasi untuk menyerahkan semua beban kepada DIA. Sejarah pulalah yang membuktikan bahwa keberserahan itu tidaklah sia-sia. Dari 3 keluarga yang ada, kini telah berkembang menjadi 813 KK, dari segelintir orang menjadi 3051 orang, dari satu kelompok di Perumnas I Bekasi kini telah mencapai Cikarang bahkan Karawang, dari menumpang bergereja di SLB Sriwedari kini telah memiliki gedung gereja sendiri, semua itu adalah rangkaian pertumbuhan GKJ Bekasi.

Rangkaian perjalanan menuju jemaat mandiri ini pun juga dilalui dengan peran-serta dan pertolongan orang-orang yang bukan anggota jemaat Bekasi atau bahkan bukan orang kristen. Hal ini pula yang menjadikan ayat Alkitab diatas sekaligus sebagai panggilan peran GKJ Bekasi. GKJ  Bekasi dalam kedewasaannya kini bukan lagi semata sebagai gereja yang hanya datang kepada Allah semata, namun kini juga dipanggil untuk menjadi tempat yang didatangi dan memberikan kelegaan bagi orang yang mendatanginya. Menjadi gereja dengan tangan yang terbentang untuk menyambut dan memberi kelegaan kepada siapa saja yang datang, tanpa memandang siapa, sama seperti halnya Allah yang dulu telah memakai siapa saja untuk menolong dan memberikan kelegaan kepada jemaat Bekasi yang datang kepadaNYA.

Meski ayat ini mengesankan sikap pasif yakni menunggu kehadiran seseorang/lembaga/sesuatu lalu baru bereaksi atau bergerak, namun hendaknya ini tidak menjadikan GKJ Bekasi menjadi gereja yang responsif saja namun menjadi gereja yang berinisiatif juga. Hal ini karena ayat diatas juga bermakna seperti itu. Perilaku manusia untuk datang kepada Allah, lebih dahulu diawali dengan inisiatif Allah untuk mendatangi dan memperkenalkan Siapa DiriNYA kepada manusia. Sebuah tindakan Allah yang didasarkan pada kasihNYA yang begitu besar  kepada manusia.

Kini ketika GKJ Bekasi dipanggil untuk menjadi gereja yang didatangi dan menjadi berarti bagi orang lain, maka GKJ Bekasi juga diutus untuk memperkenalkan kehadirannya kepada semua orang. Sebuah perkenalan dan kehadiran yang bukan didasari dengan kesombongan karena merasa mampu melakukan banyak hal dalam ‘kebesarannya’ namun sebuah kehadiran yang didasari oleh kasih kepada sesama. 

            7.2. Penutup

Ketika kita mencermati sejarah muncul dan pertumbuhan GKJ Bekasi maka fakta adanya keberhasilan dan kegagalan akan kita temui. Keberhasilan itu antara lain adalah keberhasilan ‘membentuk diri’ menjadi sebuah gereja yang memiliki gedung sendiri. Keberhasilan lain adalah keberhasilan mengembangkan gereja dari 1 kelompok jemaat di Perumnas I Bekasi menjadi 24 kelompok yang meliputi seluruh wilayah Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Dari 3 KK menjadi 813 KK. Keberhasilan yang diraih melalui berbagai dinamika itu tentunya merupakan fondasi yang kuat bagi misi 5 tahun pertama dan 5 tahun kedua GKJ Bekasi yaitu Membangun Warga Jemaat Menjadi Gereja Dengan Kualitas Berjemaat Yang Tinggi dan Membangun Dinamika Berjemaat Agar Kualitas Warga Jemaat dan Persekutuan Jemaat Dapat Berkembang Dari Waktu ke Waktu.

Berbeda halnya ketika kita melihat misi 5 tahun ketiga dari GKJ Bekasi yakni Membangun Kehidupan Jemaat Agar Dapat Menjadi Saluran Berkat Bagi Sesamanya. Misi ini ternyata belum mendapat pondasi yang cukup kuat dari perjalanan sejarah GKJ Bekasi. Pengalaman kegagalan membangun Gedung Gereja di Kayuringin dapat menjadi fakta kurangnya pondasi untuk misi ini. Kegagalan membangun gedung gereja di Kayuringin tentu bukanlah kegagalan membangun gedung semata namun juga merupakan kegagalan membangun relasi yang harmonis dengan masyarakat Kayuringin dan sekitarnya yang merupakan bagian dari komunitas agama yang lain. Kegagalan ini bukanlah karena kurangnya upaya pendekatan (bantuan) namun kegagalan ini adalah karena motivasi yang keliru ketika memberi/membantu. Motivasi yang tumbuh dalam diri jemaat Bekasi kala itu adalah membantu supaya dapat membangun gereja. Motivasi seperti ini bukanlah merupakan bukti ketulusan/kepedulian dari gereja (jemaat Bekasi) untuk menolong sesama namun oleh masyarakat Kayuringin lebih dipandang sebagai strategi (bisa dibaca; ‘suap secara halus’) untuk menghadirkan gereja.[58] 

Pengalaman lain yang bukan merupakan pondasi yang baik untuk misi 5 tahun ketiga GKJ Bekasi adalah pengalaman berkerjasama dengan Masjid dan Pura mengurus Surat Hibah. Kerjasama dengan Masjid As-Salam dan Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi ini lebih didasari oleh kebutuhan/keinginan  GKJ Bekasi untuk mendapatkan Surat Hibah[59], belum oleh keinginan atau kesadaran untuk menjalin relasi antar umat beragama.  Motivasi seperti ini tentu bukan merupakan pondasi yang benar bagi keinginan GKJ Bekasi untuk menjadi saluran berkat bagi sesamanya. Akan menjadi lebih baik jika misi ini ini didasari dengan kasih yang tidak menuntut balas.

 

Akhir kata, menjadi Gereja Orang Jawa-Kristen Migran di Bekasi yang memiliki kerelaan untuk membuka diri bagi siapapun dan menjadi saluran berkat bagi siapapun adalah tugas panggilan sekaligus peluang ke depan bagi GKJ Bekasi.

 

[1] Berdasarkan data sampai dengan bulan April 2005

[2] Julianery B.E.,  PROFIL DAERAH Kabupaten dan Kota, Kota Bekasi, Jilid 1, Kompas Media Nusantara, h. 206

[3] Astuti P.P,  PROFIL DAERAH Kabupaten dan Kota, Kabupaten Bekasi, Jilid 2, Kompas Media Nusantara, h. 282

[4] lihat wawancara 17 dengan Bpk. Sigid Widodo

[5] lihat wawancara 22 dengan Bpk. Bambang Goro

[6] lihat wawancara 02 dengan Bpk. Sri Mulyanto

[7] lihat wawancara 05 dengan Bpk. Purwatmo

[8] lihat wawancara 18 dengan Bpk. Soehardjo

[9] lihat wawancara 14 dengan Bpk. Agus Priyanto dan wawancara 21 dengan Bpk. Tri Murwanto

[10] lihat wawancara 15 dengan Bpk. Bambang Heru Laksono

[11] s. d. n. 5

[12] lihat wawancara 03 dengan Bpk. Suharto Kartomojo

[13] s. d. n. 5

[14] lihat wawancara 01 dengan Bpk. Sriadi

[15] lihat wawancara 04 dengan Bpk. Soerono

[16] lihat wawancara 08 dengan Bpk. Agus Pratiknyo

[17] lihat wawancara 23 dengan Bpk. Djoko Purwanto

[18] lihat wawancara 21 dengan Bpk. Tri Murwanto

[19] lihat wawancara 14 dengan Bpk. Agus Priyanto

[20] lihat wawancara 03 dengan Bpk. Suharto Kartomoyo dan wawancara 15 dengan Bpk. Bambang Heru Laksono

[21] s. d. n. 10

[22] Bambang Heru Laksono, GEDUNG GEREJA KRISTEN JAWA BEKASI, Antara Wujud dan Makna, cetakan sendiri, Oktober 2001,  h. 11.

[23] s. d. n. 10

[24] s. d. n. 14

[25] lihat wawancara 01 dengan Bpk. Sriadi dan wawancara 03 deng Bpk. Suharto Kartomojo

[26] s. d. n. 12

[27] s. d. n. 18

[28] s. d. n. 20,  h. 3-5

[29] s. d. n. 10

[30] s. d. n. 20,  h. 6

[31] s. d. n. 10

[32] s. d. n. 14

[33] lihat wawancara 08 dengan Bpk. Agus Pratiknyo dan wawancara 03 dengan Bpk. Suharto Kartomojo

[34] s. d. a

[35] lihat wawancara 02 dengan Bpk. Sri Mulyanto dan wawancara 18 dengan Bpk. Soehardjo

[36] Notula Rapat PGIS Kota Bekasi dengan Departemen Agama Bekasi, tanggal 8 Oktober 2004.

    Ada 3 kategori gereja dalam pendataan Dep. Agama Bekasi yakni;

  1. Gereja permanen ; memiliki Sertifikat atas tanah gereja dan IMB
  2. Gereja semi permanen ; memiliki sertifikat tanah gereja namun belum memiliki IMB
  3. Gereja darurat ; belum memiliki sertikat atas tanah gereja dan belum memiliki IMB

[37] Penelitian ini memang tidak ditujukan untuk mencari/membuat data tentang hal tersebut

[38] lihat wawancara 17 dengan Bpk. Sigid Widodo dan wawancara 22 dengan Bpk. Bambang Goro

[39] Buku Sejarah GKJ Bekasi I, Perjalanan 5th GKJ Bekasi,  h. 9-10

[40] lihat wawancara 16 dengan Bpk. Istanto

[41] lihat wawancara 07 dengan Bpk dan Ibu James Kaunang

[42] s. d. n. 40

[43] s. d. n. 41

[44] lihat wawancara 25 dengan Mas Wawan Susanto

[45] s. d. n 10

[46] s. d. n. 5

[47] lihat wawancara 21 dengan Bpk. Tri Murwanto, lihat wawancara 22 dengan Bpk. Bambang Goro dan lihat wawancara 23 dengan Bpk. Djoko Purwanto

[48] s. d. n. 40

[49] s. d. n. 39,  h. 58

[50] s. d. n 4

[51] s. d. n. 12

[52] s. d. n. 4

[53] s. d. n. 15

[54] lihat wawancara 24 dengan Bpk. Eko Londo

[55] lihat wawancara 19 dengan Bpk. Gatut Widianoko

[56] lihat wawancara 19 dengan Bpk. Gatut Widianoko, lihat wawancara 22 dengan Bpk. Bambang Goro dan lihat wawancara 23 dengan Bpk. Djoko Purwanto

[57] berdasar pengalaman penulis sejak ada di GKJ Bekasi

[58] lihat wawancara 01 dengan Bpk. Sriadi dan wawancara 04 dengan Bpk. Surono (seperti telah ditulis di halaman 11 alinea kedua dan halaman 12 alinea pertama)

[59] lihat 5.3. point  e. Permohonan hibah ke PU bersama-sama Masjid dan Pura