Info Kontak:

: Jl. Timoho UH II/399, Miliran, Mujamuju, Umbulharjo, Yogyakarta 55165

: 0274 550414

: gkjbrayatkinasih@gmail.com

: www.gkjbrayatkinasih.or.id

Pendeta:

  • Pdt. Sundoyo, S.Si.,MBA.

Jadwal Ibadah:

  1. 06.30 WIB, Bahasa Indonesia – Ibadah Biasa
  2. 08.30 WIB, Bahasa Jawa – Ibadah Biasa
  3. 17.00 WIB, Bahasa Indonesia – Ibadah Ekspresif

Profil dan Sejarah:

Ringkasan Sejarah GKJ Brayat Kinasih

AWAL KEBAKTIAN DI MILIRAN

Sampai pada tahun enampuluhan, para warga jemaat GKJ Sawokembar Gondokusuman pergi ke kebaktian hari Minggu, hanya dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Kendaraan umum hanyalah becak atau andong yang dirasa mahal bagi warga yang kehidupan sederhana, terutama warga yang tinggal di kampung Miliran, kemudian mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan ‘kumpulan’ (kebaktian) di kampungnya sendiri. Dimulai dari kebaktian pertama di rumah bapak Tjermodisono, seorang dalang di kampung itu dihadiri 15 orang warga. Kebaktian pertama direncanakan dilayani oleh bapak Pendeta Sukardan (alm.) tetapi justru untuk yang pertama itu bapak Pendeta berhalangan hadir, sehingga kebaktian dipimpin oleh Tua-tua Wiayah, Bapak Sastrosuwignya. Peristiwa itu tercatat pada tahun 1967.

PEPANTHAN MILIRAN

Berdasarkan keputusan Rapat Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 1968 ditetapkan 2 (dua) tempat kebaktian baru di luar GKJ Sawokembar Gondokusuman yaitu : di Student Centre (Wisma Immanuel Samirono Baru) dan di Miliran. Pembukaan kebaktian baru di Miliran pada hari Minggu tanggal 6 April 1969 ini merupakan kebaktian yang pertama di Miliran dengan mengambil tempat di rumah sederhana berdinding bambu yang berlubang-lubang milik Bapak Hadipranoto yang disewa untuk SD BOPKRI. Setiap kebaktian di rumah itu warga jemaat yang hadir lebih kurang 9 – 12 orang. Hari Minggu tanggal 6 April 1969 itulah sebagai tonggak sejarah berdirinya Pepanthan Miliran. Pada tahun 1973, SD BOPKRI di Miliran berhasil membangun gedung sendiri. Pepanthan Miliran diijinkan oleh Yayasan BOPKRI Pusat, untuk mempergunakan gedung SD BOPKRI tersebut, sebagai tempat kebaktian hari Minggu bagi warga jemaat Pepanthan Miliran. Kebaktian pertama yang diselenggarakan di SD BOPKRI itu ialah pada hari Minggu 18 Maret 1973 dilayani oleh Bapak Pendeta Sardjuki Kartatenaja, S.Th. dan dihadiri oelh sebanyak 24 orang warga jemaat.

PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA.

Mulai tahun 1971 – 1978 banyak warga pendatang baru di Miliran, di antaranya keluarga Bapak Ir. Mulyadi dan keluarga Bapak Alex Sukono. Kebetulan kedua keluarga itu memiliki kemampuan serta menaruh perhatian besar terhadap tugas-tugas pelayanan gerejawi. Maka pertama-tama diusahakannya untuk memperoleh sebidang tanah yang diperlukan bagi pembangunan gedung gereja. Berkat kerjasama mereka dan dukungan seluruh warga Pepanthan Miliran, maka Tuhan mengabulkan untuk membeli tanah seluas 500 m2. Lokasi tanah itu berada di tengah sawah, karena memang semula berwujud tanah pesawahan. Pekerjaan pembenahan lokasi ini dimulai 24 Juni 1981. Peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja dapat dilangsungkan pada hari Minggu, 15 September 1985 dalam suatu upacara yang dipimpin oleh Bapak Pendeta Wijoto Hardjotaruno. Sejak dari upacara peletakan batu pertama hingga berdirinya gedung gereja memakan waktu satu setengah tahun. Dari hasil kerja keras jemaat Pepanthan Miliran ini, pada hari Jumat 17 April 1987 bertepatan dengan hari Paskah, secara resmi tempat kebaktian dipindahkan dari SD BOPKRI Miliran ke gedung gereja, walaupun yang gereja dibangun sampai pada saat itu keadaannya belum sempurna. Perhatian Pemerintah kepada Pepanthan Miliran sangat baik , yaitu dengan diberikan ijin membangun gedung gereja. Bahkan Pemerintah Kota menggunakan bangunan gereja itu sebulan sekali untuk pembinaan PNS (Pegawai Negeri Sipil) Kristiani. Hampir tidak terduga, pada tahun 1996 dapat membeli lahan tambahan di sebelah kanan gedung gereja, seluas 500 m2, sehingga dengan lahan tambahan ini dapat dipersiapkan untuk membangun konsituri dan rumah pastori. Bukan karena semata-mata sempitnya lahan, akan tetapi sejak awalnya bangunan gereja telah dirancang dengan menempatkan ruang konsisturi di depan pintu gereja. Penempatan ruang konsisturi di depan pintu gereja ini adalah ide dan pemikiran dari Bapak Sutrisna Martoatmodjo. Pada saat warga jemaat berdatangan akan memasuki gereja tempat kebaktian, Bapak/Ibu anggota Majelis menyambutnya dengan berjabat tangan, seolah-olah sebagai pelayan penerima tamu. Pada saat kebaktian selesai, Bapak Pendeta dan segenap anggota Majelis kembali berderet di depan pintu gereja, bersalaman dengan seluruh warga jemaat yang akan meninggalkan gereja. Dengan demikian suasana kebaktian hari Minggu dapat dirasakan ada jalinan suasana yang penuh kasih.Pada akhir tahun 2000, justru pada saat-saat warga Pepanthan Miliran sedang giat-giatnya mempersiapkan diri membangun Pepanthan Miliran menjadi gereja dewasa, datang lagi berkat Tuhan dengan kemampuan membeli tanah seluas 165 m2 terletak di sebelah kiri gedung gereja di sudut belakang. Dengan letaknya yang tidak terlalu dekat dengan gereja itulah, sangat tepat digunakan untuk rumah Pendeta yang lebih tenang. Maka rancangan semula penempatan rumah Pendeta diubah. Lahan 500 m2 di sebelah kanan gereja, akan dipergunakan untuk bangunan konsituri, kantor gereja, ruangan pertemuan dan perpustakaan, termasuk area parkir, karena direncanakan gedung itu bertingkat untuk menghemat lahan.

PERINTISAN UNTUK MANDIRI

Proses Pendewasaan Pepanthan Miliran, memang dirasakan terlalu lama oleh warga dan yang sering menanyakan soal ini. Maka tumbuhlah prakarsa anggota Majelis dan warga Pepanthan Miliran untuk membentuk Panitia Persiapan Pendewasaan Pepanthan Miliran.  Pembentukan Panitia Persiapan Pendewasaan Pepanthan Miliran itu dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 21 Januari 2000, dan memperoleh restu dari gereja induk, Majelis GKJ Sowokembar Gondokusuman. Keberadaan panitia ini oleh Majelis Pepanthan Miliran dilaporkan kepada Gereja induk Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman. Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman mengusulkan pendewasaan Pepanthan Miliran tersebut kepada klasis Yogyakarta Selatan. Atas dasar usul itu, Tim Visitasi Klasis Yogyakarta Selatan pada hari Rabu tanggal 21 Juni 2000 telah mengadakan kunjungan untuk penelitian (visitasi) ke Pepanthan Miliran. Dalam sidangnya pada hari Senin tanggal 26 Maret 2001 Klasis Yogyakarta Selatan memutuskan bahwa Pepanthan Miliran layak untuk didewasakan. Peresmian pendewasaan akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 21 April 2001.

MENJADI GEREJA DEWASA / MANDIRI:

Setelah diputuskan oleh Klasis Yogyakarta Selatan bahwa Gereja Pepanthan Miliran layak untuk didewasakan, maka Panitia Pendewasaan Gereja Pepanthan Miliran bekerja keras dalam mempersiapkan pelaksanaan pendewasaan. Pertama kali, khususnya pada rapat majelis pleno Pepanthan Miliran memikirkan untuk pemberian nama bagi gereja Pepanthan Miliran. Ada beberapa usulan untuk pemberian nama Gereja Pepanthan Miliran antara lain:Tentrem Rahayu,Wasita Adi,Penabur,Brayat Kinasih,Wisma Manunggal, Sabda Mulya. Maka pada rapat Majelis Pleno hari Senin tanggal 12 Maret 2001 diputuskan dengan secara bulat untuk nama Gereja Pepanthan Miliran menjadi GKJ BRAYAT KINASIH. Juga untuk menengarai berdirinya gereja itu menjadi gereja dewasa ditandai dengan surya sengkal untuk tahun 2001 yaitu BUMI LANGIT HANGENINGAKEN SEMBAH. Panitia bekerja keras dalam mempersiapkan peresmian pendewasaan yang telah ditetapkan waktunya yaitu hari Sabtu tanggal 21 April 2001 dari Pepanthan Miliran diresmikan menjadi gereja yang dewasa dengan nama GEREJA KRISTEN JAWA “BRAYAT KINASIH”

SETELAH MENJADI GKJ BRAYAT KINASIH

Setelah gereja menjadi gereja yang dewasa, sementara gereja belum mempunyai pendeta sendiri, diberikan Pendeta Konsulen yaitu Bapak Pendeta Purwanto Rahmat, S.Th dari GKJ Kotagede. Mengingat GKJ Brayat Kinasih sudah menapak umur 1(satu) tahun dan mengingat warga jemaat yang sudah membutuhkan seorang gembala dalam pembinaan rohani diputuskan untuk mengadakan penjaringan/pendaftaran calon pendeta. Kerinduan jemaat untuk mempunyai pendeta akhirnya terwujud pada  21 April 2002 GKJ Brayat Kinasih mempunyai seorang gembala jemaat dalam suatu upacara Penahbisan Pendeta bagi Bapak Pendeta Sundoyo, S.Si sekaligus bertepatan dengan Ulang Tahun GKJ Brayat Kinasih yang ke-2. Dipilihnya waktu yang bersamaan dengan HUT GKJ Brayat Kinasih karena beberapa pertimbangan antara lain agar mudah mengingatnya dan sekaligus  tanggal HUT gereja mempunyai momen-momen khusus untuk bisa diabadikan. Perkembangan selanjutnya GKJ Brayat Kinasih pada tahun 2010 membeli tanah di sebelah utara gereja untuk keperluan lahan parkir seluan 720m2 dari dana yang dihimpun melalui persembahan warga. Dari pembelian tersebut luasan tanah area gereja menjadi 1.706 m2 dan area rumah pastori yang ada di sisi selatan gereja seluas 219 m2. Pada tahun 2014 GKJ Brayat Kinasih melakukan renovasi bangunan gedung utama dengan memperluas ruang ibadah dan menambah satu lantai untuk ruang pertemuan total dana yang dibutuhkan adalah sekitar 900 juta rupiah berasal dari 712 juta rupiah bantuan Artha Graha Peduli dan sisanya persembahan warga. Renovasi terus dilanjutkan dengan merubah beberapa bagian gedung gereja yaitu plafon diganti dengan bahan yang lebih ringan dan tambahan pintu samping dan pintu darurat agar mengantisipasi bila terjadi bencana alam untuk keperluan keselamatan warga jemaat. Dana yang dibutuhkan sekitar 200 juta rupiah berasal dari persembahan warga dan gereja. Untuk keperluan emeritus pendeta pada tahun 2016 GKJ Brayat Kinasih membeli tanah di daerah Purwomartani, Kalasan, Sleman seluas 378 m2. Pada tahun 2017 membeli tanah tambahan seluas 225 m2 sehingga luas tanah di Purwomartani, Kalasan menjadi 603 m2. Perkembangan warga jemaat di akhir tahun 2017 sudah bertumbuh menjadi 615 warga dari jemaat mula-mula ketika gereja dewasa sekitar 317 warga. Jam ibadah juga mengalami perkembangan mulai tahun 2015 diadakan 4 kali ibadah yaitu pukul 06.30 pelayanan ibadah berbahasa Indonesia, pukul 08.30 pelayanan ibadah berbahasa Jawa, pukul 16.00 pelayanan ibadah impresif dengan iringan musik ansambel dan pukul 18.00 pelayanan ibadah ekspresif dengan iringan musik band. GKJ Brayat Kinasih sebagai gereja yang terus bertumbuh mempunyai visi menjadi Christian Center dengan budaya yang terbuka, berintegritas, kasih dan pelayanan. Mottonya “Sawokecik lan Kluwih” , sarwo becik kang linuwih, sarwo luwih ing kabecikan.