Info Kontak:

: Dsn. Klowok Lor, Desa Kemloko, Kec. Kranggan, Kab. Temanggung 56271

: –

: –

Pendeta:

  • Pdt. Sardji Dwiyanto S.Pd.S.Th.(Emeritus)

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 07.00
  2. Minggu, Pk. 09.00

Profil dan Sejarah:

SEJARAH GEREJA KRISTEN JAWA (GKJ)

BUKIT SION TEMANGGUNG

1.Latar belakang masyarakat Desa Kemloko, sebelum Kristen masuk

Tahun 1963-1965

Sebelum masyarakat Desa Kemloko mengenal Injil, sebenarnya masyarakat sudah beragama tetapi belum diamalkan sebagaimana mesthinya, masih sebatas hanya KTP, pada waktu itu belum ada tempat ibadah dari agama manapun. Faham animisme dan dinamisme masih mempengaruhi masyarakat.

Sebelum meletus G.30 S.PKI tahun 1965 di desa Kemloko ada 2 partai besar yaitu PNI (Marhenis) dan PKI (Komunis), 2 partai besar tersebut saling bersaing untuk memenangkan pemilu dan saling ejek-mengejek yang akhirnya suhu politik memanas. Terpicu ejekan yang terlontar dari seorang tokoh agama, dengan kata-kata PNI (marhenis) disebut MARKAI (MARHEN-KOMUNIS), lurah desa Kemloko yaitu Bp. Djopawiro yang juga tokoh PNI mulai terpancing emosinya dan muncul gagasan mencari agama baru, yaitu agama yang tidak sama dengan yang dianut tokoh agama yang mengejek.

Tahun 1963-1965 Bp.Djopawiro yang sebagi lurah juga berdagang panili bersama Bp. Pawiro Sudiro, Bp. Partoyo, Bp. Mangun Santosa, Bp.Tohardjo, Bp. Slamet Andojo, Bp.Kasto dan Bp Kromo. Sambil berdagang mereka juga ingin mewujudkan gagasan mencari agama baru. Yang kemudian bertemu Ibu Paulina Weno (mamah Polin) warga GKJ Temanggung, lalu Bp.Djopawiro dihubungkan dengan Bp.Pdt.Atmo Sukarto-pendeta GKJ Temanggung. Dan diperkenalkanlah sebuah agama yaitu agama Kristen yang berlanjut perkunjumgan Bp.Pdt.Atmo Sukarto bersama calon pendeta Soemitro Soelistyohadi dating ke Desa Kemloko dirumah Bp. Djopawiro di dusun Klowok Lor.

 

2.Pengenalan awal agama Kristen di desa Kemloko

Pada akhir tahun 1964, Bp.Pdt. Atmo Sukarto bersama Bp.Soemitro Soelistyohadi dating kerumah Bp Djopawiro untuk mengenalkan agama Kristen. Pada kunjungan tersebut bersamaan acara adat selamatan keluarga “ngedhun-edhunke” anaknya. Secara kontekstual acara selamatan dipimpin Bp.Pdt. Atmo Sukarto sekaligus mengenalkan agama Kristen untuk pertama kalinya.

Dilanjutkan temu wicara atau sarasehan bersama beberapa warga dan dibuat semacam jadwal pertemuan baik di siang hari ataupun malam. Yang dilanjutkan pula temu wicara di  

 

rumah Bp. Mangun Santosa – Kemloko Tengah dan dirumah Bp.Slamet Andojo – Ploso Kemloko.

         Cara bapak Djopawiro mengenalkan dan mengajak masyarakat mengikuti Kristen yaitu dengan istilah “agama yang tidak- kicah kicih” atau hanya “esek-esek plek”(tidak pakai sandal tidak apa-apa). Perkembangan agama Kristen bisa cukup diterima sehingga makin bertumbuh banyak dan masyarakat diluar desa Kemloko pun banyak yang mengikuti.

 

3.Kebaktian pertama di dusun Klowok Lor Desa Kemloko tahun 1965

         Mengingat sarasehan pengenalan agama Kristen diminati oleh banyak orang, maka diawal tahun 1965 dibuka Kebaktian pada hari Minggu di pendapa Kelurahan Desa Kemloko. Sebagai pertanda menjelang setiap akan dimulai kebaktian Bp Djopawiro memukul ‘kenthongan’ untuk mengundang warga masyarakat. Kebaktian diadakan secara agak bebas, boleh sambil makan, minum dan merokok. Setelah banyak anggota masyarakat khusunya yang PNI masuk Kristen, terlontar ejekan dari seorang tokoh agama, dengan istilah MARKATUL (Mahen katholik). Situasi memanas dan berakhir dengan meletusnya G.30 S PKI tahun 1965, dan setelah itu banyak yang masuk agama Kristen.

 

4.Baptis Massal di Desa Kemloko tahun 1966-1967

         Pada awal tahun 1966 tempat kebaktian pindah di rumah Bapak Rejo Pawiro Klowok Lor, dan diadakan peringatan natal yang pertama di rumah Bp.Siswanto.  Tidak lama berpindah lagi di gedung SD Negeri 2 Kemloko di Klowok Kidul. Pembinaan rohani dari GKJ Temanggung cukup baik dan membuahkan hasil, pada tanggal 8 Desember 1966 diselenggarakan baptisan massal yang pertama sebanyak 68 orang yang dilayani Bp.Pdt. Atmo Sukarto.

Kemudian Baptissan massal kedua pada tangal 14 Mei 1967 ada 185 orang dilayani oleh 3 pendeta yaitu Pdt.Atmo Sukarto, Pdt. Baker, Pdt.Soemitro Soelistyohadi bertempat di gedung SD Negeri 2 Kemloko.

         Pada tahun 1967 berdiri gereja baru, GKJ Temanggung Pepanthan Kemloko, dengan majelis pertama Bp.Dulrais, Bp. Slamet Andojo, Bp.Partoyo, Bp. Tohardjo.

 

5.Kemunduran Jemaat tahun 1968 – 1970

         Setelah kebenaran ajaran Kristen semakin dimengerti dan juga terpengaruh warga yang tidak Kristen, terjadi tantangan iman sedemikian rupa. Sebagian warga tidak sanggup menghadapi perubahan kebiasaan/adat dan budaya sadranan dan slametan, mala banyak jemaat yang mundur dan kembali pada agama yang semula.

 

6.Pembiakan Klowok dan Ploso

         Pada tahun 1968 tempat kebaktian yang semula di gedung SD Negeri 2 Kemloko dipindah ke rumah Bp. Yastro Klowok Kidul. Lalu pada tahun 1970 menanggapi usulan warga dari wilayah Ploso dan Senanggan, tempat kebaktian dibagi 2 kelompok yaitu Kelompok Ploso dan Kelompok Klowok.

         Kelompok Klowok , kebaktian pindah dirumah Bp. Djudi Pawiro -Klowok Lor dan Kelompok Ploso dirumah Bapak Yoso –Senanggan. Kedua kelmpok masih dalam satu pepanthan Kemloko. Yang perlu dipahami bahwa pemisahan tersebut tidak ada masalah, hanya karena pertimbangan tempat tinggal. Pada tahun 1973 masing-masing kelompok bias membuat gedung gereja sendiri walaupun masih dari kayu (papan), sedangkan tanah yang digunakan untuk bangunan gedung gereja kelompok Klowok membeli tanah milik Bp. Djopawiro yaitu bekas pendopo kelurahan. Sedangkan tanah yang digunakan untuk bamgunan gereja di kelompok Ploso, persembahan dari Bp.Slamet Andojo.

 

7.Pembiakan Klowok dan Bodehan, tahun 1973

         Pada tahun 1973 ada penambahan kelompok baru yaitu didusun Bodehan dan Waduk Desa Geblog kecamatan Kaloran, dan diberi nama Kelompok Bodehan. Pembiakan tesrsebut tidak ada masalah, hanya factor jarak dari klowok dan Bodehan yang masih terhalang banjir sungai Tingal pada musim penghujan dan belum adanya jembatan penghubung. Kebaktian pertama dilaksankan dirumah Bp,Djaswito dan juga berulang kali pindah tempat sebelum punya gedung gereja sendiri. Dan akhirnya dapat membangun gedung gereja pada tahun 1978. 

         Dengan perkembangn tersebut maka pepanthan Kemloko terbagi dalam 3 kelompok yaitu Kelompok Klowok, Kelompok Ploso dan Kelompok Bodehan.

         Pada tahun 1979 gedung gerja kelompok Klowok dapat direhap yang semula dari kayu menjadi tembok permanen. Perkembangan tahun 1991 gedung gereja tersebut direhap ringan dengan mengganti kap atas dan juga menambah luas ruangan karena tidak memadai untuk ibadah.

 

8.Perubahan status Kelompok Klowok dan Ploso menjadi pepanthan,

   tahun 1993

         Pada tanggal 22 Agustus 1993 kelompok Klowok berubah satatusnya menjadi pepanthan dengan nama GKJ Temanggung Pepanthan Klowok. Ibadah syukur perubahan status dilayani Bp.Pdt.Soemitro Soelistyohadi.

Pada tanggal 22 Agustus 1993 diikuti kelompok Ploso berubah ststus menjadi pepanthan dengan nama GKJ Temanggung Pepanthan Ploso, ibdah syukur dilayani Bp.Pdt. Drs. Is Subari. Sedangkan Bodehan masih berstatus kelompok dari Pepanthan Klowok.

 

9.Pendewasaan Pepanthan Kranggan tahun 1995

         Pada tanggal 11 Nopember 1995, GKJ Temanggung mendewasakan Pepanthan Kranggan menjadi GKJ Kranggan. Dengan pertimbangan territorial maka pepanthan Klowok dan pepanthan Ploso menggabungkan diri dengan gKJ Kranggan.

 

10.Pengembangan Pepanthan Klowok di dusun Kemiri Desa Getas

    Kecamatan Kaloran tahun 1997

        Pada tanggal 19 Mei 1997, dibuka pos pelayanan PI di dusun Kemiri Desa Getas yang merupakan pengembangan oleh Pepanthan Klowok. Awal munculnya pos PI di Kemiri atas permohanan Bp.Fx.Beno Turyono (mantan kepala desa Getas). Pertemuan awal dengan temu wicara atau sarasehan di rumah Ibu Dumpyuk dihadiri 8 orang prakarsai Bp.Sardji Dwiyanto S,Pd, S.Th. Pengenalan agama dan pembinaan rohani secara terus menerus sehingga disepakati untuk diadakan kebaktian di hari Minggu, kebaktian awal belum membawa persembahan dan dilayani Bp. Sardji Dwiyanto, S.Pd. Sth.

        Pada tanggal 31 Mei 1998 diadakan baptisan massal sebanyak 67 jiwa dilayani 2 pendeta yaitu Bp.Pujo Kristanto,S.Th  dan Bp.Pdt.Yahya Surya Atmaja. Majelis pertama Bp.Fx. Beno Turyono ,Bp.Supardi, Bp.Sumardi.

 

11.Pendewasaan Pepanthan Klowok menjadi GKJ Bukit Sion

     Tahun 1998-2002.

      Gagasan pendewasaan dituangkan dalam rapat jemaat 27 Januari 1998 dan masuk pembahasan di rapat pleno majelis GKJ Kranggan. dan menjadi kesepakatan bahwa pendewasaan pepanthan klowok setelah GKJ Kranggan memanggil pendeta yang pertama.

      Tanggal 27 Nopember 1999 GKJ Kranggan telah menahbiskan pendeta yaitu Bp.Pdt.Rekno Wibowo,S.Si. Maka diprogramkan untuk pendewasaan tersebut dan tahun 2000 diadakan latihan/uji coba sebagai jemaat dewasa, dan diusulkan dalam siding klasis Sindoro Sumbing di GKJ Jonggolsari tanggal 5 maret 2001. Berbagai proses dijalankan dan siding klasis Sindoro Sumbing II pada tanggal 15 Maret 2002 diJumo menyetujui dan disahkan untuk menjadi gereja dewasa.

      Gereja bersiap dan pada hari Senin Kliwon tgl 8 Juli 2002 diadakan peresmian pendewasaan gereja baru menjadi GKJ Bukit Sion Temanggung.

 

12.Proses Pemanggilan pendeta, tahun 2002 – 2006

      Langkah awal pembentukan panitia pemanggilan pendeta apada tgl 1 februari 2002 yang dilanjutkan pada usulan di siding Klasis Sindoro Sumbing III di GKJ Kranggan. Tgl 19 Agustus 2003 diadakan jajak pendapat untuk pemilihan calon pendeta dan pilihan tertuju pada Bp.Sadji Dwiyanto, S.Pd,S.Th,

      Usulan nama bakal calon pendeta diusulkan dalam siding Klasis ke-4 di GKJ Ngadirejo dan diterima untuk dilanjutkan.

Setelah dilakukan semua proses sesuai tata gereja dan berdasarkan rapat Majelis bersama paniatia pemanggilan pendeta pada rgl 8 Februari 2006 ,maka diagendakan proses ujian  pemanggilan calon pendeta yang dilaksanakan pada hari Kamis 30 Maret 2006 yaitu Sidang Istimewa Ujian calon pendeta GKJ Bukit Sion.

      Tanggal 8 Juli 2006 diselenggarakan penahbisan pendeta setelah dinyatakan layak tahbis oleh tim penguji. Dan resmi GKJ Bukit Sion Temanggung memiliki pendeta atas diri Bp.Pdt.Sardi Dwiyanto, S.Pd,S.Th.

 

  1. Pembangunan gedung gereja baru

     Bertumbuh dan bertambahnya jumlah warga jemaat maka daya tamping gereja tidak memadai lagi dan diadakan ibadah 2 kali, pagi dan sore.

Akhirnya muncul gagasan untuk pindah lokasi gedung gereja, setelah berproses sedemikian rupa dan sedemikian lama didapatkan tanah milik Bp.Marsidi dan diberikan tali asih sebesar Rp. 15.000.000,00 (Lima belas juta rupiah.

     Dengan segala keterbatasan dana Majelis serta jemaat tetap memprogramkan pembangunan gedung gereja baru tersebut.

Dimulailah dengan persiapan lahan merata tanah tersebut pada tgl 11 April 2004 dengan tanah seluas 1.180 M2 bertepatan hari Kebangkitan Tuhan Yesus. Diadakan penggalangan dana dari jamaat dengan persembahan jajnj kasih dan juga para donator.

     Pemasangan batu pertama dilaksanakan tanggal 5 Mei 2005 disaksikan Bp Camat Kranggan,Kepala Desa Kemloko, bertepatan dengan hari kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Pembangunan terus berjalan dengan berbagai macam gejolak dan dinamika kehidupan umat, berjalan dalam kurun waktu + 6 tahun sampai dirasakan layak diresmikan walaupun belum 100 % selesai.

     Pembangunan yang telah terwujud dirasakan dan disadari sangat luar biasa dan ditanggapi dengan sukacita. Diresmikan pada hari Kamis tanggal 8 Juli 2010. Dengan Nilai bangunan telah menghabiskan dana Rp.739.719.351,00 (Tujuh ratus tiga puluh Sembilan juta tujuh ratus Sembilan belas ribu tiga ratus lima puluh satu rupiah) atau dalam kurun waktu sampai selesai 100 % akan mencapai 1 M (satu milyar rupiah).

     Sungguh diluar jangkauan nalar kemampuan jemaat, tanpa campur tangan Tuhan semuanya tidak mungkin terselesaikan. Puji Sukur kepada Tuhan.

 

14.Proses Emiritasi Pendeta

Sampai tiba waktunya memasuki proses emiritasi pendeta,berdasarkan Keputusan Rapat Panitia Emiritasi dan Pemanggilan Pendeta II GKJ Bukit Sion Temanggung pada tanggal 22 Maret 2020 di GKJ Bukit Sion  Jam 16.00 WIB ;

Memutuskan bahwa waktu Emiritus Bapak Pdt.Sardji Dwiyanto, S.Pd,S.Th pada tanggal 12 Oktober 2021 dan tidak diperpanjang.

      Berbagai persiapan yang berhubungan dengan emiritasi pendeta dipersiapkan sejak awal baik rumah pendeta emiritasi dan lainnya. Pada bulan Maret 2020 karena pandemic covid19 membuat persiapan emiritasi terhambat dalam hubungannya dengan Klasis Sindoro Sumbing, sehingga dijalankan sebagaimana adanya.

      Memasuki pertengahan tahun 2021 ,pandemic berangsur mereda dan panaitia emiritasi harus berpacu dengan persiapan emiritasi pendeta tanggal 12 Oktober 2021. Kondisi kesehatan Bp.Pdt.Sardji Dwiyanto,S.Pd,S.Th yang kurang stabil seringkali membuat kekawatiran warga dan panitia.

Dengan tekad dan semangat Panitia yang telah terbentuk melaksanakan Ibadah Pendeta pada hari Selasa,12 Oktober 2021 jam 09.00 WIB.

    acara :                    pukul 09.00 – 10.30 : Ibadah Emiritasi

     pukul 10.30 – 11.00 : Ceremonial/resepsi

            Panitia Emiritasi dan Pemanggilan Pendeta II

Ketua        I           : Sukirman                       II       : Sumarah

     Sekretaris I              : Pareng                             II     :Agustina Sri W

     Bendahara I            : Joko Utomo               II          : Hiyariyah

     Dihadiri semua warga jemaat induk dan pepanthan, jemaat dewasa dan  

      adiyuswo;[anak-anak/remaja  tetap belajar dirumah/sekolah]

           Dihadiri Utusan Sinode, Utusan gereja mitra, pendeta-pendeta utusan gereja

       se Klasis Sindoro Sumbing, tamu undangan, apparat pemerintah kecamatan,   apparat

      desa serta dari koramil dan kepolisian sector Kranggan.Pelaksanaan Ibadah Emiritasi  

      berjalan lancar tidak ada halangan suatu apapun dan mendapat respon dan

      apresiasi yang bagus dari gereja-gereja.

        

      Laporan keuangan Pelaksannan Ibadah Emiritasi

       1.Administrasi & Transport pendeta klasis

         & sinode                                                                            Rp.  2.884.000,-

       2.Konsumsi                                                                          Rp.18.383.000,-

       3.Dekorasi                                                                           Rp.  2.037.000,-

       4.Perlengkapan                                                                   Rp.  2.205.000,-

       5.Dokumentasi (foto& vidio)                                              Rp.  2.000.000,-

       6.Keamanan                                                                        Rp.     367.500,-

       7.Acara                                                                                Rp.     725.000,-

       8.Humas & Protokol kesehatan                                          Rp.     166.000,-

          Jumlah                                                                          Rp.28.767.500,-

       (Dua puluh delapan juta tujuhratus enam puluh tujuh ribu lima ratus rupiah)