GKJ Cepu

Info Kontak:

: Jl. Diponegoro No.56A, Cepu 58312

: 0296-421417

: gkj.cepu@yahoo.co.id

: gerejakristenjawacepu.blogspot.com

Pendeta:

  • Pdt. Drs. Sri Handoyo
  • Pdt. Tata Mira Dewi Istanti, S.Si.Teol
Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 07.00 08.00
  2. Minggu, Pk. 16.00 17.00
  3. Minggu, Pk. 09.00 10.00
  4. Minggu, Pk. 10.00 11.00
  5. Minggu, Pk. 07.00 08.00
  6. Minggu, Pk. 11.00 12.00
  7. Minggu, Pk. 10.00 11.00
Profil dan Sejarah:

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai para pahlawannya. Para pahlawan nasional dapat dikenal lewat sejarah nasional Indonesia, tanpa mempelajarinya dan memahami sejarah nasional akan sulit mengenal siapakah para pahlawan yang benar.

Demikian pula dalam ruang lingkup Gereja Kristen Jawa Cepu, agar warga Gereja Kristen Jawa dapat mengenal para pendahulu, pejuang, para “Pahlawan” Gereja Kristen Jawa Cepu, maka perlu sekali setiap warga GKJ Cepu, mempelajari, memahami sejarah Gereja Kristen Jawa Cepu.

Presiden Republik Indonesia pertama yaitu Ir. Soekarno pernah berpesan kepada bangsa Indonesia demikian “jangan sekalikali meninggalkan sejarah”.

II. ASAL MULA GEREJA KRISTEN JAWA CEPU
Tahun 1949
1. Adanya kelompok orang-orang

Kristen di Cepu
Berdasarkan pengumpulan data dari para narasumber dan sekaligus sebagai pelakupelaku sejarah yaitu Bapak S. Hadiprayitno, Bapak Sisman Hadipranoto, Ibu Frans dan Ibu Wirjosutedjo (data 19491959) baik data tertulis maupun keteranganketerangan secara lisan menyebutkan bahwa di Cepu tahun 1949 sudah banyak orang Kristen terdiri dari orang Jawa, orang luar Jawa, orang Cina dan orang Belanda, kebanyakan pegawaipegawai BPM (Bataafshce Petroleum Maatshcappij). Mereka sebenarnya ingin sekali berkumpul bersamasama memuji nama Tuhan, berdoa dan membaca firman Tuhan, tetapi belum ada gedung gereja.

2. Timbulnya kebaktian yang pertama
Pada suatu hari mereka berunding dan sepakat mengadakan kebaktian dan bertempat di rumah Ibu Frans, Jalan Stasiun Ngareng, sekarang gedung GKI. Diantaranya ada ibuibu bidan dan mantrimantri rumah sakit bersalin. Kebaktian di sini berbeda dengan kebaktian sekarang, karena waktu itu mereka berkumpul bersama memuliakan nama Tuhan dan membaca Kitab Suci, berdoa dipimpin oleh salah satu di antara mereka yang dipandang mampu antara lain Bapak S. Hadiprayitno.

Pada suatu hari, ada seorang bidan Kristen di RS Cepu, bernama Djaitun meninggal dunia karena sakit. Dia asli dari Ngaringan Wirosari, tidak punya keluarga di Cepu. Di antara orangorang Kristen di Cepu tidak ada yang bisa merawat jenasah dan upacara kematian. Bapak S. Hadiprayitno minta bantuan Gereja Kristen di Blora. Bapak Pendeta Tirto Soewarno dan Majelis Gereja Blora datang di Cepu.

Selesai upacara penguburan, Bapak Pendeta mengajak saudarasaudara seiman pergi ke RS Cepu lagi dan di situlah Bapak Pendeta mengatakan bahwa kebaktian hari Minggu harus berjalan. Bapak S. Hadiprayitno diminta yang melayani karena belum ada petugas khusus. Tugas dilaksanakan bergantian dengan Bapak Kasmin Darmosoewito. Sedang Bapak Pendeta Blora melayani kebaktian satu kali satu bulan, tempat kebaktian di rumah Ibu Frans.

3. Terbentuknya Sinode Kesatuan

Pada tahun 1949 terjadilah persatuan antara Gerejagereja Kristen Jawa Tengah Selatan (GKJTS) dan Gerejagereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU), membentuk Sinode Kesatuan dengan nama Sinode Gerejagereja Kristen Jawa dan memakai Tata Gereja Presbiterial.

Gerejagereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU), setelah menjadi satu Sinode, menganut Tata Gereja Presbiterial dan dibagi menjadi 3 klasis yaitu :
1. Klasis Semarang, meliputi wilayah Kabupaten Semarang, Kotapraja Salatiga, Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Kendal. Tegal masuk Klasis Banyumas
2. Klasis Purwodadi, meliputi Kabupaten Grobogan termasuk Kaliceret, Purwodadi, Tempurung
3. Klasis Blora, meliputi Kabupaten Blora, Rembang, Bojonegoro, Tuban, Lamongan
Gereja yang sudah mandiri ialah Blora dan Bojonegoro (Sumber : Materi ceramah Ds. R. Wirjosoetedjo pada Sidang Klasis BloraBojonegoro, 10 Mei 1978 di Pulo)

4. Lahirnya Klasis BloraBojonegoro

Setelah Klasis Blora mengadakan rapat (sidang) pertama, nama Klasis Blora tidak dapat diterima karena ada 2 gereja mandiri yaitu Blora dan Bojonegoro, maka akhirnya disepakati nama klasis yang semula Klasis Blora sekarang namanya Klasis BloraBojonegoro.