GKJ Delanggu

Info Kontak:

: Jl. Raya Delanggu No.272, Delanggu, Klaten 57471

: 0272 551375

: gkjdelanggu@yahoo.com

Pendeta:

  • Pdt. Pramadi Tjahjono, M.Th.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 06.00
  2. Minggu, Pk. 16.00
  3. Minggu, Pk. 07.00
  4. Minggu, Pk. 06.30
  5. Minggu, Pk. 09.00
  6. Minggu, Pk. 16.00

Profil dan Sejarah:

Sejarah GKJ Delanggu tidak terlepas dari pembangunan Rumah Sakit Kristen (RSK) Delanggu, sekarang Puskesmas Delanggu , pada tahun 1925. Pembangunan RSK Delanggu bersamaan dengan pembangunan RSK Tegalyoso ( sekarang RSUP dr Soeradji Tirtonegoro, Klaten) dan RSK Panti Waluyo Surakarta.

Pembangunan RSK Delanggu selesai pada tahun 1927. Sebagai Mantri Kesehatan pertama yaitu Bapak Darmosasomo.
Pada saat itu dimulai adanya kebaktian yang bertempat di rumah dinas Mantri Kesehatan (Kompleks RSK sebelah selatan ).
Peserta kebaktian yaitu para pegawai RSK Delanggu ditambah beberapa orang guru Sekolah Rakyat Kristen Kepoh dan guruguru dari SRK Nglungge (jumlahnya sekitar 12 orang).

Pada tahun 1930, tempat kebaktian dipindahkan ke pendapa Rumah Sakit di sebelah utara.

Sebagai Guru Injil : Bapak Brotosudirdjo ( merangkap Penatua ), didampingi Bapak Josowaskito (Penatua) dan Bapak Hadiwasito (Diaken).
Pada tabun 1931, mulai dipikirkan mencari tanah untuk membangun gedung gereja.

Tahun 1932, Mantri Kesehatan Bapak Darmosasomo dipindahkan tugasnya ke RSK Panti Waluyo Surakarta, digantikan oleh Mantri Kesehatan Bapak Mintowiloso.
Anggota Majelis pada saat itu :
1. Bapak Mintowiloso (Penatua)
2. Bapak Brotosudirdjo (Penatua)
3. Bapak Hadiwasito (Penatua)
4. Bapak Resotenojo (Diaken)
Pendeta Konsulen dari Surakarta.
Setelah mendapatkan tanah, pada tahun 1935 mulai dibangun gedung gereja.

Peletakan batu pertama oleh Pendeta GD Kuiper.
Mantri Kesehatan Bapak Mintowiloso ditarik kembali ke RS Tegalyoso, digantikan oleh Bapak Darmowihardjo.

Tahun 1937, pembangunan gedung gereja selesai dan pada bulan Oktober 1937 mulai dipergunakan sebagai tempat ibadah.
Susunan Kemajelisan saat itu :
1. Guru Injil : Bapak Siswowardojo
2. Bapak Darmowihardjo (Penatua)
3. Bapak Wirjodarsono (Penatua)
4. Bapak Mangunsukardi (Penatua)
5. Bapak Purwosardjono (Penatua)
6. Bapak Karijodikoro (Diaken)
7. Bapak Praptosuhardjo (Diaken)
Konsulen Bapak Agustinus Joram (dari Klaten)
Koster: Bapak Karijobusono

Tahun 1939, Mantri Kesehatan Bapak Darmowihardjo digantikan oleh Mantri Kesehatan Bapak Hartosuparmo.
Susunan Kemajelisan tabun 1938 :
1. Bapak Hartosuparmo (Penatua)
2. Bapak Wirjodarsono (Penatua)
3. Bapak Siswoprastowo (Penatua)
4. Bapak Karijodikoro (Diaken)
5. Bapak Praptosuhardjo (Diaken)
6. Bapak Siswowardojo (Guru Injil)
7. Bapak Hadisuprojo (Guru Injil )
Koster: Bapak Karijobusono.

Tahun 1944, Mantri Kesehatan Bapak Hartosuparmo digantikan oleh Mantri Kesehatan Bapak Purwohardijono. Pada saat itu perkembangan gereja mengalami kemunduran.

Mantri Kesehatan Bapak Purwohardijono digantikan oleh Mantri Kesehatan Bapak Warso Wilis.
Tahun 1948 (jaman clash ), sebagai konsulen Bapak Pendeta Hardjobremoro dari Klaten, sampai dengan tahun 1951.
Anggota Majelis :
1. Bapak Purwoatmodjo ( Penatua )
2. Bapak Warso Wilis ( Penatua )
3. Bapak Siswoutomo ( Penatua, sebelumnya Diaken )
4. Bapak Pitojosuwito ( Diaken )
5. Bapak Tjiptoutomo (Diaken)
6. Bapak Karijodikoro ( Diaken ).
Tahun 1952, Mantri Kesehatan Bapak Warso Wills digantikan oleh Mantri Kesehatan Bapak Atmosandjojo.
Koster: Bapak Sarkun (mulai 1951).
Susunan Majelis :
1. Bapak Purwoatmodjo (Penatua)
2. Bapak Siswoutomo (Penatua)
3. Bapak Atmosandjojo (Penatua)
4. Bapak Pitojosuwito (Diaken)
5. Bapak Tjiptoutomo (Diaken)

Tahun 19531954 : menerima Guru Injil dari DPI Surakarta, Bapak Wirosumarto.
Anggota Diaken ditambah Bapak Nitirahardjo.
Konsulen Bapak Ds Dwidjowijono.
Tahun 1955, anggota majelis mengalami perubahan:
1. Bapak Purwoatmodjo (Penatua)
2. Bapak Siswoutomo (Penatua)
3. Bapak Atmosandjojo (Penatua)
4. Bapak Sindupramono (Penatua)
5. Bapak Widyoprasetyoadi (Penatua)
6. Bapak Nitirahardjo (Diaken)
7. Bapak Tjiptoutomo (Diaken)
Guru Injil Bapak Wirosumarto pindah ke Boyolali, digantikan oleh Guru Injil Bapak Praptosuhardjo dari Boyolali.

Tahun 1956 Bapak Sindupramono dan Bapak Atmosandjojo lereh karena pindah.
Kemajelisan mengalami perubahan lagi:
1. Bapak Purwoatmodjo (Penatua)
2. Bapak Siswosudarmo (Penatua)
3. Bapak Widyoprasetyoadi (Penatua)
4. Bapak Martosudarmo (Penatua)
5. Bapak Nitirahardjo (Diaken)
6. Bapak Tjiptoutomo (Diaken)

Tahun 1957 – 1958, anggota Majelis yaitu:
1. Bapak Siswosudarmo (Penatua)
2. Bapak Widyoprasetyoadi (Penatua)
3. Bapak Siswoutomo (Penatua)
4. Bapak Jitnosubroto (Penatua)
5. Bapak Tjiptoutomo (Penatua)
6. Bapak Nitirahardjo (Diaken)
7. Bapak Warnosumardjo (Diaken)
Konsulen : Bapak Ds Martopranoto ( dari Pedan 19551956) dan Bp. Ds.Hadisewojo ( 19561957 dari GKJ Manahan ).

GKJ Delanggu 1964 1994
Pada tahun 1963, GKJ Delanggu mengutus :
1. Bapak S. Saptoatmodjo (Tanjung).
2. Bapak K. Nitirahardjo (Juwiring)
3. Bapak S. Jitnosubroto (Cokro)
4. Bapak S. Mangundarmodjo (Delanggu)
5. Bapak S. Widyoprasetyoadi (Ceper)
6. Bapak Siswoutomo (Pucangan)

Menemui Bapak S. Natasoedarmo yang pada saat itu bertugas di GKJ Baki agar bersedia melaksanakan kotbah dan orientasi di GKJ Delanggu. Setelah melalui pergumulan yang panjang, Bapak S. Natasoedarma menerima panggilan untuk melayani di GKJ Delanggu.
Tanggal 17 Januari 1964, Bapak S. Natasoedarma menjalani “Premptoir eksamen ” (ujian pendeta) Klasis Surakarta bertempat di Prambanan bersamasama dengan Bapak Sudiharto (GKJ Klaten) dan Bapak Stefanus Widyosudarno ( GKJ Prambanan ).

Pada tanggal 23 Juni 1964, Bapak S. Natasoedarma ditahbiskan menjadi Pendeta GKJ Delanggu, dengan kotbah sulung : Yohanes 15: 18.
Penahbisan dipimpin Ds Martopranoto ( pendeta konsulen ) dari GKJ Pedan. Penumpangan tangan ( pemberkatan ) dilakukan oleh 15 orang Pendeta.

Peristiwaperistiwa penting yang dapat dikemukakan selama masa tugas Ds. S. Natasoedarma :
Peletakan batu pertama pastori gereja Delanggu (11 Mei 1964)
Pendewasaan pepanthan Wonosari (17 Oktober 1968)
Peresmian gereja Polanharjo (2 Juli 1969)
Kumpulan doa pagi setiap hari Rabu (mulai 15 Nopember 1972)
Peresmian gereja Juwiring di Ngerni (25 Desember 1973)
Pendewasaan pepanthan Ceper (1 Juli 1977)
Pembentukan Komisi Komisi (31 Juli 1977)
Peletakan batu pertama gereja Sanggung (19 Desember 1982)
Peneguhan Majelis wilayah Daleman (29 Nopember 1998)
Pada tanggal 3031 Oktober 1969, GKJ Delanggu menjadi gereja penghimpun Sidang Klasis
Surakarta Barat

Bapak Ds. S. Natasoedarma mengakhiri tugasnya sebagai pendeta aktif/definitif di GKJ Delanggu pada tanggal 1 Januari 1992 dalam suatu kebaktian emiritasl.

GKJ Delanggu tahun 2008

Sebelum menahbiskan pendeta aktif selepas emiritusnya Bapak Ds. S. Natasoedarma tahun 1992, konsulen untuk GKJ Delanggu adalah Pdt. Widyatma Ph., S.Th. (GKJ Klaten) dan Pdt. Mulyadi HW (GKJ Ceper). Penahbisan Pendeta Pramadi Tjahjono, S.Th. dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 1994. Beberapa tahun kemudian Pendeta Pramadi Tjahjono, S.Th. melanjutkan studi S.2 dan berhasil memperoleh gelar Magister Theologia (M.Th.) dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
Pepanthan Polanharjo yang semula menjadi bagian dari GKJ Delanggu, memisahkan diri dan bergabung dengan GKJ Jatinom.