GKJ Grabag Merbabu

Info Kontak:

: Jl. Kyai Siradj No.99, Grabag, Magelang 56196

: 0293 3148171

: kempoek60@yahoo.com

Pendeta:

Data Pendeta Belum Tersedia

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 07.00 09.00

Profil dan Sejarah:

Jauh sebelum kemerdekaan, banyak orangorang keturunan: Thionghoa yang membuka usaha dagang di Grabag. Kedatangan nereka di Grabag tidak bisa diketahui dengan pasti. Setelah mereka sukses membuka usaha berdagang, mereka mengadakan persekutuan kecil, yang akhirnya berkembang rnenjadi sebuah kelompok yang besar. Awal dari diadakannya persekutuan ini jugatidak diketahui dengan pasti. Sesudah kelompok ini berkembang menjadi besar dan juga untuk nemudahkan pemeliharaan warga jemaat, maka kelompok ini resmi bergabung dengan Gereja Hoa Kiauw Kie Toh Kauw Hwee (GHKKTKH) sebagai pepanthan.
Karena semakin banyaknya warga baik dari keturunan Thionghoa maupun pribumi, maka pepanthan ini didewasakan pada tanggal 15 Juli 1938. sebagai awal dari didewasakannya gereja ini, telah dibangun sebuah gedung gereja yang tidak diketahui kapan pelaksanaan pembangunannya. Pendewasaan gereja inilah yang menjadi cikal bakal adanya gereja yang ada di kecamatan Grabag. Adapun susunan majelis pertama kali sesudah pendewasaan gereja antara lain sebagai berikut:
Liem Ik Tjiang
Tt Liem Siaw Hie
Tt Go Sing Liang
Tt Theng Djie le
Dk Hadi Sanyata

Keberadaan Gereja sebelum merdeka
Sebelum dan sesudah gereja didewasakan, pelayan firman dilakukan oleh para pelayan firman yang juga kebanyakan warga Thionghoa antara lain :
Guru Injil Diong
Ds S.HLiem
Then Djien Soei
Ds. Merkelyn
Siswasiswa Sekolah Theologi Yogyakarta
Kegiatankegiatan bergereja tetap berlangsung terus menerus sampai
Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Dari datadata yang berhasil dikumpulkan, tidak banyak diketahui tentang peranan dan tindakantindakan yang dilakukan oleh pihak gereja untuk mendukung kemerdekaan Rl. Akan tetapi bukan berarti orangorang Kristen tidak mendukung upayaupaya untuk mencapai kemerdekaan, melainkan gereja pada saat itu memilih untuk tidak berpolitik praktis. Setelah Indonesia merdeka, bukan berarti perang sudah selesai begitu saja tetapi perang masih terus berkecamuk. Salah satunya adalah pertempuran antara pasukan pejuang kemerdekaan dengan pasukan Belanda yang “membonceng” NICA, yang pada saat itu terkenal dengan sebutan zaman Clash yang kedua yang terjadi pada bulan Desembar 1948.

Ketika terjadi Clash kedua suasana menjadi semakin genting, dan gereja juga tertimpa imbasnya. Selain tidak lancarnya kegiatankegiatan gereja karena suasana peperangan masih tetap berlangsung, gereja menerima akibat yang sangat fatal yakni penghancuran gedung gereja. Gedung gereja dibakar dan dimusnahkan, diratakan dengan tanah. Penghancuran gedung itu diperkirakan karena pada saat itu gereja ditenggarai “dekat” dengan kolonialis Belanda. Secara keorganisasian, Gereja HKKTKH dinyatakan bubar. Hampir seluruh warga jemaat yang kebanyakan orangorang Thionghoa melarikan diri ke Magelang dan kotakota besar lainnya. Mereka melarikan diri dengan alasan keamanan, dan takut jika terjadi kerusuhan susulan.

Keberadaan Gereja setelah merdeka
Jemaat yang tidak meninggalkan Grabag kebanyakan adalah orangorang pribumi. Bubarnya organisasi gereja yang terdahulu tidak membuat mereka luntur semangatnya untuk tetap melakukan ibadah dan kegiatankegiatan lainnya. Kendala yang ada saat itu tidak karena jumlah warga jemaat yang sedikit tetapi karena tidak adanya gedung yang digunakan untuk beribadah. Berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai, akhirnya kebaktian dilaksanakan di rumah Bapak Redjasumitra (ayah Bapak Poespo Wardoyo) di dusun susukan. Walaupun jemaat belum banyak, tetapi mereka tetap optimis bahwa suatu saat nanti jemaat akan tumbuh dengan pesat.
Adapun pelayanpelayan firman yang melayani jemaat antara lain :
Bp Yoram (GKJ Magelang);
Bp Sarmo (GKJ Magelang)
Bp Harjo Darsana; Bp Yusuf.

Kebaktian yang diadakan di tempat Bp Redjasumitra berlangsung dari tahun 1948 sampai dengan tahun 1956. Tidak banyak yang bisa dikutip dari sini, akan tetapi kita bisa meneladani semangat yang ada pada diri setiap jemaat untuk tetap setia mengikut Tuhan Yesus Kristus. Pada tahun 1956, dengan tanpa alasan yang pasti kebaktian berpindah dari rumah Bp. Redjasumitra ke rumah Ibu Jhon Amster atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Djon atau Ibu Kaliyuk. Perlu diketahui bahwa Ibu Jhon Amster adalah istri seorang Belanda Bp Jhon Amster. Beliau adalah Ibu angkat dari Ibu Titik Soewarno. Pada saat itu orang Kristen di Grabag semakin bertambah banyak, diantaranya keluarga Redjasumitra, kel .Bp Wira (ayah dari Bp Darma Prayitna), Kel. Bp Sunar Danoebrata, Kel. Ibu Jhon Amster, Kel. Sbu Asriningsih (istri Bp Yohanes Sucipto) dan juga keluarga lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Perkembangan Gereja pada tahun 19581964
Sesudah jemaat bertambah banyak dan dirasakan semakin kuat, maka pada tahun 1958, pihak gereja HKKTKH (yang nantinya berubah menjadi GKI Pajajaran), menyerahkan sepenuhnya tanah yang dulunya adalah bekas gedung gereja kapada pihak GKJ Magelang. Oleh pihak GKJ Magelang, yang diwakili oleh Pdt. Siswawasana dan Pdt. Natasubali, tanah itu diserahkan kepada jemaat di Grabag yang diwakili oleh Bp Redjasumitra dan Bp Kasri. Tanah hasil hibah dari GKI Pajajaran itulah yang nantinya digunakan untuk gedung gereja sampai saat ini.
Pembangunan gedung gereja dimulai pada tahun 1964. Pada saat itu keadaan keuangan jemaat di Grabag masih jauh dari yang diharapkan. Oleh karena itu, tidak mungkin membangun gedung gereja tanpa bantuan dari pihakpihak yang peduli dengan keadaan warga jemaat di Grabag. Untuk mengatasi hal itu maka pihak GKJ Magelang memberikan sejumlah dana serta menghibahkan sebuah bekas rumah sosial yang berada di Blondo kepada jemaat di Grabag. Selain dari GKJ Magelang banyak juga donatur yang menyumbangkan sejumlah dana untuk membangun sebuah rumah ibadah. Dengan penuh semangat untuk memiliki gedung gereja sendiri, pembangunan gedung itu akhirnya selesai dan mulai ditempati pada tahun 1969. Sejak tahun itulah, kebaktian berpindah dari rumah Ibu Jhon Amster ke gedung gereja yang sudah selesai di bangun, walaupun pembangunannya belum selesai sempurna, sehingga idamidaman untuk memiliki tempat ibadah sendiri sudah tercapai berkat adanya iman yang kuat dan rasa percaya diri yang tinggi serta persatuan yang kokoh.
Perkembangan Gereja pada tahun 19641980
Status jemaat di Grabag saat itu adalah pepanthan dari GKJ Magelang. Akan tetapi setelah Plengkung didewasakan menjadi GKJ Plengkung pada tanggal 21 Mei 1970, maka pemeliharaan pepanthan Grabag ini diserahkan sepenuhnya kepada GKJ Plengkung. Selain pepanthan Grabag, GKJ Plengkung juga merupakan induk dari pepanthan secang dan kepatran. Sesudah Grabag resmi, menjadi pepanthan maka pada saat itu mulai dibentuk susunan kemajelisan yang baru. Adapun orangorang yang pernah menduduki jabatan majelis pada tahun 1970 1980 antara lain :
1. Bp. Dullah
2. Bp. Soewarno W.H
3. Bp. S. Soenarta
4. Majelis GKJ Plengkung
Para majelis yang tertulis diatas adalah majelis dari pepanthan Grabag sendiri, sedangkan untuk majelis yang lain, yang juga mengatur dan membina warga jemaat merupakan majelis dari pepanthan Secang dan juga dari GKJ Plengkung.
Untuk lebih memantapkan posisi dan juga pemeliharaan terhadap warga jemaat maka timbulah suatu gagasan untuk mendewasakan diri pada tahun 1990, walaupun keadaan yang belum mendukung. Keinginan dan semangatlah yang membuat warga GKJ Grabag untuk menjadi dewasa, dan pada akhirnya sesudah melalui proses yang panjang pepanthan Grabag didewasakan menjadi GKJ Grabag Merbabu pada tanggal 1 Juli 1995. Adapun susunan panitia pendewasaan waktu itu terdiri dari :
Penasehat : Bp. Ds. Samana Hs., BD.
Bp. Ds. Pranowohadi, B.Th.
Ketua I : Bp. Drs. S. Adiwiratmoko
Ketua II : Bp. Sunar Danubroto, BA.
Ketua III : Bp. Suwarno
Sekretaris II : Bp. Edison Tampubolon
Sekretaris III : Bp. Lilik Supriyanto
Anggota : Bp. RB. Aswahono
Bp. Wahyono
Bp. S.Sunarto
Bp. Dasiran
Bp. Drs. Budisatulistyasto
Bp. Jumadi
Bp. Sudijo

Susunan kepanitiaan inilah yang berjuang untuk mendewasakan GKJ Grabag Merbabu, tentu dengan dukungan semangat warga ingin menjadi gereja yang “merdeka”.Tanpa berpikir panjang kemajelisan Gereja untuk pertama kalinya di bentuk, dengan susunan (1995 1998) sbb:
1. Ketua I : Pdt. Pranawahadi
2. Ketua II : Tt. Suwarna Widyohartana
3. Ketua III : Tt. S. Soenarta
4. Sekretaris I : Tt. Dasiran Ari Kustono
5. Sekretaris II : Tt. Prihutama Wandaya
6. Anggota : 1. Dk. Budiharti
2. Tt. O.P Simanjuntak
3. Tt. Soetarna Hendra Prayitna
4. Dk. Lilik Supriyanta
5. Tt. Sumarna
6. Dk.Tri Widayati
7. Kwestor (Bendahara Gereja) : Suwarti Slamet Thee

Susunan kemajelisan diatas adalah untuk pertama kalinya bagi GKJ Grabag, mulai saat itulah kemandirian dari gereja benarbenar diuji. Dengan didewasakannya GKJ Grabag Merbabu, maka segala sesuatu kegiatan yang ada di gereja itu sendiri harus ditanggung sendiri juga oleh warga jemaat majeiis dan juga pendetanya.