GKJ Gunturgeni

Info Kontak:

: DK VII Gunturgeni RT.01, Kel. Poncosari, Kec. Srandakan, Bantul, Yogyakarta 55762

: –

: gkjgunturgeni@gmail.com

Pendeta:

  • Pdt. Semuel Adhi Nugroho, S.Si.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu 09.00 WIB.

Profil dan Sejarah:

Gunturgeni adalah suatu pedukuhan yang terdapat di Kelurahan Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY. Sekitar tahun 1930 mulai adanya persekutuan orang Kristen buah dari pekabaran Injil Rumah Sakit Bantu (Hulphospitaal) yang didirikan oleh RS Bethesda (Petronella Hospitaal) di SandenBantul dan GalurKulonprogo. Kehadiran Guru Injil Elyada yang melakukan Pekabaran Injil di Rumah Sakit Bethesda, diusia lanjut beliau menetap di Tegalayang Srandakan dan rumah tinggalnya dipergunakan untuk ibadah warga Gunturgeni sebelum dan sesudah mempunyai gedung gereja.

Tahun 1932 dimulai kebaktian di Gereja Gunturgeni yang dipimpin oleh Ds. D.B.J. Allaart dengan dihadiri kurang lebih 30 orang. Setelah mengalami masa sulit akibat penjajahan Jepang tahun 1942 sampai dengan pemerintahan RI pasca kemerdekaan 1945, Gunturgeni tetap bertahan serta mulai berkembang. Pekabaran Injil dilakukan oleh Bp. Patah Hardjosoewito yang diangkat menjadi Colporteur melayani dengan membagikan majalah “Mardi Rahardja” dan Almanak Dinding terbitan Taman Pustaka Kristen Yogyakarta terutama diberikan kepada para lurah dan camat di daerah Srandakan, Sanden, Brosot dan sekitarnya. Guru Injilnya Bp. Sriboedyosoetjondro hingga akhirnya dalam Sidang Klasis di Wonosari tanggal 8 November 1944 diputuskan jemaat Gunturgeni dilayani oleh GKJ Patalan pada masa Ds. R.S.P. Poerbowijoga. Pada tahun 1948 jemaat Gunturgeni dilepas dari GKJ Patalan untuk mandiri, ditambahkan juga jemaat Galur menjadi pepanthannya dan dilayani oleh Bp. Sapardja Hardjosoewito sebagai Guru Injil. Pada masa Bp. S. Hardjosoewito ini mulailah dibentuk Majelis Gereja.

Pendeta yang pertama di GKJ Gunturgeni adalah Ds. Sapardja Hardjosoewito, beliau melayani jemaat Gunturgeni dan Galur selama 4 tahun (19491953) karena dipanggil menjadi pendeta GKJ Kalipenten. Dalam Daftar GKJ di Sinode Persatuan tahun 1949, GKJ Gunturgeni sudah disebut sebagai gereja dewasa dilayani oleh Pendeta Harjosoewito.
Guru Injil selanjutnya Bp. Soeharto Hardjosoewito (19531956) adalah putera pertama Bp. Patah Hardjosoewito (Colporteur). Dilanjutkan oleh adiknya yaitu Bp. Samono Hardjosoewito (19571958) putera kelima Bp. Patah Hardjosoewito. Sedangkan Bp. Sarjono menjadi guru Injil paling lama yakni selama 22 tahun (19551977) hingga akhirnya diteguhkan menjadi Pendeta GKJ Gunturgeni–Galur tahun 1978, pada waktu itu di Klasis Kulonprogo. Beliau melayani selama 12 tahun sampai emiritus tanggal 15 April 1990.

Setelah Klasis Yogyakarta mengalami perkembangan menjadi 22 gereja dewasa sehingga berbiak menjadi 2 Klasis yakni Klasis Yogyakarta Timur dan Barat, GKJ Gunturgeni berada di Klasis Yogyakarta Barat selama kurang lebih 5 tahun. Karena Klasis Yogyakarta Barat berkembang hingga menumbuhkan Klasis baru yaitu Kulonprogo, maka GKJ Gunturgeni yang wilayahnya dekat Kulonprogo dimasukkan di Klasis Kulonprogo dan berklasis selama 15 tahun. Tahun 1988 karena wilayah Bantul telah bertumbuh Klasis Yogyakarta Selatan maka GKJ Gunturgeni berproses untuk pindah ke Klasis Yogyakarta Selatan. GKJ Gunturgeni berpisah dengan Pepanthan Galur, masuk ke Klasis Yogyakarta Selatan mulai 4 Juli 1990 dan diterima dalam Sidang VI Klasis Yogyakarta Selatan di GKJ Madukismo tanggal 31 Oktober 1991, tertuang dalam Artikel 17 tentang Kedewasaan GKJ Gunturgeni. Sedangkan Pepanthan Galur diserahkan ke GKJ Wates mulai 11 Agustus 1990. Keadaan warga GKJ Gunturgeni saat itu sebanyak 117 jiwa yang terdiri dari 95 warga dewasa (L=48; P=47) dan 22 warga anak (L=6; P=16). Konsulen yang melayani selama di Klasis Yogyakarta Selatan adalah Pdt. Joko Surodo, Pdt. Hagussumarmanadi, Pdt. Triyono, dan Pdt. Harjono.
Pada tanggal 5 Nopember 2013 GKJ Gunturgeni mengadakan Peneguhan Pendeta Semuel Adhi Nugroho, S.Si, yang alih tempat pelayanan dari GKJ Cilacap Utara ke GKJ Gunturgeni.