Info Kontak:

: Jl. Balai Pustaka Timur No.1, Rawamangun, Jakarta 13220

: 0214 893435; (Fax: 0214 752162)

: gkjjkt@bitnet.net.id

: www.gkjjakarta.org

Pendeta:

  • Pdt. Neny Suprihartati, M.Th.
  • Pdt. Hosea Sudarna, S.Th.
  • Pdt. Ir. Yoel M. Idrasmoro, S.Th.
  • Pdt. Eunike Trikayasuddhi, S.Si.
  • Pdt. Em. Dr. Kadarmanto Hardjowasito, Th.M. (Emeritus)
  • Pdt. Em. Prof. Sularso Sopater, D.Th. (Emeritus)

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, 06.30 WIB,
  2. 09.00 WIB,
  3. 17.00 WIB, Bahasa Indonesia 
  4. Minggu, 09.00 WIB, Bahasa Jawa

Profil dan Sejarah:

GKJ JAKARTA TEMPO DOELOE HINGGA KINI

 

Di tengah berkecamuknya perang kemerdekaan bangsa Indonesia, muncul kerinduan sekumpulan pemuda Kristen Jawa yang berada di Batavia (Jakarta) untuk dapat beribadah menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantarnya, maka sekitar tahun 1940 para pemuda tersebut sepakat membentuk komisi atau perkumpulan. Kerinduan terjawab dengan meminjam aula Christelijke Fröbelschool (Taman Kanak-kanak Kristen) di Vliegveldlaan (Jalan Garuda) sebagai tempat kebaktian untuk pertama kali.

Peribadahan yang semula hanya berbentuk kebaktian keluarga ini, mulai dilayani oleh majelis Gereformeerde Kerk Kwitang (GKI Kwitang) bagi kelompok kebaktian berpengantar bahasa Jawa. Namun di tengah perjalanan terjadi silang pendapat, sehingga kelompok kebaktian berpengantar bahasa Jawa tersebut pecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Salemba 10 dan kelompok Kwitang.

Bertambahnya anggota kelompok kebaktian berpengantar bahasa Jawa dengan pelbagai kegiatannya ini mendorong Majelis Gereformeerde Kerk Kwitang duduk bersama dengan pimpinan kelompok kebaktian ini untuk membicarakan rencana pendewasaan kelompok tersebut.

Pada 21 Juni 1942 pendewasaan kelompok kebaktian berpengantar bahasa Jawa diresmikan oleh Gereformeerde Kerk Kwitang dengan nama Geredja Kristen Jawa di Djakarta, dengan tempat ibadah menumpang di Sekolah Rakyat Kernolong.

Duduk sebagai Majelis pertama kalinya adalah tenaga gereja Basoeki Probowinoto, R. Soemarjo dan R. Soedarmo sebagai Penatua, serta Jatman dan Sisworo sebagai Diaken. Jemaat baru ini tergabung ke dalam Klasis GKJ Tengah Yogyakarta. Karena belum punya pendeta, maka jemaat yang masih sangat muda usia dengan jumlah keanggotaan 121 orang ini dilayani oleh Ds. K. Tjokrosiswondo dari Bandung sebagai Pendeta Konsulen.

30 Agustus 1942, dua kelompok yang pecah kembali bersatu dan menjadikan GKJ Jakarta sebagai rumah bersama, bersama-sama berjuang menjadi gereja dewasa dan mandiri.

1 November 1942 tempat kebaktian pindah ke aula STT Jakarta. Di tempat ini dilayankan pertama kali Sakramen Perjamuan dan Sakramen Baptis. Pada 28 Maret 1943 GKJ Jakarta menahbiskan tenaga gereja Basoeki Probowinoto sebagai pendeta jemaat pertama.

Sebagai gereja dewasa dan mandiri, GKJ Jakarta melaksakan tugas Pekabaran Injil dengan mengambil alih tugas pelayanan kerohanian bagi warga Kristen Jawa di Kaleksanan dari Keluarga van Emmerik yang ditahan oleh Tentara Jepang.

Tahun 1944 untuk pertama kali GKJ Jakarta melayani warga Kristen Jawa di Bogor.

Panggilan jiwa untuk berjuang demi kemerdekaan bangsa mendorong Pdt. Basoeki Probowinoto menyerahkan tugas pelayanan sehari-hari kepada Majelis Gereja.

Agar kerohanian jemaat tetap terpelihara, maka pada 25 Juli 1948 tenaga gereja Roesman Moeljodwiatmoko ditahbis sebagai Pendeta jemaat kedua di GKJ Jakarta.

Dalam perjalanan waktu, dengan upaya dan kerja keras jemaat GKJ Jakarta maka pada 14 Juni 1962 terbentuklah Yayasan Pembangunan Gereja (YPG), yang bertugas menghimpun dana dan membangun gedung gereja GKJ Jakarta yang teletak di Jalan Balai Pustaka Timur No. 1, Rawamangun, Jakarta 13220. Pembangunan gedung yang dimulai pada 6 November 1966, dan digunakan pertama kali sebagai tempat kebaktian pada 29 Juni 1969.

GKJ Jakarta sampai dengan tahun 2022, telah menahbiskan 10 pendeta jemaat:  Pdt. Basoeki Probowinoto, Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko, Pdt. Suwandi Martoutomo, Pdt. Kadarmanto Hardjowasito, Pdt. Yohanes Bedjo Sudarmo, Pdt. Djoko Sulistyo, Pdt. Hosea Sudarna, Pdt. Neny Suprihartati, Pdt. Yoel Muwun Indrasmoro, dan Pdt. Eunike Trikayasuddhi.  Sampai saat ini GKJ Jakarta tetap ingin memiliki semangat pejuang pendiri GKJ Jakarta tempo dulu, yaitu menjadikan GKJ Jakarta sebagai rumah bersama.

Kini, dalam perjalanannya, GKJ Jakarta telah berkembang dengan pesat, berbuah lebat dengan mandirinya wilayah dan pepanthan pelayanannya menjadi jemaat dewasa dan mandiri: GKJ Eben-Haezer, GKJ Tanjung Priok, GKJ Pangkalanjati, GKJ Bekasi, GKJ Joglo, GKJ Depok, GKJ Pondok Gede, GKJ Grogol, GKJ Gandaria, dan terakhir GKJ Bogor. Bahkan GKJ Bekasi telah memandirikan GKJ Bekasi Timur dan GKJ Bambu Kuning.

 

Disadur dari tulisan Panhut70GKJJkt/nsr/2012

 

Link Update Pembaharuan