Info Kontak:

: Jl. JapahTodanan KM.1, Kec. Japah, Kab. Blora 58257

: –

: sem.gkjjapah@gmail.com

Pendeta:

  • Pdt. Sih Ell Mirmaningrum, S.Th.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 10.00
  2. Minggu, Pk. 12.00

Profil dan Sejarah:

Periode 1 (tahun 45 sebelum tahun 65an)
Dusun Gabeng, desa Pengkolrejo, itulah tempat pertama (+ tahun 1945) Injil disemai di daerah Japah oleh tentara Belanda. Pada waktu itu Belanda sudah kalah, tetapi karena terbeban untuk menabur Injil, maka beberapa “landa apikan” yang kembali dan memperkenalkan penduduk desa pada Injil Kristus (kembalinya beberapa tentara Belanda itu disebut dengan “landa mbalikan” itulah yang diingat oleh beberapa “jemaat sepuh” sebagai tonggak berdirinya jemaat Tuhan di Gabeng.)
Jemaat awal terdiri dari Bapak Sumijan (kakek Bapak Slamet), Bapak Kamin (orang tua Bapak Basmin), Bapak Tas (orang tua Mbah Jami), Bapak Jas (orang tua bu. Darmi), dan Bapak Wiryo. Setelah Belanda menyemai benih Injil, benih Kekristenan itu kemudian dirawat oleh Mbah Dhe (Tionghoa yang berdagang di Japah dan juga menabur Injil di Japah), Bapak Joyo (pelayan GKJTU yang berasal dari Sambonganyar), Mbah Suryo (awalnya pelayan GKJTU tapi akhirnya menjadi pendeta pertama GKJ Japah), Bapak Timotius, dll (para pelayan GKJTU).
Sementara itu di sekitar pasar Japah, Bapak Elkana / Mbah Dhe / Mbah Brengos / Cong Yu (pedagang Tionghoa yang juga ikut memelihara bertumbuhnya Injil di Gabeng) pada tahun 60an datang untuk berdagang di pasar Japah. Setiap sore hari Mbah Dhe (demikian jemaat awal menyebutnya) selalu mengumpulkan keluarganya untuk melaksanakan kebaktian keluarga, berdoa dan memuji Tuhan. Ini menyebabkan beberapa orang penasaran dan ingin mengenal rahasia sukacita mereka. Mereka yang tertarik dan kemudian menjadi pengikut Kristus yang pertama adalah Mbah Suro Surat (bapaknya Bu. Nyamianaknya 7 orang, sampai kini anakanak keluarga ini tetap menjadi pengkut Kristus) disusul kemudian Mbah Darmo (perhutani Ngrowo, yang rumahnya kemudian dijadikan dipakai untuk ibadah), Mbah Suro Surat (Bogem, bapaknya Bapak Bambang), Mbah Surat (Bogem, bapaknya Bapak Naryo), Mbah Din (bapaknya Bapak Ngadi), Mbah Karmi (masih hidup tapi tidak ke gereja lagi), Mbah Setu Sapon (mati dengan tidak mempunyai keturunan), Mbah Setu (lurah, meninggal dan anakanaknya tidak ada yang ke gereja), Mbah Sepon (japah), Mbah Sumo Tas (carik Thekel), Mbah Domo, mbah Joyo Sarmidi, Mbah Karbu (ngrowo), Mbah (depan gereja), Mbah (depan bu. Peno), Mbah (sampingnya Mbah Peno).

Periode 2 (tahun 1965~1974)
Berikutnya ketika tragedy 65 meledak dan ungkapan nek ora sem ya disem muncul. Jemaat Tuhan di Gabeng dan di Japah meledak kehadirannya. Jemaat Tuhan di Gabeng kemudian membuka tempat ibadah di dukuh Pengkol sedangkan jemaat Tuhan di Japah yang tadinya beribadah di ruang dapurnya Mbah Dhe kemudian beribadah di rumah Mbah Darmo (lokasi rumah Mbah Darmo ada di samping kanan gereja Japah sekarang).
Pada waktu itu karena banyaknya jemaat Japah maka Mbah Dhe berinisiatif memanggil pelayan yaitu Mbah Suryo. Beliau melayani jemaat Japah dengan taktik mendatangi orangorang kunci (orang yang berpengaruh) diantaranya: mendatangi lurah Japah (Bapak Setu). Pak lurah Japah punya pengaruh yang kemudian mempengaruhi lurah Tlogowungu, dst. (mendatangi gankgank / orangorang kunci, yakni orangorang yang berpengaruh, diantaranya: Mbah Suro Surat (bogem), Bapak Setu (lurah Japah), Bapak Kardi (lurah Tlogowungu). Kemudian Bapak Suro Surat memperkenalkan Injil kepada Bapak Naryo, Bapak Dar, Bapak Munasih.
Perkembangan selanjutnya jemaat mengalami kemunduran karena jauhnya jarak yang harus ditempuh Bapak Suryo dalam pelayanannya. Gereja Gabeng mulai ditinggalkan, sampai Bapak Suryo mendengar kabar ada gereja (Gabeng) yang mau dijual. Yang kemudian didatangi, dirawat dengan telaten, sampai akhirnya Gabeng memilih untuk mengikuti Bapak Suryo menjadi GKJ. Dan karena Bapak Suryo juga melayani di Japah, maka gereja Gabeng dilayani bersamasama dengan Japah (menjadi pepanthan Japah).

Periode 3 (tahun 1974~1992)
Pada tahun 74, Bapak Emanuel Mulyo menyelesaikan pendidikannya di Wirobrajan, dan karena beliau diutus oleh Klasis BloraBojonegoro, maka beliau kemudian kembali ke Klasis BloraBojonegoro dan ditugaskan untuk melayani di Japah. Kebaktian Penahbisan Pendeta dilayani oleh Pdt. Djamhuri dari Rembang.
Pada tahun itu GKJ Japah mempunyai kelompok di Tlogowungu dengan jemaat diantaranya: Bapak Kadar (dari Ngapus), Bapak Rajikan (rip), Bapak Kardi (sakit), Bapak Sadikin (Bapak Carik) (rip), Bapak Waji (rip), Bapak Suki (rip), Bapak Kasmi (rip), Mbah Mijan (rip), Mbah No (rip), Mbah Karmi, Bapak Kayun (rip), Mbah Paini, Mbah Giyar, Mbah Ngapi, Mbah Karso (rip), Mbah Nah.
Pada tahun 8089an terjadi 2 peristiwa besar, yaitu:
• Tahun 86: ada beberapa KK pindahan dari Pulo Kedungtuban di daerah Banjarejo, menghendaki menjadi pos PI GKJ Japah diantaranya keluarga Bapak Giyarto, Bapak Mantri Suntik, Bapak Darto, bu. Sri. Namun kemudian ini tidak berlanjut sampai sekarang.
• Tahun 89, kelompok Tlogowungu memisahkan diri dari GKJ Japah dan kemudian meminta dilyani oleh GIA Pucakwangi (dilayani oleh Bapak Yoyok selama 1 tahun. Kini, jemaat itu dilayani GKJTU.
Pdt. Emanuel Mulyo melayani GKJ Japah sampai tutup usia pada 2 Februari 1992 sebelum emeritus, dikarenakan sakit.

Periode 4 (tahun 1992~2004)
• Tahun 19922004 GKJ Japah mengalami kekosongan pelayan , pada waktu itu GKJ Japah dilayani oleh pendeta Konsulen yaitu:
o Tahun 1992Pdt. Emanuel Mulyo meninggal
o Tahun 19931995Pdt. Setyo dari GKJ Cepu
o Tahun 19962002Pdt. Kunco Winarto dari GKJ Blora
o Tahun 20022003GKJ Japah punya Pdt sendiri yaitu Pdt. Yokanan Setiawan
o Tahun 20032004Pdt. Yusup Pamuji dari GKJ Rembang
o Tahun 20052006Pdt. Nindya Iswara dari GKJ Lasem
o Tahun 20072008Pdt. Yusup Pamuji
o Tahun 2009Pdt. Juli dari GKJ Singgahan
o Tahun 2010Pdt. Kunco Winarto
• GKJ Japah juga menerima mahasiswa praktek (stage) dari beberapa fak. Teologi yang didukung sinode GKJ diantaranya Saudara Heri (yang sekarang melayani di GKJ Bekasi), stage pada tahun 1994, dan Saudara Digdo (sekarang pendeta GKJ Ngaringan), Stage tahun 1997.
• Akhirnya, pada 6 November 2000 dimulailah Proses pemanggilan Pendeta atas diri Sdr. Yokanan Setiawan. Dan pada tanggal 1 Maret 2002 GKJ Japah memboyong Bapak Yokanan ke GKJ Japah. Dan pada 7 Maret 2002 GKJ Japah menahbiskan pendeta yang ke3 dalam diri Bapak Yokanan Setiawan. Namun karena sesuatu hal pendeta tersebut kemudian pindah ke GKJ Kradenan, art. 12. Dengan demikian GKJ Japah kembali mengalami kekosongan.
• Kemudian GKJ Japah mendapatkan pelayanan dari Bapak Hadi (dari GITJ Pati) yang kemudian berencana diproses menjadi pendeta, namun karena ada satu hal akhirnya proses tidak dilanjutkan.
• Akhir tahun 2008 GKJ Japah mendapar tawaran untuk menerima Tenaga Karya Bakti dari Sinode GKJ, yang ditindaklanjuti dengan dikirimnya Tenaga Karya Bakti pada tanggal 18 Januari 2009 yang menjadi tenaga Karya bakti s/d 19 Januari 2010 dan kemudian diproses menjadi calon Pendeta. Sampai dengan sejarah ini ditulis Proses Pemanggilan Pendeta masih berlangsung dan sampai pada tahap pembimbingan.

Periode V (2009~sekarang)
Demikianlah perjalanan GKJ Japah. Menjadi awal periode V adalah tawaran Sinode GKJ untuk menerima Tenaga Karya Bakti, yang kemudian diterima dengan sukacita.
• Tenaga Karya Bakti tersebut kemudian menjalani Karya Baktinya selama satu tahun 18 Januari 2009 s/d 18 Januari 2010. Dengan 4 kalli supervise yang dilakukan oleh Bapelsin GKJ.
• Mendekati masa akhir Karya Bakti, GKJ Japah bersamaan dengan supervise ke4 mohon untuk didampingi berkaitan dengan keinginan dan kebutuhan Jemaat untuk memiliki seorang pendeta.
• Keinginan GKJ Japah itu disampaikan dalam Persidangan Klasis yang kemudian ditindaklanjuti oleh Bapelklas dengan Proses Pembimbingan (dimulai Mei 2010)
• Kemudian setelah dinyatakan layak mengikuti ujian calon pendeta, GKJ Japah menyelenggarakan Sidang Istimewa Ujian Calon Pendeta pada tanggal 28 April 2011 atas diri Sih Ell Mirmaningrum.
• Proses masih berlangsung…dan akan terus berlangsung.
• Dalam semua perjalanan itu GKJ Japah tidak pernah dibiarkanNya berjalan sendiri. Banyak pihak bergandengan tangan menopang dan menolong. Itulah keyakinan kami.
o GKJ EbenHaezer dan GKJ Pondok Gede adalah mitra dalam perjalanan Proses Pemanggilan Pendeta GKJ Japah
o GKJ Kabluk, GKJ Jatimulyo adalah kawan perjalanan dalam pelayanan kepada Kristus
o Gereja seKlasis Blora Bojonegoro adalah saudara dalam hidup bersama
o Gereja seSinode, meski kita berjauhan namun kita satu keluarga besar, satu tubuh Kristus.
o Gereja seIndonesia dan dunia, mari bersama membangun tubuh Kristus
o Tuhan Yesus memberkati kita.
Demikianlah sekelumit sejarah perkembangan GKJ Japah yang dapat penulis rangkum. Kiranya bermanfaat dan menjadikan nama Tuhan dimuliakan. Amin.