GKJ Kalipenten

Info Kontak:

: Tegowanu, Kaliagung, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta 55664

: –

: gkj.kalipenten@gmail.com

Pendeta:

  • Pdt. Aris Khristian Widodo, S.Si.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 08.00

Profil dan Sejarah:

Sejarah Berdirinya dan Perkembangan Gereja
Kristen Jawa Kalipenten
Gereja Kristen Jawa di Kalipenten merupakan bagian dari Gereja-gereja Kristen Jawa. Dengan demikian keberadaan Gereja Kristen Jawa di Kalipenten dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari Gereja Kristen Jawa pada umumnya baik dengan keadaan sosial, politik, dan budaya sejak mulai perkembangannya hingga kini.
Usaha pekabaran Injil di Gereja Kristen Jawa Kalipenten dimulai sejak abad XIX pada jaman pemerintahan Belanda pada tahun 1900. Ketika Pdt. Zwaan datang dari Belanda untuk melayani wilayah Yogyakarta sudah terdapat kelompok Jemaat kecil di Kalipenten. Jumlah orang Kristen di Kalipenten yang minta menjadi asuhan Zending sebanyak 12 orang.
Pada tahun 1910 Tua-tua Sastra Karya dari Temon sebagai Guru Injil membantu Pdt. Swaan untuk wilayah Kalipenten. Ketika itu yang menjadi warga/Jemaat Kalipenten keluarga besar P. Ronodidjojo dengan anak-anaknya, diantaranya : Atmobroto, Rubin Hardjosiswojo, Tidjojo, Sarjono, Sonotani, Nojosuwito, Sewodrono, Nojo Bedor, Karjo, Soetinem, Ridjem, Sewokarjo, Toegimin, Hardjokirdjan, , Resosentono, S. Kepuk, Ngadinem, dan Girah. Hal ini pelayanan ibadah dan Pekabaran Injil dipusatkan di salah satu rumah warga di Desa Semawung sampai tahun 1930.
Jumlah warga Kalipenten pada tanggal 1 Januari 1913 kurang lebih 61 orang merupakan hasil bersama dengan badan Zending. Untuk mendukung suksesnya pelayanan di Kalipenten tahun 1913 itu juga didirikan Sekolah Zending untuk rakyat sampai kelas IV.
Pada tahun 1930 tempat ibadah Jemaat Kalipenten masih semi permanen (dari gedhek) didirikan di tanah milik Bp. Karjodikromo di dusun Ngrandu, Kalinganti.
Pada tahun 1933 tenaga guru Injil di Kalipenten Resosudarmo dari Minggir Sleman, kemudian diganti Guru Injil Ngabei Maruto Soegondo tahun 1936. Majelis Jemaat Kalipenten, Majelis Jemaat Ngulakan bersama majelis Jemaat Ngento-ento diteguhkan Tahun 1938. Bersama Jemaat Wates dan Jemaat Ngulakan memanggil pendeta sendiri atas diri Guru Injil M. Rubin Hardjosiswojo. Setelah menambah beberapa pengetahuan dan menempuh ujian peremtoer, ia diteguhkan sebagai Pendeta di Gereja Wates, tanggal 26 Oktober 1938, yang turut hadir dalam upacara Penahbisan Pendeta waktu itu sejumlah 12 orang Pendeta Belanda dan Jawa.
Sakeus Hardjowiratmo sebagai Guru Injil di Kalipenten tahun 1939, selanjutnya diganti oleh Guru Injil Widjosuwiryo tahun 1940 sampai jaman Jepang.
Pada zaman Jepang Jemaat Kalipenten dilayani oleh Pendeta Konsulen Pdt. Rubin Hardjosiswojo dari Wates, dibantu Tua-tua setempat diantaranya Siswopranoto, Resosentono, Hardjopraptojo, Martosupadmo, dan Atmopurwoko.
Tahun 1945 Jemaat Kalipenten dilayani oleh Guru Injil Martama Eliada dari Morangan sampai 1950 kemudian pindah ke Medari.
Tahun 1951 Jemaat Kalipenten memanggil Hardja Sucipta sebagai Guru Injil. Di Sentolo dirintis mengadakan kebaktian keluarga di rumah Atmopurwoko di dusun Siwalan Sentolo mulai 1952, meskipun kebaktian tersebut belum berjalan rutin setiap minggu dan dilayani dari Kalipenten.
Sementara itu tempat ibadah Jemaat Kalipenten pindah di rumah Bp. Marto Pusposinubo, karena tempat ibadah lama roboh terkena bencana alam (angin lesus). Kemudian memanggil Pendeta Hardjo Suwito dari Guntur Geni,beliau melayani Jemaat Kalipenten dari 1952 sampai dengan tahun 1960, kemudian pensiun. Tempat ibadah permanen dibangun di atas tanah Zending di Desa Tegowanen daerah Kalipenten. Bangunan + 12 x 8 m, diresmikan tahun 1958.
Pada akhir tahun 1959 Jemaat Kristen wilayah Nanggulan diserahkan oleh Majelis Gereja Kristen Jawa Ngento-ento ke Majelis Gereja Kristen Jawa Kalipenten dengan modal :
1. Bp. Kadarisman sebagai Guru Injil
2. Tanah seluas 2565 meter persegi
3. Satu mimbar kayu jati
4. Lima puluh kursi dan fasilitas lain.
Pada tahun 1960 Jemaat Kalipenten memanggil Pendeta Rekso Atmodjo dari Gowok. Beliau hanya melayani satu tahun kemudian pindah sebagai gantinya Samono Harjo Suwito sebagai Guru Injil, namun Guru Injil tersebut hanya beberapa saat saja karena dipanggil untuk melayani sebagai Pendeta di Gereja Kristen Jawa Patalan Bantul.
Tahun 1962 Gereja Kristen Jawa Kalipenten memanggil Pendeta Untung Marsudi, namun sebagai pendeta Kalipenten Bp. Untung Marsudi disewakan rumah di Sentolo tidak berdomisili di Kalipenten. Jemaat makin berkembang, tahun 1967 di Desa Ngentakrejo terjadi pertobatan masal, merupakan hasil kerja sama pelayanan Majelis Gereja Kristen Jawa Bantul dan Kalipenten.
Karena Pendeta Untung Marsudi dipanggil Jemaat Metro Lampung, Jemaat Kalipenten memanggil Bp. Hardjokrisworo sebagai Pendeta Gereja Kristen Jawa Kalipenten ditabiskan pada tanggal 26 Mei 1970 di Gereja Kristen Nanggulan.
Pada waktu itu pelayanan Gereja Kristen Jawa Kalipenten meliputi 5 wilayah kecamatan, yaitu : Sentolo, Nanggulan, Girimulyo, Kalibawang, dan Lendah. Pelayanan dengan 8 tempat ibadah atau dalam 4 konsentrasi yaitu : Kalipenten, Sentolo, Nanggulan dan Ngentakrejo. Gedung Gereja permanen waktu itu baru Kalipenten dan Nanggulan. Seiring dengan berkembangnya jumlah Warga Gereja Kristen Jawa Kalipenten dan usaha keras Jemaat untuk membangun, maka di wilayah Sentolo dapat membangun Gedung Gereja permanen di tanah persembahan Bp. R. Sarana Sudarsono, di Jangkang tanah persembahan Ibu Wagiman, di Tuksono di tanah milik SD BOPKRI Tuksono, di Ngentakrejo di tanah persembahan Bp. Margi Utomo, di Sribit Gereja Gereja Kristen Jawa Kalipenten menerima persembahan Gedung Gereja baru lengkap dengan mebeler dan tanah pekarangannya, dari keluarga Ibu Daliman Warga Gereja Kristen Gondokusuman, yang penerimaannya dilakukan oleh Bapak Bupati Kulon Progo, Drs. Sintha Ari Wibowo.
Setelah berjalan lebih kurang 12 tahun pelayanan Pendeta Hardjokrisworo, dirasakan perlu merealisasikan gagasan pendewasaan. Maka disetujui pendewasaan pertama kali wilayah Nanggulan yang meliputi : Nanggulan sendiri, Sribit, dan Kalibawang menjadi Gereja Dewasa Gereja Kristen Jawa Nanggulan. Hal ini terjadi pada tanggal 31 Oktober 1983. Kemudian menyusul wilayah Sentolo yang meliputi : Sentolo sendiri, Jangkang dan Tuksono menjadi Gereja Dewasa Gereja Kristen Jawa Sentolo, pada tanggal 31 Oktober 1992. Sehingga tinggal satu wilayah yang belum dewasa sampai saat ini yaitu wilayah/pepanthan Ngentakrejo.
Pada tanggal 21 Oktober 2000 Pendeta Hardjkokrisworo memasuki masa Emeritus. Pelayanan selanjutnya Gereja Kristen Jawa Kalipenten dilayani oleh Bp. Pendeta Santoso Budiharjono, S.Si dari Pendeta Gereja Kristen Jawa Wates sebagai Pendeta Konsulen.
Tahun 2001 melakukan proses pemanggilan Calon Pendeta Jemaat Gereja Kristen Jawa Kalipenten bagi Sdr. Aris Christian Widodo, SSi (UKDW). Dan baru tanggal 14 Desember 2002 ditahbiskan sebagai pendeta.

Pada tanggal 6 Agustus 200… pepanthan Ngentakreja
Dewasa dengan membawa warga kurang lebih 400 jiwa sehingga warga GKJ Kalipenten hanya tinggal sekitar 150 jiwa. Namun setelah pendewasaan pepanthan Ngentakreja GKJ Kalipenten semakin menujukan kemandiriannya sehingga selalu terus meningkatkan baik dari sisi jumlah, persembahan, maupun SDM yang ada.

Jumlah warga gereja
Jumlah Warga Gereja Kristen Jawa Kalipenten yang beralamat di Dusun Tegowanu, Desa Kaliagung, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo hingga akhir tahun 2010 adalah sebagai berikut :
Warga Dewasa : Laki – laki : 71
Perempuan : 73
Anak-anak : Laki-laki : 19
Perempuan : 22
Jumlah total : 185

Penutup
Dalam penulisan sejarah singkat Gereja Kristen Jawa Kalipenten, sumber data diperoleh dari buku stambuk, notulen rapat-rapat Majelis Gereja, Dokumen Gereja Kristen Jawa Kalipenten dan hasil wawancara dari nara sumber orang terdahulu sebagai pelaku sejarah.