Info Kontak:

: Jl. Sukun, Gg. Kamboja No.96, Karangbendo, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta 55198

: 0274-488919

: info@gkjkb.org

: www.gkjkb.org

Pendeta:

  • Pdt. Imanuel Geovasky

Jadwal Ibadah:

Minggu, 08.00 WIB, Bahasa Indonesia/Bahasa Jawa

Profil dan Sejarah:

 LAHIR DAN TUMBUH-BERKEMBANGNYA GKJ KARANGBENDO

  1. Cikal-Bakal Jemaat Karangbendo

Cikal-bakal jemaat Karangbendo bermula dari sakramen baptis yang diterima oleh beberapa keluarga dari dusun Karangbendo di gereja GKJ Ambarrukma pada 25 Desember 1966. Beberapa keluarga itu tercatat adalah: keluarga Trisno Sudarsono (4 orang), keluarga Sosrosuhartono (7 orang), keluarga Sudinah Adiwiyono (4 orang), keluarga Kaminah Budiharsono (8 orang), keluarga Sadji Suripto (8 orang), Sastrogunarto (1 orang) dan Karsoprawiro (1 orang). Dari data ini diketahui ada 38 jiwa yang menjadi jemaat mula-mula wilayah Karangbendo, yang di kemudian hari disebut Wilayah V dalam pembagian wilayah pelayanan GKJ Ambarrukma (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 21). 

  1. Pembangunan Gedung Gereja Karangbendo

Oleh karena semakin bertambahnya jumlah jemaat GKJ Ambarrukma yang beribadah di gedung gereja Papringan sampai menyebabkan banyak jemaat harus duduk di kursi di luar gedung gereja dan gedung gereja yang dirasa jauh harus menyeberang jalan Yogya-Solo bagi warga jemaat dari Gowok, Karangbendo, dan Janti, muncullah inisiatif untuk membangun gedung gereja lagi di wilayah dusun Karangbendo sekitar pertengahan dekade 1980-an. Perintisan pembangunan gedung gereja di dusun Karangbendo bermula dari keluarga Toekidjo Widjisantosa (wilayah V) dan keluarga Hardiono Yoram (wilayah VI) yang secara bersama-sama mempersembahkan tanah miliknya seluas 1.850 m2 untuk dibangun gedung gereja. Karena tanah yang dipersembahkan aksesnya cukup sulit karena posisinya yang jauh dari jalan desa, maka keluarga Handoko Murwitosusanto (Wilayah V), keluarga Toekidjo Widjisantosa dan keluarga Samuel Soeharto (wilayah II timur) mempersembahkan tanahnya dengan lebar 5 m x panjang 60 m untuk digunakan sebagai akses jalan di sebelah barat bidang tanah yang sudah dipersembahkan tersebut. Bp. Mulyono dan Bp. Widiyanto Mateus mengusahakan meminjamkan truk dari Dinas PU Kotamadya untuk mengangkut tanah urug 250 rit dari bongkaran bekas makam pecinan di lokasi RSUP Sardjito untuk mengurug tanah yang akan dibangun gereja dan akses jalan gereja. Bp Suwito Prayitno membantu pelaksanaan angkutan pengurugan tersebut. Perataan tanah urug ini kemudian dilakukan secara bergotong-royong oleh warga jemaat wilayah V (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: pp. 21-22).

Proyek pembangunan gedung gereja kemudian dilaksanakan dengan membentuk panitia pembangunan yang diketuai oleh Bp. Samuel Suharto. Hal ini ditindaklanjuti dengan mengajukan ijin pembangunan gedung gereja kepada pemerintah desa setempat. Proses perijinan berjalan lancar dan didukung serta disetujui oleh Camat Banguntapan, Drs. Sugiyanto dan Kepala Desa Banguntapan, R. Suwarno. Panitia kemudian memutuskan pihak yang menggambar desain arsitektur gereja adalah Ir. Gideon Sulistyo dan Ir. Prawatyo Widiyanto. Adapun pihak pelaksana pembangunan adalah CV. Adikombinasi yang dipimpin oleh Bp. Sukartono, BSc. Pembiayaan pembangunan ini untuk sementara waktu ditalangi oleh CV. Adikombinasi untuk selanjutnya dibayar bertahap oleh gereja sesuai dengan kemampuan jemaat (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: pp. 22-23). Pembangunan gedung gereja Karangbendo sempat terkendala karena pimpinan pelaksana pembangunan Bp. Sukartono meninggal dunia. Proyek pembangunan sempat berhenti beberapa waktu, sampai kemudian proyek dilanjutkan dengan tugas-tugas Bp. Alm. Sukartono dilanjutkan oleh keluarganya (hasil wawancara dengan Bp. Nirmolo Harsono pada 24 Juli 2017).

Desain arsitektur gereja Karangbendo diinpirasi oleh filosofi Jawa. Atap gedung gereja berbentuk mengerucut seperti tumpeng, yang dalam tradisi Jawa melambangkan hubungan yang semakin mendekat kepada titik pusat kehidpan, yaitu Sang Khalik. Topangan delapan pilar besar merefleksikan simbol heksagonal yang digunakan bangsa Israel, juga sama dengan delapan penjuru angin. Dinding-dinding dibuat setengah terbuka dan tidak ada penyekat yang tegas memisahkan tiap-tiap ruangan bermakna keterbukaan warga jemaat dalam menerima baik masukan maupun kritikan dari siapa saja dan dari segala penjuru demi kemajuan gereja. Tempat duduk jemaat ditata melingkar yang bermakna bahwa setiap warga jemaat harus saling mengenal satu sama lain dengan baik, seperti halnya orang duduk jagongan dengan suasana yang dekat dan hangat. Di sisi lain, di dalam gedung gereja tidak terdapat simbol Kristiani karena gedung gereja ini juga diharapkan dapat menjadi tempat interaksi sosial dengan warga masyarakat non-Kristiani secara luas (khususnya bagi para petani dapat berteduh [ngiyup] dan makan siang saat mereka beristirahat bekerja di sawah dan ladang sekitar gereja). Hal ini turut menggambarkan sikap keterbukaan gereja dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 22).

Peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja Karangbendo dilaksanakan dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Hadisiswoyo pada tanggal 2 Oktober 1983, dengan nats bacaan Hagai 1: 2-11. Prosesi peletakan batu pertama dilakukan secara berturut-turut oleh Camat Banguntapan, Kepada Desa Banguntapan, Bpk. Hardiono Joram, Bpk. Toekidjo Widjisantosa, Bpk. Samuel Suharto dan Bpk. Sudarjo dari Pembimas Kristen. Total keseluruhan dana yang dihabiskan untuk pembangunan gereja adalah sebesar Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 23).

Untuk memenuhi kebutuhan kursi gereja, Bp. Sardjono dari wilayah Janti mengusulkan agar setiap satu orang warga mempersembahkan satu buah kursi besi. Dari usaha ini akhirnya terkumpul sebanyak 175 buah kursi. Selain itu, warga wilayah Karangbendo bersama dengan warga Papringan mengusahakan dana bersama untuk membeli kursi meubelair bekas dari gedung bioskop di Magelang untuk menambah kebutuhan kursi yang masih kurang. Oleh karena kebutuhan yang mendesak diadakan peribadatan di Karangbendo, gedung gereja Karangbendo mulai dipergunakan untuk ibadah Minggu pada tanggal 16 Agustus 1985 meskipun pembangunan gedung gereja belum sepenuhnya selesai (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 23).

Sekitar setahun kemudian gedung gereja Karangbendo telah selesai dibangun dan diresmikan penggunaannya sebagai tempat ibadah, tepatnya pada tanggal 17 September 1986 oleh Bupati Bantul, Kolonel KRT Suryo Padmo Hadiningrat. Pada saat yang sama, di gereja Karangbendo juga dilaksanakan penahbisan bapak Yusri Panggabean S.Th sebagai pendeta pelayanan umum dengan penugasan pelayanan mahasiswa atas prakarsa Badan Kerjasama Persekutuan Gereja Indonesia, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (BKS PGI GMKI) cabang Yogyakarta (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 23). 

  1. Kiprah Awal Pelayanan Gereja Karangbendo

Pada masa-masa awal setelah gedung gereja diresmikan, pelayanan gereja Karangbendo menunjukkan perkembangan yang baik, di antaranya bisa dilihat dari ibadah dan sakramen yang dilayankan. Dalam aras kebersamaan dengan GKJ Ambarrukma, gereja Karangbendo dapat dikatakan terberkati oleh karena didampingi Pdt Budyanto, M.Th yang semenjak ditugaskan oleh Majelis Agung GKJW menjadi dosen di STT Duta Wacana, telah aktif membantu pelayanan di GKJ Ambarrukma khususnya wilayah Karangbendo. Pdt Budyanto melayani sakramen Baptis suci pertama setelah gedung gereja Karangbendo diresmikan, yakni tepatnya tanggal 25 Desember 1986. Adapun beberapa nama yang menerima sakramen baptis dewasa tersebut adalah Keluarga Ibu Harjo Paminto, Bp. Boiman Budi Wiratman, Bp. Pawiroredjo, Bp. Wismo Winardjo, Ibu Lina Elisabeth Tumpuk Prihatin, Bp. Sudilan, Ibu Sri Harpini Sudilan, Bp. Harlan Prasetyo, Ibu Esti Haryati Sutardjo, Bp-Ibu Sagiman, Bp. Sumardiyono (dukuh Janti waktu itu), Bp. Sukardi, dan Bp. Pawirorejo. Sedangkan sakramen baptis anak dilayankan kepada putra-putri keluarga Sudilan (1 anak), keluarga Sutardjo (2 anak), dan keluarga Bambang Siswanto (2 anak), total ada 5 anak (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 24).

Beberapa majelis gereja dan jemaat Karangbendo, dengan inisitaif dari Bp. Sardjono, mengusulkan untuk diadakan pelatihan yang difasilitasi oleh gereja Ambarrukma dan dibina oleh Bp Siswandarso berupa pelatihan pertukangan, menjahit, dan perbengkelan bagi warga kampung sekitar tahun 1970-an. Selain itu, juga diadakan bantuan permodalan untuk usaha membuka usaha toko kelontong, gerobak sampah, dan tukang sepatu sebagai bagian dari kegiatan diakonia pada dekade awal 1970-an. Keluarga Bp. Sardjono mendekati beberapa warga kampung khususnya kaum muda secara kekeluargaan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut secara gratis, seraya dibagikan nilai-nilai Kristiani. Dari kegiatan kekeluargaan yang intergeneratif ini, beberapa warga kampung mengikuti pelatihan tertarik untuk belajar nilai-nilai Kekristenan. Mereka lalu diikutkan katekisasi. Katekisasi bagi pemuda kampung pernah dilakukan di rumah Bp Sardjono yang dilayani oleh Pdt. Harjosuwarno. Kelompok pemuda ini dipelopori oleh Bp Sutardjo dengan mengumpulkan pemuda yang lain dan diajak ke rumah Bp Sardjono untuk mengikuti katekisasi. Beberapa warga yang mengikuti katekisasi tersebut pada akhirnya menerima sakramen baptis. Pada perayaan Natal akhir tahun 1960-an, Bp Sardjono berniat mengundang 50 orang dari warga yang dilatih itu, namun ketika perayaan Natal yang datang sebanyak 250 orang (hasil wawancara dengan Bp. dan Ibu Sardjono, pada 31 Juli 2017).

Program bedah rumah bagi warga jemaat yang tinggal di rumah yang kurang layak juga pernah dilakukan dalam rangka pelayanan diakonia. Kegiatan PI yang dilakukan jemaat Karangbendo tidak melulu dilakukan secara terbuka, tapi juga melalui pelayanan sosial dan membina hubungan baik dengan warga kampung. Misalnya, dulu gereja sering meminjamkan kursi, meja jenazah, atau sound system kepada warga kampung yang membutuhkan. Hal ini disambut baik oleh warga kampung dan mereka menjadikan gereja sebagai tempat rujukan jika hendak meminjam barang-barang tersebut. Namun sayangnya saat ini gereja tidak lagi mengijinkan barang-barangnya dipinjam oleh warga kampung, padahal hal ini berdampak baik (hasil wawancara dengan Bp. dan Ibu Sardjono, pada 31 Juli 2017).

PI jemaat Karangbendo juga dilakukan melalui budaya. Bp Alm. Sumardi (warga pindahan dari gereja Katolik) mempunyai ide untuk mengajukan proposal permohonan seperangkat gamelan bersama Bp Sutarno, dan Bp Ibu Sardjono kepada Bp Dwianto (Direktur SGM, warga GKJ Sarimulyo). Hal ini tidak dilakukan atas nama majelis gereja, namun secara pribadi warga. Setahun kemudian permohonan itu disetujui dan dibelikan langsung di daerah Wargen, Klaten. Setelah memiliki perangkat gamelan sendiri, jemaat Karangbendo dapat berlatih gamelan secara rutin dan bisa menampilkan seni karawitan baik dalam even-even gereja maupun di masyarakat. Selain itu, kegiatan latihan sekar macapat juga rutin diselenggarakan. Para penggiat macapat ini mempersembahkan sekar macapat dalam ibadah dan persekutuan di gereja. Mereka juga beberapa kali diminta mengisi acara sekar macapat secara on-air maupun off-air di beberapa radio di Yogyakarta sebagai bagian dari kegiatan PI, kesaksian dan komunikasi pada masyarakat (hasil wawancara dengan Bp. dan Ibu Sardjono, pada 31 Juli 2017).

Untuk meningkatkan pelayanannya, GKJ Ambarrukma yang menjadi induk gereja Karangbendo menginisiasi rencana pemanggilan pendeta. Sehubungan dengan hal ini, majelis bersama dengan warga jemaat mengupayakan pembangunan rumah pastori yang nantinya ditempati oleh pendeta terpilih. Tanah tempat pembangunan pastori untuk GKJ Ambarrukma diputuskan berada di tanah kompleks gereja Karangbendo, yakni di sebelah utara gedung gereja. Pembangunan gedung rumah pastori ini menghabiskan dana sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Peresmian rumah pastori tepat bersamaan dengan penahbisan pendeta terpilih Pdt. Bambang Subagyo, Sm.Th sebagai pendeta GKJ Ambarrukma pada tanggal 15 Juli 1987 dengan ditandai penyerahan simbol kunci rumah pastori dari majelis gereja kepada Pdt. Bambang Subagyo. Dengan demikian, gereja Karangbendo sekali lagi menjadi saksi sejarah dimana dua orang pendeta telah ditahbiskan di gedung gereja yang relatif muda kala itu (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 24).

Seiring dengan perkembangan pelayanan dan kegiatan gereja Karangbendo, wilayah V kemudian secara administratif disebut Gedung 2 GKJ Ambarrukma. Pada bulan Februari 1995 dibentuk Usaha Bantuan Renovasi Gedung Gereja 2 (Karangbendo) atau disingkat TUAN REGEDA sebagai bentuk tanggungjawab jemaat dalam perawatan dan pengembangan gedung gereja 2 atas inisiatif Bp. Toekidjo Widjisantosa dan Bp. Nirmolo Harsono yang didukung oleh warga jemaat. Renovasi mulai dilaksanakan dengan memindahkan kamar mandi menjadi terpisah dari bangunan utama gereja guna memperluas ruang konsistori. Kemudian, renovasi dilakukan dengan meninggikan tanah di sebelah selatan gereja untuk dipasang paving blok dan membangun pagar keliling. Setelah tujuan program TUAN REGEDA tercapai, maka pada bulan Oktober 1997 tugasnya diambil alih Pokja Wilayah V. Pokja ini dilengkapi semacam badan-badan pembantu majelis yang dibagi menjadi bidang dan komisi yang secara fungsional berperan sebagai roda penggerak pelayanan gereja Karangbendo. Pokja ini menjadi semacam prototype struktur organisasi gereja Karangendo setelah dewasa nantinya. Pokja ini pula pada bulan Mei 2003 bertugas melaksanakan pengadaan kursi gereja yang terbuat dari kayu jati dan mengganti mimbar yang lama (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 25). 

  1. Proses Perkembangan Wilayah V menjadi Pepanthan Karangbendo

Kegiatan ibadah, persekutuan, dan pelayanan di Gedung 2 (Wilayah V, Karangbendo) GKJ Ambarrukma semakin berkembang, termasuk dalam hal jumlah warga jemaatnya. Oleh karena itulah, majelis bersama dengan warga jemaat Karangbendo mulai memikirkan proses menuju sebuah gereja yang mandiri. Pemikiran ini kemudian ditindaklanjuti dengan membawa aspirasi warga wilayah V tersebut ke dalam Sidang Majelis GKJ Ambarrukma. Atas usulan ini, persidangan majelis GKJ Ambarrukma memutuskan melalui Akta Sidang Majelis ke-2 tertanggal 17 Januari 2008 artikel 1 yang memuat tentang pembentukan pepanthan. Persidangan kemudian memutuskan bahwa rencana pembentukan pepanthan menjadi materi Sidang Majelis Terbuka GKJ Ambarrukma pada 24-25 Januari 2008 (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 25).

Oleh karena doa dan niat yang kuat dari segenap warga jemaat, usulan Wilayah V untuk menjadi pepanthan disetujui dalam Sidang Majelis Terbuka tersebut. Keputusan ini tertuang dalam artikel 1 yang kemudian dikuatkan dengan Akta Sidang majelis GKJ Ambarrukma ke-4, 7 Februari 2008 tentang Penetapan Pepanthan GKJ Ambarrukma. Sidang memutuskan: [1] Gedung 2 ditetapkan menjadi GKJ Ambarrukma Pepanthan Karangbendo yang dipimpin oleh majelis di wilayah V Timur, V Tengah dan V Barat, [2] Gedung 3 menjadi GKJ Ambarrukma Pepanthan Nologaten yang dipimpin oleh Majelis di wilayah VI; dan [3] keputusan ini telah sesuai dengan Tata Gereja GKJ Bab II, pasal 4 dan Tata Laksana GKJ Bab I, pasal 3. Pembentukan pepanthan Karangbendo dan Nologaten diperkuat dalam Akta Sidang Klasis Yogyakarta Utara Artikel X tentang Perubahan Status Gedung 1, 2, dan 3 GKJ Ambarrukma (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: p. 25). 

  1. Proses Pendewasaan Pepanthan Karangbendo

Semenjak diresmikan menjadi pepanthan pada Februari 2008, majelis dan jemaat Karangbendo menata diri dan mempersiapkan berbagai kelengkapan untuk menjadi gereja dewasa dan mandiri. Setelah masa persiapan yang dinilai cukup, Pepanthan Karangbendo mengajukan usulan pendewasaannya. Tahapan menuju pendewasaan dilalui dengan diadakan Gladhi Mandiri pada 7 Maret 2010. Setelah melalui serangkaian persiapan dalam Gladhi Mandiri, pepanthan Karangbendo dianggap telah siap dan layak untuk menjadi gereja dewasa. Sidang Klasis Yogyakarta Utara dengan Akta Sidang XXIV Artikel 17 memutuskan menerima usulan pendewasaan Pepanthan Karangbendo (Tim Penyusun Buku Pendewasaan Pepanthan Karangbendo, 2012: pp. 25-26). GKJ Karangbendo didewasakan pada tanggal 12 September 2012 oleh GKJ Ambarrukma dalam sebuah Ibadah Pendewasaan Gereja. Pendewsaan ini juga ditandai dengan prasasti yang ditandatangani oleh Bupati Kepala Daerah tingkat II Kabupaten Bantul Hj. Sri Surya Widati pada tanggal 17 September 2012. 

  1. Pemanggilan Pendeta Pertama GKJ Karangbendo

GKJ Karangbendo memanggil pendeta pertama melalui serangkaian proses yang dilakukan oleh Panitia Pemanggilan Pendeta yang diketuai oleh Bp. Pnt. Suharyanto dan ditetapkan calon pendeta terpilih atas diri Sdr. Imanuel Geovasky, S.Si. Teol., MAPS melalui Surat Keputusan tentang Penetapan Calon Pendeta GKJ Karangbendo tertanggal 5 September 2016. Calon pendeta kemudian mengikuti proses pembimbingan. Ujian peremtoar calon pendeta dilaksanakan pada Sidang Istimewa Ke-2 Klasis Yogyakarta Utara GKJ pada tanggal 21 September 2017 dan calon pendeta dinyatakan layak tahbis serta memasuki proses vikariat. Bertepatan dengan HUT ke-6 GKJ Karangbendo pada 17 September 2018, Vikaris Imanuel Geovasky, S.Si. Teol., MAPS ditahbiskan menjadi Pendeta pertama GKJ Karangbendo.