Info Kontak:

: Jl. Pemuda No.98, RT.18 RW.08 Pegulon, Kendal 51313

: 0294 381761

: gkjkendal@yahoo.com

 

Pendeta:

  • Pdt. Triatmojo Nugroho, S.Th.
  • Pdt. Em. Drs. Edi Yanto (Emeritus)

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, 08.00 WIB, Induk – Bahasa Indonesia.
  2. Minggu, 07.00 WIB, Pepanthan Kartikajya
  3. Minggu, 07.00 WIB, Pepanthan Sono Tejorejo
  4. Minggu, 09.00 WIB, Pepanthan Siklayu

Profil dan Sejarah:

SEJARAH GEREJA KRISTEN JAWA (GKJ) KENDAL

 

Catatan ringkas sejarah perjalanan GKJ Kendal

Pada tahun 1943, Gereja Salatiga Zending  (gereja Parepatan Agung-sekarang disebut Gereja Kristen Jawa Tengah utara-GKJTU) membuka pelayanan di Kendal yang sebelumnya memang sudah terdapat kelompok – kelompok Kristen pengikut Kyai Sadrach di Kendal yang berbentuk jemaat Karasulan, kemudian Salatiga zending membuka pos Pelayanan Pekabaran Injil (PI) di jl. Laut Kendal dan di daerah Bendosari – Siklayu Kab. Batang (sekarang menjadi pepanthan Siklayu) dan disusul berkembangnya keluarga – keluarga jemaat Kristen di Kaliwungu yang didukung juga dengan keberadaan anggota dan asrama Brimob POLRI.

Mengingat perkembangan di pepanthan Kendal, di Bendosari-Siklayu dan Kaliwungu yang sudah ada sekitar 120 jiwa, maka pada tahun 1947 pepanthan Kendal dan sekitarnya mengajukan materi Sidang Klasis I Pekalongan Gereja Parepatan Agung (PA) yang diselenggarakan di Pemalang. Sidang klasis tersebut dihadiri oleh utusan dari Kendal, Limpung, Bawang, Pekalongan, Bandar-Batang, Purbo, Kesimpar, Moga, Pulosari, Tegal dan Pemalang. Atas materi usulan pada tahun 1947 itu maka dalam Sidang Klasis Pekalongan ke-2 pada tahun 1948 antara lain diputuskan bahwa Sidang menerima usulan materi dari Pepanthan Kendal perihal pendewasaan dan sekaligus ditetapkan                 31 Oktober 1948 sebagai dewasanya pepanthan Kendal menjadi Gereja Parepatan Agung Kendal.

Tanggal  6 Juli 1949 boleh dipandang sebagai awal bersatunya Gereja-gereja Kristen Djawa se Jawa Tengah, maka gereja parepatan Agung Kendal yang didalam Sinode Parepatan Agung ikut dalam Sinode Persatuan I. Sayang Sinode Persatuan ini tidak bertahan lama. Dalam perjalanan waktu tokoh-tokoh gereja asal utara tidak mampu mengikuti gerak langkah saudara-saudaranya dari selatan. Konferensi dari yang menyebut diri Pengurus Parepatan Agung yang terselengara pada tanggal 26 – 27 Mei 1953 di Salatiga memutuskan : menuntut agar organisasi Gereja Kristen Djawa dibubarkan. Keputusan itu kemudian dikirim kepada Sinode Gereja-Gereja Kristen Djawa Tengah yang bersidang pada 21 – 25 September 1953 di Purwodadi. Maka terpecahlah juga jemaat yang ada di Kendal yang kemudian memisahkan diri dengan beberapa jemaat dalam Gereja Kristen Djawa Tengah Utara dan Gereja Kristen Djawa Tengah Selatan (GKDTS), walaupun masih beribadah dalam satu gereja.  Akan tetapi pada tahun 1965 GKJ Kendal memisahkan diri dari GKJTU dengan memiliki tempat beribadah sendiri yang berada di Jl. Pemuda sampai dengan saat ini. 

Dalam gerak langkah pelayanannya GKJ Kendal membentangkan Injil ke beberapa tempat:

  1. Pada tahun 1950

Membuka pelayanan di Boja, dirumahnya bapak Sihombing dan pada waktu itu di ikuti kurang lebih 6 KK atau sejumlah 25 Jiwa. Dan dalam perjalanan waktunya kini berdiri GKJ Boja.

  1. Pada tahun 1951 membuka pelayanan di Mijen Semarang, dirumahnya Bapak B. Yoesof, seorang mantri kesehatan dan pada waktu itu ada kurang lebih 7 KK sejumlah 20 Jiwa. Baru beberapa tahun kemudian didewasakan oleh GKJ Karangayu.
  2. Pada tahun 1952

Membuka pelayanan di Sukorejo-Kendal dan oleh GKJ Kendal pepanthan Sukorejo didewasakan menjadi GKJ Sukorejo pada tahun 1966.

  1. Pada tahun 1955

Membuka pelayanan di Dawung-Mijen-Semarang dan terdapat 5 KK yang berjumlah 15 orang.    

Pada waktu itu GKJ Kendal memang belum memiliki Pendeta Jemaat tetapi secara full time telah memanggil / nimbali tenaga PI, yaitu :

  1. Pada tanggal 27 Agustus 1944 telah diangkat tenaga guru Injil, yaitu bapak Soedibyo Garino Soemarto.
  2. Antara tahun 1954 – 1966, juga nimbali Guru Injil yaitu Bapak Mirmanto Soeharjo.

Pada persidangan Klasis Semarang pada tanggal 14 s/d 16 juli 1964 di Jakarta salah satu putusan untuk wilayah Kendal, Demak, dan Kudus : Sebagai Pendeta Konsulen ditunjuk Ds. R. S. Hardjabramara dari GKJ Semarang.

Adapun Pendeta Jemaat GKJ Kendal yang pertama adalah : Bapak Pendeta Ketud Daud Ariwidodo (antara tahun 1964 – 1973 ) dengan memiliki beberapa wilayah pelayanan, diantaranya adalah Kendal, Kaliwungu, Dawung, Mijen, Ngesrep, Medini, Boja, Sukorejo, Plantungan, Weleri, Siklayu-Bendosari. Kemudian Pendeta berikutnya adalah bapak Pendeta Brotowiratmojo (antara tahun 1984 – 1986). Pada tahun 1970 an GKJ Kendal juga memiliki pembantu Pendeta atas diri bapak Boediharso, B.Th. Dalam masa tahun 1986 – 1990 an GKJ Kendal dilayani oleh Pendeta-pendeta Konsulen dari Klasis Semarang yaitu Bapak Pendeta Isman (dari GKJ Karangayu) dan bapak Pendeta Pracoyo (dari GKJ Krapyak), serta Bp. Pdt. Indrianto dari GKJ Bulu Lor.

Pada tanggal 3 Juli tahun 1990 GKJ Kendal kembali memiliki Pendeta Jemaat yaitu Bapak Pendeta Drs. Edi Yanto hingga berakhir masa pelayananya / emiritus pada tanggal 25 Januari 2012 dalam Ibadah Emiritasi bersamaan dengan Ibadah Penahbisan Pendeta dalam diri Pdt. Triatmojo Nugroho, S.Th (yang melayani sampai saat ini). Ibadah Emiritasi dipimpin oleh Pdt. Dr. Sutarno dan Penahbisan Pendeta dipimpin oleh Pdt. Em. Edi Yanto, bertempat di Pendopo Agung Kabupaten Kendal.

Pada tanggal 30 April 2016 GKJ Kendal telah mendewasakan Pepanthan Kaliwungu menjadi GKJ Kaliwungu. Sehingga sampai saat ini GKJ Kendal masih memiliki 3 Pepanthan yaitu :

  • Pepanthan Kartikajaya di Kec. Patebon
  • Sono Tejorejo di Kec. Ringinarum
  • Siklayu di Kec. Gringsing – Kab, Batang

 

Seiring berjalannya waktu dengan dinamika dan persoalan yang terjadi di GKJ Kendal, dua Pepanthan menyatakan keluar dari GKJ Kendal pada awal Tahun 2020 dan berpindah ke GKJTU Jemaat Kendal antara lain Pepanthan Kartikajaya dan Sono Tejorejo, tetapi masih tetap melakukan ibadah di Gedung Gereja wilayah Pepanthan milik GKJ. Namun menurut informasi, Sinode GKJTU maupun Klasis belum memutuskan / menerima sepenuhnya dua Pepanthan tersebut. Sementara hanya melakukan perawatan iman sampai dengan adanya kejelasan status (atas kesepakatan bersama) sampai saat ini. Sehingga saat ini hanya tersisa 1 Pepanthan yaitu Pepanthan Siklayu.