Info Kontak:

: Jl. Depokan II/184, Kotagede, Yogyakarta 55172

: 0274 375010

: –

Pendeta:

  • Pdt. Budi Raharjo, M.Th.
  • Pdt. Adhitya Chris Nugroho
  • Pdt. Em. Purwanta Rahmad, S.Th. (Emeritus)

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, 06.30, Bahasa Jawa
  2. Minggu, 08.30, Bahasa Indonesia
  3. Minggu, 18.00, Bahasa Indonesia

Profil dan Sejarah:

Profil dan Sejarah:

  1. Sejarah Berdirinya GKJ Kotagede

Agama Kristen mulai berkembang di wilayah Kotagede dan sekitarnya pada tahun 1936. Tempat peribadatan pertama dalam bentuk pepanthan yang dirintis oleh GKJ Gondokusuman berada di desa Ketandan Banguntapan Bantul.
Pepanthan tersebut pada tahun 1949 terpaksa ditutup karena terjadinya perang kemerdekaan. Setelah perang kemerdekaan bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI yaitu pada tanggal 17 Agustus 1952 GKJ Mergangsan membuka pepanthan Kotagede. Kebaktian pembukaan pepanthan tersebut dilayani oleh Pdt. Sangijo Dwijoasmoro bertempat dirumah keluarga Warsid Praptodarmodjo sebuah rumah yang disewa dari keluarga Atmosandjojo di kampung Tinalan Prenggan Kotagede (di sebelah Timur SMP 9 Yogyakarta sekarang). Kebaktian di rumah keluarga Atmosendjoyo hanya sampai dengan tahun 1956 karena rumah tersebut ditempati sendiri. Selanjutnya pada tahun 1957 – 1962 kebaktian dilakukan di rumah bapak Atmo Prayitno di Basen Kotagede. (di sebelah tenggara RS PKU Kotagede sekarang).
Pada tahun 1954/1955 Majelis GKJ Mergangsang berhasil membeli tanah untuk pepanthan Kotagede. Tanah tersebut dibeli dari keluarga Mujiyo dan Pawirodikromo penduduk Rejowinangun dengan luas kurang lebih 1200 m2 terletak di kampung Depokan. (Tanah Gereja GKJ sekarang) di tanah itulah kemudianGereja GKJ Kotagede dibangun. Pembangunan diawali pada tanggal 31 Oktober 1956 dengan kebaktian doa yang dipimpin oleh Bp. Pdt. Prawirohadmodjo. Gereja yang di bangun tersebut berukuran 8 x 16 m2 terdiri ruang ibadah 8 x 13 dan ruang Konsistori 8 x 3.m2. dikerjakan oleh Bapak Kerto Wiryomo pengusaha kayu jati di Kotagede yang bukan orang Kristen dengan cara mengangsur. Pada tanggal 1 Nopember 1962 pemakaian Gedung gereja diresmikan. (Pembangunan selesai dalam waktu 6 tahun).
Pepanthan Kotagede merupakan pepanthan dari GKJ Mergangsan tersebut kemudian didewasakan pada tanggal 14 Juni 1967 (dengan tahun sengkala “MULANG RASA WIWARANING ALLAH).

Berdasarkan Surat Atestasi (Lulusan Pindah jemaat) dari GKJ Mergangsan Nomor 374D/VII/1967 tanggal 20 Agustus 1967 pada waktu didewasakan jumlah warga GKJ Kotagede adalah 312 jiwa (dewasa laki-laki 91 wanita 96 anak laki-laki 62 wanita 63)
Selama belum mempunyai pendeta sendiri pendeta konsulen yang ditugaskan oleh Klasis Yogyakarta untuk melayani di GKJ Kotagede selama tahun 1967-1972 adalah Pdt. Prawirohatmodjo Pdt. Suharto dan Pdt. Madyosuwignjo

Pada tanggal 15 Nopember 1972 GKJ Kotagede mempunyai pendeta sendiri dengan ditahbiskannya Pdt. Purwanta Rahmad S.Th. dari GKJ Medari Sleman Yogyakarta tepatnya 15 November 1972.

Pada tahun 1992 GKJ Kotagede mempunyai pendeta kedua yaitu Pdt. Budi Raharjo S.Th. berasal dari GKJ Manisrenggo Klaten. Ditahbiskan pada tanggal 19 Juni 1992 bersamaan dengan kebaktian HUT GKJ Kotagede ke XXV 14 Juni 1992.

Pada tahun 2018 GKJ Kotagede mempunyai pendeta ketiga yaitu Pdt. Adhitya Chris Nugroho S.PK dari GKJ Kerten Surakarta. Ditahbiskan pada tanggal 03 Maret 2018.

  1. Letak Geografis GKJ Kotagede

GKJ Kotagede terletak kampung Depokan RT 07 RW 02 Kelurahan Prengggan Kecamatan Kotagede Yogyakarta. Berada pada posisi lingkungan yang strategis daerah wisata karena di sebelah utara gedung gereja kurang lebih 1 KM tempat wisata Kebun Binatang Gembiraloka dan di sebelah selatan kurang lebih 1 KM merupakan pusat kerajinan perak yang menyajikan macam-macam jenis cinderamata yang terbuat dari logam mulia (perak dan emas) dan juga pasar pusat barang-barang antik pusat jajanan (makanan untuk oleh-oleh berupa makanan khas Kotagede seperti : Yangko Kipo Sagon dan lain sebagainya. Di sebelah selatan pasar Kotagede terdapat Situs Purbakala yang berupa Makam Panembahan Senopati Mataram yang pertama dan Ki Ageng Pemanahan (orang tua Panembahan Senopati) di bagian selatan makam terdapat bangunan berupa Situs Budaya Selirang tempat mandi putra dan putri Panembahan Senopati. Di sebelah tenggara Makam tepatnya di kampung Ndalem ada sebuah makam trah Mataram dan di sebelah timurnya terdapat Batu Cantheng (Watu Gatheng) yang konon dipakai sebagai mainan pangeran Ronggo yaitu putra Panembahan Senopati. Panembahan Senopati juga meninggalkan petilasan sejarah yang berupa bangunan Masjid Agung Mataram yang terletak di Kotagede.

Link Update Pembaharuan