GKJ Kroya

Info Kontak:

: Jl. Bhayangkara No.01-03, Karangmangu, Kroya, Cilacap 53282

: 0282 494244

: mardi_put@yahoo.co.id

Pendeta:

  • Pdt. Damar Kinandi Putra, S.Si.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 08.00 – 09.30

Profil dan Sejarah:

Munculnya Kekristenan di Kroya tidak lepas dari perjuangan seorang Guru Injil bernama T. Purwoatmojo. Pada tahun 1928 beliau diangkat oleh Ds. B.J. Esser menjadi guru Injil di Desa Karangsari. Penginjilan beliau bahkan sampai di Kroya. Karena melalui penginjilan beliaulah muncul orang Kristen pertama kali di Kroya yaitu keluarga mbah Bariyem. Mbah Bariyem berasal dari Karangduwur (Kebumen) yang hijrah ke Kroya. Sekitar tahun 1928 keluarga mbah Bariyem dibaptis oleh Ds. B.J. Esser.

GKJ Kroya tumbuh kirakira pada tahun 1940, anggotaanggotanya pindahan dari Gereja Kerasulan di Grujugan. Tokohtokoh pertama ialah, keluarga Bp. Murmaleksana, Bp. Wanakarja, dan Bp. Ranawangsa. Pada waktu itu dilayani oleh guru Injil Bp. Ramli.

Sekitar tahun 1953 empat keluarga Kristen Kroya (…..) menjadi warga GKJ Bangsa, pada masa pelayanan Pdt. Purwo. Pada periode awal hingga tahun 1957 tenagatenaga Pembantu Pendeta yang pernah melayani pepanthan Kroya adalah guruguru Injil : Bp. Rameli, Bp. T. Purwohatmojo, Bp. Suparto Partohatmodjo, Bp. Hardisiswo, Bp. R.Endrowiloso, dan Bp. Warnasoedana.

Juli 1957 ditahbiskan tenaga Pembantu Pendeta Warnasoedana oleh Ds. Sudarmadi dan Ds. A. Wind. Pada tanggal 1 Juli 1958 tenaga tersebut diberhentikan (sesuai putusan Klasis Adireja tahun 1958) berdasarkan nota Probowinoto. Sejak itulah GKJ Kroya menjadi pepanthan GKJ Bangsa. Untuk tempat ibadah pertama kali berada di sebelah timur SMPN 5 Kroya yang kemudian pindah di rumah Bp. Siswowardoyo.

Di dalam sidang Klasis di Langgen tahun 1962 memutuskan agar pepanthan Kroya didewasakan supaya berdiri sendiri. Akan tetapi belum sampai terlaksananya keputusan itu, GKJ Kroya mengalami kemunduran yang tragis hingga pertengahan tahun 1964. Hampir semua anggotanya bubar, mundur dan sebagian yang masih tinggal menggabungkan diri ke GKJ Bangsa.(1) Pada masa ini terjadi kevacuuman dimana pelayanan sakramen tidak tetap, bahkan selama 3 tahun kosong ( yaitu sejak Paskah 1963pertengahan tahun 1966). Untuk pelayanan minggu keempat kosong, yaitu bulan Agustus 1964. Puncak kemunduran terjadi pada pertengahan tahun 1964. Tokoh~tokoh gereja waktu itu, seperti Bp. Supardjo pindah ke Jakarta, Bp. Sastromihardjo pindah dinas ke Majenang selama 3 bulan, dan Bp. Chrsitian Sutopo pindah ke Jogja masuk Sekolah Theologia Duta Wacana.
__________________________________
(1) Menurut pengakuan salah seorang tokoh gereja di tahun 60an ada kemungkinan kemunduran yang terjadi di GKJ Kroya dikarenakan munculnya rasa tidak suka/percaya kepada Bp. Warnasoedana (guru Injil).

Pada minggu pertama bulan Oktober 1964 dimulailah lembaran baru. Diadakanlah kebaktian yang waktu itu dihadiri 5 orang (termasuk yang melayani). Diantaranya adalah Bp. Sukarsono sekeluarga, Bp. Warnasoedana sekeluarga, dan Bp. Murmaleksana. Sedikit demi sedikit mulai terlihat kemajuan hingga akhir tahun 1965 semua warga lama terhimpun kembali.(2)
___________________________________
(2) Tidak ada catatan/arsip yang diwarisi mengenai data warga waktu itu.

Dalam persidangan klasis di Adireja tahun 1966 memutuskan agar pepanthan Kroya digabungkan dengan GKJ Adireja, pada masa Pdt. Zakaria. Sementara Bp. Warnosoedana diangkat kembali sebagai Pembantu Pendeta melayani GKJ Adireja dengan wilayahnya Kroya, Maos dan Pesawahan. Pada masa inilah pepanthan GKJ Kroya memperoleh bantuan dari GKN dalam bentuk rumah dan tanah (yang sekarang menjadi tempat GKJ Kroya).

Sekitar tahun 1965 ada dua peristiwa yang kemudian menjadikan gereja pepanthan mulamula berkembang. Peristiwa tesebut adalah peristiwa 1965 (PKI) dan pembubaran KWN (Kawruh Naluri) sekitar tahun 1967. Dengan adanya 2 peristiwa ini, permulaan September 1966 pepanthan Pesawahan mulai bangkit kembali. Dan pada tanggal 2 Oktober 1966 mulai dilayani kebaktian sendiri di rumah Bp. Sanwigena.
Setelah tahun 1965 seorang pendeta utusan dari Klasis yaitu Bp. Pdt. Suparno banyak berkiprah di GKJ Kroya. Beliau juga banyak membina warga di Kecamatan Binangun (Bangkal, Pesawahan). Sehingga pada awal Februari 1967 PI (Pekabaran Injil) dimulai di desa Bangkal. Untuk pelaksanaan katekisasi dilakukan di rumah Bp. Taswan (Ayamalas) dan kemudian pindah ke rumah Bp. Muljantika. Baptisan pertama di Bangkal terjadi pada tanggal 14 Mei 1967 (11 dewasa dan 12 anak anak). Baptisan pertama dilayankan atas diri Bp. Tusan Sandjiwa.

Pada tanggal 19 Mei 1967 pepanthan Kroya didewasakan. Disahkan oleh Sidang Sinode XI di Salatiga, artikel 175. Pada saat itu Ketua Majelis dijabat oleh Bp. Rabbas Winarno dan konsulennva adalah Ds. Soedarmadi. Dan pada tanggal 7 Januari 1968 rumah ibadah (gereja) Kroya roboh.

Sementara itu pada tanggal 4 September 1969 dibangunlah gedung gereja di Bangkal. Pada tanggal 24 Desember 1969 gedung gereja itu mulai dipakai. Dimana sebelumnya kebaktian dilakukan di rumahrumah jemaat. Diantaranya rumah Bp. Muljantika dan Bp. Kasanwitana.

Pertengahan Maret 1969 PI di Pucung mulai dilakukan, untuk katekisasi bertempat di rumah Bp. Hardjosukarto. Baptisan di Pucung dilakukan pada tanggal 29 Juni 1969 (15 dewasa, 12 anakanak) dilayani oleh Ds. Pratjojo. Baptisan pertama dilayankan atas diri Bp. Hardjosukarto. Pada tanggal 24 November 1969 gedung gereja di Pucung mulai dikerjakan dan selesai tanggal 24 Desember 1969. Mulai dipakai pada hari Natal, 25 Desember 1969.

Pada tanggal 25 diadakan pemilihan calon pamulang GKJ Kroya (di 3 pepanthan, Kroya, Bangkal, Pesawahan) dengan calon tunggal yaitu guru Injil Bp. Warnosoedana. Tetapi pada sidang Klasis di Patirnuan tanggal 2123 Juli 1969, prosedur pemilihan disalahkan. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1969 prosedur pemilihan dibetulkan. Gereja bersama Deputat Klasis menetapkan/mengesahkan calon pamulang. Penataan gereja di bidang ekonomi lebih didahulukan sebagai persiapan timbalan pamulang.

Pada tanggal 4 Maret 1977 hasil pemilihan pamulang menetapkan Ds.R. Ronowidjojo, B.Th (dari GKJ Ngaringan) sebagai yang terpilih dan tiba di Kroya. Pada tanggal 6 Maret 1977 Ds.R. Ronowidjojo diteguhkan oleh Ds. Tabri Wiryowasita (pendeta GKJ Purwodadi) di Kroya. Kemudian melayani jemaat Kroya, Bangsa dan Karanggedang. Pelayanannya dibantu oleh Sutardjo yang sebelumnya menjadi Pembantu Pendeta di Kroya.

Pada tanggal 1416 Juni 1982 diadakan sidang Klasis Banyumas Selatan ke52 di Langgen. Dalam sidang itu diputuskan tentang pelepasan regrouping antara GKJ Kroya, GKJ Bangsa dan GKJ Karanggedang. Dan melalui rapat majelis gabungan (Kroya, Bangsa dan Karanggedang) diputuskan bahwa pelaksanaan pelepasan regrouping dilakukan mulai Agustus 1982. Ds.R.Ronowidjojo hanya melayani di GKJ Kroya.

Tanggal 14 Desember 1984 GKJ Kroya menjadi gereja penghimpun Sidang Klasis Kontrakta dengan putusan sidang :

1. Ds.R. Ronowidjojo, B.Th. melimpah menjadi Pegawai Negeri tidak benar kalau dimusuhi oleh Majelis (berselisih oleh majelis).
2. Ds.R.Ronowidjojo, B.Th dilepas ikatannya dari GKJ Kroya dengan prosedur gerejawi (berdasarkan permohonan beliau sendiri).
3. Ds. Suparno menjadi konsulen GKJ Kroya dan Ds. Sukarso menjadi konsulen GKJ Bangsa.

Mulai tanggal 1 Januari 1985 Ds.R.Ronowidjojo. B.Th melepaskan ikatan pelayanannya dengan GKJ Kroya karena menjadi Pegawai Negeri Sipil di Angkatan Laut (AL) Jakarta.

Pada tahun 19851988 merupakan masa kevacuman karena mundurnya Ds. Ruslim Ronowidjojo. Untuk selanjutnya GKJ Kroya dikonsuleni oleh Pdt. Suparno yang kemudian diteruskan oleh Pdt. Y. Sukardi (GKJ Adipala). Pada masa inilah GKJ Kroya mulai menata kembali dalam rangka pemanggilan pendeta. Pada masa ini terjadi perubahan status kelompok menjadi pepanthan kelompok. Tepatnya pada tanggal 8 Januari 1985 kelompok Gading lepas dari pepanthan Pucung dan menjadi pepanthan sendiri yang langsung dibina oleh Konsulen Ds. Suparno. Begitu pula dengan pepanthan Kedawung.

Selama kekosongan ini GKJ Kroya telah berusaha memanggil tenaga pendeta selama 3 kali namun mengalami kegagalan.(3) Dan akhimya pada tahun 1989 GKJ Kroya memanggil seorang calon pendeta atas diri Bp. Sih Widodo, S.Th. Melalui Sidang Klasis Kontrakta ke62 Klasis Banyumas Selatan pada tanggal 9 November 1989 di GKJ Kroya, dilakukan ujian kependetaan atas diri Bp. Sih Widodo, S.Th. Melalui persidangan itu Bp. Sih Widodo, S.Th dinyatakan lulus.(4)

Pada masa pelayanan Pdt. Sih Widodo terjadi pembiakan di GKJ Kroya. Tepatnya pada tanggal 25 Mei 1994 GKJ Kroya dibiakkan. Salah satu dasar pertimbangannya adalah lingkup pelayanan yang sangat luas dan hanya dilayani oleh 1 orang pendeta saja. Antara lain GKJ Kroya yang meliputi Kroya (Induk), Gading, Kedawung dan Gentasari. Serta GKJ Bangkal yang meliputi Bangkal (Induk), Ayamalas, Pucung, dan Pesawahan. Tahun 1997 gedung gereja diperbaiki dan sampai sekarang masih berdiri.

Pada tanggal 19 Desember 2002 Bp. Pdt Sih Widodo, S.Th. meninggal secara tibatiba. Setelah itu GKJ Kroya dilayani oleh pendeta konsulen. Mulai dari Bp. Pdt Y. Setyo Endro Widiarto (GKJ Bangsa) yang mengkonsuleni GKJ Kroya sampai dengan bulan Februari 2004. Melalui sidang Klasis di GKJ Bangsa tanggal 23 Februari 2004 diputuskan bahwa konsulen GKJ Kroya dialihkan kepada Bp. Pdt. Y. Sukardi (Akta Sidang Klasis Banyumas Selatan ke78; artikel 34). Setelah 4 tahun mengkonsuleni GKJ Kroya pada akhirnya sesuai dengan keputusan Sidang Klasis di GKJ Bangkal artikel 38, tongkat estafet konsulen diserahkan kepada Pdt. Taswan (GKJ Karanggedang). Dan pada tanggal 15 Oktober 2009 saudara Vicaris Damar Kinandi Putra, S.Si. ditahbiskan di GKJ Kroya, melayani jemaat GKJ Kroya dan Pepanthan Gading, Pepanthan Kedawung dan Gentasari.