Info Kontak:

: Jl. Harapan Jaya No.18, RT.003 RW.012, Kel. Cipinang Melayu, Kec. Makasar
, Jakarta Timur 13620

: 0218 629366; (Fax: 021.86610969)

: pangkalanjati@gkj.or.id

: http://gkjpangkalanjati.com

Pendeta:

  • Pdt. Aris Widaryanto, S.Th.,M.Min.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 06.30
  2. Minggu, Pk. 17.00

Profil dan Sejarah:

Kecil tapi Bernas”

 

GKJ Pangkalanjati

Jl. Harapan Jaya No. 18  RT 003 / RW 012,  Kel. Cipinang Melayu, Kec. Makasar, Jakarta Timur 

Telp. (021) 8629366, Fax. (021) 86610969, E-mail: pangkalanjati@gkj.or.id

 

Setiap orang memiliki “keunikan”, demikian juga gereja, tidak terkecuali GKJ Pangkalanjati. Sebagai sebuah gereja yang berada di tengah-tengah perkampungan yang cukup padat, GKJ Pangkalanjati  memiliki sejarah pertumbuhan dan perkembangan yang unik dan dapat dikatakan pula sebagai gereja yang bertumbuh dan berkembang bersama dengan masyarakat sekitarnya, yang merupakan “kawasan keluarga Gunung Kidul”. Berikut ini profil singkatnya yang telah dikemas dalam narasi:

 

AWAL PERTUMBUHAN (1970 – 1995)

 

 Masa perintisan dan membangun kebersamaan (1970 – 1982)

Pada sekitar tahun 1970, daerah Pangkalan Jati adalah daerah pinggiran berupa kawasan persawahan, kebun, dan empang yang berada di luar wilayah DKI Jakarta, tepatnya termasuk wilayah Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Daerah ini sebagian besar adalah milik keluarga-keluarga Betawi. Seperti umumnya warga Betawi, ketika membutuhkan uang mereka akan menjual tanahnya dan pindah ke tempat lain. Kawasan ini pun banyak diperjualbelikan pada waktu itu. Tetapi karena beratnya medan menuju kawasan ini, banyak orang enggan membeli, apalagi tinggal di daerah ini, sekali pun ditawarkan dengan harga yang sangat murah. Alat transportasi langka, nyaris tidak ada. Bahkan ada anggapan orang kalau kawasan ini lebih cocok dikatakan sebagai “tempat jin buang anak”, untuk semakin menguatkan anggapan betapa tidak menariknya tinggal di kawasan ini.

Namun sebagai dampak dari pengembangan Ibu Kota di masa Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Bapak Ali Sadikin dan ada banyak penggusuran yang dilakukan pemerintah. Satu persatu keluarga yang tergusur kemudian masuk ke Pangkalan Jati. Tahun 1972 ada 3 keluarga Kristen di Pangkalan Jati, pindahan dari kawasan Tebet. Hingga tahun 1974 ada 9 keluarga Kristen yang telah menetap di kawasan ini.

Seiring dengan pertambahan penduduk di Pangkalan Jati, maka setiap tahun warga Kristen pun terus bertambah. Salah satu faktor pendukung pertambahan itu adalah berdirinya Ikatan Keluarga Gunung Kidul (IKG) pimpinan Bapak R. Sunardiyono, BA. Beliau memiliki tanah/sawah yang cukup luas di Pangkalan Jati yang kemudian dapat dibeli secara kredit/angsuran bagi siapa saja yang berminat. Selain itu, benih iman Kristen yang tumbuh di Pangkalan Jati juga tidak lepas dari dorongan Bapak Soeratno yang menganjurkan beberapa keluarga untuk mendirikan rumah dengan mengangsur tanah milik beliau menurut kemampuan keluarga yang bersangkutan.

Penggembalaan dan pembinaan secara serius belum ada, karena belum terjangkau oleh sarana transportasi dan jalan masih berupa tanah belum beraspal. Namun karena hampir setiap hari berjumpa dan memiliki pergumulan yang sama, yaitu kesulitan untuk datang dalam kegiatan gereja di GKJ Jakarta, Rawamangun, maka keluarga-keluarga muda itu bersama-sama mulai membangun tekad dan semangat untuk mewujudkan persekutuan dari rumah ke rumah. Dan ketika melihat jumlah anak-anak yang ada ternyata cukup banyak, maka pada tahun 1975 mulai dirintis Sekolah Minggu yang berpindah-pindah dari rumah ke rumah warga.

Selain kendala transportasi, tantangan lain yang harus dihadapi pada saat itu antara lain adalah “ketidaksukaan” sebagian orang anggota masyarakat terhadap persekutuan dan kegiatan warga gereja. Namun karena berkat Tuhan, hal ini dapat diatasi dengan baik, sehingga persekutuan dan kegiatan warga gereja dapat terus berlangsung dan bahkan dapat ditingkatkan.

Sekitar akhir tahun 1975, Bapak Andreas Tupantara bersama warga gereja di Pangkalan Jati bersepakat untuk mewujudkan keinginan mengadakan kebaktian sebulan sekali pada setiap minggu ketiga di rumah keluarga Bapak Ngadiyo. Segala keperluan diusahakan bersama secara gotong-rotong dan untuk memimpin kebaktian, Bapak Tukimin dan Bapak Slamet (keduanya saat itu karyawan di STT Jakarta) mendapat tugas untuk mendatangkan mahasiswa tingkat akhir dari STT Jakarta.

 Masa membangun dan mewujudkan tekad (1982 – 1991)

Proses pertumbuhan dan perkembangan warga di Pangkalan Jati yang cukup pesat terjadi pada tahun 1982. Tercatat sekitar 85 KK dengan wilayah pelayanan bukan hanya Pangkalan Jati, tetapi juga wilayah di sekitarnya seperti Pondok Bambu, Jatiwaringin, dan Pondok Kelapa. Pertambahan jumlah warga memang mendatangkan sukacita. Tetapi pada sisi yang lain, pertambahan itu juga mengundang pergumulan. Sebab rumah yang biasa digunakan untuk kebaktian dan berbagai kegiatan lainnya tidak dapat lagi menampung seluruh warga gereja untuk kebaktian dan kegiatan lainnya.

Dalam sebuah sarasehan di rumah keluarga Suhadi yang dipimpin oleh Pdt. Suwandi Martoutomo, S.Th. pada tanggal 10 April 1983 lahirlah semangat untuk segera membangun sebuah gedung pertemuan untuk kegiatan Sekolah Minggu. Sarasehan malam itu dihadiri sekitar 70 orang. Selanjunya pada tanggal 17 April 1983 gagasan untuk memiliki ruang Sekolah Minggu direspon dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 30 warga di rumah keluarga Bangbang Prasmoko. Pada malam itu juga dibentuk “Panitia Pengembangan Sekolah Minggu”. Tugas Panitia adalah mencari tanah dan membangun sebuah bangunan sederhana untuk pertemuan warga dan Sekolah Minggu.

Dalam waktu tidak lebih dari satu bulan Panitia telah berhasil menghimpun dana yang cukup untuk membeli sebidang tanah seluas 150 m2. Setelah itu, ada sebagian warga yang menyampaikan persembahan dalam bentuk bahan bangunan. Itu sebabnya gagasan untuk segera membangun gedung pertemuan dan Sekolah Minggu dimunculkan dan beberapa kali dibahas dalam pertemuan di rumah Bapak Trim Sutidja. Pada tanggal 16 Mei 1983,  bertepatan dengan peringatan Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, dimulailah pembangunan secara gotong royong. Kerja bakti dilakukan selama kurang lebih satu tahun, yaitu pada setiap hari Minggu dan hari libur nasional.

Bulan Desember 1983, bangunan berukuran 7 m x 15 m tersebut sudah dipergunakan untuk perayaan Natal. Selanjunya bangunan itu digunakan pertama kali untuk kebaktian bertepatan dengan peringatan hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, pada tanggal 24 Mei 1984, dilayani oleh Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko.

Semangat warga untuk hadir dalam setiap kebaktian sangat tinggi, sehingga bangku yang tersedia sering kurang. Hal ini menumbuhkan pula semangat toleransi dan kerjasama yang nyata dengan warga masyarakat di sekitar gereja. Tanpa diminta mereka mengeluarkan kursi yang dimiliki untuk digunakan oleh warga gereja yang tidak kebagian tempat duduk. Itu pun masih ada warga gereja yang berdiri, karena tidak kebagian tempat duduk. Toleransi dan kerja sama itu masih terpelihara hingga saat ini.

Dalam perkembangannya, bangunan seluas + 70 m2 itu tidak dapat lagi menampung seluruh warga gereja. Seiring dengan perkembangan warga gereja , ada juga perhatian dari masyarakat sekitar yang menawarkan rumahnya untuk perluasan gereja. Hal ini disambut dengan sukacita oleh warga gereja, sehingga kemudian dibentuk Badan Pelaksana Pembangunan Gedung Gereja (BPPG). Tugas utama BPPG adalah menyediakan lahan yang cukup untuk mengembangkan gedung gereja dan memperluas ruang kebaktian. Pada tahun 1991, tanah yang dimiliki sudah mencapai 1.550 m2.

 

 Masa membangun dan mewujudkan jati-diri (1991 – 1995)

Pada tahun 1990, Majelis GKJ Jakarta membentuk Tim Evaluasi Pembiakan Jemaat (TEPAT) dengan tugas melakukan restrukturisasi dan desentraliasasi kewilayahan GKJ Jakarta. Pada tahun 1991, tim merekomendasikan pembiakan GKJ Jakarta Wilayah Rawamangun C menjadi 3 (tiga) wilayah, yaitu Wilayah Pangkalan Jati, Pondok Gede, serta Klender dan sekitarnya.

Status prakelola direkomendasikan kepada Majelis GKJ Jakarta berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi Tim tersebut pada tanggal 26 Januari 1992. Selanjutnya Majelis GKJ Jakarta memutuskan bahwa Wilayah Pangkalan Jati akan melaksanakan prakelola mulai tanggal 1 April 1993. Status prakelola khusus berlangsung sekitar 1 (satu) tahun. Pada bulan April 1994, GKJ Jakarta Wilayah Pangkalan Jati memasuki masa prakelola penuh. Pada masa prakelola penuh ini dilakukan pembenahan administrasi, data kewargaan, dan keuangan serta pengangkatan tenaga Koster dalam diri Bapak Suhatang (tenaga tetap) dan tenaga administrasi dalam diri Bapak Gatot Sunarso ( tenaga honorer). BPPG juga mulai mempersiapkan pembangunan gedung gereja yang lebih representatif.

 

 

 

BERTUMBUH & BERKEMBANG (1995 – 2000)

 

Pemandirian/Pendewasaan

GKJ Jakarta Wilayah Pangkalan Jati dimandirikan atau didewasakan dari GKJ Jakarta menjadi “GKJ Pangkalanjati” pada tanggal 31 Mei 1995. Tanggal tersebut dipilih karena secara kebetulan adalah hari libur nasional (Suro atau permulaan tahun baru menurut kalendar Jawa) yang berdekatan dengan hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga (25 Mei).

Pemandirian ditandai dengan peneguhan Majelis GKJ Pangkalanjati dan menyerahan alat-alat pelayanan berikut warga gereja oleh Pdt. Johanes Bedjo Sudarmo, S.Th. selaku Ketua Majelis GKJ Jakarta pada saat itu. Dalam kebaktian kemandirian yang berlangsung sederhana itu juga diperkenalkan bakal calon pendeta dalam diri Sdr. Aris Widaryanto, S.Th.

Dengan modal pendewasaan dan tenaga pelayan yang ada, warga GKJ Pangkalanjati semakin bersemangat untuk terus maju dan bertumbuh dalam kehidupan pelayanan secara utuh. Sejak saat itu muncul sebuah motto yang mencerminkan jati diri serta visi GKJ Pangkalanjati yaitu “kecil tapi bernas”. Kata-kata ini diusulkan oleh Bapak Trim Sutidja.

Maksud dari kata-kata tersebut ialah GKJ Pangkalanjati menyadari dirinya sebagai jemaat yang kecil dalam hal jumlah warga gereja, tetapi “mentes” atau berkualitas dalam hal pelayanan. Itulah sebabnya keberadaan GKJ Pangkalanjati yang “tersembunyi” di tengah-tengah perkampungan padat penduduk tidak pernah disesali oleh warganya, apalagi menjadi kendala, tetapi justru senantiasa disyukuri; sekalipun “ketersembunyian” itu kadang membingungkan banyak orang yang ingin mencari GKJ Pangkalanjati.

Jumlah warga jemaat GKJ Pangkalanjati pada saat dimandirikan adalah148 KK. Daerah pelayanan GKJ Pangkalanjati meliputi: Ciplak, Pondok Bambu, Pangkalan Jati, Jatiwaringin, Pondok Kelapa, dan Jatibening.

 

 

 

Penyediaan Sarana-Prasarana

Setelah mandiri, penataan bangunan mulai dilakukan, yaitu dengan dibangunnya sebuah pastori. Pastori tersebut mulai ditempati Sdr. Aris Widaryanto, S.Th. pada awal bulan Oktober 1995. Dan untuk menunjang pelayanan, maka pada sekitar bulan September 1995 calon pendeta juga telah diperlengkapi dengan kendaraan dinas berupa sebuah sepeda motor.

Pada tanggal 15 Maret 1995, Majelis GKJ Pangkalanjati menyampaikan surat kepada warga masyarakat yang berdomisili di sekitar gereja untuk memperoleh dukungan atas rencana relokasi dan pembangunan gedung gereja. Dengan penuh pengertian warga masyarakat berkenan memberikan dukungan yang dibubuhkan pada surat pernyataan tidak keberatan yang diketahui oleh Ketua RT 003/RW 012, Ketua RW 012, dan Lurah Cipinang Melayu. Selanjutnya pembangunan dimulai lagi dengan membangun ruang konsistori, kantor gereja, ruang kerja pendeta, dan ruang serba guna. Peletakan batu pertama secara simbolis dilakukan oleh Pdt. Drs. Yusuf Suratman, M.Th. pada tanggal 28 Juli 1996.

 

Proses Pemanggilan Calon Pendeta

Prioritas berikutnya jatuh pada proses pemanggilan calon pendeta. Berhubung tidak ada usulan dari jemaat untuk mencari calon pendeta yang lain, maka Majelis GKJ Pangkalanjati menetapkan Sdr. Aris Widaryanto, S.Th. menjadi calon tunggal. Selanjutnya Majelis GKJ Pangkalanjati mengadakan pemilihan calon pendeta dan berdasarkan hasil penghitungan suara, Sdr. Aris Widaryanto, S.Th. dinyatakan terpilih mutlak.

Pada tanggal 23 Agustus 1996 diselenggarakan Sidang Kontrakta bertempat di Hotel Wisata Internasional dengan materi sidang Ujian Peremptoir (Ujian Calon Pendeta) atas diri Sdr. Aris Widaryanto, S.Th. GKJ Pangkalanjati bertindak sebagai Gereja Penghimpun. Dalam persidangan tersebut Sdr. Aris Widaryanto, S.Th. dinyatakan layak tahbis sebagai Pendeta GKJ Pangkalanjati. Selanjutnya Penahbisan Pendeta dilaksanakan di GKJ Pangkalanjati pada tanggal 25 Oktober 1996.

 

Kembali membangun dan memperlengkapi diri

Setelah itu, pembangunan kembali dilanjutkan dengan membangun rumah koster. Pembangunan dapat dilakukan dengan cepat, sehingga pada bulan Desember 1997 rumah itu sudah dapat ditempati oleh keluarga Bapak Suhatang. Dengan modal iman dan persembahan yang telah terkumpul, maka pada tanggal 22 Februari 1998 penggalian pondasi gedung gereja berukuran 15 m x 18 m mulai dikerjakan. Beberapa pengerjaan dilakukan secara gotong royong, antara lain  pengecoran pondasi, pilar-pilar, dan balkon.

Gedung gereja yang baru segera dapat digunakan. Kebaktian perdana dilaksanakan pada hari Minggu, 22 November 1998.  Kebaktian dipimpin oleh Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko. Dan sesuai dengan kebutuhan, gedung gereja itu memiliki kapasitas tempat duduk lebih-kurang 450 (empat ratus lima puluh) orang.

Ada hal yang menarik. Sebelum gedung gereja itu selesai dibangun, yaitu ketika sedang menunggu keringnya pilar-pilar setelah dicor, warga masyarakat RT 003/RW 012 bersama warga GKJ Pangkalanjati telah terlebih dahulu menggunakannya sebagai tempat pentas dan syukuran dalam rangka HUT RI ke-53. Hal itu terwujud karena adanya pengertian yang sama, yaitu komplek gereja adalah milik bersama dan karena itu dapat digunakan untuk kepentingan bersama.

Berkat Tuhan sungguh di luar dugaan. Bayangkan, ketika negara kita mulai dilanda krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 dan dampaknya yang dirasakan pula oleh banyak orang dengan berbagai macam tingkat kesulitan hidup, seperti terjadinya pemutusan hubungan kerja,  percepatan pensiun, atau kenaikan harga, Tuhan masih memberi jalan bagi jemaat GKJ Pangkalanjati untuk mewujudkan keinginannya memiliki gedung gereja yang baru.

Sambil mengerjakan tahapan finishing gedung gereja, BPPG GKJ Pangkalanjati pun memindahkan balai pengobatan Yayasan Mitayani ke tempat yang sudah disiapkan dan kemudian melanjutkan dengan pembangunan ruang-ruang Sekolah Minggu. Beberapa waktu kemudian halaman parkir di seberang gedung gereja dibuat lapangan bulu tangkis oleh masyarakat di sekitar gereja.

Setelah komplek GKJ Pangkalanjati selesai dibangun, dilakukan acara serah terima gedung gereja dari BPPG GKJ Pangkalanjati kepada Majelis GKJ Pangkalanjati dalam kebaktian khusus pada hari Minggu, 11 Juni 2000. Kebaktian yang dilanjutkan dengan acara pengucapan syukur ini diikuti pula oleh warga masyarakat. Pagelaran ketoprak yang dipentaskan dengan lakon “MUSA” telah melibatkan lebih dari 100 (seratus) orang pemain, gabungan antara warga GKJ Pangkalanjati dengan warga masyarakat di sekitar GKJ Pangkalanjati. Melalui acara itu menjadi amat terasa bahwa kehadiran gedung gereja bukan hanya membahagiakan warga gereja, tetapi juga warga masyarakat di sekitarnya.

 

 

BERBUAH BAGI TUHAN (2000 – sekarang)

 

Menyadari besarnya kasih dan berkat Tuhan, maka GKJ Pangkalanjati terus berupaya meningkatkan pelayanan. Untuk itu, mulai Januari 2004, kebaktian di GKJ Pangkalanjati dilayankan benyak 2 kali, yaitu pukul 06.30 dan 17.00 WIB. Dengan rata-rata kehadiran jemaat:

 

 

Melihat pertumbuhan dan perkembangan tersebut, kita pun patut bertanya:  “Apa atau bagian yang mana yang bisa dikatakan sebagai buah bagi Tuhan?” Buah yang telah dihasilkan oleh GKJ Pangkalanjati tidak lain adalah kehadiran, pertumbuhan, dan perkembangan GKJ Pangkalanjati itu sendiri. Dan sebagai bagian dari pekerjaan Roh Kudus, maka “buah” itu memang ada yang bisa dilihat dengan mata kita (jasmani), tetapi sebagian lagi hanya dapat dirasakan dengan hati kita (rohani). Secara sederhana “buah-buah” itu antara lain dapat disebutkan demikian:

 

  • Jasmani :  jumlah warga jemaat yang terus bertambah, pelayanan serta sarana-prasarana pelayanan yang tersedia secara cukup dan baik, kehadiran gereja dan jemaat yang dapat diterima serta dapat bekerjasama dengan baik di tengah-tengah masyarakat dan pemerintah setempat.

 

  • Rohani :   jemaat dapat terus bertumbuh dalam iman, para pelayan dapat terus mengembangkan diri bersama dengan jemaat dan masyarakat, semangat untuk terus saling tolong menolong, melayani, dan memuliakan Tuhan dapat terpelihara dengan baik.

 

            Berbuah dan terus berbuah bagi Tuhan!  Itulah yang harus terus dilakukan oleh GKJ Pangkalanjati dari waktu ke waktu.  “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemualiaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11 : 36).

 

 

 

Majelis GKJ Pangkalanjati

 

Link Update Pembaharuan