Info Kontak:

: Jl. Kapten Piere Tendean No.4, Magelang 56116

: 0293 364264

: gkj.plengkungmagelang@gmail.com

: www.gkjplengkung.com

Pendeta:

  • Pdt. Kristian Yudi Nugroho, S.Si.
  • Pdt. Gledis Yunia Debora Angelita, S.Si.
  • Pdt. Em. Samana Hardjosuwito, BD. (Emeritus)

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, 06.00 WIB Induk Bhs. Indonesia KJ,
  2. Minggu, 08.30

Profil dan Sejarah:

SEJARAH GKJ PLENGKUNG

Nama Gereja ini diambil dari nama tempat di mana gedung gerejanya berada, yaitu berada di jalan Plengkung I/4. Hal ini dimaksudkan untuk memperjelas pemahaman bahwa gereja ini timbul karena pendewasaan, dan tradisi GKJ bahwa nama jalan dimana gereja tersebut berada, maka gereja memakai nama yaitu GKJ Plengkung. Meskipun, sekarang nama jalan tersebut telah diganti dengan nama Jalan Kapten Piere Tendean.

 

GKJ Magelang mempunyai 7 (tujuh) wilayah dan beberapa pepanthan yaitu:

  • Wilayah 1 s/d 7.
  • Pepanthan : Salaman, Secang dan Grabag

 

Kelompok jemaat blok 6 dan7 berada di wilayah Kota Magelang Bagian Utara,(Kecamatan Magelang Utara) adalah merupakan cikal bakal warga Jemaat GKJ Plengkung, (cikal bakal jemaat GKJ Plengkung induk).Warga jemaat Bagian Utara (blok 6 dan 7) terdiri dari berbagai latar belakang kuktur budaya (penduduk asli dan pendatang) sosial ekonomi (PNS, TNI, ABRI, pedagang, swasta dan lain-lain) dan suku bangsa karena di wilayah tersebut ada perumahan / asrama tentara yang penghuninya setiap waktu pindah dan datang. Namun hal ini tidak menjadi kendala dalam mengemban tugas panggilan gereja sebagai saksi-saksi Kristus untuk mewartakan injil keselamatan.

 

Sekitar tahun 1940 warga jemaat yang bertempat tinggal di Magelang Utara menyelenggarakan kebaktian sendiri. Mula-mula di rumah bekas Kelurahan Kedungsari, kemudian pindah ke rumah Bapak Benjamin juga di Kedungsari. Karena, Bapak Benjamin pindah ke Menowo, maka tempat kebaktiannya pun pindah ke Menowo. Namun di rumah ini tidak berlangsung lama, karena kemudian pindah ke rumah Bapak Slamet Tjokrowigeno.

 

GPIB di Aloon-aloon mempunyai sebuah gedung gereja yang terletak di Wates, yang kebetulan tidak dipergunakan. Oleh Majelis dipinjam untuk tempat kebaktian warga jemaat sebelah utara.

 

Permintaan ini disetujui, sehingga kemudian tempat kebaktian pindah ke GPIB Magelang yang ada di wilayah  Wates. Tetapi karena ada suatu persoalan terpaksa tempat kebaktian ini pindah untuk kesekian kalinya di rumah Bapak Slamet Tjokrowigeno.

 

Beberapa waktu kemudian Tuhan memberikan berkatnya. Perkumpulan militer Belanda dulu mempunyai gedung untuk kantin, yang biasa disebut gedung Dwi Warna yang terletak di jalan Plengkung I/4. Pemilik gedung Dwi Warna yang sudah kembali ke Negeri Belanda berkeinginan menjual gedung Dwi Warna kepada yayasan yang Kristiani, berita tersebut terdengar oleh lembaga / instansi dan pihak-pihak diluar gereja yang berminat mempunyai kemampuan keuangan cukup, namun pemilik mengutamakan pembeli dari lingkungan gereja walaupun kemampuan financial kurang mampu, dengan harga 80.000 gulden.

 

Majelis mengadakan hubungan dengan pemiliknya, dan menyatakan maksudnya untuk membeli gedung tersebut. Pembicaraan itu menghasilkan kesepakatan dan gedung tersebut dibeli dengan harga 80.000,00 gulden. Uang sekian banyaknya diperoleh dari pinjaman yang diberikan oleh Gereja  Kristen Nedherland di Amsterdam.

 

Warga jemaat bagian utara berminat dan mendapatkan dukungan Majelis GKJ Magelang, selanjutnya dibentuk Panitia yang terdiri dari:

  1. Subagyo (alm)
  2. Drs. Sukimin Adiwiratmoko (alm)
  3. Srihadisiswoyo (alm)
  4. Danardono (alm)
  5. R. Sudadiyo (alm)
  6. Adi Wasito (alm)
  7. Mulyono (alm)

 

Antara tahun 1954 – 1955 para warga jemaat GKJ Magelang sepakat untuk menggalang dana dengan cara mempersembahkan satu kali gaji / penghasilan sebulan atau sesuai kemampuan, diangsur selama 5 tahun (60 bulan). Sungguh suatu mujizat dan merupakan rencana Tuhan untuk jemaat-Nya akhirnya Gedung Dwi Warna

dan tanah dimana gedung itu berdiri, dapat dimiliki jemaat GKJ Magelang.

 

Tetapi kemudian timbul persoalan-persoalan yang cukup rumit. Pada saat itu gedung tersebut masih dipergunakan oleh LPPU (Sekolah/kursus bagi anggota tentara). Sebenarnya Persit sudah mempunyai rencana pula untuk membeli rumah tersebut, dan atas rencana ini Kodam telah memberikan bantuan keuangannya kepada Persit Magelang. Majelis membentuk sebuah panitia yang terdiri dari Bapak Letnan Adiwasito, Bapak

 

Letkol Soebagjo, Bapak Soekarwadi dan Bapak Ds. I.N. Siswowasono. Panitia ini sengaja diambil dari tokoh-tokoh Kristen yang  “berbaju hijau” dan tokoh-tokoh gereja. Usaha-usaha dengan cara yang resmi ini belum juga mendapatkan hasil yang memuaskan. Kemudian Bapak Ds. R. Notosoebali dan Bapak Soegriwo mencoba ikut berusaha. Perlu kami cantumkan kalimat-kalimat pembuka jalan yang membawa hasil, dihadapan komandan KMK Bapak Major Soedjono:

 

Bp. Ds.R.Notosoebali: “Sewajarnyalah kalau pohon yang besar itu untuk berlindung. Dan kami mempunyai eyakinan, bahwa Komandan suka menolong…”

 

Oleh kata-kata yang agak bernada menyanjung ini kemudian sikapnya sudah lain, dan kemudian beliau menjawab: “Saya “jengkel”, sebab kami sudah ada rencana untuk membeli dan sudah mendapat bantuan dari Kodam, sekarang gereja mendahului……”

 

Dari pembicaraan ini kelihatan tanda-tanda akan berhasil karena Komandan KMK sudah tidak sekeras semula. Majelis kemudian mengajukan permohonan kepada Komandan KMK, yang isinya antara lain :

  1. Pihak KMK bersedia mengosongkan gereja tersebut dalam waktu yang dekat.
  2. Sebelum dikosongkan oleh LPPU, pihak GKJ pada hari Minggu dapat mempergunakan untuk tempat kebaktian.
  3. GKJ boleh mempergunakan kursi-kursi LPPU untuk kebaktian pada hari Minggu.

 

Pada suatu hari Sabtu dari pihak GKJ sudah akan memulai kebaktian pada hari Minggu esoknya, tetapi waktu GKJ akan memasukkan kursi-kursinya ditolak oleh Komandan LPPU. Dan pihak GKJ kemudian menghubungi komandan KMK. Oleh Komandan KMK diberi surat kepada Komandan LPPU dan barulah diperbolehkan memasukkan kursi.

 

Anggota tentara yang tinggal di belakang LPPU dipindahkan oleh Komandan dan diisi oleh Bapak Adiwasito, sedangkan LPPU dipindahkan ke Hubdam. Bapak Mayor Soedjono sendiri mempunyai permintaan kepada Majelis untuk ikut membeli sebagian dari tanah itu, tetapi oleh Majelis tidak disetujui.

 

Akhirnya Bapak Mayor Soedjono hanya dibolehkan “magersari” dan dengan perjanjian:

  1. Tidak boleh untuk usaha yang mengganggu jalannya kebaktian.
  2. Dipergunakan hanya untuk tempat tinggal.

Untuk maksud pembelian ini Jemaat mengerahkan kekuatannya, yaitu semua warga jemaat diwajibkan menyerahkan penghasilan/gaji satu bulan dengan diangsur selama 5 tahun.

 

Pembelian dengan menyerahkan gaji satu bulan ini bukan hanya untuk warga Plengkung saja, tetapi seluruh warga jemaat yang bertempat tinggal di Magelang termasuk yang tinggal di sebelah selatan.

 

Majelis GKJ Magelang menugaskan Bp. Adi Wasito untuk mengambil alih tanggung jawab keamanan dan ketertiban kompleks Dwi Warna.

 

Pada tanggal 17 Februari 1958 Bp. Adi Wasito sekeluarga menempati gedung Dwi Warna. Selanjutnya setelah dipersiapkan dengan baik, gedung Dwi Warna digunakan untuk Kebaktian Hari Minggu sebagai tempat ibadah bagi kelompok jemaat bagian utara. Sejalan dengan keinginan kelompok jemaat bagian utara untuk dapat mandiri menjadi Gereja Dewasa, Majelis blok 6 dan 7 diberikan wewenang khusus oleh Majelis GKJ Magelang untuk:

  • Mengadakan rapat Majelis sendiri sebulan sekali.
  • Melengkapi komisi-komisi yang paralel dengan gereja induk.
  • Mengatur keuangan sendiri.

 

Tenaga Pamulang GKJ Magelang:

  • Ds. Notosubali di GKJ Magelang (Induk).
  • Sugriwo Gunosaronto di Pepanthan Salaman.
  • Yusup Martodirdjo di Pepanthan Secang dan Grabag.
  • Ds. Hendro Slameto, S.Th di kelompok jemaat bagian utara.

 

Bapak Pendeta Hendro Slameto, S.Th berasal dari Sala, dipanggil menjadi pendeta di GKJ Magelang pada tahun 1963, ditempatkan dan ditugasi melayani jemaat Blok 6 dan 7, menempati pastori gedung Dwi Warna mulai 5 Mei 1963 setelah dikosongkan, Bapak Adiwasito sekeluarga pindah ke rumah dinas tentara di Ngentak.

 

 

Dalam waktu tidak terlalu lama, Bapak Pendeta Hendro Slameto, S.TH dipanggil menjadi pendeta tentara Angkatan Laut.

 

Kekosongan gembala di blok 6 dan 7 digantikan oleh Bp. Sugriwo Guno Saronto dari pepanthan Salaman, dan Salaman diisi Bp. Ds. Supriyo Laban.

 

Dengan adanya tempat kebaktian yang baru dan pendeta yang baru ini jemaat kelihatan makin maju dan giat. Tetapi sayang bahwa Bp. Ds. Hendro Slameto hanya dapat melayani jemaat Magelang selama kurang lebih 2 tahun karena mendapat panggilan dari jemaat Ngadirejo untuk melayani Jemaat Ngadirejo.

 

Oleh karena jemaat yang di sebelah utara belum punya tenaga pendeta dan belum ada pastori, maka timbullah ide agar sebelum memanggil pendeta, terlebih dahulu disediakan rumah (pastori) untuk pendetanya, agar pendeta itu nanti merasa krasan.

 

Pembuatan pastori ini dilakukan seperti waktu jemaat membeli Gedung Dwi Warna. Panitia pembangunan pastori terbentuk, antara lain:

  1. Adiwasto
  2. Moeljono
  3. Soekardi
  4. Ibu Moedjiran, dll

 

Pada pertengahan tahun 1966 jemaat Magelang memanggil seorang pendeta, yakni Bp. Ds. Samana Hardjosoewito dari GKJ Patalan, Bantul, Yogyakarta, dan ditempatkan di pastori yang baru.

 

Tahun 1969 Bapak Sugriwo Gunosaronto mengajukan pindah ke Temanggung dan ditempatkan di Pepanthan Pingit.

 

Dengan kehadiran Bp. Ds. Samana Hardjosoewito di Plengkung ini, para anggota jemaat lebih menampakkan kemajuannya dan menunjukkan juga kemantapannya dengan gembala yang baru ini.

 

Atas dasar data-data tersebut, Majelis segera memutuskan untuk segera mentahbiskan Bp. Ds. Samana Hardjosoewito dan dibentuklah panitia pentahbisan. Bp. Ds. Samana Hardjosoewito, ditahbiskan Oktober 1968. Dengan dukungan dari sebagian besar jemaat sebelah utara dicetuskanlah ide untuk pendewasaan. Bimbingan ke arah pendewasaan ini diberikan oleh Majelis, yaitu:

  1. Mengurusi keuangan jemaat dari persembahan bulanan dan mingguan sebelah utara.
  2. Dipercayakan komisi-komisi, panitia-panitia jemaat menjadi dua.

 

Pada tanggal 13 Mei 1969 oleh inisiatip para warga sebelah utara dibentuklah sebuah panitia persiapan pendesaan jemaat yang terdiri dari:

  1. Ketua I : Bp. Adiwasito
  2. Ketua II : Bp. Dwijosoemarto
  3. Penulis I : Bp. Sri Hadisiswojo
  4. Penulis II :Sdr.Beniarso Bunjamin

Oleh panitia disampaikan surat pengusulan kepada Majelis untuk maksud tersebut.

 

Pada tanggal 5 Juni 1969 Majelis mengadakan rapat khusus untuk membicarakan usul tersebut. Di dalam rapat tersebut diputuskan pembentukan Team Penyuluhan yang berkewajiban menyusun teks sesuluh yang diberikan kepada segenap warga jemaat. Semua anggota Majelis berkewajiban memberikan penerangan-penerangan sesuai dengan keputusan-keputusan Sidang Majelis.

 

Pada Sidang Majelis bulan Nopember 1969, panitia mendesak lagi, dan oleh Majelis diputuskan perlunya diadakan rapat Jemaat. Guna mempersiapkan rencana pendewasaan jemaat bagian utara, Majelis GKJ Magelang setuju dibentuk Panitia Persiapan Pendewasaan, terdiri dari:

  1. Mudjiman (alm).
  2. Srihadisiswoyo (alm).
  3. Adi Wasito (alm).
  4. Drs. Sukimin Adiwiratmoko (alm).
  5. Danardono (alm).
  6. Mulyono (alm).
  7. Beniarso.

 

Melalui Keputusan Sidang Klasis Kedu tahun 1969, rencana pendewasaan kelompok jemaat bagian utara GKJ Magelang disetujui dan agar segera dibicarakan antara kedua belah pihak, meliputi:

  • Peraturan dan perjanjian batas wilayah, inventaris harta kekayaan.
  • Tanggung jawab terhadap tenaga Pamulang.
  • Teknis pelaksanaan.

 

 

Periode Tahun 1970-an

Pada tanggal 7 Januari 1970 diadakan rapat jemaat di Gereja Plengkung dan pada tanggal 8 Januari 1970 diadakan rapat jemaat di Gereja Bayeman. Sebagai kesimpulan dari kedua rapat jemaat tersebut pada prinsipnya menyetujui berdirinya Gereja Plengkung.

 

Pada tanggal 12 Februari 1970 diadakan visitasi oleh Komisi Visitasi Klasis Kedu yang juga dihadiri oleh anggota Majelis dan segenap anggota Jemaat. Di dalam Sidang Klasis yang diadakan pada tanggal 4 dan 5 Maret 1970 yang dihadiri oleh visitator sinode, Majelis GKJ Magelang telah melaporkan perkembangan jemaat Magelang sebelah utara. Demikian juga Komisi Visitasi juga melaporkan hasil visitasinya.

 

Pada jam 20.45 Sidang Klasis ini menerima dan menyetujui berdirinya GKD Plengkung, dan oleh moderator Sidang Klasis dikeluarkan Surat Keputusan no. 02/III/K1/70 tanggal 6 Maret 1970.

 

Pada tanggal 13 Maret 1970 Majelis mengadakan rapat khusus sebagai kelanjutan dari keputusan klasis ini dengan keputusan-keputusan, antara lain:

  • Penentuan batas-batas pelayanan.
  • Pelaksanaan peresmian diserahkan kepada panitia.
  • Mengutus Ds. Samana Hs. dan Bp. Adiwasito menghubungi GKJ Semarang Barat dan Semarang Timur untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk sesuai dengan pengalaman-pengalamannya, sehingga timbul GKJ Plengkung yang mandiri, meskipun semula warganya menjadi satu dengan GKJ Magelang.

 

Akhirnya diputuskan kesepakatan sebagai berikut:

  • Jemaat induk adalah GKJ Plengkung dengan Pepanthan: Secangdan Grabag.
  • Tenaga yang menjadi tanggung jawabnya adalah:
  • Samana Hardjosoewito.
  • Bapak Yusup Martodirdjo (pembantu pendeta).

 

Batas wilayah pelayanan ditetapkan:

  • Dari simpang empat Pengadilan Negeri Kota Magelang ke arah barat sampai jembatan kali Progo (Plikon), dan ke arah timur sampai jalan Samban. Sebelah selatan dari batas jalan dimaksud menjadi wilayah pelayanan GKJ Magelang, sebelah utara dari batas jalan dimaksud menjadi wilayah pelayanan GKJ Plengkung.
  • Barang-barang yang telah ada di masing-masing jemaat menjadi milik jemaat yang bersangkutan.
  • Menetapkan hari peresmian pada tanggal 21 Mei 1970 dengan upacara gerejawi.
  • Keanggotaan majelis Blok 1 s/d 5 menjadi Majelis GKJ Magelang dan Blok 6 dan 7 masuk GKJ Plengkung.

(Konsensus ini aslinya ditandatangani oleh Majelis kedua belah pihak, dan telah dimuat dalam Buku Ulang Tahun HUT GKJ Plengkung kedua).

 

Pada tanggal 21 Mei 1970 Jemaat GKJ Magelang sebelah utara diresmikan menjadi jemaat yang berdiri sendiri, dangan nama GKJ Plengkung, dan peresmian ini dihadiri oleh para utusan sinode, utusan klasis, tenaga-tenaga se-Klasis Kedu dan beberapa pejabat pemerintahan. Kebaktian peresmian semula akan dilayani  Bp. Pdt.SP Poerbawijaga. Tetapi beliau mendadak sakit, maka dilayani oleh Bp. Ds Sarjadi dari Muntilan. Dengan diresmikannya GKJ Pengkung ini, maka Klasis Kedu Utara terdiri dari 14 Gereja.

Anggota-anggota Majelis yang berdomisili di sebelah utara pada saat itu ditetapkan menjadi Majelis GKJ Plengkung yang pertama ialah:

  1. Ds. Samana Hardjosoewito
  2. Adiwasito (alm)
  3. Dwijosoemarto (alm)
  4. Sunar Danubroto
  5. P.Martohardjono (alm)
  6. Sri Hadisiwojo (alm)
  7. Ngatmo Endrowidjojo
  8. Drs. Soekimin Adiwiratmoko

(alm)

  1. R.P.Siswojo (alm)
  2. Danardono (alm)
  3. Sugijono (alm)
  4. Ibu Mudjiman (alm)
  5. Ibu Ezra Permadi (alm)
  6. Jusup (alm)
  7. Isnadisetjo (alm)
  8. Notoprajitno (alm)
  9. Martodiharjo (alm)
  10. Wagiman (alm)
  11. Jowono (alm)

Jumlah warga sidi tercatat 300 orang. Pepanthan-pepanthan yang termasuk wilayah Plengkung adalahSecang, Grabag, dan Sambung.

 

Hari jadi GKJ Plengkung tersebut merupakan hari bersejarah dan merupakan awal untuk menunaikan tugas panggilan gereja sebagai Gereja yang telah Dewasa untuk menjadi saksi-saksi Kristus sebagai Juru Selamatnya (Matius 28:19-20, Lukas 24:47-49, Kisah Para Rasul 1:8, I Petrus 5:2-4).

 

Pertumbuhan dan perkembangan GKJ Plengkung semakin bertumbuh dengan baik, di bawah penggembalaan Bp. Pdt. Samana Hardjosoewito.

Untuk meningkatkan pelayanan mendapat tawaran program tugas belajar keluar negeri dari Sinode GKJ, yaitu Australia, Bp. Pdt. Samana Hardjosoewito berminat dan Majelis GKJ Plengkung setujum serta memberi dukungan penuh. Atas kemurahan Tuhan, pendidikan di Australia dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun, berhasil mendapat gelar B.D.

 

 

Periode Tahun 1980-an

Sejak tahun 1980 GKJ Plengkung telah menyiapkan Pepanthan Secang dan Grabag untuk dapat berdiri menjadi satu jemaat di daerah kabupaten Magelang bagian Utara. Kedua Pepanthan tersebut ingin mandiri dan mendewasakan diri. Pepanthan Grabag meminta tenaga pendeta ke  gereja induk. Pada tahun 1980 GKJ Plengkung, atas dorongan saudara-saudara dari GKI Magelang yang bersedia menanggung 50% gaji pendeta, memanggil pendeta Pranowohadi, B.Th dari GKJ Teplok Purworejo, dan selanjutnya ditempatkan di Pepanthan Grabag pada 1 Juli 1980.

 

Pada tahun 1985 Jemaat GKJ Plengkung dapat membangun gedung gereja yang telah lama didambakan di atas tanah kosong  di depan gedung Dwi Warna,  akhirnya Kebaktian Ibadah mulai dilaksanakan di gedung Gereja yang baru, sedangkan gedung Dwi Warna digunakan untuk kegiatan: Kebaktian Sekolah Minggu, Persekutuan Remaja-Pemuda, latihan band, kesenian, karawitan, untuk rapat panitia / komisi jemaat, kegiatan Komisi Wanita Gereja, menghias peti, ketrampilan ibu-ibu, kursus menjahit, dan lain-lain.

Pada tahun 1994 terjadi perubahan rencana Pendewasaan Pepanthan Secang dan Grabag karena Pepanthan Secang bersama Kepatran mengusulkan untuk didewasakan menjadi jemaat sendiri di samping Grabag, dan mereka sanggup untuk memanggil tenaga pamulang sendiri. Atas pertimbangan efektivitas dan kemampuan keuangan, maupun warga jemaat, maka Panitia Pendewasaan dapat menerima usul tersebut, dan mengusulkannya kepada Majelis. Majelis akhirnya dapat menerima usul tersebut dan meminta masing-masing Pepanthan yang akan didewasakan itu membuat perencanaan dan membentuk Panitia Pelaksana.

 

Rencana tersebut telah dilaporkan ke Klasis dan Klasis telah mengadakan visitasi, serta hasilnya telah dilaporkan kepada Sidang Klasis ke-33 pada tanggal 10 Maret 1995 di Ngadirejo. Sidang Klasis itu akhirnya menyetujuinya. Dan pada tahun yang sama GKJ Plengkung memanggil Pendeta Pujo Kristanto, S. Th untuk ditempatkan di Pepanthan Secang.

 

Panitia pelaksana setempat telah melaksanakan Peresmian Pendewasaan dan Peneguhan Pdt. Pranowohadi B.Th di GKJ Grabag Merbabu pada tanggal 1 Juli 1995 dan Pepanthan Secang yang menjadi satu jemaat dengan Pepanthan Kepatran pada tanggal 6 Juli 1995 menjadi GKJ Secang dan Pentahbisan Pdt. Pujo Kristanto, S.Th.

 

Menjelang masa purna bakti Bp. Pdt. Samana Hardjosoewito, B.D karena telah memasuki usia pensiun, Majelis GKJ Plengkung memanggil Bp. Pdt Widyasto Siwi Rahardjo, S.Th dan ditahbiskan pada tanggal 31 Oktober 1995.

 

Pada tanggal 4 November 1998 dengan upacara Kebaktian Emiritasi Bp. Pdt. Samana Hardjosuwito, B.D ditetapkan menjadi pendeta emeritus setelah melayani di GKJ Plengkung selama 30 Tahun. Masa pengabdian menjadi Pendeta jemaat dimulai dari:

  • Di GKJ Kalipenten, Pepanthan Sentolo, Kulon Progo (1961-1963), sebagai Guru Injil.
  • Di GKJ Patalan, Bantul, Yogyakarta (1963-1968), sebagai pendeta.
  • Di GKJ Plengkung (1968-1996), sebagai pendeta.

 

Belum lama melayani tugas sebagai Pendeta jemaat di GKJ Plengkung,Bp.Pdt.WidyastoSiwi Rahardjo,S.Th mengundurkan diri dari kependetaan, dan selama beberapa tahun GKJ Plengkung tidak mempunyai Gembala/Pendeta untuk itu dilayani Pendeta Konsulen:

  • Ibu Pdt. Icclesia Ratri Kurnia, S.Th(GKJ Nglabak).
  • Pdt. Pranowohadi, B.Th (GKJ Grabag-Merbabu).
  • Tatag Setiawan, S.Th (GKJ Salaman).

 

Dan pada tahun 1999 Majelis GKJ Plengkung memanggil Pendeta Pranowohadi, B.Th dari GKJ Grabag-Merbabu, atas persetujuan dari Majelis GKJ Grabag-Merbabu. Tuhan sendiri yang memilih dan menetapkan hambanya Bp. Pdt. Pranowohadi diteguhkan di GKJ Plengkung pada tanggal 21 Mei 1999 bertepatan dengan HUT GKJ Plengkung yang ke-29.

 

Dan pada tahun 1999 gedung gereja yang telah ada dipugar, dibangun gedung gereja yang baru lebih luas, ditambah balkon dan kantor gereja di lantai dua. Sungguh merupakan berkat Tuhan yang luar biasa, persiapan penggalangan dana dimulai dari tahun 1997. Adapun bangunan gedung Dwi Warna setelah gereja yang baru jadi, jarang digunakan, sehingga kemudian dipinjamkan kepada Perserikatan Sekolah Kristen untuk digunakan sebagai gedung sekolah, yaitu:

  • SMA Kristen 3
  • SMK Kristen (STM Kristen)

Pada tahun 2004 diminta kembali oleh gereja karena gedung STM yang baru telah selesai.

Setelah bertugas melayani di jemaat GKJ Plengkung, guna meningkatkan pelayanan Bp. Pdt. Pranowohadi B.Th menginginkan melanjutkan studi ke jenjang S-1, dan Majelis GKJ Plengkung memberikan ijin dan dukungan sepenuhnya, berkat karunia Tuhan, pendidikan diselesaikan dalam waktu 3 tahun dan berhasil mendapat gelar S.Th serta M.Miss.

 

Tahun 2004, wilayah G Kalinegoro (jemaat dari Warga GKJ Plengkung) dan wilayah 8 (GKJ Magelang) berkeinginan untuk menjadi Gereja Dewasa. Persiapan telah dilakukan dengan membentuk Panitia Pendewasaan dan sampai saat ini masih dalam proses pembinaan antara Majelis GKJ Magelang dan Majelis GKJ Plengkung.

 

Menjelang masa emiritasi Bapak Pendeta Pranowohadi S.Th M.Miss, GKJ Plengkung telah mempersiapkan rencana pemanggilan pendeta, dan membentuk Panitia pada bulan Oktober 2004, tahun 2005 telah dimulai pengenalan kotbah bakal calon. Ada 4 orang bakal calon, setelah melalui penilaian oleh Panitia, Majelis GKJ Plengkung menyetujui 2 calon diproses lanjut mengikuti masa orientasi atas nama:

  1. Kristian Yudi Nugroho, S.Si dari GKJ Magelang
  2. Gledis Yunia Debora Angelita, S.Si dari GKJ Eben Haezer, Jakarta.

 

Masa orientasi dimulai Juli 2005 dan pada bulan Oktober 2005 diadakan evaluasi.

 

Dengan dibatalkan SKB 2005 Wilayah G-GKJ Plengkung tidak jadi bergabung dengan wilayah 8 GKJ Magelang untuk menjadi gereja yang dewasa, namun masih bergabung dengan GKJ Plengkung, dengan tempat kebaktian di Gereja Oikumene Kalinegoro.

 

Pada awal tahun 2006 keluarga Ibu Mudjimanmengungkapkan keinginannya untuk merehab gedung Dwi Warna. Rehab dimulai pada bulan Maret 2006 dan dapat diselesaikan pada bulan April. Gedung yang telah direhab ini kemudian difungsikan sebagai gedung pertemuan.

 

Pada tanggal 22 September 2006 Sidang Istimewa Gereja-gereja GKJ Klasis Magelang menyatakan kedua calon pendeta dinyatakan layak menjadi pendeta dalam ujian yang diadakan dalam sidang tersebut. Selanjutnya mulai tanggal 23 September – 8 November 2006 kedua calon pendeta menjalani masa Vikariat. Dan pada tanggal 9 November 2006 dilaksanakan penahbisan kedua calon pendeta menjadi pendeta di GKJ Plengkung.

 

Sedikit menengok ke belakang, bahwa di dalam meningkatkan dan pengurusan administrasi gereja, GKJ Plengkung baru dapat membuka kantor Tata Usaha Gereja dengan tenaga honorarium. Dan baru pada tahun 1984 dapat mengangkat tenaga tetap. Adapun tenaga-tenaga gereja yang melayani sejak tahun 1970:

  1. Ratmin (alm)
  2. Rahadi Sutjipto (alm)
  3. Sarman
  4. Kasdi (2000) dan Bp. Bambang
  5. Bp. Pujo Iman Santoso (2010)

Tenaga Tata Usaha Gereja yang melayani sejak tahun 1970:

  1. R. Sudiro
  2. Suhadi
  3. Suhardi
  4. Andreas Moersida,
  5. Ibu Winda Dewi Arimastuti (2010)

 

Bendahara Gereja mulai Tahun 1970:

  1. Kasmin (1970-1994) selama 24 tahun
  2. ST Sukiman
  3. Drs. Suparmanto
  4. Ediyono Sutarmadji, SH
  5. Winarno.
  6. Ibu Suparti Ribowo T.
  7. Haryanto
  8. Trilaksakanta Satya Nugraha
  9. Hery Sri Saptono
  10. Ibu Endang Setyowati
  11. Ibu Rukiyati