Info Kontak:

: Jl. Rambutan, Gang PEKA, RT.003 RW.02, Dsn.I, Kampung Sawah, Kel. Jatimurni, Kec. Pondok Melati, Bekasi 17432

: 0218 4596862

: gkjpondokgede@yahoo.co.id

: www.gkjpondokgede.com

Pendeta:

  • Pdt. Samuel Silo Samekto, S.Th.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 07.00
  2. Minggu, Pk. 16.00
  3. Minggu, Pk. 13.00
  4. Minggu, Pk. 10.00

Profil dan Sejarah:

ebuah pertemuan di Pastori tanggal 12 Agustus 1982 yang dihadiri 22 orang menjadi tonggak penting, cikal bakal yang mengukuhkan niat untuk secara rutin menggelar pertemuan yang menjadi sarana untuk mengakrabkan dan saling mengenal.

Melalui pertemuan yang dihadiri : Bp & Ibu Sutomo, Bp & Ibu Sularso, Ibu Suwandi, Bp & Ibu Tjuk Sungkono, Bp & Ibu Soeripto, Bp. & Ibu Setyo Tjipto, Ibu Sikam, Bp & Ibu Joesoef Ranumihardjo, Bp & Ibu Kartimin, dihasilkan kesepakatan untuk menyelenggarakan PA rutin, yang digelar bergilir di rumah jemaat. Setelah PA dilakukan secara rutin, secara bertahap jemaat mulai menyelenggarakan persiapan perjamuan secara mandiri di kelompok jemaat Pondok Gede yang sebelumnya dilakukan di GKJ Jakarta.

Melihat perkembangan ini, kemudian tumbuh inisiatif untuk mulai menyelenggarakan ibadah minggu sendiri setiap bulan sekali yang dikelola oleh Penatua Kelompok. Ibadah minggu pertama dilakukan di Rumah Pastori, kediaman Pdt. Suwandi Martoutomo, S.Th dan dilayani oleh Pdt. David MP, sedangkan ibadah kedua diselenggarakan di Jl. Camar No. 7 Komplek Bumi Makmur, kediaman Keluarga Darmo Purwanto (kemudian menjadi tempat tinggal keluarga Prasetyo Hatmodjo).

Setelah Majelis GKJ Jakarta mengetahui penyelenggaraan ibadah minggu tersebut, Majelis kemudian mendesak agar kelompok jemaat di Pondok Gede memiliki tempat ibadah tetap untuk melakukan ibadah minggu di wilayahnya. Sesuai keputusan Majelis GKJ Jakarta dalam rapat pleno ke 545, Jumat, 3 Oktober 1986, kemudian diputuskan menjadikan rumah Bp. Joesoef Ranumihardjo sebagai tempat ibadah Minggu. Namun menjawab tawaran Bp. Dkn. Jahja Lasiman, atas usulan Bp. Prasetyo Subagyo dan 7 jemaat lainnya, kemudian dipilihlah kediaman Bp. Jahja Lasiman sebagai tempat ibadah. Maka terhitung sejak hari itu, hingga 4 tahun kemudian kelompok jemaat menikmati pelayanan sakramen perjamuan secara mandiri dan Sekolah Minggu untuk jemaat anak di rumah Keluarga Silvanus (depan rumah Bp. Jahja Lasiman).

Karena jemaat yang terus bertambah maka kebutuhan tempat ibadah baru menjadi keharusan. Dalam sebuah kesempatan, Bp. Soedarno berjumpa dengan Bp. Njoto Soebandrio teman semasa sekolahnya. Setelah pertemuan tersebut, Bp. Njoto Soebandrio menawarkan Wisma Hexa miliknya sebagai tempat kebaktian. Kabar menggembirakan tersebut sayangnya tidak ditanggapi serius oleh jemaat saat itu masih melakukan kebaktian di Rumah Bp. Jahja Lasiman. Wisma Hexa kemudian baru dipergunakan setelah pergantian Majelis pada tahun 1990.

Tahun 1990 kelompok jemaat di Pondok Gede masih tergabung dalam wilayah Rawamangun C. Jumlah jemaat yang terus bertambah mendorong Majelis GKJ Jakarta untuk membentuk wilayah (pepanthan) baru. Akhirnya pada Januari 1991, kelompok jemaat Pondok Gede resmi menjadi wilayah sendiri, setelah 5 tahun perjalanannya. GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede adalah nama resminya dengan cakupan wilayah Jakarta Timur & Bekasi, serta dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :
a. Getsemane meliputi Jatimakmur & Jatiwaringin
b. Golgota meliputi Lubang Buaya, Ceger, Pinangranti & Bambu Apus
c. Kanaan meliputi Jatirahayu, Jatimurni, Jatimekar, Cakung Payangan & Kranggan
d. Kolose meliputi Kecamatan Jatiasih.

Untuk melayani aktivitas jemaat terdapat 4 orang Penatua & 1 orang Diaken yang melayani GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede pada saat itu tercatat sebagai berikut :
a. Pnt. Prajoga Utama melayani Kelompok Getsemane
b. Pnt. Supramono melayani Kelompok Kanaan
c. Pnt. Sudarsono melayani Kelompok Golgota
d. Pnt. Djatmiko Listyobanu melayani Kelompok Kolose
e. Dkn. Joesoef Ranumihardjo sebagai Diaken Wilayah Pondok Gede

Tuhan terus memelihara dan menumbuhkan GKJ Jakarta Wilayah Pondok Gede. Jemaat terus bertambah, kegiatan semarak, pembinaan berjalan baik serta persembahan dalam kondisi stabil dan cukup tinggi dengan ratarata Rp. 5.000, per kepala/minggu (jumlah tertinggi di antara gerejagereja yang akan mandiri) Jemaat GKJJ Wilayah Pondok Gede juga berada pada usia produktif serta didominasi jemaat minimal berpendidikan SMA, sebuah kondisi yang menumbuhkan keinginan kuat bagi jemaat untuk mandiri. Keinginan untuk mandiri tersebut direspon oleh GKJ Jakarta dengan menurunkan Tim Evaluasi Pembiakan Jemaat (TEPAT) yang bertugas meneliti dan mengevaluasi kesiapan suatu wilayah untuk menjadi gereja dewasa.

Pada Sidang Klasis Tegal tanggal 45 Februari 1997 di Pemalang. GKJ Jakarta mengusulkan agar GKJ Pondok Gede divisitasi untuk dimandirikan. Sementara itu pada saat yang sama GKJJ Wilayah Pondok Gede segera membentuk Panitia Pemanggilan Calon Pendeta (PPCP). Selain mempersiapkan Pendeta, GKJJ Wilayah Pondok Gede juga berusaha memiliki gedung gereja sendiri yang dikerjakan oleh Badan Pelaksana Pembangunan Gereja (BPPG). Waktu berlalu dan hingga tahun 1998 baik PPCP & BPPG belum menunjukkan hasil kerja yang memuaskan.

Setelah penantian selama setahun, pada Sidang Klasis tanggal 10 – 11 Februari 1998 di GKJ Tanjung Priok, akhirnya hasil visitasi untuk GKJJ Wilayah Pondok Gede diputuskan dan menyetujui pendewasaan GKJJ Wilayah Pondok Gede.
Sekali lagi Allah membuktikan kasih dan setianya pada kerinduan jemaat yang Dia kasihi. Dalam kondisi belum memiliki seorang pendeta dan gedung gereja sendiri Allah mengaruniakan kemandirian, tepatnya pada tanggal 2 Nopember 1998 GKJJ Wilayah Pondok Gede ditetapkan menjadi gereja yang mandiri, yaitu GKJ Pondok Gede.

GKJ Pondok Gede mempunyai kerinduan untuk memiliki seorang pendeta sendiri sebelum mandiri. Keputusan untuk membentuk PPCP muncul pada rapat Majelis tanggal 2 Agustus 1997. PPCP diketuai oleh Bp. Soedarno, Bp. Budhi Santoso sebagai Sekretaris, Bp. Padmono Sk, S.Th, Bp. Djatmiko Listyobanu dan Bp. A. Supartono sebagai anggota.

Hal pertama yang dikerjakan oleh PPCP adalah menyusun criteria calon pendeta dan berdasarkan masukan dari Majelis dan jemaat, akhirnya terpilih 3 orang yang memenuhi dan bersedia dicalonkan yakni :
1. Pdt. Steyfanus R. Pua, S.Th dari Pondok Gede
2. Sdr. Tri Oetomo Adi Wibowo dari Tanjung Priok
3. Sdr. Ir. Yoel Muwun Indrasmoro, S.Si dari Pondok Gede
Caloncalon tersebut selanjutnya dipanggil Majelis dan diperkenalkan pada jemaat melalui kegiatan kelompok secara bergiliran. Ditengah masa penjajakan, Ir. Yoel M Indrasmoro harus melakukan kolegium pastoral sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan orientasi dengan intensif.

Setelah menyelesaikan masa orientasi akhirnya dilakukan pemilihan pada tanggal 6 Juni 1999, dari pemilihan tersebut tidak ada satu calon pun yang memenuhi syarat, karena suaranya kurang dari persyaratan yang telah ditetapkan oleh Majelis yaitu 70%.
Memulai kembali proses pemanggilan pendeta, pada saat itu Pdt. Aris Widaryanto, S.Th sebagai pendeta konsulen mengusulkan nama Bapak Samuel Silo Samekto, S.Th alumni UKDW Yogyakarta tahun 1974. Setelah dilakukan beberapa kali komunikasi, Bp. Padmono Sk, S.Th dalam perjalanan ke Jawa Tengah menyempatkan diri untuk bertemu, menyatakan keinginan dan menanyakan kesediaan Bapak Samuel untuk mengikuti proses pemanggilan calon pendeta. Selanjutnya Majelis secara resmi memanggil beliau untuk mengikuti orientasi di GKJ Pondok Gede selama 3 bulan sejak tanggal 1 Nopember 1999 s/d 31 Januari 2000. Setelah majelis meminta pendapat jemaat atas calon tunggal tersebut, hasilnya 92,4% jemaat menyetujui proses pemanggilan Bapak Samuel sebagai pendeta dilanjutkan kembali. Selama 1 tahun sesudahnya, sejak bulan Juni 2000 s/d Juni 2001, bersamasama dengan Bapak Oktavianus Heri Prasetyo Nugroho dari GKJ Bekasi menjalani pembimbingan dari Pdt. Dr. Soelarso Sopater, Pdt. Dr. Kadarmanto Hardjowasito, Th.M, Pdt. Djoko Sulistyo, S.Th dan Pdt. Andreas Untung Wiyono, S.Th. Akhirnya pada ujian peremptoir tanggal 2526 Mei 2001 di GKJ Bekasi, Bapak Samuel dinyatakan layak tahbis dan ditahbiskan menjadi pendeta GKJ Pondok Gede pada tanggal 3 Nopember 2001.

Perjuangan jemaat GKJ Pondok Gede untuk memiliki gedung gereja sendiri dimulai saat BPPG diresmikan tanggal 18 Mei 1996. Meskipun jemaat telah memiliki tanah persembahan warga di daerah Bumi Makmur, namun IMB masih harus diperjuangkan karena membutuhkan persetujuan di sekitar tanah gereja. Karena upaya pengurusan IMB untuk tanah gereja di Bumi Makmur mengalami jalan buntu, Majelis mendorong BPPG untuk mencari tanah gereja di tempat lain. Akhirnya terbukalah jalan, GKJ Pondok Gede untuk mendapatkan tanah gereja di daerah Kampung Sawah pada tahun 20022003 seluas 2.000 m2 lebih, yang sekarang telah berdiri bangunan gereja yang dapat dipergunakan untuk beribadah. Kini GKJ Pondok Gede sudah menempati tempat ibadah sendiri dengan jumlah jemaat 793 jiwa (599 Dewasa dn 194 Anak) yang berasal dari 271 KK.