Info Kontak:

: Dk. Purbo, RT.03 RW.02,Desa Jolotigo, Kec. Talun, Kab. Pekalongan 51191

: –

: purbogkj19@gmail.com

Pendeta:

  • Pdt. Alfius Sokidi, S.PAK.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 08.30
  2. Minggu, Pk. 07.00

Profil dan Sejarah:

SEJARAH

GEREJA KRISTEN JAWA

( GKJ ) PURBO

 

A   PENDAHULUAN.

Tumbuh dan berkembangnya Gereja Kristen Jawa ( GKJ ) Purbo tidak lepas dari peran orang – orang Kristen pribumi pada masa Rasul Sadrach Suropranoto yang kemudian orang menyebut Kyai dari Karangjasa, Purworejo. Karena itu sebelum memaparkan tentang GKJ Purbo, dalm tulisan ini lebih dulu akan penulis paparkan tentang Kyai Sadrach Suropranoto dan perannya dalam Pemberitaan Injil di Tanah Jawa.

  1. KYAI SADRACH SUROPRANOTO.

Lahir di desa dekat Demak pada tahun 1833 sebagai anak pertama dari petani miskin dengan nama Radin. Sebagai keluarga muslim, mula – mula ia belajar Agama Islam di Langgar Desa. Kemudian setelah menginjak usia remaja ia berguru di Pondok Pesantren Jombang Jawa Timur dan namanya ditambah nama arab “ ABAS “ sehingga menjadi Radin Abas. Pada waktu itu di Modjowarno tinggl seorang pendeta Belanda bernama Jellesma yang selalu memberitakan Injil dan Radin Abas tertarik mendengarkan penginjilan Jellesma, namun ia belum tertarik masuk Kristen. Setelah tamat dari Pondok Pesantren Jombang Jawa Timur, Radin Abas kembali ke Semarang dan bertemu dengan pendeta Haezeoo dan kenal dengan Ibrahin ( Tunggul Wulung )

Pada tahun 1866. ia bersama Tunggul Wulung pergi ke Batavia kemudian menjadi murid Mr.Anthing. Pada tanggal 14 April 1867 Radin Abas dibaptis di Gereja Belanda dan di beri tambahan nama Kristen “ Sadrach “. Setelah dibaptis Sadrach mengabarkan Injil di Batavia menjadi utusan Mr. Anthing. Kemudian kembali ke Jawa Tengah menjadi pembantu Ny. Philips memberitakan Injil dan bekerja sama dengan Abisai Reksadiwangsa dan Tarub penginjil pribumi yang lebih dulu menjadi pembantu Ny.Philips di Tuksanga Purworejo.Kemudian Sadrach tinggal di Karangjasa Purworejo, untuk membangun Jemaat. Di Karangjasa inilah mendapat sebutan Kyai sebagai sebutan bagi orang – orang terhormat di lingkungannya pada saat itu. Sehingga Sadrach disebut Kyai dari Karangjasa.

Dalam memberitakan Injil selain dengan cara mengajar melalui sarasehan seperti Kyai pada umumnya, juga dilakukan dengan mengadu Ilmu ( debat umum ) yang kalah tunduk dan menjadi pengikutnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh kejawen yang memahami agama sebagai ngelmu dalam olah budi. Seseorang atau sekelompok yang ingin mencari jati dirinya berkaitan dengan laku utomo menjadikan agama sebagai rujukannya dan Kyai dari Karangjasa cocok dengan cara PI yang demikian, sebab ia orang jawa asli yang paham  dengan sosio kultural jawa. Hal ini nyata dari jumlah pengikut Kyai Sadrach yang semakin banyak, yaitu 181 orang pada tahun 1872 kemudian menjadi 310 orang pada tahun 1873.

 

 

 

 

Pertambahan jumlah pengikut yang semakin banyak, awalnya disambut baik oleh orang Kristen Belanda. Namun dalam perkembangannya timbul kebencian dari orang – orang Kristen Belanda di Bagelen Purworejo, karena pendeta Belanda Van Troostenburg tersita waktunya untuk melayani jemaat Jawa. Kebencian semakin memuncak sepeninggal Ny. Philips yang telah menyerahkan kepemimpinan jemaat pada Sadrach, dan Sadrach menambahkan namanya Suropranoto, yang artinya berani mengatur. Pdt.Bieger yang datang di Bagelen utusan Zending NGZV menganggap kekristenan orang jawa masih dangkal dan sinktritisme, orang Kristen Jawa harus tunduk pada pimpinannya, namun Sadrach menolaknya. Ia merasa bahwa jemaat di Bagelen dan sekitarnya merupakan hasil PI Ny.Philips dan dirinya serta pengikutnya bukan hasil PI utusan Zending NGZV. Akibatnya Sadrach dituduh tidak setia pada pemerintah Belanda maka ia di usulkan oleh pendeta Zending untuk di tahan. Akhirnya Sadrach memang di tahan ketika menolak di adakannya vaksinasi cacar di wilayahnya tahun 1882.

Sekembalinya dari tahanan pengaruh Sadrach tak tergoyahkan, bahkan ia berkenalan dengan pendeta Jacob William utusan dari NGZV dan bekerja sama dalam pelayanan dan pemberitaan Injil. Atas laporan Lion Sachet kemudian Sadrach dan pengikutnya dinyatakan sesat dan putus hubungan dengan NGZV. Putusnya Sadrach dengan NGZV membuka peluang bagi Sadrach untuk masuk Gereja Kerasulan dan akhirnya pada tanggal 30 April Sadrach ditahbiskan menjadi Rasul jawa oleh Rasul Hanibals di Batavia. Mulai saat itu Rasul Jawa tersebut memiliki hak untuk melayani Sakramen.

Pada tanggal 15 Nopember 1924, dalam usia 90 tahun, Radin Abas Sadrach Suropranoto sang Rasul Jawa meninggal dunia. Meninggalnya sang Rasul Jawa tersebut tentunya menimbulkan dampak yang serius bagi Jemaatnya. Tidak adanya pemimpin yang memiliki kharisma seperti Sadrach membuat jemaatnya mengalami perpecahan. Sebagian ada yang bergabung dengan ZGKN ( Zending Van De Gerefoormede Kerken in Nederland ), sebagian ada yang tetap di dalam naungan Gereja Kerasulan.

  1. GEREJA KRISTEN JAWA ( GKJ ) PURBO.
  2. BERDIRINYA GKJ PURBO

Meskipun Kyai Sadrach Suropranoto telah meninggal dunia pemberitaan Injil tetap berjalan dan dilaksanakan oleh sahabat – sahabat Kyai Sadrach Suropranoto sampai di desa – desa dan daerah tanah pegunungan.

Di tanah pegunungan Karesidenan Pekalongan bagian selatan pemberitaan Injil dilakukan oleh Yacob Tumpang bersama sahabat Kyai Sadrach yang bernama Kromowidjojo. Melalui kesaksian mereka Tuhan berkenan membangun Jemaat di desa Dermo – Kasimpar, yang terletak disebelah Utara Kecamatan Petungkriyono, selanjutnya ke Utara lagi di dukuh Ketembelan, lalu ke desa Purbo dan di tanah ngarai yaitu desa Ciluluk dengan jumlah anggota jemaat waktu itu lebih dari 200 orang. Dengan demikian  jemaat Purbo menjadi wilayah pelayanan  Kyai Sadrach yang berpusat di Karangjasa, Purworejo. Itulah sebabnya setiap 35 hari ( selapan ) Jemaat Purbo memberikan persembahan

 

 

( pasok bulu bekti ) ke Karangjasa Purworejo pada malam Jumat Kliwon yang waktu itu dilakukan oleh Bapak Matias dan Bapak Dullah sebagai sesepuh ( sekarang majelis ) gereja.

Seiiring berjalannya waktu, pada tahun 1933 Kyai Yotam Martoreja pengganti Kyai Sdrach Suropranato menyerahkan Jemaat Kasimpar, Purbo  ke Salatiga Zending untuk dilayani.  Hal ini dikarenakan  keterbatasan daya, dana,dan Theologia.

  1. PEMELIHARAAN JEMAAT PURBO

Mulai tahun 1933 – 1935 pemeliharaan jemaat dilayani oleh Salatiga Zending. Kemudian tahun 1936 – 1941 pemeliharaan jemaat dilayani oleh Resort Pemalang yang di pimpin oleh Pdt. Banzeimer dan dibantu oleh Aminatab Kefas Markum, Nahason, Tahmidi, Prijodihardjo.        Tahun 1942 Jemaat Purbo menjadi Gereja dewasa dengan nama Gereja Kristen Jawa Purbo. Meskipun demikian, karena masih belum lengkap kemajelisannya,maka pemeliharaan Jemaat masih dilayani oleh pendeta konsulen. Dan Guru Injil. Tahun 1942-1949 pelemiharaan jemaat dilayani oleh Ds. Swart, Ds. Plaum, Ds. Nudrijo Djohar, Ds. Kartosugondo. Kemudian tahun 1950 an, GKJ Purbo masuk dalam wilayah Klasis Semarang, pemeliharaan jemaat dilayani Guru Injil yang ditugasi oleh Klasis Semarang yaitu Sastrodiwirjo    ( Bawang ), Soeharso ( Ungaran ), Soemowikromo, Wastari Hardjono,             ( Purbo ).

Pada tahun 1979 Klasis Semarang berbiak menjadi Klasis Semarang Barat, Klasis Semarang Timur dan Klasis Salatiga. GKJ Purbo tergabung dalam Klasis Semarang Barat, sehingga pemeliharaan jemaat dilayani oleh pendeta konsulen dari Klasis Semarang Barat. Adapun pendeta konsulen  GKJ Purbo selama tergabung di Klasis Semarang Barat yaitu Pdt. Soelaksono Koesoemowarsito, Pdt. Winoto Hadi Koesoemo, Pdt. Isman, Pdt. Pratjojo, Pdt. Indrijanto B.Th., Pdt. Djoko Purnomo, S.Th, Pdt. Drs. Nugroho Adi, Pdt. Eddyson SWN, S.Th, Pdt. Sugeng Mulyanto, S.PAK.

Kemudian pada bulan Nopember 1992., GKJ Purbo memanggil Sdr. Drs. Eko Heru Martono untuk berorientasi dan selanjutnya menempuh ujian peremtoir pada tanggal  9 – 10 Juli 1993 dalam sidang kontrakta Klasis Semarang Barat di GKJ Purbo dan Sdr, Drs. Eko Heru Martoto dinyatakan layak tahbis. Selanjutnya Sdr, Drs. Eko Heru Martoto menjalani masa pembimbingan selama enam bulan . Pada tanggal 19 September 1993 sdr. Drs. Eko Heru Martono ditahbiskan menjadi pendeta GKJ Purbo, maka struktur kemajelisan GKJ Purbo sudah lengkap ( pendeta, penatua, diaken ), sehingga pemeliharaan jemaat tidak lagi dilayani Pendeta Konsulen dari Klasis Semarang Barat tetapi oleh Pdt. Drs. Eko Heru Martono.  Karena ssat dewasa tidak diketahui tanggal dan bulannya , maka selanjutnya untuk memudahkan dewasanya GKJ Purbo dipilih tanggal 19 September 1942.Namun karena Sesutu hal, Pada tanggal 1 Maret 2000 Pendeta Drs. Eko Heru Martono alih pelayanan di GKJ Pajang Makam Haji Kartosuro sampai sekarang.

Sehubungan dengan hal tersebut maka mulai 1 Maret 2000  GKJ Purbo dilayani oleh Pendeta konsulen kembali.

 

 

Karena Klasis Semarang Barat telah berbiak menjadi Klasis Semarang Barat dan Klasis Pekalongan 1998 dan GKJ Purbo tergabung dalam Klasis Pekalongan, maka mulai 1 Maret 2000 pendeta konsulen yang melayani GKJ Purbo adalah :

  1. Tanggal 1 Maret 2000 sampai 31 Januari 2001 dikonsuleni Pdt. Wahidi dari GKJ Kasimpar.
  2. Tanggal 31 Januari 2001 sampai 18 Januari 2002 dikonsuleni Pdt. Wahidi dari GKJ Kasimpar
  3. Tanggal 18 Januari 2002 sampai 30 Juni 2002 dikonsuleni oleh Pdt. Wahidi dari GKJ Kasimpar
  4. Tanggal 1 Juli 2002 sampai 24 Januari 2003 dikonsuleni oleh Pdt.Djoko Purnomo, S.Th. dari GKJ Messias Bandar Batang dan Pdt. Drs. Sukardi Citrodahono dari GKJ Pekalongan.
  5. Tanggal 24 Januari 2003 sampai dengan 23 Pebruari 2004 dikonsuleni oleh Pdt. Drs. Sukardi Citrodahono dari GKJ Pekalongan dan dilanjutkan proses pemanggilan Bakal Calon Pendeta atas diri Sdr. Alfius Sokidi ,S.PAK. Setelah perkenalan melalui kotbah, orientasi kemudian dilakukan pemilihan calon pendeta tanggal 25 April 2004, maka Sdr..Alfius Sokidi, S.PAK sebagai calon terpilih. Setelah menjalani proses pembimbingan selama enam bulan , pada tanggal 24 Mei 2005 diadakan Peremtoir dalam Sidang Kontrakta Klasis Pekalongan di GKJ Purbo dan Sdr. Alfius Sokidi, S.PAK dinyatakan layak tahbis. Pada hari Rabo 29 Juni 2005 dilaksanakan Penahbisan atas diri Sdr. Alfius Sokidi, S.PAK menjadi pendeta GKJ Purbo sampai dengan sekarang.
  6. GKJ PURBO SAAT INI
  7. Gedung Gereja GKJ Purbo telah di renovasi ke 3 x , dimulai tahun 2016 s/d 2019, dan

telah di resmikan oleh Bapak Bupati Pekalongan Bapak.H.Asip Kholbihi, S.H. Msi.

Pada tanggal 25 Desember 2019.

Tempat                                          :  Dk. Purbo, Ds. Jolotigo, Kec. Talun, Kab.

Pekalongan

  1. Keanggotaan Warga Gereja :  Anak = 84, Dewasa= 271
  2. Menjadi Gereja Dewasa               : 13 September 1942
  3. Kemajelisan saat ini              :  Pendeta = 1, Penatua = 6, Diaken = 5
  4. Badan Pembantu                  :  Komisi Anak, Komisi Remaja/ Pemuda ,

Komisi Warga Dewasa, Komisi Adiyuswa

 

Purbo,  Maret  2022