GKJ Sragen

Info Kontak:

: Jl. Raya Sukowati No.882, Kuwungsari, Sragen Kulon

: 0271 891603

: gkj_sragen@yahoo.com

Pendeta:

  • Pdt. Yemima Widi Nurani, S.Si.
  • Pdt. Em. Rahino Riyadi, S.Th.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 06.30
  2. Minggu, Pk. 08.30
  3. Minggu, Pk. 16.00

Profil dan Sejarah:

1. Perkembangan agama Kristen di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan, tepatnya di Purworejo, dipakai sebagai permulaan perkembangan agama Kristen, yang semula disebarkan oleh Kyai Sadrach Suropranoto, yang berpusat di desa Karangyoso sebelah selatan Kutoarjo.

2. Keberanian Kyai Sadrach untuk menyebarluaskan agama Kristen dengan memperkenalkan nama Yesus Kristus Sang Juru Selamat, dari daerah Bagelen kearah Timur di daerah kesultanan Yogyakarta, dianggap sebagai cikal bakal Gereja Kristen Jawa (GKJ).

3. Didaerah Surakarta, setelah pendeta Yacob Wilhelm meninggal dunia pada tgl. 3 Maret 1892, perkembangan agama Kristen dilanjutkan oleh penginjil muda yang juga seorang dokter yaitu Dr. Yan Gerrit Scheuer, yang kemudian pergi ke Purworejo pada tgl. 13 Desember 1893.

4. Dr. Yan Gerrit Scheuer kembali ke Solo, memperdalam pengetahuan tentang bahasa Jawa, mengabarkan Injil, dan juga menolong menyembuhkan orangorang pribumi yang sakit, sehingga mendapat julukan sebagai ” Dokter tulung ” (karena suka menolong).

5. Pergantian abad dari ke XIX ke abad XX, kota Surakarta ( Solo ) didatangi pendeta Dr. Van Andel, dengan jumlah penganut agama Kristen 74 orang, berkembang menjadi 140 orang, dan pada tgl. 13 April 1916, Jemaat Solo sudah menetapkan kedudukan Tuatua dan Diaken yang terdiri dari suku bangsa Jawa dan Tionghoa.

6. Tahun 1918 orang Kristen di Surakarta menjadi 228 orang, yang menjadi Jemaat Gereja Margoyudan Surakarta, dan pada tahun 1921 membangun gedung Gereja. Setelah itu, Dr. Van Andel mengabarkan Injil ke luar kota Solo, antara lain ke Klaten, yang dimulai dari Pedan dengan menempatkan guru Injil bernama MARTOREJO.

7. Kearah Timur laut kota Solo, daerah Sragen merupakan daerah strategis yang menghubungkan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Waktu itu, dusun pertama di sebelah Timur Solo yang tumbuh jemaat Kristen adalah dusun Karangpandan. Disana ada seorang Tionghoa yang bernama Kwee Kim Siang, yang ingin sekali di baptis.

8. Setelah dibaptis, Bp. Kwee Kim Siang menyebarkan Injil sendiri, dan kemudian di Masaran dan di kota Sragen tumbuh persekutuanorang percaya.
Kegiatan agama Kristen berpusat di Kutorejo, dan Bapak Herman Reksosaputro seorang penginjil, ditempatkan di Sragen, dengan menyewa rumah milik Bapak Sastro ( sekarang Toko Baru, milik almarhum Bp. Suryo Kuncoro ).

9. Jemaat Kristen Sragen, merupakan Pepanthan dari Gereja Kristen Jawa Margoyudan Surakarta, yang setelah rumah almarhum Bp. Suryo Kuncoro tidak cukup memuat lagi untuk Jemaat yang makin banyak, kemudian kebaktian dipindahkan ke gedung HIS Sragen pada tahun 1923.

10. Berkat Tuhan berkenan menjadikan Jemaat makin berkembang dengan mantap, bahkan tumbuh Pepanthan Plupuh dengan pimpinan Bapak Asael Wirodriatmojo, seorang Mantri kesehatan dari Masaran.

11. Perkembangan Gereja Kristen Sragen makin nyata, namun tenaga masih diatur dari Solo, sidang (rapat) Majelis juga di Solo. Di luar kota Sragen, terdapat tempattempat kebaktian, yaitu : di Bangoan, Piji, Ringinharjo, Basan, Ngrombo, Plupuh, dan Masaran.

12. Karena perkembangan tersebut, dirasa perlu adanya Majelis setempat, sehingga mulai tahun 1920 sampai tahun 1928, merupakan masa persiapan pendewasaan Gereja di Sragen.

13. Pada tanggal 18 Desember 1928 Gereja Kristen Jawa Sragen didewasakan, dan ditetapkan pula kedudukan Tuatua serta Diaken ( Syamas ), walaupun belum mempunyai gedung gereja. Kemudian berkembang pula sekolah Kristen di Plupuh, Poliklinik di Masaran, persekutuan orangorang percaya di Pajak Plupuh, Gondang, Gemolong ( Salam ), hingga ke daerah Kabupaten Karanganyar.

14. Tenaga gereja yang pertama adalah Bp. Herman Reksoseputro sebagai Guru Injil ( 1918 1931 ), Bp. Busana dan Bp. S. Hardjo Suwarno ( 1931 1937 ), Bp. Sastrohandoyo ( 1939 1944). Pendeta pertama GKJ Sragen Bp. Sastrohandoyo ( 1944 1945 ), Pdt. Yarto Tirto Suwarno ( 1945 1951 ), Pdt. Soehardjo Hardjo Suwarno ( 1951 1974), Pdt. Muflich Gitoseputro, BA ( 1969 1997 ), Pdt. Rahino Riyadi, STh ( 1997 sampai sekarang), dengan perkembangannya maka pada tgl. 30 Juni 2007 ditahbiskan seorang Pendeta perempuan yaitu Pdt. Yemima Widi Nurani, S.Si Teol sampai sekarang.

15. Dalam perkembangan berikutnya, sejak tahun 1993, Gereja membina warga di daerah Tangkil dan sekitarnya. Di Tangkil didirikan pepanthan pada tgl. 7 Pebruari 1993. Setiap minggu diadakan kebaktian pada jam 08.00. Pembinaan iman dimasukkan dalam blok IX. Perjamuan Kudus dilayankan secara khusus dengan ibadah dimulai pada jam 06.30. Usaha mendirikan tempat ibadah belum dapat terwujud, meski dana sudah terkumpul cukup dan sudah dikerjakan 70 %.