GKJ Sumberagung

Info Kontak:

: Sawo, Sumberagung, Jetis, Bantul, Yogyakarta 55781

: –

: gkj_sumberagung@yahoo.id

Pendeta:

  • Pdt. Saryanto, S.Th.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 07.00
  2. Minggu, Pk. 18.00

Profil dan Sejarah:

GKJ Sumberagung mulamula adalah pepanthan GKJ Patalan, akibat adanya perang transportasi menjadi sulit, sementara itu anggota warga GKJ Patalan yang ada di wilayah bagian utara (Sawo, Paten dan Beji) mengeluh karena kalau mau ke gereja jaraknya terlalu jauh yaitu berjarak sekitar 5 Km, karena sulitnya transportasi itu warga yang ada di wilayah bagian utara terpaksa berjalan kaki untuk pergi ketempat ibadah, sehingga tiba di tempat ibadah sering terlambat dan merasa kelelahan. Hal ini diperparah jika kondisi dalam keadaan hujan keadaan menjadi semakin memprihatinkan.

Dengan alasan tersebut maka ada gagasan agar didirikan pepanthan di wilayah utara, dan ternyata gagasan tersebut disetujui oleh sidang majelis. Oleh sebab itu pada tahun 1963 didirikan GKJ Patalan pepanthan Beji karena letaknya di dusun Beji, Sumberagung, Jetis, Bantul (yang dikemudian hari menjadi GKJ Sumberagung) yang pada saat itu tempat Ibadah masih menggunakan rumah dari salah seorang warga yaitu rumah Bp. Rekso Hadiatmodjo. Dalam pada itu Pdt. Samono HS. Gembala GKJ Patalan pindah ke Magelang, dan kemudian di isi oleh Pendeta Konsulen dari GKJ Sawo Kembar (Gondokusuman) yaitu Pdt. Poerbowiyogo. Setelah Pdt. Samono HS. ke Magelang gereja pepanthan Beji ternyata mengalami perkembangan yang pesat, yang dulunya hanya ada kelompok Sawo, Paten dan Beji akhirnya bertambah lagi dengan masuknya warga dari kelompok Kadibeso, Kowang, Sawahan dan disusul yang lainnya. Akibat pesatnya perkembangan tersebut Pdt. Konsulen Bp. Poerbowiyogo kewalahan melayani, dan akhirnya diusulkan agar Pepanthan Beji dan Miri (Pepanthan Miri leih dulu ada) didewasakan. Oleh sebab itu dari pihak majelis segera mengambil langkahlangkah untuk mempersiapkan pendewasaan antara lain dengan jalan:
1. Memberikan pengertianpengertian kepada anggota warga gereja tentang arti pendewasaan.
2. Majelis Wilayah agar segera mempersiapkan administrasi gereja.
3. Meningkatkan persembahan baik melalui kebaktian maupun melalui persekutuanpersekutuan yang lain.
4. Menyiapkan calon personil dalam organisasi gereja.
5. Mendekati pemerintah setempat untuk minta gambaran bagaimana bisa memperoleh bantuan tanah untuk membangun gedung gereja.

Keinginan untuk mendewasakan Pepanthan Beji dan Miri segera disampaikan dalam Sidang Klasis sampai berkalikali. Dan baru pada tahun 1972 terjadi perbincangan yang serius sampai akhirnya pada tanggal 1 Januari 1973 Pepanthan Beji didewasakan, dengan pesanpesan supaya diperjuangkan sungguhsungguh agar terus berkembang, dan ditetapkan juga Pendeta Konsulennya yaitu Pdt. Santosa dari GKJ Gondokusuman.

Sementara itu di wilayah Canden yang dulu ikut kebaktian di Patalan banyak yang pindah kebaktiannya di Pepanthan Beji. Dikemudian hari wilayah Canden ternyata juga mengalami perkembangan yang pesat, untuk itu di wilayah Candenpun kemudian didirikan Pepanthan. Yaitu pada tanggal 26 Agustus 1973 dan kemudian didewasakan pada 1 Januari 1977.
Tahun 1979 Majelis GKJ Sumberagung mengusulkan permohonan ke Kabupaten Bantul agar GKJ Sumberagung diberi bantuan tanah untuk membangun gedung gereja karena selama ini masih menumpang di rumah Bp. Rekso Hadiatmodjo di Beji. Permohonan tersebut baru dikabulkan pada tahun 1981 oleh pemerintah Kabupaten Bantul melalui pemerintah setempat (Sumberagung) memberi sebidang tanah yang terletak di dusun Sawo, Sumberagung, Jetis, Bantul untuk mendirikan gedung gereja. Maka setelah itu segera dimulai pelaksanaan pembangunan gedung GKJ Sumberagung walaupun pada saat itu hanya memiliki uang pembangunan sebanyak Rp 60.000, Karena kemauan yang keras dari warga dan limpahan berkat Tuhan akhirnya selesai juga pembangunan GKJ Sumberagung meskipun pada saat itu kondisinya belum sempurna (tembok belum dilepo, lantai belum diperkeras dan belum dipasangi eternit), tetapi sedikit demi sedikit terus dibenahi sehingga gedung gereja menjadi semakin baik.

Pdt. Santosa yang saat itu sebagai Pendeta konsulen mengusulkan agar GKJ Canden dan GKJ Sumberagung memiliki Pendeta tetap. Namun ruparupanya GKJ Sumberagung sendiri belum mampu untuk memanggil Pendeta sendiri, demikian juga GKJ Canden juga belum mampu. Oleh sebab itu GKJ Sumberagung dan GKJ Canden sepakat untuk memanggil satu Pendeta untuk dua gereja. Tahun 1985 GKJ Canden dan GKJ Sumberagung memanggil Pendeta tetap yaitu Bp. Pdt. Haryono Siswosudarmo, S.Th. Dan dibawah asuhan beliau sedikit demi sedikit jemaat GKJ Sumberagung berkembang sehingga jika sedang perjamuan Kudus gedung sudah tidak mampu menampung lagi, maka jemaat GKJ Sumberagung mempunyai gagasan untuk membuka Pepanthan baru, dan kemudian dibukalah GKJ Sumberagung Pepanthan Kadibeso pada Tahun 1985 namun sementara masih menempati rumah dari seorang warga yaitu rumah Bp. Madyo Sudarmo.

Tahun 1997 Bp. Pdt. Haryono Siswosudarmo meninggal dunia sehingga GKJ Sumberagung kembali tidak memiliki seorang gembala tetap. Oleh sebab itu Sidang Klasis menunjuk Bp. Pdt. Bambang Sumbodo, S.Th. sebagai Pendeta Konsulen di GKJ Sumberagung. Sementara itu mulai bulan Januari 2005 Wilayah 1 yang terdiri dari kelompok Nogosari dan Kebonagung diadakan kebaktian sendiri, dengan alasan bahwa warga di kelompok Kebonagung banyak yang berusia lanjut sehingga jika mau mengikuti kebaktian mengalami kerepotan karena jarak ke gedung gereja cukup jauh dan tidak ada transportasi.