GKJ Tanjung Priok

Info Kontak:

: Jl. Cilincing Raya No.50, Cilincing, Jakarta 14120

: 021-4400459

: tanjungpriok@gkj.or.id

: www.gkjtp.com

Pendeta:

  • Pdt. Andreas Untung Wiyono, D.Min.
  • Pdt. Wisnu Tri Handayani, S.Si.

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 07.00
  2. Minggu, Pk. 17.00
  3. Minggu, Pk. 09.00

Profil dan Sejarah:

MASA PERINTISAN

Berawal dari sebuah komunitas Kristen yang terdiri dari tujuh kepala keluarga dan lima pemuda yang bermukim di kawasan Kebantenan dan Warakas, dimulailah sebuah perjalanan menjadi sebuah komunitas Gereja mandiri bernama GKJ Tanjung Priok. Dengan latar belakang yang sama sebagai pendatang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, maka mereka juga ingin beribadah seperti halnya ketika mereka ada di daerah asalnya. Merekapun beribadah di GKJ Jakarta. Namun ada kesulitan yang dialami untuk mengikuti kebaktian Minggu dan kegiatan gerejawi lainnya di GKJ Jakarta. Pada waktu itu, GKJ Jakarta belum mempunyai gedung. Kegiatannya masih diselenggarakan di aula PSKD di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Warga GKJ Jakarta yang tinggal di Tanjung Priok harus menempuh jarak puluhan kilometer setiap ingin kebaktian di GKJ Jakarta. Tempat itu sulit dijangkau karena terlalu jauh dan transportasi masih sulit. Angkutan umum masih jarang sehingga sulit untuk berpergian jika tidak mempunyai kendaraan pribadi. Pergi ke gereja memerlukan ongkos yang tidak murah.

Pada tanggal 12 Oktober 1964, melalui pertemuan keluarga yang dihadiri oleh Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko (pendeta GKJ Jakarta) dan penatua Prapto Setyoko, warga jemaat di Tanjung Priok menyampaikan harapan mereka agar dapat diselenggarakan kebaktian Minggu di Tanjung Priok. Karena kerinduan mereka yang sangat besar untuk mengadakan kebaktian sendiri, maka Majelis bersedia melayani mereka. Kebaktian perdana mereka diadakan di gedung SD Dewi Sartika, Jl. Dusun nomor 4 Tanjung Priok. Kebaktian pertama ini berlangsung Tgl. 7 Pebruari 1965 dengan dilayani oleh Pnt Prapto Setyoko dan jumlah warga hadir sebanyak 15 orang. Ibadah di SD Dewi Sartika ini dilakukan pada sore hari pukul 17.00 selama 7 (tujuh) bulan. Dan secara resmi tanggal 7 Pebruari 1965 dinyatakan sebagai lahirnya GKJ Jakarta Tanjung Priok. Semakin lama, jumlah kelompok ini semakin bertambah.

Karena keadaan gedung yang tidak memadai, maka warga berupaya mencari tempat ibadah lain yang lebih baik. Atas pendekatan yang dilakukan oleh Bp. Agustinus Haryadhi Admosudomo dengan Majelis Gereja Advent, Jl. Anggrek No 17 Tanjung Priok, akhirnya warga Gereja Kristen Jawa Jakarta Wilayah Tanjung Priok diijinkan memakai gerejanya untuk kebaktian setiap hari Minggu dari pukul 17.0018.00. Kebaktian pertama pada tanggal 12 September 1965 oleh Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko, dan sejak saat itu pelaksanaan sakramensakramen dan pemberkatan nikah dilayankan di tempat ini. Tanpa disadari perkembangan warga sampai akhir tahun 1966 telah tercatat sebanyak 138 orang terdiri dari 72 dewasa dan 66 anakanak.

TEMPAT IBADAH SENDIRI

Semangat jemaat GKJ Jakarta Wilayah Tanjung Priok untuk mempunyai gedung gereja sendiri sangat besar. Mereka berusaha mendapatkan tanah untuk membangun gereja. Kemudian dibentuk Panitia Pembangunan Gereja. Atas usahausaha yang dilakukan Panitia bersama warga, pada bulan Mei 1972 diperoleh sebidang tanah dari PT. Pelita Bahari dengan status tanah garapan seluas 884 M2 yang terletak di Jl. Kelapa Dua/ Jl. Cilincing, dan dari pengembangan lebih lanjut akhirnya luas tanah menjadi 1.200 M2. Dengan telah dimilikinya tanah tersebut, Panitia bersama warga semakin bergiat menghimpun dana untuk membangun gereja, dan pada tanggal 12 Nopember 1972 bertempat di tanah gereja diadakan kebaktian mengawali pembangunan gereja dilayani oleh Pnt. Urip Dipotirto.

Pada tanggal 17 Desember 1972 bangunan GKJ Jakarta Wilayah Tanjung Priok sudah dapat dipergunakan untuk kebaktian pertama kalinya yang dilayani oleh Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko, dan pada kebaktian itu juga dilayankan sakramen Babtis Kudus. Jangan membayangkan gedung gereja yang megah seperti sekarang, karena bangunan pertama waktu itu adalah bangunan kayu berdinding “gedhek” (bambu).

Dalam waktu dua puluh tahun berikutnya GKJ Jakarta Wilayah Tanjung Priok terus berbenah dalam pembangunan gedung gereja, hingga bangunan gereja menjadi semakin baik dan kokoh. Namun karena status tanah garapan, yang suatu saat bisa diambil alih Pemerintah Daerah, makan Badan Pelaksana Pembangunan Gereja (BPPG) juga berupaya mendapatkan tanah lain untuk antisipasi jika tanah di Kelapa Dua digusur. Tanah cadangan ini akhirnya didapat di daerah Rawa Indah.

PENDEWASAAN GKJ TANJUNG PRIOK

GKJ Jakarta Wilayah Tanjung Priok memasuki Masa Prakelola atau masa pelatihan mengelola kehidupan berjemaat selama 19 bulan (dari 1 Oktober 1991 s/d Mei 1993), Tidak hanya sekedar untuk memenuhi salah satu syarat kemandirian, akan tetapi betulbetul merupakan pelatihan dan sekaligus pemantapan diri dari semua aspek kehidupan berjemaat dengan melibatkan semua lapisan warga gereja.

Dan setelah melalui proses yang panjang dan rumit, maka gereja ini berhasil dimandirikan pada hari Jumat Pahing, tanggal 28 Mei 1993, dengan nama GKJ Tanjung Priok. Gereja Kristen Jawa Tanjung Priok lahir dengan nomor urut 211 pada Sinode GerejaGereja Kristen Jawa. Semua itu merupakan karya Tuhan yang sangat menakjubkan. Dalam rentang waktu kurang dari 28 tahun Tuhan telah menjadikan jemaat yang mandiri dari sebuah wilayah pelayanan yang kecil dan sederhana.