Info Kontak:

: Patihan RT.10 RW.IV, Desa Gabugan, Kec. Tanon, Kab. Sragen 57277

: 0271 2025251

: gkjtanon@ymail.com

Pendeta:

Data Pendeta Belum Tersedia

Jadwal Ibadah:

  1. Minggu, Pk. 08.30
  2. Minggu, Pk. 07.00
  3. Minggu, Pk. 09.30
  4. Minggu, Pk. 09.00

Profil dan Sejarah:

SEJARAH GEREJA KRISTEN JAWA TANON
Pada dasarnya Gereja Kristen Jawa (GKJ) Tanon merupakan pembiakan GKJ Pepantan Plupuh,
sedangkan Pepantan Plupuh sejak tahun 1927 merupakan Pepantan GKJ Sragen. Biji sawi yang tumbuh di
Pepantan Tanon dari keluarga Bapak Isromartoyo dan keluarga Bapak Paulus Suparno Harjosaputro, B.Sc.
Benih dari Bapak P. Suparno Hs. menyebar ke luar daerah dan sebagian terbesar tumbuh dengan subur di
GKJ Tanon. Dan yang tak dapat dilupakan yaitu salah seorang dari keluarga Bapak P. Suparno, B.Sc. yaitu
Bapak Sunarno Chr. yang begitu banyak andilnya didalam pelayanan.
Pertengahan tahun 1968 kebaktian di rumah Bapak P. Suparno Hs. (rumah di perempatan Gabugan)
di sini terjadi peristiwa kecil: Pada waktu kebaktian ada seorang bule dari Amerika Serikat bernama Elyson
mendapat tugas pelayanan di Sumberlawang waktu itu banyak masa khususnya anak sekolah non Kristen
melihat, atas kebijakan Bapak Penatua P. Suparno Hs. mempersilahkan masuk justru malah bubar
sehingga kebaktian tidak tertanggu. Karena kebaktian di sini dianggap kurang tenang (terutama hari
pasaran kliwon dan Pahing) kebaktian pindah ke rumah Bapak Sutomo Condro (waktu itu Kapolsek Tanon)
di Patihan Gabugan. Di sini dirintis Sekolah Minggu oleh Bapak Sunarno Chr. muridnya cukup banyak,
perkembangan jemaat makin melebar ke Padas, Jono, Gawan, Kalikobok, Gading dan Sumberlawang.
Dengan adanya pindah-pindah kebaktian jemaat tergerak hatinya untuk mempunyai tempat ibadah.
Atas berkat karunia Tuhan Yesus keluarga Bapak P. Suparno Hs. mempersembahkan tanah untuk
gereja dengan sertifikat a.n. Ibu Sukemi (istri Bapak P. Suparno Hs.). Atas kesadaran warga untuk gereja
tiap warga mengumpulkan padi 10 kg bagi petani sedang yang bukan petani mengumpulkan uang seharga
10 kg. ditambah arisan Ibu-ibu yang dipimpin oleh Ibu Sukemi. Pada bulan April 1971 kebaktian sudah
pindah Gereja meskipun belum sempurna, pemerintah juga tidak tinggal diam dengan membantu uang
sebesar Rp 25.000,00 (dua puluh lima ribu rupiah) untuk membeli papan kayu jati guna perbaikan gereja
dan pembuatan konsistori. Pada waktu itu jumlah warga 87 orang, termasuk Padas dan Sumberlawang.
majelis 3 orang, yaitu: Bapak P. Suparno Hs., Bapak Sunarno Chr. dan Bapak Tuk. Sukiyono.
Majelis Tanon termasuk rajin dalam persidangan di GKJ Sragen (Induk), persidangan dimulai jam
16.00 dan diakhiri jam 01.00 malah kadangkadang sampai jam 02.00, maklum permasalahan lingkup satu
Kabupaten Sragen, sehingga terpaksa menginap di GKJ Sragen yang begitu banyak nyamuknya, sebab
pada waktu itu belum ada kendaraan bermotor. Pada tanggal 15 September 1994 GKJ Gambiran
didewasakan dengan wilayah: Gambiran, Karangtengah, Masaran, Plupuh, Tenggak, Padas, Tanon,
Sumberlawang dan Mondokan, sedangkan Gambiran menjadi induknya. Pada Tahun 1998 GKJ Gambiran
membagi 3 wilayah:
Yang kedua mendapat informasi dari Bapak Pdt. Drs. Is Subari bahwa ada seorang pendeta dari GKJ
Wonosobo yang ingin pindah ke Sragen. Terjadi percakapan dengan majelis wilayah II hal ini kami laporkan
dalam Sidang Majelis GKJ Gambiran (Induk) ditanggapi dan disetujui, tetapi setelah Majelis Wilayah II dan
Majelis GKJ Gambiran (Induk) menjelaskan ke GKJ Wonosobo ternyata Bapak Pdt. Yulius Waskito, S.Th.
belum ada kesepakatan pindah dari GKJ Wonosobo. Pada tahun 2002 wilayah II mengajukan
pendewasaan melalui persidangan Majelis GKJ Gambiran (Induk) dan disepakati, oleh GKJ Gambiran
diajukan ke Sidang Klasis GKJ Lawu ternyata permohonan pendewasaan disetujui. Pada hari Selasa,
tanggal 3 Juli 2001 pelaksanaan pendewasaan GKJ Tanon. Sebagai Induk Tanon, Nama gereja: Gereja
Kristen Jawa Tanon. Dengan wilayah meliputi: Pepanthan Plupuh. Pepanthan Mondokan, Pepanthan
Sumberlawang, Pepanthan Tenggak, Pepanthan Padas dan Pepantan Baleharjo.
Adapun Susunan Majelisnya berjumlah 18 Orang antara lain:
Dari Induk/ No Nama Jabatan Gereja Pepanthan 1. Sunarno Chr. Penatua 2. Tuk. Sukiyono Penatua
3. Maryanto Diaken Y.Sastrodiharjo Penatua 4. Di Tanon Di Tanon Di Tanon Di Plupuh
Jumlah Warga Dewasa 137 167 Anak 30 41 Jumlah : L+P 375 : Laki-laki Perempuan : Laki-laki
Perempuan
Langkah apa yang harus dilakukan GKJ Tanon setelah Dewasa? Gereja dewasa harus memiliki
pendeta. Menanggapi informasi dari GKJ Gambiran bahwa ada Pendeta GKJW yang ingin pindah ke GKJ
demi masa depan. Maka GKJ Tanon mengadakan pendekatan kepada beliau, GKJ Tanon mengutus ketua
majelis dan wakilnya ke GKJW Ketanggung. Setelah lewat proses yang demikian indah dan cukup berbelitbelit,
puji Tuhan, puji Tuhan, Raja Gereja, dengan maha kuasa-Nya, pada tanggal 18 September 2003, GKJ
Tanon berkenan menahbiskan pendetanya, Bapak Pdt. Joko Wahyudi, S.Th. sebagai Pendeta GKJ Tanon.
Untuk peningkatan pelayanan pada kurun waktu pergantian majelis dilengkapi majelis putri. Dalam
visitasi Klasis, GKJ Tanon sebagai gereja yang unik dilihat dari jumlah warga induk hanya 21 KK, tapi dalam
segi keuangan, induk selalu lebih banyak menanggung anggaran keuangan, puji Tuhan di Induk lebih sadar
berpersembahan (minggu, bulanan, istimewa) sehingga pemeliharaan dan pengembangan dapat berjalan
lancar.
SEJARAH GKJ PEPANTHAN PLUPUH
Pepanthan Plupuh merupakan Pepanthan Sragen sebelah barat yang paling tua sekitar tahun 1927.
Kebaktian pada mulanya dilakukan di Gedung II Plupuh, sebagian besar warga terdiri dari guru-guru SR II
Plupuh. Menurut kesaksian Bapak Danuwidjojo Mantan Kepala Staff Kristus. Klaten beliau bersama Tuan
Van Handel mendirikan SR Kristen dan rumah pengobatan/Poleklinik untuk pelayanan masyarakat sekitar
tahun 1922. Kebaktian selanjutnya diselenggarakan di SR Kristen demikian pula Sekolah Minggu (Sondah
School). Bapak Danuwidjojo tugas di Plupuh tahun 1922-1927, kemudian pindah ke Delanggu beberapa
tahun kemudian pindah ke Klaten SMPK II sampai pensiun.
Setelah zaman Jepang SR Kristen dan Poliklinik dirusak, kebaktian pindah ke rumah Bapak
Pancowikromo, Dukuh Pojok, Desa Dari, Kecamatan Plupuh, sampai tahun 1980. Perubahan pemerintah
desa oleh Kepala Desa diberi tanah kas Desa + 240 m² yang terletak dekat Sekolah Dasar Dari I, di sini
dibangun gedung GKJ Tanon Pepanthan Plupuh dengan gotong royong warga. Bibit-bibit sawi yang telah
beterbangan ingat kembali asal-usulnya dan tergerak hatinya untuk membantu memugar gereja. sehingga
menjadi gereja yang kuat.
SEJARAH GKJ PEPANTHAN MONDOKAN
Pepanthan Mondokan berdiri pada tanggal 20 Maret 1967 berlokasi di Kedawung, Kecamatan
Mondokan status hak guna bangunan sekarang menjadi hak milik, Sebagai bibit sawi keluarga Bapak
Adiyanto yang juga merupakan majelis, pemberian tanah oleh Bapak Marsono waktu menjabat Camat di
Mondokan. Sebagai penatua Mondokan berusaha mengembangkan pepanthan dengan mengirimkan dua
orang pemuda untuk sekolah ke SPG Kristen Sragen dan salah seorang berhasil mengembangkan
lepanthan Mondokan. Tiada lain Bapak Gino yang demikian rajin didalam pelayanan atas karunia Tuhan
Yesus telah diangkat sebagai pegawai negeri.
Pada tahun 1987 Bapak Gino diangkat sebagai majelis Mondokan, sejak ini Pepanthan Mondokan
mulai berkembang dan pelayanan dapat berjalan dengan baik. Gedung Gereja Mondokan merupakan
gedung yang terkecil dengan ukuran 3 x 6 m sekarang menjadi 6 x 10 m, pemugaran gereja dapat berjalan
dengan baik karena kegotongroyongan warga, dan tidak dapat dilupakan Bapak Wongsodiharjo warga
Baleharjo yang dengan ikhlas membantu kap dan kusenkusen dari bahan kayu jati, demikian bantuan dari
warga Tanon yang membantu lantai.
SEJARAH GKJ PEPANTHAN SUMBERLAWANG
Merupakan biji sawi Gereja Sumberlawang Bapak Setiyono Mantri Kesehatan yaitu Kakak Kandung
Bapak Pdt. Paulus (Pendeta Majenang). Pada tahun 1971 bulan September ada titipan pemberkatan nikah
dari Jakarta mendapat warga jemaat Sumberlawang selama pernikahan terjadi percakapan antara warga
Margoyudan, Manahan. Sragen (Tanon) untuk pembinaan dan katakisasi. Bulan Februari tahun 1973 atas
permohonan Bapak Setiyono, kebaktian diadakan di Poliklinik Yakkum. Tahun 1976 poliklinik direhab.
kebaktian pindah ke rumah Bapak Suranto di Dukuh Demangan, Mojopuro, seorang warga Gereja Babits.
Pada tahun 1980 Bapak Suranto dipanggil Tuhan kebaktian pindah ke rumah Bapak Suwarno,
pegawai Dinas Pendapatan Pasar Sumberlawang. Atas putusan LKMD mendapat tanah bekas pabrik
semen, tetapi sesudah diproses ternyata tanah sengketa sehingga gagal. Atas kesadaran Bapak Purwa
Atmaja (suami Ibu Rukamti) mempersembahkan tanah untuk didirikan tempat ibadah, kebaktian
sementara di rumah Bapak Latino Krisantono. Dengan kesadaran dan kebersamaan warga serta disertai
berkat Tuhan dapat membangun tempat ibadah berukuran 5 x 8 m dan pada waktu itu diresmikan oleh
Bapak Pdt. M. Gitosaputro, B.A.
SEJARAH GKJ PEPANTHAN TENGGAK
Gereja Kristen Jawa Pepanthan Tenggak salah satu pepanthan GKJ Tanon sebelah selatan/ timur
Bengawan Solo. Bibit sawi yang tumbuh di Tenggak yaitu Bapak Sadat. Carik Desa Tenggak dari GKJ Sragen
dan keluarga Bapak R. Subagyo dari GKJ Manahan Surakarta. Disuatu malam sekitar tahun 1982 diadakan
sarasean di Rumah Bapak Sadat di Ngagel dihadiri oleh anggota masyarakat. beberapa anggota majelis
GKJ Sragen dan Bapak Pdt. M.Gitoseputro, B.A. Hasilnya permohonan dilayani katakisasi di Ngagel.
Meskipun hambatan besar tetapi pelayanan. katakisasi berjalan lancar. Perlu diketahui daerah Ngagel
rawan banjir dan jalan belum diaspal seperti sekarang ini.
Sementara kebaktian di GKJ Sragen meskipun kendaraan delman bahkan memakai rakit pada waktu
banjir setelah beberapa orang menerima sakramen baptis pada tanggal 25 Desember 1985 menjadi
Pepanthan Gambiran, Setelah Karangtengah menjadi pepanthan warga Tenggak ikut sakramen di
Karangtengah, agar pembinaan dapat secara efektif, kebaktian pindah ke Tenggak. Semula kebaktian di
rumah Bapak Supatno sekitar 5 bulan, lalu pindah ke rumah Bapak R Subagyo. Dari pemerintah desa
Pepanthan Tenggak menerima sebidang tanah untuk tempat ibadah, tetapi akhirnya ditukar dengan tanah
salah seorang warga masyarakat dan diselesaikan sampai mempunyai sertipikat sendiri. Dengan sistim
gotong royong Pepanthan Tenggak membangun tempat ibadah, yang perlu diingat bahwa dalam
membangun gereja dibantu genting secukupnya oleh CV. Budi (kontraktor jalan), dan pemerintah desa
baik secara spiritual maupun material.
SEJARAH GKJ PEPANTHAN PADAS
Pepanthan Padas merupakan pembiakan Pepanthan Tanon. Lewat LKMD Desa Padas mendapat
sebidang tanah dengan ukuran 20 x 15 m yang terletak di Dukuh Padas RT 17, bekas lokasi Kantor Desa
Padas. Sebagai bibit sawi keluarga Bapak Wagiyanto Kebaktian mula-mula di rumah Bapak Wagiyanto
selama 2 tahun dengan tekad dan doa warga Padas membantun tempat ibadah selesai akhir tahun 1988
meskipun belum sempurna tetapi sudah dapat ditempati untuk beribadah.
Pada tahun 1988 – tahun 1999 atas bantuan warga yang sudah lama tinggal di Jakarta dapat
terkumpul Rp 3.500.000,00 untuk memperpanjang gereja yang tadinya 6,5 x 8 m menjadi 6,5 x 12 m.
Seperti gereja lain mengalami pasang surut
SEJARAH GKJ PEPANTHAN BALEHARJO
Pepanthan Baleharjo merupakan Pepanthan yang paling termuda menjadi Pepantan tahun 1993.
Bapak Gino Sucipto melayani dengan tekun dan setia didukung oleh warga GKJ Gundi yaitu Bapak
Wongsodiharjo yang biasa oleh warga dipanggil Pak Bong yang merupakan benih sawi Pepanthan
Baleharjo yang rela mengorbankan barang miliknya untuk kemuliaan Tuhan. Benih iman betul-betul
tumbuh dengan subur, katakesasi dilayani oleh majelis dan Bapak Pdt. M. Gitoseputro, B.A.
Pada tanggal 15 Agustus 1993, 11 orang dibabtis. Kebaktian di rumah Bapak Wongsodiharjo,
sebagai majelis Bapak Sugito yang sekarang sudah dipanggil Tuhan. Berkat kemurahan Tuhan warga yang
didukung Bapak Wongsodiharjo membeli tanah seluas 1.000 m² untuk tempat ibadah. Tahun 2000 dapat
mendirikan rumah ibadah meskipun ada gangguan dari non Kristen, tetapi atas tuntunan Roh Suci Bapak
Wongsodiharjo menjawab untuk tempat tinggal sehingga pembangunan dapat berlangsung dan selesai.
Yayasan Padmos Jakarta membantu uang sebesar Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah). Pada tanggal
1 Januari 2001, gereja dimulai untuk kebaktian dan yang berkotbah kebetulan waktu itu Ketua Majelis
(Bapak Tuk. Sukiyono) dan sampai sekarang kebaktian dapat berjalan baik tanpa ada gangguan dari pihak
manapun. Gereja selalu disempurnakan baru-baru ini tahun 2009 dibangun konsestori. Kemajelisan
diteruskan oleh putra-putri Bapak Wongsodihardjo, yaitu Bapak Sukadi dan Ibu Alex Abiyah, S.P.